slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Pemerintah Hentikan Insentif Motor Listrik, Begini Tanggapan Adira

Dalam dunia otomotif, perkembangan terkini menunjukkan bahwa penghentian insentif untuk motor listrik oleh pemerintah dapat berdampak signifikan terhadap sektor pembiayaan multifinance. Banyak pelaku industri kini bersiap untuk menghadapi kemungkinan dampak negatif dari keputusan tersebut, yang berpotensi menghentikan momentum pertumbuhan sektor motor listrik.

Salah satu pemangku kepentingan, yaitu Direktur Penjualan, Pelayanan & Distribusi Adira Finance, Niko Kurniawan, menjelaskan mengenai pentingnya insentif dalam mendukung daya beli masyarakat terhadap kendaraan roda dua. Dia mengungkapkan bahwa insentif yang diberikan selama ini mencakup porsi cukup besar dari total harga motor, mencapai 30%-40% untuk motor listrik.

“Insentif sebesar Rp7,5 juta untuk motor listrik berpengaruh signifikan,” ujar Niko. “Ini bisa menjadi tantangan bagi kami dan seluruh industri, namun segala keputusan tergantung pada kebijakan pemerintah,” tambahnya dengan nada pasrah.

Potensi Dampak Penghentian Insentif Motor Listrik

Penghentian insentif bisa membawa dampak langsung bagi daya beli masyarakat yang ingin beralih ke motor listrik. Tanpa adanya dukungan finansial dari pemerintah, saat ini bisa saja banyak konsumen yang menunda pembelian karena harga yang lebih tinggi.

Situasi ini tidak hanya berpengaruh pada penjualan motor listrik, tetapi juga menciptakan ketidakpastian dalam rencana investasi perusahaan pembiayaan. Banyak yang khawatir bahwa penurunan penjualan akan berimbas ke laba dan pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, pelaku industri mulai mencari alternatif untuk menarik minat konsumen di tengah situasi yang menantang ini. Salah satu strategi yang dipilih adalah meningkatkan promosi dan penawaran khusus dalam berbagai ajang otomotif, salah satunya dalam Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026.

Strategi Adira Finance Menghadapi Perubahan Kebijakan

Dalam menghadapi tantangan ini, Adira Finance telah merumuskan beberapa langkah strategis untuk menjaga aliran pembiayaan. Mereka menargetkan peningkatan penyaluran pembiayaan motor sebesar 15% hingga 20% dibandingkan tahun sebelumnya melalui berbagai promosi menarik.

Sebagai salah satu solusi, mereka menawarkan promo pembiayaan dengan bunga yang dimulai dari 0% per tahun untuk merek dan tipe tertentu. Dengan cara ini, diharapkan dapat merangsang minat konsumen untuk tetap memilih motor listrik meskipun insentif pemerintah tidak ada.

Selain itu, Adira Finance juga memberikan subsidi uang muka hingga Rp7,5 juta, yang diharapkan membantu mengurangi beban finansial awal bagi konsumen. Ini diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang berminat untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan.

Prospek Penjualan Sepeda Motor di Tahun 2026

Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) telah memproyeksikan bahwa penjualan sepeda motor di tahun 2026 akan berada dalam kisaran antara 6,4 hingga 6,7 juta unit. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun insentif telah dihentikan, potensi pasar masih sangat besar, terutama jika pelaku industri mampu beradaptasi dengan cepat.

Pihak AISI juga memprediksi bahwa piutang pembiayaan multifinance akan mengalami kenaikan antara 6% hingga 8% year on year. Namun, ini tentu tergantung pada bagaimana respons pasar terhadap perubahan kebijakan pemerintah terkait insentif.

Artinya, meskipun terdapat tekanan dari segi kebijakan, industri otomotif masih memiliki harapan untuk tumbuh, asalkan strategi yang tepat diterapkan. Masyarakat juga diharapkan untuk semakin menyadari pentingnya berpindah ke kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Kesimpulan dan Harapan untuk Industri Otomotif

Dengan semua perkembangan ini, sangat penting bagi semua pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam mencari solusi terbaik bagi industri otomotif di tanah air. Keberlanjutan pembiayaan motor listrik sangat tergantung pada kemauan pemerintah untuk terus memberikan dukungan kepada sektor ini.

Pada akhirnya, keberhasilan dalam menjawab tantangan ini akan menentukan tidak hanya masa depan motor listrik, tetapi juga industri otomotif secara keseluruhan. Semua pihak diharapkan dapat terlibat dalam diskusi konstruktif untuk mengembangkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Dengan sinergi antara pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat, kita bisa berharap untuk masa depan kendaraan listrik yang lebih cerah dan berkelanjutan. Semoga seluruh usaha yang dilakukan dapat menghasilkan pencerahan dan membawa kemajuan bagi semua pihak.

Waspadai Efek dan Risiko Tren Jual Motor Hanya STNK di Multifinance

Jakarta, Presiden Direktur CIMB Niaga Finance, Ristiawan Suherman optimistis terhadap prospek bisnis industri multifinance di tahun 2026 didukung tren suku bunga rendah, hingga stimulus daya beli dan peluang naiknya pertumbuhan ekonomi. Diharapkan kondisi inflasi yang terjaga dan ekonomi yang kian pulih mampu meningkatkan permintaan pembiayaan dan kredit di 2026.

Salah satu segmen yang bisa menjadi peluang pertumbuhan adalah segmen kendaraan listrik serta pembiayaan dana tunai yang terus mengalami peningkatan. Di sisi tantangan, multifinance menghadapi risiko peningkatan tren penjualan kendaraan hanya dengan STNK (STNK Only).

Lalu seperti apa prospek dan tantangan bisnis multifinance di 2026? Selengkapnya simak dialog Syarifah Rahma dengan Presiden Direktur CIMB Niaga Finance, Ristiawan Suherman dalam Power Lunch.

Prospek Bisnis Multifinance di Tahun 2026 dan Sektor-sektor Pendukungnya

Industri multifinance diyakini akan melihat pertumbuhan yang signifikan di tahun 2026. Dengan suku bunga yang diprediksi tetap rendah, konsumen akan lebih terdorong untuk mendapatkan pembiayaan.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil diharapkan mampu mendorong minat masyarakat untuk melakukan investasi, baik dalam bentuk kendaraan maupun properti. Segmentasi pasar yang berfokus pada kendaraan listrik menjadi langkah strategis bagi industri ini.

Selain itu, peningkatan pengeluaran konsumen yang didorong oleh pemulihan ekonomi menjadi faktor kunci lainnya. Dengan semakin meningkatnya daya beli, diharapkan permintaan untuk layanan pembiayaan juga semakin bertambah.

Risiko dan Tantangan yang Dihadapi Sektor Multifinance

Namun, industri multifinance juga tidak luput dari tantangan. Tren penjualan kendaraan hanya dengan STNK menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.

Dengan meningkatnya jumlah transaksi tanpa dokumen lengkap, ada kekhawatiran akan dampak negatif bagi stabilitas pasar. Hal ini memerlukan respons dari semua pemangku kepentingan di industri terkait.

Pengawasan yang ketat dan strategi mitigasi risiko menjadi langkah yang sangat penting. Tanpa langkah preventif, industri multifinance berpotensi menghadapi kerugian yang cukup signifikan.

Inovasi dalam Pembiayaan Kendaraan Listrik dan Dana Tunai

Salah satu solusi untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan mengedepankan inovasi dalam produk pembiayaan. Kendaraan listrik menjadi fokus utama yang akan mengubah landscape industri.

Dengan peningkatan kesadaran akan lingkungan, banyak konsumen yang mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan. Hal ini memberikan peluang besar bagi perusahaan multifinance untuk menargetkan segmen pasar baru.

Pembiayaan dana tunai juga menunjukan tren peningkatan yang positif. Banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan mendesak, sehingga hal ini menjadi peluang yang layak untuk dieksplorasi.

Motor STNK Only Banyak Dijual di Media Sosial, Bos Leasing Minta Bantuan

Praktik penjualan kendaraan dengan hanya menggunakan STNK tanpa disertai BPKB kini tengah menjadi perhatian serius dalam industri pembiayaan. Fenomena ini berkembang pesat di media sosial dan dianggap dapat merugikan banyak pihak, khususnya perusahaan-perusahaan multifinance yang beroperasi di Indonesia.

Suwandi Wiratno Siahaan, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan tantangan besar dalam dunia bisnis pembiayaan. Tekanan dari penurunan daya beli masyarakat juga menambah kesulitan yang dihadapi oleh industri ini.

Selain itu, Suwandi mengkhawatirkan dampak negatif dari komunitas yang memfasilitasi jual beli kendaraan STNK only ini. Aktivitas tersebut semakin banyak ditemukan di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok, sehingga menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi pelaku industri.

Komunitas Jual Beli Kendaraan di Media Sosial

Para pelaku bisnis kini harus menghadapi kenyataan bahwa adanya komunitas yang menawarkan penjualan kendaraan tanpa bukti kepemilikan yang sah. Praktik ini semakin merugikan karena tidak hanya menyulitkan perusahaan pembiayaan, tetapi juga berpotensi menjerumuskan konsumen ke dalam masalah hukum.

Suwandi mengingatkan bahwa kendaraan yang dijual dengan STNK only tidak memiliki kepastian legalitas. Tanpa disertai BPKB yang menjadi bukti sah atas kepemilikan, masyarakat berisiko terjebak dalam transaksi yang tidak jelas.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat banyak yang terjun ke dalam komunitas-komunitas tersebut, mengejar keuntungan cepat tanpa memahami resiko yang akan ditanggung. Hal ini membutuhkan perhatian lebih dari semua pihak untuk menjaga integritas pasar dan melindungi konsumen.

Dampak Negatif terhadap Industri Pembiayaan

Suwandi menegaskan dampak praktis dari situasi ini terhadap perusahaan pembiayaan saat ini. Kini perusahaan-perusahaan menjadi lebih selektif dalam menyetujui aplikasi kredit untuk kendaraan, yang sebelumnya memungkinkan banyak debitur untuk mendapatkan izin lebih mudah.

Saat ini, dari sepuluh aplikasi yang masuk, hanya sekitar empat yang lolos pada proses persetujuan. Ini merupakan penurunan yang signifikan dibandingkan sebelumnya. Penusukan ini tentunya akan memberikan dampak luas terhadap pendapatan dan kinerja bisnis industri pembiayaan.

Kondisi ini menciptakan siklus yang merugikan, di mana masyarakat merasa kesulitan untuk mendapatkan pembiayaan, sementara perusahaan juga terdesak untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Hal ini memerlukan intervensi segera dari regulator untuk menciptakan kembali kepercayaan dalam sektor ini.

Panggilan untuk Tindakan dari Pemerintah dan Regulator

Untuk menghadapi tantangan yang ada, APPI telah mengirimkan surat kepada otoritas terkait seperti Kominfo dan OJK. Dalam surat tersebut, asosiasi ini menyampaikan keresahan terkait maraknya komunitas yang ilegal dan merugikan saat ini.

Pihak APPI meminta agar pemerintah melakukan langkah-langkah konkret untuk menindak jual beli kendaraan tanpa bukti kepemilikan yang sah. Tindakan tegas sangat penting untuk menjaga kesehatan dan keberlangsungan industri pembiayaan di tanah air.

Keberadaan komunitas-komunitas tersebut hanya akan memperburuk masalah yang sudah ada dan berpotensi menambah ketidakpastian di pasar. Oleh karena itu, harapannya adalah pemerintah dapat segera mengambil tindakan yang tepat dan efektif.

Pertama Kali Cetak Laba, Ini Dua Motor Penghasilannya di GOTO

Dalam laporan terbaru yang dirilis pekan lalu, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan kemajuan signifikan dalam kinerja keuangan untuk kuartal ketiga tahun 2025. Laporan ini mencerminkan pencapaian laba yang positif, dengan dukungan dari dua unit bisnis utama, yaitu GoPay dan Gojek.

Manajemen GOTO mencatat bahwa ini adalah kali pertama dalam sejarah perusahaan yang berhasil mencapai laba sebelum pajak disesuaikan. Pada kuartal III-2025, perusahaan berhasil meraih laba sebelum pajak disesuaikan sebesar Rp62 miliar, meningkat signifikan sebesar Rp728 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, EBITDA Grup yang disesuaikan juga menunjukkan angka yang mencolok dengan total mencapai Rp516 miliar untuk periode Juli hingga September 2025. Selama sembilan bulan pertama di tahun 2025, GOTO mencatatkan EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp1,3 triliun, mendekati target tahunan yang ditetapkan antara Rp1,4-1,6 triliun.

Analisis Keuangan GOTO di Kuartal Ketiga Tahun 2025

Pencapaian ini mendorong GOTO untuk merevisi naik pedoman kinerja mereka untuk tahun 2025. Manajemen menargetkan EBITDA Grup yang disesuaikan di gudang anggaran menjadi antara Rp1,8-1,9 triliun untuk tahun ini sendiri.

“Profitabilitas GOTO menunjukkan tren yang semakin baik, dengan penyesuaian laba sebelum pajak yang mempertimbangkan bahwa Tokopedia tidak berada dalam kontrol penuh kami,” jelas manajemen perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa GOTO berpotensi mendekati net profit positif dalam waktu dekat.

EBITDA Grup yang disesuaikan juga mengindikasikan kemampuan GOTO dalam menghasilkan laba kas dari kegiatan operasionalnya. Keberhasilan ini sangat dipengaruhi oleh kinerja kedua unit bisnis yang terus berkembang dan semakin menguntungkan secara bersamaan.

Perkembangan Unit Bisnis Fintech dan Gojek

Di sektor fintech yang dioperasikan oleh Goto Financial (GTF), GoPay mencatatkan EBITDA tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp136 miliar pada kuartal III-2025. Di sisi lain, Gojek berhasil mencapai EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp336 miliar, juga mencetak rekor baru.

Menurut Fadhlan Banny dari Samuel Sekuritas, GOTO kini berada dalam kondisi keuangan yang semakin sehat, di mana kedua unit bisnis berfungsi lebih terintegrasi dan saling menguntungkan. “Segmen fintech berhasil mencapai strategi mass market yang kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Fadhlan menjelaskan bahwa pertumbuhan bisnis transaksi pembayaran di segmen fintech juga mendorong pertumbuhan bisnis pinjaman, yang menunjukkan sinergi yang positif antar unit. “Dengan inovasi produk yang ditawarkan oleh ODS, kami percaya Gojek dapat terus tumbuh secara profitable,” ujarnya.

Statistik Pertumbuhan Pengguna dan Pendapatan GOTO

Menyusul paparan kinerja, diperoleh bahwa pengguna yang bertransaksi bulanan di sektor fintech meningkat 29% year on year (YoY), mencapai 24,2 juta. Sementara itu, untuk bisnis pinjaman, nilai buku pinjaman konsumen melonjak 76% YoY, mencapai total Rp7,6 triliun.

Ekspansi bisnis consumer lending dilakukan dengan hati-hati, yang terbukti dari rendahnya nilai tunggakan lebih dari 90 hari. Pendekatan ini menandakan bahwa fintech GOTO, terutama melalui GoPay, menunjukkan pertumbuhan yang cepat dan berkelanjutan.

Meskipun kontribusi fintech masih sekitar sepertiga dari total bisnis GOTO, jika pertumbuhan ini berlanjut, hasilnya akan sangat menguntungkan bagi kinerja GOTO di masa mendatang. Meningkatnya kontribusi ini dipandang akan memperkuat portofolio bisnis secara keseluruhan.

Proyeksi Masa Depan GOTO dan Sinergi Bisnis

Fadhlan optimistis bahwa kontribusi dari unit fintech akan terus menguat bersamaan dengan kematangan bisnis ODS. Dengan kedua unit ini, GOTO dapat membangun ekosistem yang terintegrasi dan saling mendukung dalam satu platform.

“Dengan kejadian ini, GOTO tidak hanya memegang portofolio bisnis yang solid, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan persaingan dan kondisi makroekonomi di masa yang akan datang,” jelasnya optimis.

Para analis dan investor kini memperhatikan langkah-langkah yang diambil oleh GOTO, dengan harapan bahwa perusahaan akan mampu menjaga momentum ini untuk mencapai kinerja yang lebih baik di masa depan. Secara keseluruhan, pertumbuhan GOTO menunjukkan bagaimana mereka beradaptasi dan berkembang di pasar yang semakin kompetitif.