slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Emas, Perak, Tembaga dan Timah Raih Rekor Harga Tertinggi Baru

Pada hari Rabu, harga emas, perak, tembaga, dan timah mengalami lonjakan signifikan, mencapai level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama terkait dengan intervensi militer AS di Iran dan isu independensi Federal Reserve, berkontribusi pada reli yang dramatis ini.

Emas tercatat naik hingga 1,1%, mencapai harga baru sebesar US$4.641 per troy ounce. Lonjakan ini sejalan dengan kecenderungan investor yang cenderung mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.

Sementara itu, perak melampaui angka US$90, naik 6% menjadi US$92,24 per ounce. Dalam beberapa bulan terakhir, baik tembaga maupun timah turut menikmati lonjakan harga, dengan masing-masing mencapai US$13.407 dan US$54.760 per ton.

Katalis Penyebab Lonjakan Harga Logam Berharga

Menurut Helen Amos, seorang analis di BMO, lonjakan harga logam-logam tersebut melampaui ekspektasi banyak pihak. “Segalanya bergerak begitu cepat, harga melampaui perkiraan semua orang,” kata Amos, menyoroti dinamika pasar yang sedang berlangsung.

Investor institusional pun mulai merasakan kegugupan di tengah lonjakan ini. Amos menambahkan bahwa situasi ini adalah kali pertama dalam dua dekade terakhir ketika keempat logam mencapai puncaknya bersamaan.

Keadaan ini menggambarkan kekhawatiran investor terhadap ketegangan global yang meningkat, utamanya setelah AS menginvasi Venezuela. Penangkapan Presiden Nicolás Maduro menambah ketidakpastian di kawasan tersebut dan berimbas pada sentimen pasar.

Kekhawatiran Geopolitik dan Dampaknya Terhadap Pasar

Protes massal di Iran dan pernyataan dari Presiden AS menyebutkan bahwa negara tersebut berniat membantu demonstran telah meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan intervensi militer. “Ini adalah perdagangan momentum global sekarang… Kita berada di wilayah yang belum dipetakan,” ungkap Tom Price, seorang analis di Panmure Liberum.

Meski logam dasar seringkali terpengaruh oleh faktor konvensional, kali ini kekhawatiran geopolitik menjadi pendorong utama. Tembaga dan timah, misalnya, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor penawaran dan permintaan belaka.

Meningkatnya ketegangan internasional ini menciptakan dinamika baru dalam harga komoditas, yang bermanifestasi dalam bentuk lonjakan harga yang tak terduga dan cepat.

Independensi Federal Reserve dan Pengaruhnya Terhadap Pasar Logam

Kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve AS semakin mengemuka seiring dengan isu penyelidikan terhadap ketuanya, Jerome “Jay” Powell. Beliau menyatakan bahwa tuduhan tersebut adalah “dalih” untuk membatasi independensi Fed, terutama di tengah tekanan dari Gedung Putih untuk memangkas suku bunga.

Dengan ketidakpastian yang melingkupi penyelidikan ini, dorongan jangka panjang bagi harga emas dan perak menjadi semakin kuat. Rhona O’Connell, seorang analis di StoneX, menyoroti bahwa ketidakpastian ini “memperburuk ketidakpastian” di pasar.

Penurunan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS juga menambah beban bagi pelaku pasar, di mana investor berusaha mencari aman dalam logam berharga seperti emas dan perak.

Pengaruh Tarif terhadap Pasokan Logam Fisik di Dalam Negeri

Salah satu dampak lain dari ketidakpastian ini adalah terakumulasinya logam fisik yang lebih tinggi daripada rata-rata historis di dalam negeri. Kekhawatiran investor tentang potensi tarif AS terhadap tembaga dan perak turut berkontribusi terhadap fenomena ini.

Dalam beberapa hari mendatang, hasil dari Investigasi Bagian 232 terkait mineral kritis diharapkan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai potensi tarif yang mungkin diterapkan. Pasar menunggu keputusan ini dengan penuh harapan agar situasi bisa lebih stabil.

Dengan penutupan tambang besar di Myanmar selama bertahun-tahun, produksi timah global juga terganggu. Lonjakan permintaan dan simpati dari pasar telah mendorong harga timah meningkat tajam baru-baru ini.

Pasokan Tembaga RI Berkurang, Harga Mencetak Rekor Tinggi

Harga tembaga di pasar internasional belakangan ini menunjukkan tren yang mengesankan, mencapai rekor tertinggi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh berbagai faktor yang berkontribusi pada permintaan yang terus meningkat dan pasokan yang terbatas.

Sejak awal tahun 2026, harga tembaga terus melonjak, terutama setelah mencapai titik kritis pada Januari yang lalu. Posisi tembaga di pasar global semakin kuat berkat kebutuhan yang terus meningkat dari berbagai sektor.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga Tembaga di Pasar Global

Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga tembaga adalah kebutuhan dari sektor konstruksi dan infrastruktur. Dalam beberapa tahun terakhir, proyek-proyek besar yang memerlukan penggunaan tembaga semakin banyak, mulai dari pembangunan gedung hingga jaringan listrik baru.

Selain itu, minat yang meningkat terhadap kendaraan listrik menjadi pendorong lain yang signifikan. Kendaraan ini memerlukan komponen tembaga dalam jumlah besar, sehingga sektor otomotif juga turut berkontribusi pada permintaan yang tinggi.

Meningkatnya penggunaan energi terbarukan juga berpengaruh terhadap permintaan tembaga. Banyak proyek energi terbarukan modern, seperti turbin angin dan panel solar, membutuhkan tembaga untuk infrastruktur dan penyimpanan energi.

Dampak Terhadap Pasokan Tembaga Global

Walaupun permintaan meningkat, pertumbuhan pasokan tembaga mengalami kendala. Produksi tembaga memerlukan waktu yang lama, dari penemuan bijih hingga akhirnya bisa diproses menjadi produk akhir.

Bencana alam seperti longsor di tambang juga menjadi faktor yang memengaruhi pasokan. Sebuah insiden di tambang Grasberg di Indonesia baru-baru ini menghentikan operasional tambang, menambah ketidakpastian di pasar.

Selain itu, banyak tambang di seluruh dunia menghadapi tantangan dalam meningkatkan produksi mereka. Ini membuat kesenjangan antara permintaan dan pasokan semakin lebar, sehingga harga terus meningkat.

Prognosis Jangka Panjang Harga Tembaga

Analis pasar memprediksi bahwa tren kenaikan harga tembaga akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Meskipun ada kemungkinan fluktuasi harga due to faktor makroekonomi, prospek jangka panjang tetap positif.

Goldman Sachs, dalam analisisnya, memberikan proyeksi yang ambisius, dengan mengatakan harga tembaga dapat mencapai hingga USD 15.000 per metrik ton dalam satu dekade mendatang. Prediksi ini memperhitungkan kebutuhan strategis untuk berbagai sektor.

Di sisi lain, potensi permintaan dari China, meskipun sedikit melemah, tetap menjadi perhatian. Namun, kebutuhan global yang berasal dari sektor teknologi dan pertahanan diharapkan dapat menstabilkan harga tembaga secara keseluruhan.

Peran Pemerintah dalam Mendorong Industri Tembaga

Pemerintah di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, kini semakin menyadari pentingnya mineral seperti tembaga. Tembaga dianggap sebagai mineral kritis yang vital bagi keamanan nasional dan ekonomi.

Langkah-langkah pemerintah seperti insentif pajak dan dukungan langsung untuk investasi di sektor tambang menjadi salah satu cara untuk memastikan ketersediaan tembaga di dalam negeri. Ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan lebih lanjut di industri ini.

Inisiatif pemerintah tersebut tidak hanya bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan, tetapi juga untuk memberi peluang bagi pengembangan teknologi baru yang memerlukan tembaga sebagai bahan baku utama.

Jadi Tambang Tembaga Terbesar Ketiga di RI, MDKA Siapkan Investasi Rp25 T

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sedang mempersiapkan sebuah proyek ambisius di Banyuwangi, Jawa Timur. Perusahaan ini berencana untuk menginvestasikan sekitar US$1,5 miliar, setara dengan Rp25,05 triliun, guna mengembangkan tambang tembaga bawah tanah di Tujuh Bukit Operation yang diperkirakan akan menjadi tambang tembaga terbesar ketiga di Indonesia.

General Manager Communications Merdeka Copper Gold, Tom Malik, menjelaskan bahwa proyek ini ditargetkan untuk memproduksi antara 115.000 hingga 120.000 ton tembaga setiap tahunnya. Dengan kapasitas tersebut, kontribusi tambang ini diharapkan bisa berkontribusi 10%-15% terhadap angka total produksi tembaga nasional.

Jika melihat daftar tambang tembaga di Indonesia, tambang Freeport saat ini memproduksi sekitar 800.000 ton tembaga per tahun, sementara tambang Batu Hijau milik Amman Mineral memproduksi sekitar 300.000 ton. Dengan tujuan tersebut, MDKA memiliki potensi besar untuk menjadi pemain kunci dalam pasar tembaga tanah air.

Proses Pengembangan dan Investasi Besar

MDKA telah melakukan serangkaian langkah strategis sejak tahun 2018 untuk mengeksplorasi kawasan tersebut. Salah satu langkah tersebut adalah dengan membangun terowongan yang menjangkau kedalaman hampir 100 meter di bawah permukaan laut untuk mengeksplorasi lebih lanjut potensi yang ada.

Menurut Tom, pengembangan tambang ini memerlukan investasi yang tidak sedikit. Dari hasil studi kelayakan, biaya untuk pengembangan tambang bawah tanah serta proses menuju konsentrat diperkirakan kisarannya antara US$1 miliar hingga US$1,5 miliar. Ini tentunya tantangan yang signifikan bagi perusahaan.

Manajer Area Tambang Bawah Tanah Tujuh Bukit BSI, Toddy Samuel, menambahkan bahwa saat ini pembangunan terowongan sudah mencapai 1,8 kilometer. Dengan kedalaman yang hampir mencapai 100 meter, proyek ini diharapkan bisa memulai tahap konstruksi pada tahun depan.

Dampak Ekonomi dan Industri Tembaga di Indonesia

Proyek ini diharapkan membawa dampak positif bukan hanya bagi MDKA tetapi juga bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Mengingat Indonesia berperan besar dalam industri tembaga dunia, setiap peningkatan produksi dapat memberikan efek signifikan.

Melihat harga tembaga yang saat ini naik, di mana harga kontrak tembaga di London Metal Exchange (LME) melambung hingga melebihi US$10.000 per ton, ini menjadi momen yang tepat untuk ekspansi. Lonjakan harga ini terjadi akibat gangguan pasokan bahan baku, termasuk dari beberapa tambang di Indonesia.

Data dari LME menunjukkan bahwa harga tembaga 3 bulan tercatat di level tertinggi sejak Juli 2025. Dengan harga mencetak angka lebih dari US$10.336 per ton, ini bisa jadi sinyal bagi investor untuk menaruh perhatian lebih pada sektor ini.

Keberlanjutan Proyek dan Tantangan yang Dihadapi

Keberlanjutan proyek tambang ini tentunya tidak terlepas dari sejumlah tantangan. Mengembangkan tambang tembaga bukan hanya soal investasi, namun juga tentang pengelolaan lingkungan yang baik. MDKA berkomitmen untuk mengikuti standar lingkungan yang ketat dalam operasionalnya.

Kedepannya, MDKA akan terus melakukan evaluasi terhadap risiko-risiko yang mungkin muncul. Sifat proyek tambang yang kompleks seringkali menuntut perhatian khusus terhadap aspek keselamatan kerja, keberlanjutan, dan dampak sosial yang ditimbulkan.

Selain itu, hubungan dengan masyarakat lokal juga menjadi aspek penting. MDKA berusaha untuk menjalin kerjasama dan memberikan manfaat bagi komunitas sekitar melalui berbagai program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.