PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, atau yang lebih dikenal dengan BNI, menunjukkan kemajuan signifikan dalam pembiayaan berkelanjutan pada tahun 2025 dengan nilai mencapai Rp197 triliun. Angka ini mencakup 22% dari total kredit yang diberikan oleh BNI dan mencerminkan komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan dan manajemen risiko yang berjangka panjang.
Wakil Direktur Utama BNI, Alexandra Askandar, mengungkapkan bahwa portofolio pembiayaan berkelanjutan ini tersebar di berbagai sektor strategis. Beberapa di antaranya mencakup usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), energi terbarukan, serta pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana.
Melalui pencapaian ini, BNI berupaya mendorong pertumbuhan yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Alexandra lebih lanjut menambahkan, “Ini adalah bagian dari usaha kami untuk memastikan bahwa bisnis yang kami kembangkan memiliki dampak positif.”
Pilar Keberlanjutan BNI dalam Mendukung Bisnis Berkelanjutan
Sepanjang tahun 2025, BNI berfokus pada penerapan tiga Pilar Keberlanjutan yang tergambar dalam ESG Blueprint. Pilar-pilar ini meliputi Sustainable Finance, Corporate Sustainability, dan Inclusion and Resilience.
Pilar-pilar tersebut memberikan kerangka kerja yang terintegrasi untuk penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Dengan pendekatan ini, BNI ingin memastikan bahwa setiap lini bisnis mereka mendukung investasi yang berkelanjutan.
Di sektor pembiayaan, BNI berkomitmen untuk memperluas portofolio berkelanjutan melalui pengembangan skema Sustainability-Linked Loan (SLL). Skema ini bertujuan untuk mendorong debitur meningkatkan kinerja ESG mereka, sekaligus mengurangi emisi guna mencapai target Net Zero Emissions pada tahun 2060.
Inovasi dalam Pembiayaan dan Penerbitan Obligasi Berkelanjutan
Komitmen BNI terhadap keuangan berkelanjutan juga tergambar dari penerbitan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun pada tahun 2025. Obligasi ini mendapatkan peringkat idAAA dan akan dialokasikan untuk proyek yang berwawasan lingkungan serta sosial.
Selain itu, dalam dua tahun sebelumnya, BNI menerbitkan Green Bond yang juga senilai Rp5 triliun. Penerbitan instrumen ini menunjukkan bahwa BNI ingin berperan aktif dalam mendukung proyek-proyek berkelanjutan sesuai dengan standar nasional dan internasional.
BNI tidak hanya fokus pada pembiayaan, tetapi juga berupaya memberikan bimbingan kepada debitur. Salah satunya melalui peluncuran ESG Advisory Playbook, yang menjadikan BNI sebagai lembaga keuangan pertama yang menyediakan panduan spesifik untuk sektor kelapa sawit.
Peran Aktif dalam Pengelolaan Lingkungan dan Operasional Berkelanjutan
BNI telah menerapkan prinsip Zero Waste to Landfill (ZWTL) di lima kantor pusatnya dengan mengutamakan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Dalam upaya ini, mereka berhasil mendaur ulang hingga 611,5 ton limbah padat pada tahun 2025.
Langkah ini menggambarkan komitmen BNI untuk mengurangi dampak lingkungan dari operasionalnya. Alexandra menegaskan, “Kami ingin memastikan bahwa aktivitas bisnis kami tidak hanya menguntungkan tetapi juga ramah terhadap lingkungan.”
Dengan pencapaian yang diraih, BNI berkomitmen untuk terus memperkuat penerapan ESG dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Hal ini menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang mereka untuk memberikan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

