slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Rupiah Melemah, Dolar AS Menjangkau Rp16.875

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan yang signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026. Mengacu pada data terbaru, rupiah ditutup di angka Rp16.875 per dolar dengan penurunan sebesar 0,30%. Level ini menjadi yang terlemah dalam lebih dari tiga pekan terakhir.

Selama perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang yang cukup fluktuatif, yaitu antara Rp16.820 hingga Rp16.892 per dolar AS. Diawali dengan sedikit penguatan yang hanya mencapai 0,03%, rupiah kemudian berbalik arah dan mengalami pelemahan yang tajam hingga sesi perdagangan berakhir.

Indeks dolar AS (DXY) juga menunjukkan penguatan pada saat yang sama, meningkat 0,14% ke level 97,295. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang memengaruhi pasar global, di mana investor mulai mencari aset aman.

Faktor-Faktor Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah kali ini dipengaruhi oleh berbagai faktor baik domestik maupun global. Dalam skala domestik, perhatian utama para pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang berlangsung selama dua hari mulai hari ini. Rapat tersebut sangat dinantikan untuk melihat arah kebijakan moneter selanjutnya.

Setelah melakukan pemangkasan suku bunga acuan lima kali sepanjang tahun 2025, BI pada Januari 2026 mempertahankan suku bunga di level 4,75%. Hal ini memicu spekulasi di kalangan investor mengenai kemungkinan penahanan suku bunga yang mungkin akan berlanjut dalam rapat kali ini.

Lebih lanjut, tidak hanya kebijakan suku bunga, tetapi langkah-langkah stabilisasi nilai tukar juga menjadi fokus perhatian. Pasar sangat memperhatikan intensitas intervensi BI di tengah gejolak pasar yang masih rentan terhadap arus keluar investasi asing.

Implikasi Kebijakan Moneter terhadap Sektor Riil

Pengaruh kebijakan moneter yang diambil oleh BI terhadap sektor riil juga patut untuk diperhatikan. Meskipun telah terjadi pelonggaran suku bunga, penurunan suku bunga kredit di sektor riil belum sepenuhnya memadai. Hal ini menyebabkan dorongan untuk memperluas pembiayaan menjadi terbatas, yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Para pelaku pasar mencatat bahwa saat ini diperlukan langkah-langkah konkrit untuk mendorong transmisi kebijakan tersebut agar dapat secara efektif mendorong pertumbuhan sektor riil. Keterbatasan pembiayaan akibat suku bunga yang tidak kompetitif menjadi kendala utama dalam meningkatkan investasi.

Penting untuk mengatasi masalah ini agar sektor riil dapat merasakan manfaat dari kebijakan suku bunga yang lebih rendah, sehingga perekonomian dapat tumbuh lebih dinamis di masa mendatang.

Sentimen Global yang Mempengaruhi Pergerakan Rupiah

Tidak dapat dipungkiri bahwa atmosfer global saat ini juga sangat memengaruhi tekanan terhadap rupiah. Sentimen ketidakpastian yang tinggi akibat perkembangan geopolitik, seperti pembicaraan nuklir antara AS dan Iran, telah menciptakan skenario yang kurang menguntungkan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam suasana seperti ini, investor cenderung mencari aman dengan memindahkan aset mereka ke dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap dolar meningkat, sehingga memberi tekanan lebih lanjut pada nilai tukar mata uang negara berkembang.

Konsekuensi dari situasi ini sangat signifikan, di mana negara dengan ekonomi yang lebih lemah akan merasakan dampak yang lebih besar atas fluktuasi nilai tukar. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan BI untuk mengimplementasikan kebijakan yang mampu memitigasi risiko-risiko tersebut.