slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Waspadai Efek dan Risiko Tren Jual Motor Hanya STNK di Multifinance

Jakarta, Presiden Direktur CIMB Niaga Finance, Ristiawan Suherman optimistis terhadap prospek bisnis industri multifinance di tahun 2026 didukung tren suku bunga rendah, hingga stimulus daya beli dan peluang naiknya pertumbuhan ekonomi. Diharapkan kondisi inflasi yang terjaga dan ekonomi yang kian pulih mampu meningkatkan permintaan pembiayaan dan kredit di 2026.

Salah satu segmen yang bisa menjadi peluang pertumbuhan adalah segmen kendaraan listrik serta pembiayaan dana tunai yang terus mengalami peningkatan. Di sisi tantangan, multifinance menghadapi risiko peningkatan tren penjualan kendaraan hanya dengan STNK (STNK Only).

Lalu seperti apa prospek dan tantangan bisnis multifinance di 2026? Selengkapnya simak dialog Syarifah Rahma dengan Presiden Direktur CIMB Niaga Finance, Ristiawan Suherman dalam Power Lunch.

Prospek Bisnis Multifinance di Tahun 2026 dan Sektor-sektor Pendukungnya

Industri multifinance diyakini akan melihat pertumbuhan yang signifikan di tahun 2026. Dengan suku bunga yang diprediksi tetap rendah, konsumen akan lebih terdorong untuk mendapatkan pembiayaan.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil diharapkan mampu mendorong minat masyarakat untuk melakukan investasi, baik dalam bentuk kendaraan maupun properti. Segmentasi pasar yang berfokus pada kendaraan listrik menjadi langkah strategis bagi industri ini.

Selain itu, peningkatan pengeluaran konsumen yang didorong oleh pemulihan ekonomi menjadi faktor kunci lainnya. Dengan semakin meningkatnya daya beli, diharapkan permintaan untuk layanan pembiayaan juga semakin bertambah.

Risiko dan Tantangan yang Dihadapi Sektor Multifinance

Namun, industri multifinance juga tidak luput dari tantangan. Tren penjualan kendaraan hanya dengan STNK menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.

Dengan meningkatnya jumlah transaksi tanpa dokumen lengkap, ada kekhawatiran akan dampak negatif bagi stabilitas pasar. Hal ini memerlukan respons dari semua pemangku kepentingan di industri terkait.

Pengawasan yang ketat dan strategi mitigasi risiko menjadi langkah yang sangat penting. Tanpa langkah preventif, industri multifinance berpotensi menghadapi kerugian yang cukup signifikan.

Inovasi dalam Pembiayaan Kendaraan Listrik dan Dana Tunai

Salah satu solusi untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan mengedepankan inovasi dalam produk pembiayaan. Kendaraan listrik menjadi fokus utama yang akan mengubah landscape industri.

Dengan peningkatan kesadaran akan lingkungan, banyak konsumen yang mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan. Hal ini memberikan peluang besar bagi perusahaan multifinance untuk menargetkan segmen pasar baru.

Pembiayaan dana tunai juga menunjukan tren peningkatan yang positif. Banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan mendesak, sehingga hal ini menjadi peluang yang layak untuk dieksplorasi.

Motor STNK Only Banyak Dijual di Media Sosial, Bos Leasing Minta Bantuan

Praktik penjualan kendaraan dengan hanya menggunakan STNK tanpa disertai BPKB kini tengah menjadi perhatian serius dalam industri pembiayaan. Fenomena ini berkembang pesat di media sosial dan dianggap dapat merugikan banyak pihak, khususnya perusahaan-perusahaan multifinance yang beroperasi di Indonesia.

Suwandi Wiratno Siahaan, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan tantangan besar dalam dunia bisnis pembiayaan. Tekanan dari penurunan daya beli masyarakat juga menambah kesulitan yang dihadapi oleh industri ini.

Selain itu, Suwandi mengkhawatirkan dampak negatif dari komunitas yang memfasilitasi jual beli kendaraan STNK only ini. Aktivitas tersebut semakin banyak ditemukan di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok, sehingga menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi pelaku industri.

Komunitas Jual Beli Kendaraan di Media Sosial

Para pelaku bisnis kini harus menghadapi kenyataan bahwa adanya komunitas yang menawarkan penjualan kendaraan tanpa bukti kepemilikan yang sah. Praktik ini semakin merugikan karena tidak hanya menyulitkan perusahaan pembiayaan, tetapi juga berpotensi menjerumuskan konsumen ke dalam masalah hukum.

Suwandi mengingatkan bahwa kendaraan yang dijual dengan STNK only tidak memiliki kepastian legalitas. Tanpa disertai BPKB yang menjadi bukti sah atas kepemilikan, masyarakat berisiko terjebak dalam transaksi yang tidak jelas.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat banyak yang terjun ke dalam komunitas-komunitas tersebut, mengejar keuntungan cepat tanpa memahami resiko yang akan ditanggung. Hal ini membutuhkan perhatian lebih dari semua pihak untuk menjaga integritas pasar dan melindungi konsumen.

Dampak Negatif terhadap Industri Pembiayaan

Suwandi menegaskan dampak praktis dari situasi ini terhadap perusahaan pembiayaan saat ini. Kini perusahaan-perusahaan menjadi lebih selektif dalam menyetujui aplikasi kredit untuk kendaraan, yang sebelumnya memungkinkan banyak debitur untuk mendapatkan izin lebih mudah.

Saat ini, dari sepuluh aplikasi yang masuk, hanya sekitar empat yang lolos pada proses persetujuan. Ini merupakan penurunan yang signifikan dibandingkan sebelumnya. Penusukan ini tentunya akan memberikan dampak luas terhadap pendapatan dan kinerja bisnis industri pembiayaan.

Kondisi ini menciptakan siklus yang merugikan, di mana masyarakat merasa kesulitan untuk mendapatkan pembiayaan, sementara perusahaan juga terdesak untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Hal ini memerlukan intervensi segera dari regulator untuk menciptakan kembali kepercayaan dalam sektor ini.

Panggilan untuk Tindakan dari Pemerintah dan Regulator

Untuk menghadapi tantangan yang ada, APPI telah mengirimkan surat kepada otoritas terkait seperti Kominfo dan OJK. Dalam surat tersebut, asosiasi ini menyampaikan keresahan terkait maraknya komunitas yang ilegal dan merugikan saat ini.

Pihak APPI meminta agar pemerintah melakukan langkah-langkah konkret untuk menindak jual beli kendaraan tanpa bukti kepemilikan yang sah. Tindakan tegas sangat penting untuk menjaga kesehatan dan keberlangsungan industri pembiayaan di tanah air.

Keberadaan komunitas-komunitas tersebut hanya akan memperburuk masalah yang sudah ada dan berpotensi menambah ketidakpastian di pasar. Oleh karena itu, harapannya adalah pemerintah dapat segera mengambil tindakan yang tepat dan efektif.