Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai puncaknya pada level 9.100 untuk pertama kalinya dalam perdagangan sesi 1 pada Kamis, 15 Januari 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah koreksi yang telah berlangsung pada saham-saham konglomerat selama beberapa waktu terakhir yang menunjukkan fluktuasi besar.
Menariknya, saham-saham perbankan terkemuka justru mendapatkan perhatian positif dari para investor, yang mencerminkan kepercayaan pada sektor keuangan. Dalam skenario ini, saham bank terbesar mengalami lonjakan nilai, memberikan pergerakan positif bagi IHSG.
Dalam laporan terbaru, emiten dari bank-modal inti (KBMI) 4 menjadi unsur utama yang menjaga stabilitas IHSG. Secara spesifik, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia jadi pendorong utama dengan kontribusi bobot yang cukup signifikan.
Kenaikan Saham Perbankan yang Menarik Perhatian Investor
Pada akhir sesi, terlihat bahwa emiten perbankan melampaui ekspektasi dengan sejumlah posisi kinerja yang meningkat tajam. Bank Negara Indonesia (BBNI) memimpin dalam kenaikan harga saham dengan peningkatan sebesar 4,82% ke level 4.570, menunjukkan potensi pengembangan yang mengesankan.
Selain BBNI, Bank Mandiri (BMRI) juga mencatatkan kenaikan sebesar 3,82%, sementara Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengalami peningkatan 2,42%. Kenaikan-kenaikan ini menciptakan optimisme di kalangan pelaku pasar.
Dominasi total nilai transaksi saham perbankan juga terlihat jelas, di mana BBRI mencatat Rp 2,02 triliun, diikuti oleh BMRI dengan Rp 1,54 triliun dan BBNI yang mencapai Rp 629 miliar. Hal ini menunjukkan minat yang tinggi dari investor terhadap sektor ini.
Kekhawatiran Terhadap Saham Konglomerat yang Tertekan
Sementara itu, beberapa saham konglomerat, terutama yang terkait dengan para pengusaha besar seperti Prajogo Pangestu dan Bakrie mengalami penurunan yang signifikan. Sebagai contoh, Barito Renewables Energy (BREN) mengalami koreksi sebesar 1,81%, memberikan tekanan terhadap IHSG dengan pengurangan indeks sebesar 6,48 poin.
Hasil yang kurang memuaskan juga terlihat pada Bumi Resources Minerals (BRMS) dan Bumi Resources (BUMI), yang mengalami penurunan masing-masing 3,2% dan 1,81%. Penurunan ini berdampak pada pengurangan indeks IHSG yang cukup mencolok.
Dengan situasi yang beragam ini, pelaku pasar perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi volatilitas dan arah pasar ke depan. Keseimbangan antara sektor perbankan dan konglomerat menjadi sangat penting untuk dicermati.
Sentimen Makroekonomi yang Mempengaruhi Pasar Saham Indonesia
Pada penutupan pekan kedua Januari 2026, pasar keuangan Indonesia berpotensi menghadapi tantangan karena liburnya pasar pada hari Jumat mendatang. Menariknya, pelaku pasar perlu waspada terhadap berita dan sentimen yang berkembang baik dari domestik maupun internasional.
Dari dalam negeri, dampak terhadap nilai tukar rupiah menjadi sorotan utama, mengingat saat ini nilai tukar telah melampaui angka fluktuasi yang wajar. Pengamat mencatat bahwa kini harga jual Dolar AS di Jakarta telah menembus Rp 17.000, yang merupakan level kritis bagi perekonomian.
Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, nilai tukar tercatat dalam rentang yang mengkhawatirkan, yakni antara Rp 16.930 hingga Rp 17.010 per Dolar AS. Lonjakan nilai ini menunjukkan adanya kebutuhan akan likuiditas valas yang mendesak, baik dari masyarakat maupun pelaku usaha.



