slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Pasutri Mewah di Jakarta Ternyata Hasil Rampokan Bank Rp 219 M

Kisah kehidupan sepasang suami-istri di Batavia selaras dengan glamor dan kesenangan yang memesona. Pada awal abad ke-20, mereka menjadi simbol keberhasilan dan gaya hidup elite di kalangan masyarakat, tetapi di balik semua itu terdapat rahasia kelam yang akan mengubah nasib mereka.

Seiring dengan popularitas dan kekayaan yang mereka nikmati, kebenaran yang menyakitkan berhasil terungkap. A.M. Sonneveld, sang suami, bukan sekadar pegawai biasa, melainkan seorang yang memegang posisi strategis di sebuah bank besar pada masa penjajahan Belanda.

Posisinya memberinya akses tanpa batas terhadap dana nasabah, yang sayangnya ia salahgunakan. Dengan memanfaatkan jabatannya, Sonneveld terlibat dalam penggelapan uang bank hingga jumlahnya bisa menyentuh nilai puluhan miliaran rupiah saat ini.

Sonneveld sebelumnya merupakan perwira di KNIL, Tentara Hindia Belanda, dan setelah pensiun, ia berkarier di Nederlandsch Indie Escompto Maatschappi. Di bank tersebut, ia bertugas sebagai kepala bagian yang mengurusi uang dan arus kas nasabah.

Meski gaji yang ia terima terbilang besar, tindakan nekatnya untuk mencuri uang nasabah adalah langkah yang sangat mengejutkan banyak orang. Pada September 1913, berita mengenai pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pegawai bank di Batavia mencuri perhatian publik.

Salah satu laporan berita dari Deli Courant pada 5 September 1913 mengungkap aksi pencurian yang dilakukan Sonneveld, dengan nilai mencapai 122 ribu gulden. Angka tersebut, jika dihitung dengan harga emas saat ini, setara dengan Rp 219 miliar, mengingat harga emas mencapai 3 juta per gram.

Kejahatan dan Investigasi yang Menghebohkan Publik

Setelah terungkapnya penggelapan tersebut, pihak bank segera melakukan investigasi menyeluruh. Hasilnya menunjukkan bahwa Sonneveld terlibat dalam permainan kotor yang memicu skandal besar di kalangan masyarakat Batavia.

Mengetahui bahwa kejahatannya tercium, Sonneveld dan istrinya melarikan diri jauh sebelum polisi mengeluarkan surat penangkapan. Keputusan mereka untuk kabur menjadi langkah desperado yang justru menambah ketegangan dalam kasus ini.

Kedua buronan ini diliput secara luas di media, membuat deskripsi fisik mereka menjadi informasi penting di kalangan masyarakat. Berita ini membantu pihak kepolisian dalam melacak jejak mereka dan akhirnya mengarah pada penangkapan di Bandung.

Melalui perjalanan kereta api dari Meester Cornelis, Sonneveld dan istrinya berusaha menjauh dari kejaran hukum. Mereka melanjutkan perjalanan ke Surabaya, di mana Sonneveld sempat berjumpa dengan seorang teman yang tidak curiga.

Anehnya, ketika ditanya tentang tujuannya, Sonneveld mencetuskan kebohongan tentang pergi ke Hong Kong untuk belajar lebih jauh mengenai cabang bank di sana. Temannya yang mengetahui kebenaran segera melaporkan hal tersebut ke polisi.

Penangkapan dan Proses Hukum yang Mengikutinya

Informasi yang diberikan teman Sonneveld ditindaklanjuti oleh kepolisian Hindia Belanda, yang kemudian menghubungi pihak kepolisian di Hong Kong. Akhirnya, keduanya berhasil ditangkap ketika mendarat di kota tersebut.

Penangkapan mereka menandai awal dari proses hukum yang panjang. Saat diekstradisi kembali ke Hindia Belanda, tas yang dibawa Sonneveld terungkap menyimpan sisa uang hasil pencurian.

Mereka kemudian dibawa ke pengadilan, di mana Sonneveld mengakui kejahatan yang dilakukannya. Ia menjelaskan bahwa semua tindakan itu dilakukan untuk memenuhi gaya hidup mewah yang diinginkannya, dan istrinya pun terlibat dalam usaha menutup-nutupi skandal tersebut.

Hakim menjatuhkan vonis hukuman 5 tahun penjara untuk Sonneveld, sementara sang istri menerima hukuman selama tiga tahun. Keputusan tersebut menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat yang mengikuti kasus ini sejak awal.

Proses hukum ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya integritas dalam suatu jabatan. Kasus Sonneveld menjadi contoh nyata bagaimana ambisi dapat menghancurkan kehidupan seseorang dan keluarganya.

Dampak Sosial dan Pelajaran yang Dapat Dihikmati

Bagi masyarakat Batavia, skandal ini menjadi salah satu sorotan utama di era tersebut. Kejadian ini bukan hanya mengejutkan, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang mendalam pada citra lembaga keuangan di Hindia Belanda.

Reaksi publik terhadap kasus ini menghadirkan refleksi tentang norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat mulai semakin sadar akan pentingnya pengawasan pada pejabat publik, terutama di sektor keuangan.

Dengan adanya kepercayaan yang rusak terhadap lembaga keuangan, banyak orang menjadi lebih berhati-hati tentang di mana mereka menyimpan uang. Kejadian semacam ini akhirnya mendorong reformasi yang lebih baik dalam sistem perbankan pada masa itu.

Skandal ini membuka mata banyak pihak akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. Penting bagi setiap individu, terutama yang memegang posisi strategis, untuk tetap menjaga etika dan moral dalam menjalankan tugasnya.

Kisah Sonneveld menjadi pengingat seberapa rapuhnya kehidupan yang dibangun di atas ketidakjujuran. Masyarakat pun belajar bahwa glamour dan kesuksesan yang terlihat kadang kali menyimpan cerita berbeda yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pasutri Hobi Dugem di Jakarta Ternyata Menghasilkan Miliaran dari Rampokan

Kekayaan tidak selalu dihasilkan melalui kerja keras yang sah. Kadang, ada individu yang memilih jalan pintas dengan cara melanggar hukum.

Salah satu contoh menarik dalam sejarah adalah sepasang suami istri asal Belanda yang menghuni Jakarta pada tahun 1910-an. Pada masa itu, Jakarta masih dikenal dengan nama Batavia dan pasangan ini hidup melampaui batas, berkat pencurian dana bank yang nilainya fantastis.

A.M Sonneveld dan istrinya dikenal sebagai pasangan yang sangat kaya. Setiap malam, mereka mengunjungi tempat hiburan malam di pusat kota, menghabiskan uang tanpa rasa ragu.

Dalam pandangan masyarakat sekitar, mereka adalah sosok yang tidak perlu diragukan lagi. Meskipun hidup dalam kegemerlapan, tidak ada yang curiga berasal dari mana kekayaan mereka.

Asal-usul dan Karir A.M Sonneveld di Batavia

Sonneveld tiba di Batavia setelah menjalani berbagai tugas sebagai perwira Tentara Hindia Belanda. Dia mendapatkan banyak penghargaan, termasuk dari Ratu Belanda.

Setelah pensiun dari militer, Sonneveld berkarir di bank swasta terbesar di Batavia, yaitu Nederlandsch Indie Escompto Maatschappij. Di sana, ia bekerja di posisi penting sebagai kepala bagian yang mengurus uang nasabah.

Pekerjaan yang prestisius itu memungkinkannya memperoleh gaji yang sangat besar. Dengan riwayat seperti itu, tidak ada yang mencurigai bahwa kekayaannya diperoleh dengan cara yang tidak sah.

Pengungkapan Kasus Kejahatan Besar di Batavia

Semua itu mulai berubah pada awal September 1913, ketika banyak surat kabar di Hindia Belanda mengangkat berita mengenai tindakan melanggar hukum seorang pegawai bank. Nama Sonneveld muncul dalam berita-berita tersebut.

Salah satu surat kabar bahkan menyebutkan bahwa Sonneveld terlibat dalam pencurian uang nasabah yang mencapai 122 ribu gulden. Ini adalah jumlah yang sangat besar dan mengejutkan banyak orang.

Investigasi internal bank akhirnya membongkar praktik curang yang dilakukan oleh Sonneveld. Dia diketahui melakukan manipulasi dan penyalahgunaan kepercayaan nasabah.

Pelarian dan Penangkapan Pasangan Buronan

Ketika menyadari bahwa dirinya sudah dicurigai, Sonneveld dan istrinya segera melarikan diri dari Batavia. Keduanya menjadi buronan dengan informasi tentang diri mereka disebar luas melalui media.

Deskripsi fisik mereka dipublikasikan serta kemana tujuan pelarian mereka. Polisi kemudian menemukan jejak mereka ketika diketahui sedang berada di Bandung dan Surabaya.

Sonneveld sempat berbohong kepada teman-temannya, mengaku pergi ke Hong Kong untuk studi banding, padahal niatnya hanya untuk menghindari kejaran polisi.

Proses Hukum dan Dampak dari Kejahatan

Setelah ditangkap di Hong Kong, pasangan ini diekstradisi kembali ke Indonesia untuk menjalani proses hukum. Begitu tiba, mereka langsung diadili atas tuduhan pencurian yang sangat besar.

Di pengadilan, Sonneveld mengakui bahwa ia melakukan pencurian tersebut untuk memenuhi gaya hidup mewahnya. Istrinya pun terlibat dan berusaha menutupi perbuatannya.

Akhirnya, Sonneveld dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun, sedangkan istrinya menjalani hukuman tiga bulan. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah sebagai salah satu pencurian terbesar di awal abad ke-20.

Di era modern, kita melihat bahwa kejahatan tetap ada dalam berbagai bentuk. Perampokan kini sering kali dilakukan melalui teknologi yang lebih canggih, seperti pembobolan rekening bank secara online. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap waspada agar tidak menjadi korban dari modus kejahatan yang kian berkembang.