Di tengah dinamika pasar yang terus berubah, banyak perusahaan berusaha beradaptasi untuk tetap relevan. Salah satunya adalah Dekoruma, sebuah perusahaan yang fokus pada sektor home & living, menawarkan berbagai produk mulai dari furnitur hingga jasa desain interior.
Dengan keberadaan 39 toko fisik, Dekoruma berupaya memperluas jangkauannya di pasar baik online maupun offline. CEO dan Co-Founder Dekoruma, Dimas Harry Priawan, menekankan pentingnya strategi bisnis yang fokus pada kebutuhan pasar.
Di era di mana konsumen lebih memilih barang berdasarkan nilai dan daya tahan, Dekoruma berinovasi untuk menghadirkan produk premium. Tujuan utama mereka adalah memenuhi standar desain dan kualitas yang diinginkan oleh konsumen saat ini.
Namun, meski memiliki rencana yang matang, perusahaan tetap menghadapi tantangan dari fluktuasi daya beli masyarakat. Mari kita simak lebih lanjut pandangan Dimas Harry Priawan mengenai perkembangan dan tantangan perusahaan di sektor ini.
Pertumbuhan Pasar Home & Living di Indonesia
Pasar home & living di Indonesia menunjukkan tren yang meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Konsumen kini lebih mengedepankan faktor estetika dan kenyamanan dalam memilih produk.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang beralih ke belanja online untuk kebutuhan home decor. Ini memberi peluang bagi Dekoruma untuk memperluas platform digitalnya dan menarik lebih banyak pelanggan.
Kompetisi yang ketat di pasar ini merupakan tantangan tersendiri. Namun, dengan berfokus pada kualitas dan desain yang inovatif, Dekoruma optimis dapat memenangkan hati konsumen.
Selain itu, perusahaan juga berinovasi dengan menciptakan produk yang sesuai dengan budaya dan selera lokal. Hal ini semakin memperkuat posisi Dekoruma di pasar yang kompetitif ini.
Strategi Bisnis yang Fokus pada Kualitas dan Inovasi
Untuk beradaptasi dengan perubahan pasar, Dekoruma memprioritaskan inovasi dalam setiap produk yang diluncurkan. Mereka berusaha menghadirkan barang-barang yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga fungsional.
Dengan memanfaatkan teknologi, Dekoruma mampu merespons kebutuhan konsumen dengan lebih cepat. Penggunaan data analytics menjadi salah satu strategi untuk memahami preferensi pelanggan secara lebih mendalam.
Di sisi lain, keberadaan toko fisik juga membantu dalam menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih langsung. Konsumen dapat melihat produk secara langsung sebelum memutuskan untuk membeli.
Perusahaan juga aktif berkolaborasi dengan desainer lokal guna menghadirkan produk yang unik dan sesuai dengan tren masa kini. Kerjasama ini tidak hanya memperkaya variasi produk tetapi juga meningkatkan brand elevasi Dekoruma.
Tantangan di Tengah Daya Beli dan Nilai Tukar Rupiah
Meskipun memiliki strategi yang kuat, Dekoruma tidak terlepas dari tantangan yang ada. Salah satunya adalah isu daya beli masyarakat yang dipengaruhi oleh inflasi dan perubahan nilai tukar mata uang.
Ketidakpastian ekonomi global sering kali berdampak pada kepercayaan konsumen untuk berbelanja. Dalam situasi seperti ini, perusahaan perlu lebih kreatif dalam menawarkan promosi atau paket menarik.
Selain itu, untuk menanggulangi dampak negatif dari kondisi ekonomi, Dekoruma terus mencari cara untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas. Langkah ini penting agar mereka tetap dapat menawarkan harga yang bersaing.
Dimas menyampaikan bahwa kunci untuk bertahan di industri ini adalah pemahaman yang mendalam terhadap konsumen. Dengan mendengarkan umpan balik dan kebutuhan pasar, bisnis dapat beradaptasi dengan lebih efektif.




