Harga minyak dunia mengalami penguatan yang signifikan pada awal tahun 2026, menjalani tren positif selama tiga hari berturut-turut. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perubahan kebijakan AS terhadap Venezuela menjadi faktor kunci yang mendorong kenaikan harga komoditas ini, di tengah kekhawatiran tentang pasokan di pasar global.
Pergerakan harga minyak Brent menyentuh angka US$69,20 per barel, meningkat dari harga sebelumnya yang tercatat pada US$68,40. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan tren positif dengan berada di angka US$64,04 per barel, naik dari US$63,21. Kenaikan harga ini paling signifikan sejak akhir September, mencerminkan volatilitas yang terus menghantui pasar energi global.
Situasi ini menunjukkan bagaimana kebijakan luar negeri dan kondisi geopolitik dapat mempengaruhi harga energi secara langsung. Banyak analis mencatat bahwa potensi krisis yang lebih dalam bisa terjadi jika ketegangan ini tidak segera teratasi.
Mengapa Geopolitik Memengaruhi Harga Minyak Secara Dramatis
Salah satu alasan mendasar mengapa harga minyak dapat meroket adalah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan menunjukkan bahwa Presiden AS mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran dalam hal program nuklirnya.
Kehadiran armada laut AS di kawasan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang memperbesar premi risiko di pasar energi. Ketegangan yang semakin memuncak menciptakan kekhawatiran tentang kemungkinan gangguan pasokan minyak dari area yang menjadi sumber utama energi dunia.
Iran, sebagai produsen minyak terbesar keempat di OPEC, memproduksi sekitar 3,2 juta barel minyak setiap harinya. Ancaman gangguan pasokan tidak hanya mempengaruhi harga saat ini, tetapi juga berpotensi mengganggu proyeksi pasokan di masa mendatang.
Dinamika Pasokan dari Venezuela dan Dampaknya
Selain ketegangan di Timur Tengah, situasi di Venezuela juga memberikan dampak signifikan pada pasar minyak global. Laporan menunjukkan bahwa AS telah mengembalikan sebuah supertanker kepada otoritas Venezuela, sebuah langkah yang menunjukkan perubahan kebijakan kontrol distribusi minyak di negara tersebut.
Meskipun pengembalian ini dapat membuka peluang baru bagi alur distribusi minyak Venezuela, kondisi pasar tetap menghadapi ketidakpastian. Kebijakan sanksi yang ketat masih membayangi aliran minyak dari Venezuela, menjadikan situasi sangat berisiko.
Proses pemulihan pasokan minyak Venezuela tergolong rumit, mengingat banyaknya tantangan yang harus dihadapi. Sanksi dan kontrol ketat dari Amerika Serikat bisa menciptakan dinamika yang sulit diprediksi dalam jangka pendek dan menengah.
Pentingnya Stok Minyak dalam Mempertahankan Harga
Faktor fundamental juga menjadi aspek penting yang mempengaruhi harga minyak secara signifikan. Stok minyak mentah di Amerika Serikat turun sekitar 2,3 juta barel, mencapai total 423,8 juta barel pada akhir Januari 2026. Penurunan ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan stok.
Menurunnya stok ini mencerminkan keseimbangan pasokan dan permintaan yang semakin ketat di pasar. Ketersediaan minyak yang terbatas, ditambah dengan permintaan dari industri kilang yang stabil, meningkatkan tekanan harga di pasar global.
Jika tren ini berlanjut, maka para pelaku pasar mulai mencermati berbagai skenario harga tinggi yang mungkin terjadi. Pasar tampaknya semakin cenderung untuk memprioritaskan proyeksi harga yang lebih optimis di tengah ketidakpastian yang ada.


