Bank Mega Syariah baru-baru ini menandatangani akad pembiayaan sindikasi senilai Rp 870 miliar. Acara ini melibatkan kerja sama antara Bank Mega Syariah, PT Bank Mega Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sebagai bagian dari strategi akuisisi dan pengembangan di sektor properti.
Pembiayaan ini ditujukan untuk mendukung investasi yang dilakukan oleh PT Pandega Citra Niaga, khususnya dalam hal refinancing aset dan pembangunan proyek properti besar, yaitu Borneo Bay Mall. Diharapkan kolaborasi ini dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan Kalimantan Timur.
Akad pembiayaan tersebut menggunakan skema Wa’d/Line Facility, dengan dasar akad musyarakah mutanaqisah (MMQ) yang berpegang pada prinsip syariah. Skema ini memberikan keleluasaan dalam pembiayaan sekaligus memastikan kepatuhan terhadap standar kehati-hatian dan tata kelola yang optimal.
Menurut Guritno, kepala Divisi Corporate & Business Banking di Bank Mega Syariah, partisipasi bank dalam pembiayaan sindikasi adalah langkah strategis untuk menciptakan portofolio pembiayaan korporasi yang lebih kuat. Dia menambahkan, mereka mengamati prospek bagus di sektor properti, terutama proyek dengan konsep mixed-use.
“Salah satu contohnya adalah pusat aktivitas ekonomi seperti Borneo Bay Mall,” ungkap Guritno. Melalui pembiayaan ini, Bank Mega Syariah berkomitmen untuk mendukung proyek yang dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Guritno juga menekankan bahwa skema sindikasi merupakan bentuk sinergi antar bank dalam mendukung kebutuhan pembiayaan yang memerlukan nilai tinggi. Hal ini juga penting untuk menjaga kualitas aset serta manajemen risiko lembaga keuangan.
Data hingga November 2025 menunjukkan pembiayaan korporasi Bank Mega Syariah mencapai lebih dari Rp4,20 triliun. Ini mencerminkan pertumbuhan yang signifikan sebesar 30,4% dibandingkan tahun sebelumnya, yang berada di angka Rp3,22 triliun.
Jumlah ini berkontribusi lebih dari 43% terhadap total pembiayaan Bank Mega Syariah senilai Rp9,57 triliun. Secara keseluruhan, pembiayaan tersebut tumbuh lebih dari 28% dalam periode yang sama.
Strategi Pembiayaan dan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan
Guritno menegaskan, ke depannya Bank Mega Syariah akan terus memperkuat jangkauan pembiayaan korporasi. Tujuannya adalah untuk mengedepankan prinsip syariah yang kokoh dan kehati-hatian dalam setiap langkah yang diambil.
Sektor-sektor yang memiliki fundamental yang kuat juga menjadi fokus dalam rencana investasi bank di masa mendatang. Hal ini bertujuan untuk memastikan kinerja pembiayaan tetap berada di jalur pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan.
Disamping itu, Bank Mega Syariah berencana untuk melakukan evaluasi dan penyesuaian strategi sesuai dengan dinamika pasar yang terus berubah. Pendekatan yang adaptif ini diharapkan mampu menjaga daya saing di industri perbankan syariah.
Dengan melihat tren pertumbuhan di sektor properti, terutama dalam proyek bernilai besar, Bank Mega Syariah optimis dapat meningkatkan kontribusinya. Hal ini akan memperkuat posisi mereka sebagai salah satu pemain utama dalam industri pembiayaan syariah di Indonesia.
Peran Strategis Dalam Pembiayaan Sektor Properti
Pembiayaan sindikasi ini juga menjadi contoh nyata bagaimana bank syariah dapat berperan aktif dalam mendukung proyek-proyek infrastruktur. Investasi dalam sektor ini tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Guritno mengklaim bahwa proyek dengan konsep mixed-use menjadi salah satu tren yang cukup menjanjikan di pasar. Pengembangan yang mengintegrasikan hunian, perkantoran, dan ruang komersial dalam satu lokasi dirasa lebih efisien dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan dukungan pembiayaan yang solid, proyek-proyek seperti Borneo Bay Mall diharapkan dapat selesai tepat waktu dan memberikan nilai lebih bagi kawasan sekitarnya. Melalui upaya ini, Bank Mega Syariah bertekad untuk berkontribusi positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi daerah.
Investasi dalam sektor properti juga dapat memicu pertumbuhan sektor lain, seperti konstruksi dan perdagangan. Ini menunjukkan bahwa peran bank dalam pembiayaan sektor ini sangat krusial untuk mendorong daya saing ekonomi lokal dan nasional.
Tantangan dan Kesempatan di Era Pembiayaan Syariah
Bank Mega Syariah harus menghadapi berbagai tantangan dalam persaingan industri perbankan. Fleksibilitas dalam produk yang ditawarkan dan pemahaman pasar menjadi kunci untuk memenangkan hati nasabah.
Terdapat peluang yang terbentang lebar bagi bank syariah dalam mengembangkan produk dan layanan sesuai kebutuhan masyarakat. Hal ini bisa jadi diferensiasi yang memicu pertumbuhan dalam pembiayaan syariah.
Kerjasama antar bank juga menjadi salah satu strategi yang efektif. Dalam hal ini, pembiayaan sindikasi tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga meningkatkan kapasitas dana yang tersedia untuk mendanai proyek bernilai besar.
Dari sisi regulasi, dukungan pemerintah untuk memajukan industri perbankan syariah juga menjadi faktor yang tak kalah penting. Kebijakan yang mendukung pertumbuhan di industri ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor keuangan syariah.


