Pada hari Rabu, harga emas, perak, tembaga, dan timah mengalami lonjakan signifikan, mencapai level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama terkait dengan intervensi militer AS di Iran dan isu independensi Federal Reserve, berkontribusi pada reli yang dramatis ini.
Emas tercatat naik hingga 1,1%, mencapai harga baru sebesar US$4.641 per troy ounce. Lonjakan ini sejalan dengan kecenderungan investor yang cenderung mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.
Sementara itu, perak melampaui angka US$90, naik 6% menjadi US$92,24 per ounce. Dalam beberapa bulan terakhir, baik tembaga maupun timah turut menikmati lonjakan harga, dengan masing-masing mencapai US$13.407 dan US$54.760 per ton.
Katalis Penyebab Lonjakan Harga Logam Berharga
Menurut Helen Amos, seorang analis di BMO, lonjakan harga logam-logam tersebut melampaui ekspektasi banyak pihak. “Segalanya bergerak begitu cepat, harga melampaui perkiraan semua orang,” kata Amos, menyoroti dinamika pasar yang sedang berlangsung.
Investor institusional pun mulai merasakan kegugupan di tengah lonjakan ini. Amos menambahkan bahwa situasi ini adalah kali pertama dalam dua dekade terakhir ketika keempat logam mencapai puncaknya bersamaan.
Keadaan ini menggambarkan kekhawatiran investor terhadap ketegangan global yang meningkat, utamanya setelah AS menginvasi Venezuela. Penangkapan Presiden Nicolás Maduro menambah ketidakpastian di kawasan tersebut dan berimbas pada sentimen pasar.
Kekhawatiran Geopolitik dan Dampaknya Terhadap Pasar
Protes massal di Iran dan pernyataan dari Presiden AS menyebutkan bahwa negara tersebut berniat membantu demonstran telah meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan intervensi militer. “Ini adalah perdagangan momentum global sekarang… Kita berada di wilayah yang belum dipetakan,” ungkap Tom Price, seorang analis di Panmure Liberum.
Meski logam dasar seringkali terpengaruh oleh faktor konvensional, kali ini kekhawatiran geopolitik menjadi pendorong utama. Tembaga dan timah, misalnya, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor penawaran dan permintaan belaka.
Meningkatnya ketegangan internasional ini menciptakan dinamika baru dalam harga komoditas, yang bermanifestasi dalam bentuk lonjakan harga yang tak terduga dan cepat.
Independensi Federal Reserve dan Pengaruhnya Terhadap Pasar Logam
Kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve AS semakin mengemuka seiring dengan isu penyelidikan terhadap ketuanya, Jerome “Jay” Powell. Beliau menyatakan bahwa tuduhan tersebut adalah “dalih” untuk membatasi independensi Fed, terutama di tengah tekanan dari Gedung Putih untuk memangkas suku bunga.
Dengan ketidakpastian yang melingkupi penyelidikan ini, dorongan jangka panjang bagi harga emas dan perak menjadi semakin kuat. Rhona O’Connell, seorang analis di StoneX, menyoroti bahwa ketidakpastian ini “memperburuk ketidakpastian” di pasar.
Penurunan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS juga menambah beban bagi pelaku pasar, di mana investor berusaha mencari aman dalam logam berharga seperti emas dan perak.
Pengaruh Tarif terhadap Pasokan Logam Fisik di Dalam Negeri
Salah satu dampak lain dari ketidakpastian ini adalah terakumulasinya logam fisik yang lebih tinggi daripada rata-rata historis di dalam negeri. Kekhawatiran investor tentang potensi tarif AS terhadap tembaga dan perak turut berkontribusi terhadap fenomena ini.
Dalam beberapa hari mendatang, hasil dari Investigasi Bagian 232 terkait mineral kritis diharapkan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai potensi tarif yang mungkin diterapkan. Pasar menunggu keputusan ini dengan penuh harapan agar situasi bisa lebih stabil.
Dengan penutupan tambang besar di Myanmar selama bertahun-tahun, produksi timah global juga terganggu. Lonjakan permintaan dan simpati dari pasar telah mendorong harga timah meningkat tajam baru-baru ini.


