slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Daerah Banten Ini Akan Berubah Total Karena Kehadiran MRT Di Sini

Proyek perluasan MRT Jakarta kini telah melangkah ke tahap yang lebih maju dengan tujuan untuk menjangkau Balaraja di Banten. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memperluas jaringan transportasi, tetapi juga untuk memfasilitasi pengembangan kawasan dengan pendekatan Transit Oriented Development (TOD).

Proyek ini melibatkan berbagai pengembang terkemuka yang akan menjadi mitra dalam mewujudkan rencana ini. Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani merupakan langkah awal yang menandakan komitmen untuk merealisasikan proyek transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak sekadar formalitas tetapi mencerminkan kerja sama yang kuat dalam membangun infrastruktur publik. Dengan adanya proyek ini, diharapkan pelayanan publik akan semakin optimal dan terintegrasi dengan baik.

Inovasi untuk Konektivitas yang Lebih Baik di Jakarta

Lintas Timur-Barat yang baru direncanakan akan menjadi salah satu koridor utama dalam penghubung antara Jakarta dan Banten. Proyek ini diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan transportasi, tetapi juga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

Dalam konteks pembangunan, Tuhiyat menyatakan bahwa MRT Jakarta berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam mendorong efisiensi anggaran. Hal ini akan menguntungkan berbagai pihak dan menciptakan solusi yang inovatif di bidang transportasi.

Panjang jalur yang direncanakan mencapai 30 kilometer, yang akan mencakup beberapa titik penting. Ini akan memastikan setiap kawasan yang terlewati mendapatkan dampak positif dari perkembangan ini.

Peran Strategis Pengembang Swasta dalam Proyek MRT

Melalui keterlibatan pengembang swasta, proyek ini akan mendapatkan tambahan sumber daya dan ide inovatif. Tuhiyat menekankan pentingnya sinergi antara sektor publik dan swasta untuk mencapai tujuan bersama.

Nota Kesepahaman ini bertujuan untuk merangsang ide-ide baru yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pertumbuhan kawasan yang terintegrasi dengan sistem transportasi publik akan menciptakan ruang yang lebih ramah bagi penghuninya.

Partisipasi aktif semua pihak dalam proyek ini akan berfungsi untuk memperlancar perumusan dan pelaksanaan rencana. Ini sekaligus mengurangi risiko pendanaan dan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih sehat.

Harapan atas Proyek Transportasi Masa Depan di Jakarta

Harapan besar ditempatkan pada proyek MRT Lintas Timur-Barat ini, di mana pemerintah dan masyarakat menantikan dampak positifnya. Tuhiyat percaya bahwa proyek ini akan membawa manfaat yang signifikan dalam jangka panjang.

Selain mengurangi kemacetan, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas masyarakat. Dengan sistem transportasi yang lebih efektif, waktu perjalanan dapat dipangkas dan kualitas hidup masyarakat akan meningkat.

Konsep TOD yang diusung akan menjadikan stasiun-stasiun sebagai pusat aktivitas, memperkuat konektivitas antar kawasan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Inisiatif ini diharapkan melahirkan banyak ruang publik yang berkualitas bagi warga sekitar.

Dana IPO Superbank Sisa 1,44 Triliun Manajemen Investasikan di Sini

Di tengah perkembangan pesat industri perbankan, kabar terbaru mengenai PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) menarik perhatian publik. Dana hasil Initial Public Offering (IPO) yang berhasil dihimpun mencapai angka fantastis dan saat ini masih tersisa dalam jumlah signifikan.

Berdasarkan laporan terbaru, dana IPO yang tersisa di Bank Indonesia mencapai Rp1,44 triliun dengan bunga yang cukup menarik, yaitu 3,75 persen. Dana tersebut ditempatkan dalam Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) dengan pengelolaan yang cukup cermat.

Dari total dana yang diperoleh, sekitar Rp1,29 triliun telah digunakan untuk modal kerja yang bertujuan untuk memperkuat penyaluran kredit. Tidak kurang dari 70 persen dari dana IPO, atau Rp1,91 triliun, dialokasikan untuk penyaluran kredit yang dinilai sangat crucial bagi pengembangan perusahaan.

Rincian Penggunaan Dana IPO oleh Super Bank Indonesia

Sampai saat ini, realisasi penggunaan dana untuk modal kerja dalam penyaluran kredit baru mencapai 47,24 persen. Sementara itu, sisanya masih menunggu untuk dimanfaatkan secara optimal dalam pengembangan usaha.

Dengan porsi 30 persen atau sekitar Rp819,22 miliar dari total dana IPO yang ditujukan untuk belanja modal, angka tersebut belum sepenuhnya terserap. Hal ini menunjukkan adanya tantangan dalam implementasi strategi bisnis perusahaan.

Pada tanggal 17 Desember 2025, Superbank berhasil menghimpun dana IPO sebesar Rp2,79 triliun. Setelah dikurangi biaya penawaran umum yang mencapai Rp67,43 miliar, dana bersih yang diperoleh perusahaan adalah sebesar Rp2,73 triliun.

Perspektif Pertumbuhan dan Peluang yang Ada

Dalam konteks pertumbuhan, alokasi dana yang signifikan untuk kredit menunjukkan komitmen Super Bank Indonesia dalam ekspansi. Penyaluran kredit yang agresif diharapkan dapat mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perusahaan.

Perusahaan juga perlu memperhatikan aspek pengelolaan dana dengan bijak agar tidak menghadapi risiko likuiditas. Penggunaan yang efisien dari dana hasil IPO sangat penting dalam menjaga stabilitas keuangan dan reputasi perusahaan di industri perbankan.

Dengan adanya peluang untuk meningkatkan penyaluran kredit, Super Bank Indonesia harus merencanakan strategi pemasaran dan penawaran produk yang tepat. Inovasi dalam produk kredit juga menjadi langkah penting untuk menarik lebih banyak nasabah dan memperluas pangsa pasar.

Analisis Dampak Ekonomi dari Keputusan Super Bank Indonesia

Keputusan untuk mengalokasikan dana dalam sektor kredit juga dapat memberi dampak positif terhadap perekonomian secara keseluruhan. Penyaluran kredit yang lebih baik akan mendukung pertumbuhan usaha kecil dan menengah, yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Dari sisi makroekonomi, peningkatan akses terhadap pembiayaan diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat. Selain itu, kredit yang disalurkan dengan bijaksana dapat menurunkan angka pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja baru.

Namun, perusahaan juga harus waspada terhadap risiko kredit yang mungkin timbul. Penilaian yang ketat terhadap kelayakan debitor menjadi hal yang sangat penting dalam menjaga kesehatan portofolio kredit.

Strategi Masa Depan yang Harus Diterapkan

Dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada, Super Bank Indonesia perlu menetapkan strategi jangka panjang yang jelas. Strategi ini harus mencakup pengembangan produk baru serta peningkatan layanan kepada nasabah.

Tidak hanya fokus pada penyaluran kredit, pengelolaan dana yang optimal juga harus menjadi prioritas. Diversifikasi sumber pendapatan dapat membantu perusahaan menghadapi risiko fluktuasi pasar yang mungkin terjadi.

Selain itu, investasi dalam teknologi dan digitalisasi diperlukan untuk meningkatkan efisiensi operasional. Dalam era di mana digitalisasi menjadi kunci, Super Bank Indonesia harus terus berinovasi untuk tetap bersaing di pasar yang semakin ketat.

Duit Lender DSI Rp 1,2 Triliun Masuk ke Sini

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sedang menyelidiki aliran dana dari fintech peer to peer lending yang dikelola oleh PT Dana Syariah Indonesia (DSI). Dalam pemeriksaan awal, PPATK mencurigai bahwa operasi DSI berpotensi merupakan skema ponzi yang menyamar di balik prinsip syariah.

Deputi Bidang Pemberantasan PPATK Danang Tri Hartono menyatakan bahwa dari data transaksi yang dikumpulkan, DSI telah mengumpulkan dana masyarakat sebesar Rp7,478 triliun dari 2021 hingga 2025. Dari jumlah tersebut, imbal hasil yang sudah dikembalikan kepada masyarakat hanya sebesar Rp6,2 triliun.

Menurut Danang, terdapat selisih sekitar Rp1,2 triliun yang belum dikembalikan kepada masyarakat. Hal ini menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran mengenai keberlanjutan operasional perusahaan tersebut.

Danang melanjutkan, dari selisih dana yang belum dikembalikan, sekitar Rp167 miliar digunakan untuk biaya operasional, mencakup berbagai pengeluaran seperti listrik, internet, sewa tempat, dan gaji karyawan. Selain itu, sekitar Rp796 miliar teralihkan ke perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan DSI, menunjukkan adanya bukti tidak jelas dalam pengelolaan dana.

Dalam selidiknya, PPATK menemukan aliran dana sekitar Rp218 miliar dipindahkan ke individu atau entitas lain yang juga terhubung dengan DSI. Hasil analisis menunjukkan bahwa afiliasi tersebut merupakan pihak yang paling diuntungkan dari skema yang berjalan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa skema ini lebih mirip dengan ponzi yang dibungkus dengan konsep syariah,” ungkap Danang, meskipun ia mengakui bahwa harapan para lender masih ada.

PPATK mengambil langkah tegas dengan menghentikan segala transaksi yang dilakukan DSI dan entitas terafiliasi sejak tanggal 18 Desember 2025. Tindakan ini meliputi 33 rekening dengan total saldo mencapai 4 miliar.

Sekaligus, Bareskrim Polri saat ini telah meningkatkan status penanganan kasus dugaan penggelapan dana yang melibatkan DSI ke tahap penyidikan. Hal ini menunjukkan keseriusan dalam menangani kasus yang telah merugikan banyak masyarakat.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima empat laporan terkait kasus ini. Terdata lebih dari 1.500 lender yang menjadi korban, dengan Direktur Utama DSI, Taufiq Aljufri, sebagai pihak terlapor.

Ade Safri menjelaskan bahwa masalah ini muncul dari aduan yang diterima sejak Juni 2025 mengenai kesulitan penyetoran dana kembali kepada lender. Dalam skema pendanaan, DSI menjanjikan bagi hasil hingga 23%, di mana 18% dialokasikan untuk lender, sedangkan sisanya untuk perusahaan.

Namun, kenyataannya, dana yang seharusnya digunakan untuk investasi justru diduga sudah disalahgunakan. Penyidik menduga bahwa DSI menciptakan borrower yang tidak nyata atau memanfaatkan borrower yang ada untuk proyek yang tidak ada relevansinya secara nyata.

Implikasi Skandal Keuangan DSI bagi Investor dan Masyarakat

Skandal yang melibatkan DSI menimbulkan dampak yang signifikan bagi para investor dan masyarakat luas. Dengan semakin maraknya skema ponzi di dunia fintech, kepercayaan publik terhadap sektor ini mulai terguncang. Banyak orang yang merasa kecewa dan dirugikan, sehingga penting bagi regulator untuk mengambil tindakan lebih lanjut.

Selain kerugian finansial, kasus ini juga mengganggu kestabilan ekonomi masyarakat kecil yang bergantung pada investasi alternatif. Kejadian ini mendorong perlunya diskusi lebih mendalam mengenai regulasi yang membimbing industri fintech agar lebih transparan dan aman.

Lebih jauh lagi, publik harus lebih peka terhadap berbagai tawaran investasi yang terlihat terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Edukasi tentang risiko investasi menjadi sangat penting agar masyarakat tidak terjebak dalam janji manis namun menipu yang ditawarkan oleh skema semacam ini.

Pentingnya Regulasi dalam Sektor Fintech dan Penegakan Hukum

Regulasi yang lebih ketat diperlukan untuk menanggulangi masalah seperti ini, dan pihak berwajib harus berkomitmen untuk mengawasi secara ketat aktivitas berbagai platform fintech. Pendekatan yang lebih proaktif dalam pengawasan dapat membantu mendeteksi dan mencegah skema penipuan sebelum merugikan konsumen.

Dari hasil temuan yang ada, terlihat jelas bahwa sejumlah perusahaan mungkin memanfaatkan celah dalam regulasi untuk menjalankan operasi ilegal. Oleh karena itu, kerjasama antara lembaga keuangan dan penegak hukum menjadi sangat krusial untuk menjaga integritas sektor keuangan.

Melalui penguatan regulasi, diharapkan kejadian serupa tidak terulang kembali. Langkah-langkah preventif harus diterapkan untuk melindungi konsumen dan menjaga stabilitas pasar secara keseluruhan.

Peningkatan Kesadaran Masyarakat terhadap Investasi Fintech

Masyarakat perlu dipersiapkan dengan pengetahuan yang cukup mengenai investasi, terutama dalam sektor fintech. Dengan memahami risiko dan potensi keuntungan, investor akan menjadi lebih bijaksana dalam memilih investasi yang tepat dan aman. Edukasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan investasi hari ini.

Pemerintah dan lembaga terkait juga diharapkan dapat menyelenggarakan sosialisasi untuk memberikan informasi yang jelas mengenai tindakan yang harus diambil sebelum berinvestasi. Dengan cara ini, diharapkan ketidakpahaman masyarakat dapat diminimalisir, sehingga kerugian semacam ini dapat dihindari.

Persoalan di sektor fintech tidak hanya tentang dana yang hilang, tetapi juga tentang kepercayaan masyarakat yang tergerus. Oleh karena itu, langkah-langkah untuk membangun kembali kepercayaan tersebut harus segera dilakukan.

Dapat Rp883 M dan 6 Efek, Taspen Berencana Investasi di Sini

Dalam perkembangan terbaru, PT Taspen (Persero) telah menerima jumlah signifikan berupa uang tunai dan efek dari hasil pemulihan aset terkait kasus korupsi. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menanggulangi tindakan penyelewengan, sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan negara.

Penerimaan uang tunai sebesar Rp883 miliar dan enam efek yang disita meliputi instrumen investasi yang terpengaruh kasus tersebut. Proses ini dilakukan di Gedung Merah Putih KPK di Jakarta, dan menjadi tonggak penting dalam upaya pemulihan aset negara.

Rony Hanityo Aprianto, Direktur Utama Taspen, menjelaskan secara detail mengenai enam efek yang diterima. Tiga dari efek tersebut, yakni Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset dan obligasi dari WIKA serta PTPP, saat ini sedang dalam fase restrukturisasi. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam menjaga nilai investasi yang diterima.

“Nilai dari efek yang kami terima tidak berada dalam kondisi ideal, sehingga ketika dinilai total, hanya mencapai sekitar Rp30 miliar,” ujar Rony. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada upaya besar untuk mengelola kembali nilai aset yang ada di tangan Taspen.

Dengan jumlah uang tunai yang diterima, Taspen berencana untuk melakukan investasi yang lebih strategis. Rony menambahkan bahwa perusahaan sedang mengincar penempatan dana di Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, yang dianggap lebih stabil. “Oleh karena kebijakan pemerintah, saat ini cukup menguntungkan untuk pasar ekuitas, namun kami tetap memprioritaskan di SBN,” tegasnya.

Target investasi ini diharapkan dapat memperkuat kondisi keuangan Taspen dan memberikan kontribusi positif bagi peserta. Selain itu, Taspen juga menunggu potensi dana tambahan dari kasus yang terkait dengan Direktur Utama sebelumnya, Antonius Kosasih, yang saat ini tengah proses hukum.

Strategi Investasi dan Pengelolaan Aset oleh Taspen

Rencana investasi Taspen mencerminkan pendekatan konservatif, terlebih karena kondisi ekonomi yang masih tidak menentu. Rony menjelaskan bahwa 60% investasi Taspen tetap di SBN untuk menciptakan stabilitas finansial.

Dari total kerugian negara yang diperkirakan mencapai Rp1 triliun, diharapkan ada pemulihan penuh terhadap dana tersebut. “Uang yang dipulihkan dari hasil penjualan efek dan tunai akan masuk ke dalam buku Tabungan Hari Tua (THT),” jelas Rony.

Melalui pemulihan dana ini, diharapkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan pensiun dapat kembali merasakan manfaatnya. THT sendiri adalah program keuangan yang memberikan tunjangan pensiun kepada ASN untuk memastikan kesejahteraan di masa tua.

Pentingnya Akuntabilitas dalam Pengelolaan Dana

Untuk menjaga kepercayaan publik, Taspen berkomitmen untuk mengelola pemulihan dana dengan tingkat akuntabilitas tertinggi. Rony menyoroti pentingnya penguatan mekanisme pengawasan internal dalam setiap aspek pengelolaan dana.

Perbaikan sistem investasi dan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) juga menjadi fokus utama. Ini bertujuan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap keputusan investasi yang diambil.

Pengembangan infrastruktur pengawasan diharapkan mampu mendeteksi dini potensi penyimpangan. Rony menekankan bahwa keberhasilan investasi juga tergantung pada kolaborasi semua stakeholder demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Kontribusi Terhadap Perekonomian Negara dan Kesejahteraan ASN

Strategi investasi yang dibuat oleh Taspen tidak hanya berfokus pada pertumbuhan keuntungan tetapi juga berdampak positif terhadap perekonomian nasional. Investasi di SBN dan pasar saham diharapkan dapat memberikan efek domino bagi stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Kontribusi ini akan sangat berarti bagi kesejahteraan ASN. Melalui pemulihan dana yang lebih baik, diharapkan lebih banyak ASN yang terjamin masa pensiunnya, yang pada gilirannya dapat meningkatkan daya beli dan konsumsi masyarakat.

Rony menuturkan bahwa dengan adanya dukungan berbagai pihak, Taspen akan mampu mewujudkan tujuan ini dengan lebih efektif. Rencana jangka panjang ini bukan hanya untuk kepentingan perusahaan, tetapi juga untuk kepentingan bangsa.

IHSG Sesi I Tidak Rebound, Investor Asing Beralih ke Sini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan dengan situasi yang cukup menegangkan pada sesi I hari ini. Di tengah tensi pasar, IHSG mencatatkan penurunan yang signifikan, membawa banyak perdebatan di kalangan investor.

Secara keseluruhan, IHSG tutup di level 8.088,8, mengalami penurunan 0,35% atau sebesar 28,35 poin. Jumlah saham yang naik sebanyak 369, sementara 307 saham mengalami penurunan, dan 280 saham tidak mengalami perubahan.

Nilai transaksi sepanjang sesi I mencapai Rp 11,7 triliun, dengan total 18,21 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,45 juta kali transaksi. Angka transaksi ini menunjukkan minat investor yang tetap tinggi meskipun IHSG berada di zona merah.

Analisis Pergerakan Sektor di IHSG Hari Ini

Berdasarkan data yang dirilis, sebagian besar sektor berada di zona merah pada sesi I. Sektor energi mengalami penurunan paling tajam, dengan penurunan sebesar 2,16%, diikuti oleh bahan baku dan utilitas yang juga mencatat penurunan.

Sementara itu, sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang berhasil memperlihatkan penguatan dengan kenaikan 1,53%. Sektor konsumer non-primer juga menunjukkan pertumbuhan yang positif, mencatatkan kenaikan 1,44% pada sesi tersebut.

Pergerakan sektor yang beragam menunjukkan adanya ketidakpastian di pasar. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi global dan sentimen investor domestik. Arah pasar ke depan tampaknya masih memerlukan perhatian yang lebih dalam.

Investor Asing dan Dampaknya Terhadap Pasar Saham

Selama perdagangan intraday, investor asing tercatat melakukan aktivitas penjualan bersih. Total net sell mencapai Rp 470,3 miliar, dengan rincian Rp 4,3 triliun dari penjualan asing dan Rp 3,8 triliun dari pembelian asing.

Aktivitas jual beli yang intens ini menunjukkan bahwa ketidakpastian dalam pasar global berpengaruh terhadap keputusan investasi asing. Para investor asing terlihat mengalihkan portofolio mereka di tengah dinamika yang terjadi.

Dalam daftar saham yang paling banyak dijual oleh investor asing, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menempati posisi teratas. Ini menandakan bahwa sektor perbankan menjadi salah satu area yang menarik bagi investor asing, meskipun saat ini mengalami tekanan.

Saham-Saham Teratas yang Menarik Perhatian Investor

Pada saat yang bersamaan, ada juga beberapa saham yang menunjukkan ketahanan meskipun pasar dalam keadaan tidak stabil. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk mencatatkan net buy tertinggi dengan jumlah Rp 64,9 miliar, menunjukkan minat investor yang kuat pada sektor energi terbarukan.

Saham lain yang juga menarik perhatian adalah PT Barito Renewable Energy Tbk, yang tercatat ada dalam daftar net buy dengan nilai Rp 41,1 miliar. Posisi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan tersebut.

Di sisi lain, saham-saham seperti PT Telkom Indonesia Tbk dan PT Bank Jago Tbk juga menunjukkan kekuatan yang mengesankan di tengah tekanan pasar. Hal ini memberikan harapan kepada investor bahwa ada segmen-segmen tertentu yang masih memiliki potensi tumbuh di masa mendatang.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi IHSG di Jangka Pendek dan Panjang

Salah satu faktor penting yang turut mempengaruhi IHSG adalah kondisi ekonomi makro. Fluktuasi nilai tukar dan inflasi menjadi dua parameter utama yang harus diperhatikan oleh investor. Keduanya bisa mempengaruhi daya beli masyarakat dan laba perusahaan, sehingga berdampak langsung pada performa saham.

Selain itu, kebijakan pemerintah dan bank sentral juga memiliki pengaruh yang signifikan. Setiap kebijakan moneter atau fiskal yang diterapkan dapat mengubah arah investasi dan, pada gilirannya, mempengaruhi pasar saham secara keseluruhan.

Tak kalah pentingnya, faktor eksternal juga memainkan peran. Keadaan politik, serta keadaan pasar global, seperti perubahan suku bunga di negara maju, bisa memberikan dampak jangka pendek yang cukup besar pada IHSG.