Harga minyak mengalami penurunan baru-baru ini, dipicu oleh ketegangan politik yang terjadi di Venezuela. Serangan yang dilakukan Amerika Serikat untuk menggulingkan Presiden Nicolás Maduro menimbulkan ketidakpastian mengenai masa depan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, yang berpotensi mempengaruhi banyak aspek industri energi global.
Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, tercatat turun sebesar 0,5% pada hari Senin hingga mencapai level US$60,44 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate, patokan untuk pasar AS, juga anjlok 0,6% menjadi US$56,97 per barel.
Kondisi ini memberikan gambaran mengenai dampak dari ketegangan di Venezuela, di mana negara tersebut saat ini memproduksi kurang dari 1% dari total produksi minyak global. Meskipun demikian, Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti yang mengesankan, yaitu sekitar 17% dari total cadangan dunia, menandakan bahwa ada potensi besar bagi negara tersebut untuk meningkatkan pasokannya di masa mendatang.
Pengaruh Ketidakpastian Terhadap Pasar Minyak Global
Para pedagang saat ini sedang menganalisis dampak dari intervensi AS terhadap pasar minyak, terutama ketika mereka dihadapkan pada peringatan akan kemungkinan kelebihan pasokan. Analis memperkirakan bahwa langkah-langkah ini dapat mengakibatkan penurunan harga minyak lebih lanjut, mengingat pasar mulai mengantisipasi tambahan pasokan dari Venezuela dalam waktu dekat.
Menurut Amrita Sen, pendiri sebuah perusahaan konsultan, intervensi semacam ini sering kali diasumsikan akan menjatuhkan harga, karena diharapkan pasokan minyak dari Venezuela akan kembali mengalir. Di sisi lain, Saul Kavonic, seorang analis di MST Financial, mengungkapkan bahwa pasar telah terbiasa dengan perhitungan risiko geopolitik yang tidak selalu terbukti berdampak nyata pada pasokan energi.
Dalam pandangan banyak analis, harga minyak berpotensi terus turun, terutama setelah mengalami penurunan sebesar 20% sepanjang tahun 2025. Ini menjadikan harga minyak mentah Brent saat ini berada sedikit di atas level US$60 per barel, menciptakan suasana bearish yang mencolok di pasar.
Produksi Minyak Venezuela dalam Ancaman
Saat memasuki tahun baru, produksi minyak Venezuela dapat menghadapi penurunan lebih lanjut. Terlebih lagi, pandemi yang berkepanjangan dan sanksi ekonomi yang diterapkan oleh AS telah mempersulit negara tersebut untuk melakukan kegiatan produksi yang lebih efisien. Tidak heran jika banyak yang meragukan apakah perubahan signifikan akan terjadi dalam waktu dekat.
Blokade dan sanksi telah menyebabkan pengurangan produksi yang dramatis, sehingga negara itu kini harus berjuang keras untuk memenuhi permintaan pasar. Data menunjukkan bahwa ekspor minyak Venezuela sudah turun setengahnya dan situasi ini tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam waktu dekat.
Petróleos de Venezuela (PDVSA), perusahaan minyak negara, juga sedang meminta mitra usaha patungannya untuk mengurangi produksi. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya masalah yang dihadapi oleh industri minyak di sana.
OPEC+ dan Strategi Produksi Minyak Global
Sementara ketegangan di Venezuela menjadi sorotan di pasar minyak, OPEC+ tidak memberikan sinyal untuk mengubah strategi mereka dalam jangka pendek. Dalam suatu pertemuan, delapan negara anggota, termasuk Arab Saudi dan Rusia, sepakat untuk mempertahankan penangguhan peningkatan produksi hingga setidaknya bulan April.
Keberlangsungan strategi ini jelas mencerminkan stabilitas yang ingin dicapai OPEC+, meskipun situasi di luar sana menjadi semakin sulit. Dalam konteks ini, harga minyak kemungkinan akan tetap dalam tren menurun, seiring dengan pengawasan ketat terhadap produksi global.
Situasi operasional di Venezuela menjadi sangat rumit karena banyaknya kendala yang dihadapi, termasuk kekurangan bahan baku yang penting untuk mencampur minyak mentah berat. Jika masalah ini tidak teratasi, kita bisa melihat lebih banyak penurunan produksi yang signifikan.
Secara keseluruhan, ketidakpastian yang terjadi akibat peristiwa politik ini menunjukkan betapa rapuhnya pasar energi global saat ini. Bagi para pelaku pasar, menerima kenyataan bahwa banyak hal di luar kendali mereka, menjadi hal yang mutlak penting untuk mengantisipasi fluktuasi harga di masa mendatang.
Sementara itu, pasar saham di AS mengalami sedikit kenaikan, dengan futures S&P 500 menunjukkan kenaikan sebesar 0,1% dan futures Nasdaq 100 naik 0,4%. Ini mencerminkan bahwa pasar keuangan pada umumnya tetap optimis meskipun ada ketegangan di sektor energi.
Edward Al-Hussainy, seorang manajer portofolio, menjelaskan bahwa kondisi di pasar sangat dinamis dan ketidakpastian seputar Venezuela dapat menjadi faktor penentu di minggu-minggu mendatang. Keseluruhan pola ini menunjukkan bahwa pasar risiko akan terus bergerak maju, mencari peluang di tengah ketidakstabilan yang ada.





