slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Pekerja Sering Mengalami Stres Menjelang Akhir Tahun, Psikolog Jelaskan Arti Burnout

Jelang akhir tahun, banyak pekerja yang mulai merasakan beban kerja yang semakin berat, yang sering kali berujung pada kelelahan mental dan emosional. Fenomena ini, yang dikenal dengan nama burnout, menjadi semakin umum seiring dengan meningkatnya tuntutan dalam dunia kerja, mulai dari target yang terus mengejar hingga penilaian kinerja yang kadang tidak realistis.

Pakar psikologi industri dan organisasi, Dr. Sumaryono, M.Si., dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa penting untuk memahami burnout secara mendalam. Banyak orang yang menganggap remeh kondisi ini dan tidak menyadari bahwa ada perbedaan signifikan antara stres, burnout, dan depresi.

Dr. Sumaryono menegaskan, burnout bukanlah sekadar stres biasa. Ini adalah kondisi serius yang memengaruhi fisik, emosional, dan mental secara bersamaan, sehingga memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih mendalam.

Dia juga menjelaskan bahwa meskipun stres adalah hal yang umum bagi banyak orang, burnout memiliki gejala yang lebih parah dan kompleks. Konsekuensi dari kondisi ini dapat memengaruhi tidak hanya individu, tetapi juga lingkungan kerja secara keseluruhan.

Pentingnya Memahami Perbedaan Antara Stres dan Burnout

Sering kali istilah burnout digunakan secara sembarangan, khususnya di kalangan anak muda. Mereka cenderung menganggap tekanan yang mereka alami sebagai bentuk burnout, padahal pengertian tersebut tidak sepenuhnya tepat. Burnout ditandai dengan kehilangan keinginan untuk beraktivitas dan rasa tidak berdaya yang mendalam.

Maryono, panggilan akrab Dr. Sumaryono, mengingatkan bahwa perbedaannya terletak pada tingkat keparahan gejala. Meski stres bisa menjadi jembatan menuju burnout, tidak semua orang yang merasa tertekan akan mengalami burnout. Hal tersebut menjadi penting untuk diingat agar orang-orang tidak salah memahami kondisi mereka sendiri.

Burnout seharusnya menjadi sinyal bahwa seseorang perlu memberi perhatian lebih pada kesehatan mental mereka. Minimal, mereka perlu menemukan cara untuk mengelola stres yang konstruktif, bukannya hanya mengandalkan istilah burnout untuk menggambarkan situasi mereka.

Dengan ini, kita juga bisa menggali lebih dalam mengenai interaksi antara pekerja dan tuntutan yang mereka hadapi. Memahami stressor yang ada dapat membantu membuat keputusan yang lebih baik untuk kesejahteraan mental.

Faktor-Faktor Penyebab Burnout di Tempat Kerja

Salah satu faktor utama yang sering menyebabkan burnout adalah tekanan yang tinggi dalam mencapai target. Ketika seseorang merasa tidak pernah cukup baik atau tidak bisa memenuhi ekspektasi yang ada, rasa kelelahan itu akan semakin mendalam.

Selain itu, ketidakpastian mengenai pekerjaan atau lingkungan kerja juga dapat memperburuk kondisi mental seseorang. Mereka yang mengalami kegelisahan akan jauh lebih rentan terhadap burnout, sehingga penting untuk menciptakan suasana kerja yang mendorong dukungan dan pengertian.

Kesulitan dalam menemukan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi juga menjadi faktor penyumbang yang signifikan. Banyak pekerja yang merasa terjebak dalam rutinitas yang menghimpit, sehingga kesulitan untuk mengambil waktu sejenak untuk diri mereka sendiri.

Perlu diingat bahwa kehilangan motivasi dan minat dalam pekerjaan adalah sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. Jika dibiarkan, situasi ini bisa memburuk dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang lebih serius.

Strategi Mengatasi Burnout dan Meningkatkan Kesehatan Mental

Untuk mengatasi masalah burnout, penting bagi pekerja untuk mulai mengidentifikasi faktor-faktor pemicu yang mendorong kondisi tersebut. Mereka bisa mulai dengan membuat catatan tentang keadaan emosional mereka dan mengakui kapan mereka merasa tertekan.

Strategi manajemen waktu yang efektif juga bisa menjadi solusi. Dengan merencanakan tugas-tugas secara lebih efisien dan menetapkan batasan yang sehat, pekerja dapat merasa lebih terkontrol atas aktivitas mereka.

Tidak kalah penting, mencari dukungan sosial sangatlah diperlukan. Berbicara dengan teman, keluarga, atau rekan kerja tentang perasaan dan tekanan yang dialami dapat membantu mengurangi beban emosional. Terkadang, berbagi cerita dengan orang lain bisa menjadi langkah awal untuk menemukan solusi.

Dalam beberapa kasus, mengadopsi gaya hidup sehat dengan pola makan baik, cukup tidur, dan olahraga teratur dapat meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan. Aktivitas fisik yang teratur diketahui dapat memicu produksi endorfin, hormon yang memberi perasaan bahagia.

Pentingnya Kesadaran dan Edukasi tentang Burnout

Meningkatkan kesadaran tentang masalah burnout sangat penting di tempat kerja. Organisasi perlu memberikan pelatihan tentang manajemen stres kepada karyawan mereka. Ini dapat menjadi alat yang efektif untuk mencegah burnout sebelum kondisinya menjadi parah.

Edkasi seputar burnout juga harus ditebarkan di kalangan pemimpin dan manajer, agar mereka dapat mengenali tanda-tanda awal dan membantu anggota tim yang mungkin sedang berjuang. Dengan cara ini, lingkungan kerja menjadi lebih proaktif dalam menjaga kesehatan mental karyawannya.

Pada akhirnya, sebagian besar keberhasilan untuk mengatasi burnout bergantung pada kolaborasi antara pekerja dan manajemen. Melalui komunikasi terbuka dan pemahaman bersama tentang pentingnya kesejahteraan mental, diharapkan kondisi burnout bisa diminimalisir, menciptakan suasana kerja yang lebih sehat dan produktif.

Penyebab Tindakan Ekstrem pada Remaja: Gangguan Mental

Penyebab Tindakan Ekstrem pada Remaja: Gangguan Mental

Gangguan Mental – Kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja kembali menjadi perhatian publik. Fenomena ini memicu kekhawatiran banyak pihak, termasuk para ahli psikologi yang mencoba memahami akar permasalahannya. Salah satu faktor utama yang kerap disebut-sebut sebagai pemicu tindakan ekstrem pada remaja adalah gangguan kesehatan mental.

Menurut psikolog klinis A. Kasandra Putranto, gangguan kesehatan mental, masalah keluarga, dan tekanan sosial adalah tiga faktor utama yang saling berinteraksi dalam mendorong perilaku destruktif pada remaja. “Tidak hanya gangguan mental, tetapi juga masalah keluarga dan tekanan sosial turut berperan besar,” ungkap Kasandra, seperti dikutip oleh Antara pada Senin (2/12/2024).


Gangguan Mental dan Perilaku Impulsif

Kasandra menjelaskan bahwa individu yang mengalami gangguan mental, baik emosional, kepribadian, maupun jiwa, cenderung lebih impulsif dan sulit mengendalikan emosi. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap perilaku agresif yang dapat berujung pada tindakan kekerasan.

“Ketika emosi tidak terkendali, mereka sering kali bertindak tanpa berpikir panjang. Hal ini berbahaya, terutama jika didukung oleh lingkungan yang tidak mendukung pemulihan,” jelas Kasandra.

Gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar sering kali tidak terdeteksi pada remaja, padahal tanda-tandanya sudah ada. Perubahan drastis dalam perilaku, seperti mudah marah, menarik diri, atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, dapat menjadi sinyal awal gangguan mental.


Pengaruh Lingkungan Keluarga

Selain faktor internal, Kasandra menekankan pentingnya memperhatikan kondisi lingkungan keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah salah satu pemicu utama gangguan mental pada anak. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan cenderung kesulitan mengelola emosi mereka dan lebih rentan mengalami trauma mendalam.

“Trauma akibat kekerasan dalam rumah tangga bisa meninggalkan luka yang mendalam. Anak-anak ini cenderung kesulitan mengelola stres dan emosi, yang pada akhirnya bisa memicu tindakan agresif di kemudian hari,” papar Kasandra.

Keluarga yang tidak harmonis juga sering kali gagal memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan oleh remaja. Ketidakhadiran orang tua secara emosional, konflik berkepanjangan, atau kurangnya rasa aman di rumah dapat memperburuk kondisi mental remaja.


Tekanan Sosial dan Pengaruh Media

Di luar lingkungan keluarga, tekanan sosial dari teman sebaya, masalah akademik, dan paparan media juga menjadi faktor penting yang memengaruhi perilaku remaja. Remaja yang tidak memiliki mekanisme coping yang baik sering kali merasa tertekan oleh tuntutan sosial atau ekspektasi yang tidak realistis.

Kasandra juga menyoroti peran media, terutama konten kekerasan yang dapat memengaruhi cara pandang remaja terhadap kekerasan. “Media memang bukan satu-satunya penyebab, namun kombinasi antara faktor internal dan eksternal dapat meningkatkan risiko terjadinya tindakan kekerasan,” tegasnya.

Paparan konten negatif di media sosial, misalnya, dapat mendorong normalisasi kekerasan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara remaja bereaksi terhadap konflik, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.


Pentingnya Deteksi Dini dan Edukasi

Untuk mencegah tindakan ekstrem pada remaja, Kasandra menekankan pentingnya deteksi dini terhadap tanda-tanda gangguan mental. Remaja yang menunjukkan perubahan perilaku signifikan, seperti mudah marah, sering menyendiri, atau kehilangan minat terhadap kegiatan sehari-hari, perlu mendapatkan perhatian lebih dari orang tua dan lingkungan sekitar.

“Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja. Jika ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan ahli,” saran Kasandra.

Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu remaja memahami dan mengelola emosinya dengan lebih baik, sehingga risiko tindakan kekerasan dapat diminimalkan.

Selain deteksi dini, edukasi kepada orang tua juga penting. Banyak orang tua yang tidak menyadari pentingnya kesehatan mental dalam perkembangan anak. Memberikan pemahaman tentang cara mendukung anak secara emosional dan menciptakan lingkungan keluarga yang aman adalah langkah awal yang penting.


Kesimpulan

Tindakan ekstrem pada remaja sering kali merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, termasuk gangguan mental, tekanan sosial, dan lingkungan keluarga yang tidak mendukung. Peran orang tua, guru, dan masyarakat sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan emosional remaja.

Peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental, deteksi dini, dan akses ke layanan konseling adalah langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencegah tindakan kekerasan lebih lanjut. Dengan pendekatan yang holistik, diharapkan remaja dapat tumbuh menjadi individu yang lebih sehat secara mental dan emosional, sehingga mampu menghadapi tekanan hidup tanpa harus beralih pada perilaku destruktif.

 

Baca juga artikel kesehatan lainnya.