slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Pemerintah Berencana Pisahkan Pemilik dan Anggota Bursa, Simak Alasannya

Pemerintah Indonesia tengah berada dalam proses penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang berkaitan dengan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini diambil sebagai bagian dari implementasi Undang-Undang No. 4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, yang memiliki tujuan besar untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor ini.

Demutualisasi adalah langkah berarti yang akan mengubah struktur kelembagaan BEI, dari bursa yang sebelumnya dimiliki oleh anggota bursa menjadi perseroan yang memperbolehkan kepemilikan oleh pihak yang lebih luas. Dengan perubahan ini, diharapkan akan ada pembaruan dalam cara BEI beroperasi yang lebih profesional.

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Masyita Crystallin, menekankan pentingnya tata kelola yang baik untuk bersaing di tingkat global. Menurutnya, penguatan tata kelola adalah prasyarat penting bagi pendalaman pasar modal dan penyediaan sumber pembiayaan yang berkelanjutan bagi ekonomi nasional.

Demutualisasi diharapkan memberikan kesempatan bagi pihak luar untuk memiliki saham di BEI, yang akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Dengan pemisahan antara keanggotaan dan kepemilikan, potensi benturan kepentingan dapat diminimalkan, memperkuat profesionalisme serta mendorong daya saing pasar modal Indonesia lebih luas di panggung internasional.

Mengapa Demutualisasi Jadi Pilihan Strategis bagi BEI?

Dalam konteks global, demutualisasi bukanlah hal baru. Banyak bursa efek di belahan dunia lainnya telah melakukan langkah serupa dengan sukses. Sebagian besar bursa besar, termasuk di negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, telah bertransformasi dari struktur mutual ke struktur yang lebih terbuka.

Transformasi semacam ini tidak hanya memodernisasi tata kelola bursa, melainkan juga memberikan bursa kemampuan yang lebih baik dalam beradaptasi dengan dinamika pasar keuangan global. Hal ini menjadi kritik konstruktif bagi BEI, yang masih terjebak dalam struktur lama.

Dengan diadopsinya struktur demutualisasi, BEI diharapkan menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan inovasi produk dan layanan baru. Hal ini meliputi pengembangan instrumen keuangan baru seperti derivatif, Exchange-Traded Fund (ETF), serta instrumen untuk pembiayaan infrastruktur dan energi terbarukan.

Selain itu, demutualisasi akan berpotensi untuk meningkatkan kedalaman dan likuiditas pasar, yang merupakan elemen penting bagi para investor. Pengelolaan yang lebih baik akan menciptakan lingkungan investasi yang lebih menarik bagi investor domestik dan internasional.

Menangani Tantangan yang Dihadapi Bursa Efek Indonesia

Masyita Crystallin juga menyoroti tantangan yang harus dihadapi dalam proses demutualisasi ini. Kebijakan ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan perlu didukung oleh langkah-langkah lain dalam pengembangan pasar modal. Dari sisi penawaran, salah satu isu mendasar adalah tingginya angka ketidakpuasan investor-sistem terkait rendahnya free float.

Free float yang rendah dapat mengakibatkan aktivitas perdagangan yang lemah dan menciptakan harga saham yang tidak mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Hal ini menjadi salah satu faktor mengapa banyak investor ragu untuk berinvestasi, sehingga dampak demutualisasi harus diimbangi dengan kebijakan lain agar hasilnya optimal.

Apalagi, kondisi likuiditas di pasar modal Indonesia masih dinilai jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain, sehingga peningkatan free float menjadi langkah penting bersama dengan demutualisasi. Kebijakan ini perlu diiringi dengan penguatan ekosistem yang mendukung perkembangan pasar modal.

Sebagai upaya untuk merespons tantangan tersebut, partisipasi investasi dari masyarakat juga perlu ditingkatkan. Investor domestik baik institusi maupun ritel diharapkan dapat lebih aktif dalam berinvestasi.

Kebijakan Pendukung untuk Investor Domestik

Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk mendukung peningkatan partisipasi investor domestik. Salah satunya adalah kebijakan terkait mekanisme cut loss yang berfungsi untuk memberikan kepastian bagi pengelola dana pensiun ketika berinvestasi di pasar modal. Hal ini bertujuan agar mereka dapat mengambil peran yang lebih aktif sebagai investor utama.

Strategi pengembangan tersebut juga dilengkapi dengan cara belajar dari pengalaman negara lain seperti India yang berhasil meningkatkan kapabilitas pasar modalnya. Dalam satu dekade terakhir, India menunjukkan transformasi hebat dalam pasar modal, dengan peningkatan kapitalisasi pasar yang signifikan.

Pengalaman India menunjukkan bahwa kombinasi penguatan tata kelola, partisipasi investor domestik, serta pemanfaatan teknologi untuk inklusi ekonomi menjadi kunci dalam keberhasilan reformasi pasar modal. Ini adalah pelajaran berharga yang harus diterapkan di Indonesia untuk mencapai tujuan yang sama.

Diharapkan bahwa kebijakan pendukung ini dapat mendorong keaktifan investor domestik, sehingga pasar modal dapat berfungsi sebagai sumber pembiayaan yang lebih efektif.

Proses Penyusunan RPP Demutualisasi Secara Bertahap

Penyusunan RPP yang berkaitan dengan demutualisasi ini dilakukan secara bertahap melalui kajian teknis yang mendalam. Proses ini mencakup konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator hingga pelaku industri dan lembaga legislatif. Keberhasilan proses ini bergantung pada transparansi dan partisipasi yang komprehensif.

Dengan pendekatan yang cermat dan partisipatif, diharapkan RPP dapat memperkuat pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang. Kuatnya struktur pasar modal diharapkan dapat mendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju status sebagai negara maju.

Langkah-langkah strategis ini menjadi bukti komitmen pemerintah untuk memperkuat pasar modal dan memastikan bahwa keduanya berfungsi dalam kepentingan publik dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Setelah semua proses ini selesai, diharapkan pasar modal Indonesia dapat bersaing secara global dan memberikan manfaat lebih bagi seluruh masyarakat.

Pemilik Kawasan SCBD dan Profil Serta Daftar Bisnis di Dalamnya

Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) di Jakarta merupakan salah satu pusat bisnis yang paling terkenal dan bergengsi di Indonesia. Dengan gedung-gedung pencakar langit yang megah dan infrastruktur modern, SCBD menjadi simbol kemajuan dan prestise bagi para pengusaha dan masyarakat umum.

Ratusan perusahaan besar beroperasi di area ini, menjadikannya sebagai jantung ekonomi Jakarta. Dengan segala daya tarik yang dimiliki, banyak orang mungkin ingin tahu tentang latar belakang serta kepemilikan kawasan bisnis ini.

Menurut sumber resmi, SCBD dikembangkan oleh PT Danayasa Arthatama, perusahaan yang fokus pada sektor real estat dan properti. Perusahaan ini adalah anak perusahaan dari PT Jakarta International Hotels and Development Tbk (JIHD), yang dikepalai oleh Tomy Winata, sosok pengusaha sukses berketurunan Tionghoa.

Awal Mula Bisnis Tomy Winata dan Perjuangannya

Tomy Winata, yang juga dikenal sebagai tokoh penting dalam dunia bisnis, memiliki latar belakang yang cukup menarik. Dia tumbuh sebagai yatim piatu dan mengalami berbagai kesulitan di masa kecilnya, namun hal itu tidak memadamkan semangat juangnya.

Pada tahun 1972, Tomy memulai langkah pertamanya dalam dunia bisnis dengan mengerjakan proyek konstruksi untuk angkatan militer. Proyek pertama ini membuka jalan bagi lebih banyak peluang bagi Tomy untuk membangun hubungan yang kuat dengan pihak militer dan memperluas jaringan bisnisnya.

Dengan inisiatif dan dedikasinya, Tomy berhasil menciptakan kemitraan yang menguntungkan dengan sejumlah perwira, yang semakin memperkuat posisinya di dunia bisnis. Hal ini menjadi fondasi untuk perkembangan bisnismya selanjutnya.

Perkembangan Artha Graha Network dan Diversifikasi Usaha

Bersama mitranya Sugianto Kusuma, Tomy Winata membentuk grup bisnis yang dikenal sebagai Artha Graha Network. Kelompok bisnis ini telah berkembang pesat dan mencakup berbagai sektor yang sangat beragam.

Keberhasilan Artha Graha tidak hanya terlihat dalam sektor properti, tetapi juga mencakup keuangan, agro-industri, dan perhotelan. Selain itu, mereka juga melakukan diversifikasi ke berbagai bidang lainnya seperti media, hiburan, dan teknologi informasi.

Kepemimpinan Tomy di Artha Graha Network membantu perusahaan ini untuk tetap relevan dan kompetitif di pasar yang semakin ketat. Dengan jaringan bisnis yang luas, dia mampu mengambil keputusan strategis untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

Perjalanan PT Danayasa Arthatama dan Status Bursa

PT Danayasa Arthatama memiliki perjalanan yang cukup menarik dalam dunia bisnis properti Indonesia. Perusahaan ini melantai di bursa saham pada tahun 2002 dengan menawarkan 100 juta lembar saham.

Saat itu, posisi Tomy sebagai Presiden Komisaris PT Danayasa Arthatama menunjukkan betapa pentingnya peran dia dalam pertumbuhan perusahaan. Namun, pada April 2020, perusahaan menyatakan hengkang dari lantai bursa setelah mendapatkan persetujuan untuk voluntary delisting.

Berpindah dari posisi publik ke swasta, Danayasa Arthatama tetap berkomitmen dalam pengembangan proyek-proyek properti yang berkualitas di SCBD dan area lainnya. Meskipun langkah ini membuat perusahaan tidak lagi terikat dengan publikasi di bursa, hal ini memungkinkan mereka untuk lebih fleksibel dalam bertindak.

Peranan JIHD dan Investasi di Sektor Perhotelan

JIHD, yang didirikan pada tahun 1969, juga memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hotel Borobudur yang merupakan pembuka operasionalnya menjadi salah satu ikonik n dalam industri perhotelan di Jakarta.

Sejak melantai di bursa pada tahun 1984, JIHD menjadi salah satu perusahaan yang terdaftar di Indonesia, menunjukkan keberhasilan dan stabilitas yang dimiliki. Tomy Winata, sebagai pengendali saham, memiliki kontrol signifikan terhadap kebijakan dan arah perusahaan.

Dengan kepemilikan sekitar 13,15% saham per 30 September 2025, Tomy menunjukkan komitmennya untuk terus berinvestasi dalam sektor perhotelan dan pariwisata, yang menjadi salah satu pilar penggerak ekonomi Indonesia.

Di luar sektor properti dan perhotelan, Tomy juga memperluas jangkauannya ke bidang keuangan dengan mendirikan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk. Dikenal sebelumnya dengan nama PT Inter-Pacific Financial Corporation, bank ini kemudian melakukan merger dengan PT Bank Artha Graha pada tahun 2005.

Bank Artha Graha menjadi bagian penting dari portofolio bisnis Tomy. Dengan inovasi dan layanan yang ditawarkan, bank ini berupaya menjadi salah satu pemain utama dalam sektor perbankan di Indonesia.

Pada akhirnya, perjalanan Tomy Winata dari seorang yang pernah mengalami kesulitan menuju posisi salah satu pengusaha terkaya dan terkemuka di Indonesia memberikan inspirasi bagi banyak orang. Berkat dedikasi dan visi yang jelas, ia berhasil mengubah SCBD menjadi kawasan yang sangat diminati baik oleh investor maupun wisatawan.

Pemilik Baru Futura Energi Global Terungkap, Simak Sosoknya

Jakarta menjadi pusat perhatian seiring dengan pengumuman penting dari PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) mengenai perubahan dalam pengendalian perusahaan. Langkah ini menandai awal baru bagi emiten energi tersebut yang telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir.

Perusahaan ini baru saja memberitahukan bahwa mereka akan melakukan aksi korporasi besar, termasuk mandatory tender offer (MTO) serta rights issue. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama FUTR, Tonny Agus Mulyantono, dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ardhantara, pengendali baru yang resmi mengakuisisi 45% saham FUTR, telah berkomitmen untuk mengarahkan perusahaan menjadi pemimpin dalam sektor energi hijau. Perubahan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi investor dan pemangku kepentingan lainnya.

Perubahan Kepemilikan Saham dan Rencana Aksi Korporasi

PT Aurora Dhana Nusantara, yang dikenal dengan nama Ardhantara, telah mengakuisisi sebanyak 2.985.998.000 saham FUTR dengan harga Rp 11 per saham. Langkah ini merupakan bagian dari strategi mereka untuk mengontrol perusahaan secara keseluruhan.

Dengan transaksi ini, Ardhantara akan menduduki posisi penting dalam pengelolaan FUTR. Ardhantara diharapkan dapat membawa visi dan misi baru yang lebih fokus pada pengembangan energi terbarukan.

Pemegang saham baru yang kini memegang kendali FUTR adalah Geremy Gandhi Mansukhani dari PT Raka Energi Mandiri. Dengan adanya perubahan ini, FUTR diharapkan mampu bertransformasi lebih baik untuk menghadapi tantangan di industri energi.

Dampak Suspensi Saham dan Trajektori Harga

Saham FUTR telah mengalami suspensi oleh BEI sejak 26 September 2025. Meski demikian, harga saham perusahaan ini menunjukkan peningkatan yang mencolok, melonjak hingga 594,44% dalam periode tiga bulan terakhir.

Sebelum suspensi terjadi, saham FUTR tercatat di harga Rp 500. Kenaikan harga ini menunjukkan adanya minat investor yang tinggi terhadap perusahaan meski dalam situasi yang tidak biasa.

Kondisi ini memberikan sinyal positif bahwa pasar masih memiliki harapan besar terhadap potensi perusahaan di masa depan. Dengan pengendalian baru, diharapkan tingkat kepercayaan investor akan semakin meningkat.

Visi Masa Depan sebagai Holding Energi Hijau

Ardhantara berencana untuk menjadikan FUTR sebagai holding yang fokus pada proyek-proyek energi hijau. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat posisi FUTR di sektor energi baru terbarukan (EBT).

Dari pernyataan Tonny Agus Mulyantono, pihak Ardhantara akan lebih banyak terlibat dalam investasi di entitas-operasional yang memiliki fokus yang sama. Hal ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat.

Pengembangan struktur modal juga menjadi bagian dari rencana kerja mereka. Tujuannya adalah agar perusahaan dapat melakukan proyek-proyek jangka panjang yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan.