slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

IHSG Rebound di Depan Prabowo, Airlangga Sebut Reformasi Pasmod

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, baru-baru ini mengungkapkan optimisme tentang kondisi pasar modal Indonesia. Setelah mengalami penurunan pasca pengumuman penting dari MSCI, pasar membutuhkan waktu untuk bangkit kembali dan menunjukkan tanda-tanda stabilitas.

Dalam acara Economic Outlook 2026, Hartarto menegaskan bahwa pasar modal Indonesia kini menunjukkan kinerja yang positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami rebound yang signifikan, menunjukkan ketahanan dan potensi pertumbuhan yang ada di pasar.

Upaya Pemerintah dalam Memperbaiki Pasar Modal Indonesia

Pemerintah Indonesia tengah melakukan berbagai reformasi di sektor pasar modal untuk meningkatkan kepercayaan investor. Upaya ini termasuk pengaturan free float yang lebih ketat, yang sebelumnya hanya 7,5% kini menjadi 15%. Perubahan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan transparansi pasar.

Selain itu, pengungkapan kepemilikan saham juga diperbarui, dari yang awalnya di atas 5% menjadi lebih rinci di atas 1%. Langkah ini bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih jelas kepada investor tentang struktur kepemilikan di pasar.

Reformasi lain yang dilakukan adalah kebijakan investasi untuk perusahaan asuransi yang kini diperbolehkan untuk menginvestasikan hingga 20% dari portofolio mereka di pasar modal. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat aliran modal ke pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dampak Pengumuman MSCI terhadap Pasar Modal

Pengumuman dari MSCI mengenai pembekuan rebalancing saham Indonesia sempat membuat pasar tertekan. IHSG bahkan jatuh ke level terendah di angka 7.481, menciptakan kekhawatiran di kalangan investor asing dan domestik tentang prospek pasar ke depan.

Namun, penurunan ini tidak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, IHSG berhasil kembali menguat di atas level 8.000. Kenaikan lebih dari 3% dalam satu minggu menunjukkan bahwa pasar semakin stabil dan investor mulai kembali percaya.

Tindakan cepat dari pemerintah dan regulator juga berkontribusi dalam pemulihan ini, di mana mereka berusaha keras menyampaikan bahwa segala upaya dilakukan untuk menjaga pasar tetap kompetitif dan atraktif. Dukungan yang solid ini menjadi sinyal positif bagi investor yang ragu.

Potensi Pertumbuhan Pasar Modal di Masa Depan

Dengan semua perubahan dan reformasi yang sedang berlangsung, masa depan pasar modal Indonesia terlihat lebih cerah. Banyak analis percaya bahwa langkah-langkah ini akan mendorong lebih banyak investasi baik dari dalam maupun luar negeri.

Tingginya antusiasme di pasar menunjukkan bahwa ada keinginan untuk tumbuh, baik oleh investor lokal maupun asing. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dipandang sebagai landasan positif untuk menarik investasi lebih banyak lagi.

Pemerintah berharap bisa menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat investasi yang menarik di Asia. Dengan terus melakukan reformasi dan menjaga stabilitas, harapan ini bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Imbas Bencana Sumatera, Bos LPS Sebut 4 BPR Dilikuidasi

Jakarta, dalam beberapa waktu terakhir, bencana hidrometeorologi telah memberikan dampak yang signifikan terhadap sistem keuangan di beberapa wilayah Indonesia. Terutama di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh, di mana sejumlah bank perekonomian mengalami masalah serius.

Dari hasil laporan yang dirilis oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terungkap bahwa empat Bank Perekonomian Rakyat dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPR/BPRS) tengah dalam proses likuidasi sebagai akibat dari bencana tersebut. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pelaku industri keuangan.

Pihak LPS memberikan perhatian khusus terhadap bank yang paling terdampak, terutama yang berada di Takengon, Aceh. Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, menegaskan bahwa mereka berupaya untuk memulihkan kondisi semua bank yang terkena dampak.

Mengidentifikasi Dampak Bencana Terhadap Bank Perekonomian

Banjir, longsor, dan fenomena cuaca ekstrem lainnya telah memengaruhi operasional bank di wilayah bencana. Dengan fasilitas yang rusak dan ketidakmampuan untuk menjalankan bisnis, beberapa bank terpaksa mengambil langkah drastis seperti likuidasi.

Menurut Farid, penting bagi semua pihak untuk memahami skala kerusakan yang dialami. “Yang paling serius adalah bank yang beroperasi di Takengon. Kami terus berusaha untuk memulihkannya agar masyarakat dapat kembali menggunakan layanan bank,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana alam tidak hanya berdampak pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kestabilan finansial masyarakat. Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pihak menjadi semakin penting dalam proses pemulihan.

Upaya Pemulihan dari LPS untuk Bank Terdampak

LPS tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Mereka tengah mengkaji berbagai bentuk relaksasi dan dukungan yang bisa diberikan kepada bank-bank yang terdampak bencana. Menurut Ketua DK LPS, Anggito Abimanyu, langkah ini akan segera diumumkan dan diharapkan mampu memberikan bantuan setelah evaluasi dilakukan.

Dalam upaya pemulihan, LPS berkomitmen untuk melibatkan pemerintah daerah. Kerjasama ini dinilai penting untuk memastikan bahwa bank dapat kembali beroperasi seefisien mungkin setelah bencana. “Kami berharap dapat segera memberlakukan kebijakan relaksasi yang mendukung,” tambah Anggito.

Secara keseluruhan, penting bagi masyarakat untuk tetap berkomunikasi dengan bank terkait kondisi dan prosedur terbaru. Hal ini untuk memastikan bahwa mereka tidak terabaikan dalam proses Pemulihan.

Pentingnya Dukungan Masyarakat dan Stakeholder

Dukungan dari masyarakat dan stakeholder sangat vital dalam situasi seperti ini. Selain pemerintah, lembaga keuangan lain juga diharapkan bisa berkontribusi dalam proses pemulihan. Solidaritas masyarakat akan membantu mendorong kebangkitan ekonomi lokal yang terdampak.

Relaksasi dan insentif bagi bank-bank yang terdampak diharapkan dapat memberikan dasar yang kuat bagi pemulihan sektor keuangan. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan solusi yang mendukung keberlanjutan bank di wilayah bencana.

Ke depannya, berbagai langkah preventif juga perlu diambil untuk meminimalisir dampak dari bencana di masa mendatang. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan.

IHSG Ambruk Tiba-Tiba, Analis Sebut Geopolitik Global Jadi Penyebabnya

Jakarta, pasar modal Indonesia mengalami fluktuasi yang signifikan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba mengalami penurunan lebih dari 2%. Pada pukul 14.33 WIB, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 194,24 poin atau 2,17% menjadi 8.742,51. Namun, tak lama setelah itu, indeks berhasil memangkas penurunan hingga kurang dari 1%.

Sejumlah analis mulai memberikan pandangan terkait penyebab penurunan mendadak IHSG ini, yang banyak dikaitkan dengan kondisi geopolitik global yang semakin memanas. Hal ini menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar dan investor yang berkepentingan dalam sektor komoditas.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menjelaskan bahwa terdapat dua faktor utama yang memengaruhi reaksi pasar saat ini. Ini menunjukkan bagaimana isu-isu global dapat merasuk ke dalam dinamika pasar modal domestik dan memengaruhi keputusan investasi.

Geopolitik Global dan Dampaknya Terhadap Pasar Modal

Dalam pandangan Maximilianus, salah satu penyebab ketidakpastian di pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama dengan adanya gelombang protes di Iran. Protes ini memicu kekhawatiran atas potensi keterlibatan Amerika Serikat, yang dapat mempengaruhi pasar komoditas secara global.

Di sisi lain, kondisi politik domestik di AS juga turut menjadi fokus perhatian. Penyelidikan kriminal federal terhadap Gubernur The Fed, Jerome Powell, terkait renovasi senilai US$ 2,5 miliar, menjadi sumber kekhawatiran baru bagi pelaku pasar. Tindakan ini dipandang sebagai indikasi tidak stabilnya lingkungan ekonomi yang dapat berdampak pada kebijakan moneter di masa depan.

Maximilianus menilai bahwa, akibat dari kedua kondisi ini, harga emas dan perak mengalami lonjakan tertinggi. Kenaikan harga logam mulia ini sering kali menjadi tanda bahwa investor mulai mencari keamanan dalam aset yang lebih stabil saat kondisi pasar tidak menentu.

Korelasi Antara Harga Logam Mulia dan Saham

Secara historis, harga logam mulia seperti emas dan pasar saham memiliki hubungan yang cenderung rendah hingga negatif. Ini berarti ketika harga saham mengalami penurunan, harga emas biasanya meningkat, berfungsi sebagai pelindung nilai di saat krisis.

Namun, hubungan ini tidak selalu konstan. Dalam beberapa kondisi pasar, emas dapat bergerak seiring dengan saham, meskipun umumnya tetap diakui sebagai aset yang aman saat ada ketidakpastian ekonomi.

Ekonom sekaligus Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga mengaitkan penurunan IHSG hari ini dengan gejolak geopolitik mencuat dan aksi ambil untung di saham-saham energi. Ini mencerminkan reaksi pasar yang cepat terhadap peristiwa global dan lokal yang dapat memengaruhi nilai saham.

Aksi Profit Taking dan Dampaknya pada IHSG

Di tengah penurunan ini, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencatat bahwa kejadian ini sebagian besar dipicu oleh aksi profit taking di sektor energi. Pasar saham bergelombang, dan pelaku pasar sering kali bersikap defensif saat harga saham mengalami lonjakan signifikan.

“Kami mencatat bahwa beberapa emiten energi terkoreksi sekitar 2%, yang menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai mengambil untung setelah kenaikan yang cukup besar,” kata Herditya. Meski ada penurunan, IHSG menunjukkan tanda-tanda rebound meskipun masih dalam area negatif.

Berdasarkan pandangan analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, situasi ini bisa dilihat sebagai koreksi yang wajar. Ia menekankan bahwa aksi profit taking ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan mengingat adanya kenaikan besar pada sebelumnya.

Menghadapi Libur dan Sentimen Pasar di Masa Depan

Penting untuk dicatat bahwa pasar keuangan Indonesia hanya akan dibuka selama empat hari dalam minggu ini karena adanya libur Isra Mi’raj. Hal ini memberi pelaku pasar sedikit waktu untuk menganalisis pergerakan sebelum kembali ke aktivitas perdagangan.

Pelaku pasar kini sedang fokus pada rilis inflasi AS yang akan datang. Dengan ekspektasi inflasi berada di kisaran 2,7% secara tahunan di akhir 2025, ini lebih rendah dibanding prediksi sebelumnya di atas 3%.

Angka ini bukanlah rilis resmi, melainkan estimasi berdasarkan data terakhir yang tersedia. Ketidakpastian ini menambah kompleksitas dalam pengambilan keputusan investasi, yang mengharuskan investor selalu waspada terhadap informasi terbaru.

OJK Sebut Banyak BPR Tutup Akibat Penipuan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini mengumumkan bahwa pencabutan izin usaha untuk Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) masih didominasi oleh faktor-faktor seperti penipuan dan manajemen yang kurang baik. Di tengah tantangan ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa penurunan jumlah penutupan BPR/BPRS menunjukkan upaya yang signifikan untuk memperkuat industri perbankan tersebut.

Seperti yang diketahui, dalam tahun 2025, hanya tujuh BPR/BPRS yang izin usahanya dicabut oleh OJK, angka ini menunjukkan penurunan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya, yang mencapai dua puluh. Dalam konferensi pers yang diadakan untuk Rapat Dewan Komisioner pada bulan Desember 2025, Dian menjelaskan bahwa pencabutan izin ini ditujukan untuk menciptakan industri perbankan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“BPR/BPRS yang telah dicabut izinnya selama beberapa tahun terakhir biasanya mengalami kendala serius, baik dari segi kinerja maupun masalah kepatuhan,” ungkap Dian. Ia menyebut bahwa pencabutan izin bukan semata-mata tindakan hukum, melainkan langkah strategis untuk menghindari masalah yang berkepanjangan dalam sistem keuangan nasional.

Menelusuri Penyebab Pencabutan Izin Usaha BPR/BPRS

Pencabutan izin usaha BPR dan BPRS berakar dari berbagai masalah yang sering kali berkaitan dengan ketidakpatuhan dan praktik manajemen yang buruk. Kebijakan OJK ini bertujuan untuk memastikan bahwa hanya lembaga keuangan yang sehat dan transparan yang dapat beroperasi di dalam sistem perbankan. Hal ini penting untuk melindungi nasabah dan stabilitas ekonomi negara.

Di tahun-tahun sebelumnya, banyak BPR/BPRS yang terpaksa ditutup karena terlibat dalam praktik fraud, seperti pencatatan keuangan yang tidak benar. Situasi ini menarik perhatian OJK untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan menetapkan regulasi yang lebih ketat di sektor ini. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong BPR/BPRS untuk beroperasi secara lebih akuntabel.

Pengawasan yang ketat juga mencakup penerapan prinsip-prinsip pengelolaan yang baik. Manajemen yang tidak efisien atau kurang berintegritas dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan sebuah bank. Oleh karena itu, OJK menekankan pentingnya perencanaan strategis yang matang untuk setiap BPR/BPRS agar tetap dapat berkontribusi pada perekonomian.

Proses Konsolidasi di Sektor Perbankan Rakyat

Dian Ediana Rae mengungkapkan bahwa proses konsolidasi di antara BPR/BPRS terus berlangsung dan akan semakin meningkat. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengajak mereka berpartisipasi dalam sinergi yang lebih efektif, sejalan dengan roadmap pengembangan dan penguatan BPR/BPRS. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat peran BPR/BPRS sebagai penggerak utama perekonomian regional.

Di tahun lalu, terdapat dua merger besar di sektor BPR yang menandai langkah konsolidasi. Untuk pertama kalinya, empat BPR di bawah satu naungan memutuskan untuk bergabung menjadi satu entitas. Hal ini tentunya memberikan harapan baru bagi keberlangsungan BPR dan memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap ekonomi lokal.

Merger pertama melibatkan PT BPR Bina Sejahtera Insani (Binsani) yang berlokasi di Karanganyar, Jawa Tengah, yang menjadi entitas bertahan setelah menggabungkan diri dengan tiga BPR lainnya. Ini adalah langkah strategis yang membantu menjamin stabilitas di tengah iklim ekonomi yang fluktuatif.

Perkembangan Kinerja BPR/BPRS di Tahun 2025

Meskipun jumlah BPR/BPRS mengalami penurunan, OJK melaporkan bahwa total aset mereka justru mengalami pertumbuhan yang positif sebesar 5,38% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut mencerminkan upaya yang dilakukan BPR/BPRS dalam meningkatkan kinerja dan efisiensi operasional mereka, meski dalam kondisi yang menantang.

Pertumbuhan kredit di sektor ini tumbuh sebesar 5,48%, mencapai Rp176,06 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 5,07% menjadi Rp167,72 triliun. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, BPR/BPRS berhasil beradaptasi dengan cepat dan terus berkembang.

Ada harapan bahwa peningkatan kinerja ini akan terus berlanjut seiring dengan reformasi yang dilakukan oleh OJK dan langkah-langkah konsolidasi di sektor perbankan. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa lembaga-lembaga ini tetap berfungsi dengan baik dan memberikan layanan yang berkualitas kepada masyarakat.

Strategi OJK untuk Mendorong Pertumbuhan Sektor Perbankan

Strategi OJK tidak hanya berhenti pada pengawasan dan pencabutan izin, tetapi juga mencakup penetapan regulasi dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan setor perbankan secara keseluruhan. OJK berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi BPR/BPRS agar terus berkembang dan berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional.

Melalui pendekatan ini, diharapkan akan ada lebih banyak BPR/BPRS yang dapat beroperasi sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, masyarakat dapat merasakan dampak positif dari keberadaan bank-bank tersebut.

Kedepannya, OJK juga akan terus melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap kebijakan yang ada untuk memastikan bahwa sektor perbankan dapat menghadapi tantangan dan tetap relevan dengan dinamika perekonomian yang terus berubah. Ini akan menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan nasional.

Libur Nataru Ramai Wisatawan di Yogyakarta, Sosiolog Sebut Dampak yang Perlu Diperhatikan

Yogyakarta, sebagai destinasi wisata yang kaya budaya dan sejarah, terus menjadi pilihan utama bagi pelancong yang merayakan hari-hari spesial, termasuk libur Natal dan tahun baru. Setiap tahun, kota yang dikenal sebagai kota pelajar ini menarik jutaan pengunjung, menciptakan momen yang penting bagi perekonomian lokal dan masyarakat.

Selama periode libur akhir tahun, kehadiran wisatawan bukan hanya memberikan dampak positif dalam sektor ekonomi, tetapi juga tantangan besar. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan, termasuk dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari lonjakan jumlah pengunjung tersebut.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana kota dengan daya tarik tinggi seperti Yogyakarta bisa mengelola arus wisata yang besar. Dengan segala keindahan dan keunikan yang dimiliki, Yogyakarta harus menemukan keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kehidupan warganya.

Peran Wisata dalam Mendorong Perekonomian Yogyakarta yang Berkelanjutan

Wisatawan yang datang ke Yogyakarta memberikan sumbangan besar bagi perekonomian, terutama di sektor perdagangan dan jasa. Upaya pemerintah dan masyarakat setempat untuk menyambut tamu dengan ramah telah memicu pertumbuhan usaha kecil yang kreatif dan inovatif.

Namun, pertumbuhan ini tidak serta merta berjalan mulus. Terjadinya kemacetan dan penatnya interaksi sosial antara penduduk lokal dan wisatawan kadang menjadi tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, penting untuk merancang strategi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Inisiatif yang berfokus pada keberlanjutan akan membantu menciptakan iklim yang lebih baik bagi masyarakat dan pengunjung. Semangat kolaborasi antara pemerintah, pegiat pariwisata, serta masyarakat lokal menjadi kunci untuk mencapai tujuan ini.

Dampak Lingkungan dari Lonjakan Jumlah Wisatawan di Yogyakarta

Kepadatan wisatawan juga membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, kualitas udara dan kondisi jalan dapat terganggu, menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, volume sampah yang meningkat memerlukan perhatian lebih dari semua pihak.

Penting untuk memastikan bahwa keindahan alam Yogyakarta tetap terjaga meskipun arus wisatawan terus meningkat. Program-program pembersihan dan edukasi lingkungan perlu diprioritaskan agar wisatawan turut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan.

Melalui langkah-langkah ini, diharapkan dapat tercipta kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa generasi mendatang bisa menikmati keindahan Yogyakarta tanpa mengorbankan kelestariannya.

Strategi untuk Mengelola Arus Wisata yang Meningkat Secara Efektif

Menghadapi tantangan yang muncul dari lonjakan wisatawan, Yogyakarta perlu menerapkan strategi yang efektif untuk mengelola arus pengunjung. Pengembangan infrastruktur yang memadai, seperti transportasi umum yang baik dan fasilitas wisata yang memadai, menjadi langkah awal yang penting.

Selain infrastruktur, harus ada upaya untuk mendorong wisatawan datang pada waktu-waktu yang tidak terlalu ramai. Dengan melakukan promosi di luar puncak musim liburan, diharapkan wisatawan bisa tersebar secara merata. Ini akan mengurangi beban pada kawasan tertentu dan memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan.

Keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan juga sangat krusial. Mereka yang sehari-hari tinggal di Yogyakarta dapat memberikan perspektif berharga terkait kebutuhan dan harapan mereka, sehingga kebijakan yang dibuat lebih inklusif dan berdampak positif.

Bos BEI Sebut 26 IPO di 2025 Dapat Hasil Rp18 Triliun

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa mereka tidak berhasil mencapai target yang ditetapkan untuk Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2025. Walaupun demikian, penguatan posisi keuangan secara keseluruhan untuk tahun ini menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa terdapat 26 perusahaan baru yang berhasil mencatatkan sahamnya di bursa. Angka ini jauh di bawah target yang awalnya ditetapkan, yaitu sebanyak 45 emiten.

“Walaupun target IPO kita sebesar 45, hanya tercapai 26, namun penggalangan dana meningkat menjadi Rp18 triliun dibandingkan tahun lalu. Tahun ini terdapat 6 target lighthouse yang kami capai dari target awal 5,” ujar Iman dalam konferensi pers di Jakarta.

Dari sisi penghimpunan dana, total perusahaan terdaftar mencapai 956 emiten dengan total penggalangan dana hampir mencapai Rp300 triliun atau tepatnya Rp278 triliun sepanjang tahun 2025. Meskipun hanya ada 26 IPO, nilai penggalangan dana dari IPO justru meningkat signifikan.

Jumlah investor di pasar modal juga mencapai angka fantastis, menembus 20 juta, dengan lebih dari 500 ribu investor aktif bertransaksi setiap bulan. Secara harian, terdapat sekitar 250 ribu investor aktif yang terlibat di pasar.

Pada 8 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor baru dengan level tertinggi di angka 8.711, dengan kapitalisasi pasar menjangkau Rp16.000 triliun. Hal ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam investasi di bursa.

Rata-rata nilai transaksi harian saham juga mengalami lonjakan mencapai Rp18 triliun, melampaui target sebelumnya yang ditetapkan sebesar Rp13,3 triliun. Tidak hanya saham, transaksi obligasi harian juga mencapai Rp6,5 triliun.

Produk non-saham seperti derivatif dan Real Estate Investment Trust (REIT) mencatatkan transaksi sebesar Rp7,6 triliun, sementara perdagangan karbon masih terbilang kecil dengan angka Rp30 miliar sejak diluncurkan.

Pengembangan dan Inovasi yang Diluncurkan BEI pada 2025

Di sepanjang tahun 2025, BEI juga menciptakan 10 produk dan layanan baru untuk memperdalam pasar. Salah satu produk baru tersebut adalah perdagangan karbon internasional, yang diharapkan dapat menarik lebih banyak investor.

Kontrak derivatif indeks asing juga diperkenalkan untuk meningkatkan variasi produk yang tersedia bagi investor. Dengan adanya waran terstruktur tipe put dan perluasan underlying waran terstruktur, BEI bertujuan memberikan lebih banyak opsi bagi para pelaku pasar.

BEI juga menjalin kerja sama dengan Singapore Exchange dalam meluncurkan unsponsored Depository Receipt (DR) linkage. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan aksesibilitas saham bagi investor asing.

Tidak kalah pentingnya, BEI menerbitkan tiga indeks co-branded bersama S&P untuk menambah pilihan investasi yang lebih beragam. Implementasi non-cancellation period juga menjadi langkah penting untuk mendukung keamanan dan keandalan dalam transaksi.

Selain itu, izin transaksi repo SPR yang diperoleh dari OJK dan Bank Indonesia, turut memperkuat infrastruktur pasar modal Indonesia. Semua ini merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan ekosistem pasar yang lebih baik dan transparan.

Strategi BEI untuk Memperluas Basis Investor di Masa Depan

Strategi BEI untuk memperluas basis investor di masa depan akan terfokus pada peningkatan edukasi dan gamifikasi untuk menarik generasi muda. Dengan inovasi teknologi, diharapkan akan tercipta cara baru yang menarik untuk berinvestasi.

Melalui seminar, webinar, dan program pelatihan, BEI berkomitmen untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang investasi di pasar modal. Hal ini penting untuk mendorong partisipasi yang lebih luas dari berbagai kalangan.

Tak hanya itu, BEI juga aktif melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan platform investasi yang lebih inklusif. Dengan cara ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam pasar modal.

Dengan memfasilitasi akses yang lebih mudah dan memberikan informasi yang jelas, BEI berharap dapat menarik lebih banyak investor lokal dan asing. Transformasi digital dalam bidang investasi juga menjadi fokus utama untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Ke depannya, BEI akan terus berupaya untuk membuat pasar modal semakin atraktif dan kompetitif, sehingga dapat berkontribusi lebih kepada perekonomian nasional. Pertumbuhan yang berkelanjutan di pasar modal akan membawa dampak positif bagi semua pihak yang terlibat.

Aturan ETF Emas Hampir Selesai, Pimpinan OJK Sebut Waktunya Segera Tiba

Pertumbuhan industri investasi di Indonesia semakin menarik perhatian banyak pihak, terutama dengan rencana peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) Emas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimis bahwa produk ini dapat mulai diperdagangkan pada tahun depan, menawarkan peluang baru bagi para investor di dalam negeri.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Inarno Djajadi, saat ini rancangan peraturan yang mengatur ETF Emas telah memasuki tahap finalisasi. Setelah penyelesaian finalisasi ini, rancangan peraturan tersebut akan dibawa ke Kementerian Hukum untuk proses harmonisasi sebelum diundangkan.

Pentingnya penetapan peraturan ini tidak bisa dipandang sebelah mata, karena OJK berkomitmen untuk memastikan bahwa semua aspek yang relevan diperhatikan. Dengan adanya kejelasan regulasi, diharapkan ETF Emas dapat diluncurkan secara resmi dan memberikan dampak yang signifikan bagi industri investasi di Indonesia.

Proses Regulasi dan Implementasi ETF Emas di Indonesia

Inarno menjelaskan bahwa OJK menargetkan agar Peraturan OJK tentang ETF Emas dapat ditetapkan setelah menjalani proses harmonisasi yang memadai. Proses tersebut akan mengatur berbagai aspek terkait produk ETF Emas, termasuk penerbitan, pengelolaan, dan ketersediaan emas fisik.

Regulasi yang komprehensif ini diharapkan dapat mendukung likuiditas pasar yang lebih baik dan memberi rasa aman kepada para investor. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ETF Emas bisa menjadi alternatif menarik dalam diversifikasi portofolio investasi.

Ketika regulasi diterbitkan, OJK memperkirakan bahwa implementasi produk ini dapat mulai dilakukan pada semester pertama tahun 2026. Hal ini menunjukkan keseriusan OJK dalam memperkenalkan instrumen investasi yang transparan dan terstandarisasi kepada masyarakat.

Manfaat dan Tujuan Peluncuran ETF Emas

Melihat potensi tingginya minat terhadap investasi berbasis emas, OJK berharap ETF Emas akan memperluas pilihan investasi bagi masyarakat. Dengan produk ini, investor diharapkan dapat berinvestasi dalam komoditas yang sudah dikenal luas dan relatif stabil.

Dengan adanya insentif yang mungkin ditambahkan di masa depan, para investor dapat menikmati keuntungan lebih dari investasi mereka. OJK juga berupaya untuk meningkatkan pemahaman pasar tentang keuntungan investasi berbasis emas dan bagaimana cara kerja ETF ini.

Oleh karena itu, transparansi dan keamanan menjadi dua faktor kunci yang akan diutamakan dalam pengembangan ETF Emas. Hal ini bertujuan untuk membangun kepercayaan publik terhadap instrumen baru ini dan mendukung perkembangan sektor keuangan di Indonesia.

Pengembangan dan Literasi Investasi di Indonesia

Selain peluncuran ETF Emas, OJK juga berkomitmen untuk memperkuat pelaku industri reksa dana dan ETF berbasis indeks. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi investor sehingga mereka lebih memahami berbagai instrumen investasi yang tersedia di pasar.

Dengan mendorong pelaku industri untuk berperan aktif, OJK menginginkan agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya diversifikasi investasi. Ini termasuk memahami risiko dan peluang yang dihadapi sebagaimana pasar keuangan terus berubah.

OJK juga terus melakukan langkah-langkah strategis untuk menyerukan pentingnya transaksi yang aman dan transparan. Dalam konteks ini, ETF Emas diharapkan bisa menjadi salah satu andalan bagi para investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio mereka.

Bos Sebut Sport Tourism Harus Didukung Penuh Oleh Negara

Jakarta sedang berada di jalur menuju perkembangan baru dalam sektor olahraga. Sport tourism menjadi magnet ekonomi yang sangat menjanjikan, dan Indonesia diharapkan bisa memanfaatkannya secara maksimal.

Dalam konteks ini, Dony Oskaria, COO Danantara, menekankan bahwa penting bagi pemerintah untuk memasukkan sport tourism ke dalam kebijakan negara. Dengan cara ini, dampak ekonomi dari sektor ini dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.

Masyarakat internasional telah menyaksikan negara-negara lain yang berhasil menjadikan sport tourism sebagai bagian integral dari strategi ekonomi mereka. Oleh karena itu, langkah serupa seharusnya diambil oleh Indonesia untuk memaksimalkan potensi yang ada.

Sport Tourism Sebagai Kebijakan Negara yang Strategis

Dony Oskaria menyatakan bahwa sport tourism tidak bisa hanya dianggap sebagai acara swasta. Ia berpendapat bahwa negara perlu menjadikan sport tourism sebagai bagian dari kebijakan publik untuk menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Salah satu contohnya adalah event marathon besar yang diadakan di berbagai negara, yang mampu menarik wisatawan dalam jumlah besar. Kegiatan seperti ini bukan hanya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi UMKM lokal.

Menurut Dony, setiap event besar dapat menjadi peluang untuk meningkatkan branding negara di mata internasional. Misalnya, Formula 1 di Singapura yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap perekonomian negara tersebut.

Contoh Sukses: F1 Singapura dan Dampaknya

Event F1 Singapura membuktikan bahwa sport tourism dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Dalam periode acara tersebut, jumlah penerbangan meningkat hingga 63%, dan arus kedatangan wisatawan internasional naik sebesar 20%.

Lebih jauh lagi, dampak positif juga dirasakan oleh sektor UKM yang bertumbuh sekitar 20% selama berlangsungnya acara. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sport tourism dalam menciptakan peluang bisnis baru.

Untuk itu, Dony menekankan bahwa Indonesia seharusnya memiliki event-event besar serupa untuk tidak ketinggalan. Meskipun MotoGP Mandalika telah memberikan branding positif, keberlanjutannya harus diperkuat agar dampak ekonomi dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Perluasan dan Keberlanjutan dalam Sport Tourism

Kemandirian dan keberlanjutan event-event olahraga harus menjadi fokus utama ke depan. Dony Oskaria menjelaskan bahwa model bisnis yang ada saat ini perlu dievaluasi agar mampu memberikan dampak lebih besar bagi masyarakat.

Pihak swasta mungkin mencari keuntungan langsung dari setiap event, namun penting untuk mengatur agar dampaknya merata. Hal ini dikarenakan sport tourism dapat berfungsi sebagai enabler dalam pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.

Selain itu, dukungan dari pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan sport tourism sangatlah penting. Hal ini bisa menciptakan kolaborasi antara sektor publik dan swasta yang menguntungkan semua pihak.

CEO Penyedia Investasi Sebut Bitcoin Sebagai Aset Ketakutan dan Alasannya

CEO BlackRock, Larry Fink, baru-baru ini menyebut Bitcoin sebagai “aset ketakutan,” yang menggambarkan ketidakpastian dan risiko yang mengelilingi pasar global. Dalam sebuah acara pers di New York, ia menegaskan bahwa minat terhadap Bitcoin meningkat di tengah kekacauan ekonomi dan geopolitik yang kian meluas.

Pernyataan ini muncul saat Fink berbicara bersama CEO Coinbase, Brian Armstrong, yang menunjukkan kerentanan yang dialami banyak orang di era modern ini. Dalam perspektifnya, masyarakat menyimpan Bitcoin sebagai bentuk perlindungan terhadap potensi krisis yang dapat mengguncang sistem keuangan global.

Fink menunjukkan bahwa Bitcoin memiliki sifat yang berbeda dibandingkan dengan aset investasi tradisional seperti saham dan obligasi. Dalam total aset senilai US$13,5 triliun yang dikelola BlackRock, ia menyoroti bahwa Bitcoin dimiliki lebih karena rasa takut terhadap inflasi dan ketidakstabilan ekonomi daripada harapan untuk meraih keuntungan.

Dengan demikian, ia menilai bahwa lonjakan harga Bitcoin sering kali terkait erat dengan ketidakpastian yang melanda pasar. Ketika ketakutan mereda, harga Bitcoin pun cenderung mengalami penurunan, yang menunjukkan fluktuasi harga yang signifikan.

Pernyataan Fink kali ini menunjukkan evolusi pemikiran yang dramatis sejak 2017, saat ia mencemooh Bitcoin sebagai “indeks pencucian uang.” Kini, BlackRock telah menjadi pengelola ETF Bitcoin terbesar di dunia, dengan kepemilikan lebih dari 780.000 Bitcoin senilai sekitar US$80 miliar.

Pengertian dan Keunggulan Bitcoin Sebagai Aset Digital

Berbeda dengan mata uang fiat, Bitcoin memiliki batasan jumlah yang tidak dapat diciptakan oleh pemerintah. Menurut Fink, banyak orang tertarik pada Bitcoin sebagai upaya untuk melindungi diri dari devaluasi mata uang akibat pencetakan uang berlebihan yang terjadi di banyak negara.

Fenomena ini terlihat jelas di negara-negara yang mengalami krisis mata uang seperti Argentina, Venezuela, dan Lebanon. Di tempat-tempat tersebut, banyak orang beralih ke Bitcoin sebagai alternatif penyimpan nilai, dan mereka termasuk dalam 20 besar negara dengan tingkat adopsi kripto tertinggi menurut laporan riset kripto.

Bukan hanya individu, Fink juga mencatat bahwa sejumlah sovereign wealth fund mulai mengakumulasi Bitcoin secara bertahap. Mereka melihatnya sebagai bentuk diversifikasi risiko, bahkan di level harga yang cukup tinggi seperti US$120.000 dan US$100.000.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai Bitcoin semakin diperhitungkan oleh investor besar. Dengan penerimaan yang meningkat, Bitcoin memang semakin berperan sebagai lindung nilai di tingkat global.

Namun, meski ada minat yang besar, masih ada tantangan besar yang harus dihadapi, khususnya terkait volatilitas harga. Pada 10 Oktober lalu, crypto mengalami likuidasi posisi leverage yang mencapai lebih dari US$19 miliar, menandakan potensi risiko tinggi di pasar ini.

Kendala Volatilitas dan Strategi Investasi di Pasar Crypto

Salah satu kekhawatiran yang diungkapkan Fink adalah pengaruh trader yang beroperasi dengan leverage besar di pasar Bitcoin. Kondisi ini berkontribusi pada fluktuasi harga yang tajam dan audiens yang berisiko. ETF Bitcoin BlackRock, IBIT, bahkan mengalami penurunan harga hingga 25% dalam waktu singkat setelah diluncurkan.

Fink memperingatkan bahwa jika seseorang membeli Bitcoin hanya untuk tujuan trading, maka mereka harus siap dengan risiko yang tinggi. Keahlian dalam menentukan waktu yang tepat untuk masuk dan keluar dari pasar sangatlah penting namun sangat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan orang.

Dalam konteks ini, ia merekomendasikan agar investor lebih bijaksana dalam menghadapi gejolak pasar yang ada. Mengelola ekspektasi dan memahami dinamika pasar kripto adalah kunci untuk menghindari kerugian besar.

Oleh karena itu, penting bagi investor untuk melakukan berbagai penelitian dan memperdalam pemahaman mereka terkait pasar, terutama dalam hal faktor-faktor yang dapat memengaruhi nilai Bitcoin. Edifikasi tentang potensi dan risiko Bitcoin menjadi landasan yang krusial dalam pengambilan keputusan investasi.

Hal ini juga menekankan pentingnya kesadaran akan fluktuasi yang mungkin terjadi. Dengan memahami bahwa Bitcoin bukanlah investasi yang “aman,” investor dapat membuat strategi yang lebih matang dan menghadapi potensi kerugian dengan lebih baik.

Penutup: Masa Depan Bitcoin di Tengah Ketidakpastian Global

Meskipun jalan yang dihadapi Bitcoin penuh rintangan, ketertarikan terhadap aset ini terus meningkat, terutama di kalangan investor institusi dan masyarakat luas. Fink menyoroti potensi Bitcoin sebagai alternatif yang patut dipertimbangkan di masa depan, terutama ketika inflasi dan ketidakstabilan ekonomi semakin nyata.

Di tengah ketidakpastian yang melanda, Bitcoin tetap berdiri sebagai simbol perlindungan bagi banyak investor. Daya tariknya sebagai aset yang langka dan tidak dapat diproduksi sembarangan memberikan nilai lebih di mata banyak orang di seluruh dunia.

Akhir kata, perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang Bitcoin tidak hanya penting untuk para investor, tetapi juga bagi mereka yang ingin menjaga keamanan finansial mereka dalam situasi yang tidak pasti. Dengan meningkatnya adopsi dan pemahaman, masa depan Bitcoin diharapkan menjadi lebih cerah di mata investor global.

Batal Jadi Komisaris Bank BJB, Mardigu Sebut KDM

Mardigu Prasantyo, yang dikenal luas sebagai Bossman Sontoloyo, baru-baru ini menarik perhatian publik setelah pengangkatan dirinya sebagai Komisaris Utama Independen PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) dibatalkan. Kejadian ini menjadi sorotan, mengingat Mardigu adalah sosok yang kontroversial dengan pandangan dan narasi yang sering menantang norma-norma yang ada.

Dalam pernyataannya, Mardigu mengaku tidak mengetahui alasan di balik keputusan tersebut dan menegaskan bahwa dirinya akan menunggu saran dari pimpinan. Ini tentu menciptakan pertanyaan di kalangan pengamat dan publik mengenai dinamika yang terjadi di dalam manajemen BJBR.

Pengangkatan Mardigu sebagai komisaris utama independen sebelumnya dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 16 April 2025, di mana juga diangkat Helmy Yahya sebagai komisaris independen. Namun, pengumuman pembatalan pengangkatan tersebut dilakukan oleh BJBR dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 1 Desember 2025.

Alasan di Balik Pembatalan Pengangkatan Mardigu Prasantyo

Dalam pengumuman resminya, BJBR menyampaikan bahwa pembatalan ini merupakan tindak lanjut dari surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan petunjuk terkait proses pengangkatan. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut tidak sepenuhnya bersifat internal, melainkan juga melibatkan arahan dari lembaga pengawas.

Mardigu, setelah mendapatkan kabar tersebut, segera merespons melalui media sosialnya. Ia mengunggah pernyataan yang menunjukkan ketidakpuasan serta menegaskan akan menunggu keputusan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Langkah ini diambilnya sebagai bentuk pengakuan akan pentingnya persetujuan otoritas berpangkat lebih tinggi dalam keputusan yang langsung mempengaruhi karirnya.

Helmy Yahya, rekan seangkatannya yang juga mengalami hal serupa, menyatakan bahwa dirinya merasa bahagia meski pembatalan itu terjadi. Ia mengaku telah menjalani seluruh prosedur dan tes yang dievaluasi oleh OJK, tetapi hasilnya tidak mendukung pengangkatannya.

Proses Fit and Proper Test: Standar yang Ditetapkan OJK

Salah satu fokus utama dari pembatalan ini adalah hasil dari proses fit and proper test yang dilakukan oleh OJK. Proses ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa setiap orang yang menduduki posisi penting dalam perbankan memiliki kompetensi dan integritas yang diperlukan.

Dari penjelasan OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan menerangkan bahwa pihaknya berpegang pada prinsip objektivitas dan akuntabilitas. Mereka berkomitmen untuk menjaga integritas manajemen perbankan demi kepentingan masyarakat yang menggunakan jasa keuangan.

OJK memandang bahwa langkah-langkah tersebut amat penting, mengingat bahwa bank tidak sekadar mengelola dana pemegang saham, tetapi juga uang rakyat yang dipercayakan kepada institusi tersebut. Keputusan yang diambil tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada stabilitas keuangan yang lebih luas.

Reaksi Masyarakat dan Implikasi terhadap Karier Mardigu

Pembatalan pengangkatan ini tentu saja memicu berbagai reaksi di masyarakat. Banyak yang mempertanyakan standar dan transparansi dalam proses pengambilan keputusan seperti ini. Netizen mulai membahas berbagai kemungkinan di balik keputusan OJK dan BJBR.

Mardigu sendiri dikenal sebagai sosok yang berani mengungkapkan pandangannya mengenai berbagai isu, termasuk ekonomi dan geopolitik. Kinerja dan reputasinya dalam dunia bisnis, terutama di industri finansial, telah membawa banyak perhatian, baik positif maupun negatif.

Tentu saja, pembatalan ini akan memengaruhi reputasi Mardigu. Ia harus mempertimbangkan langkah-langkah strategis selanjutnya untuk menjaga posisi dan kredibilitasnya di antara para penggemar dan investor di sektor bisnis yang lebih luas.

Kesimpulan dan Harapan ke Depan

Kejadian pembatalan pengangkatan Mardigu Prasantyo sebagai komisaris utama independen memberikan pelajaran penting mengenai dinamika dalam pemerintahan korporasi dan pengawasan oleh lembaga keuangan. Ini menyoroti pentingnya proses transparan dan akuntabel dalam pengambilan keputusan yang berdampak luas.

Langkah berikutnya bagi Mardigu dan Helmy Yahya adalah bagaimana mereka dapat menggunakan pengalaman pahit ini untuk mengembangkan karier mereka di masa depan. Publik akan terus mengawasi dan menilai langkah-langkah yang akan mereka ambil dalam mengatasi situasi ini.

Kita semua berharap agar institusi keuangan di Indonesia terus beroperasi dengan prinsip yang mengedepankan integritas dan profesionalisme. Hal ini menjadi kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan dan keuangan secara keseluruhan.