slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Stabilitas Sektor Keuangan RI Tetap Terjaga Menurut Bos OJK

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan di Indonesia tetap terjaga. Hal ini didorong oleh kekuatan permodalan dan likuiditas yang mencukupi, menunjukkan fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan ke depan.

Perkembangan sektor keuangan nasional tercermin dalam pertumbuhan kredit bank yang mencapai 9,6% secara tahunan per Desember 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi yang meningkat sebesar 20%, sementara kredit konsumsi dan modal kerja turut memberi kontribusi dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 6,5% dan 4,2%.

Selain itu, Mahendra juga menekankan pentingnya menjaga kualitas kredit. Dengan NPL net yang tercatat di angka 0,79% dan loan-at-risk yang mencapai 8,77%, hal ini menandakan bahwa sektor perbankan cukup stabil dalam menghadapi tantangan yang ada.

Sebagai bagian dari penjelasan, beliau mengungkapkan bahwa dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, yaitu sebesar 13%, sehingga total DPK menjadi Rp 10.059 triliun. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan yang masih kuat.

Kinerja Positif dan Penguatan Sektor Perbankan dalam Ekonomi

Kualitas kredit yang terjaga adalah salah satu indikator kesehatan sektor perbankan. Dengan LDR yang berada di level 85,35%, menunjukkan bank-bank memiliki likuiditas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan kredit. Hal ini penting dalam memastikan kontinuitas dalam pembiayaan perekonomian.

Pasar saham Indonesia juga mencatatkan kinerja yang positif di kuartal keempat 2025. Penguatan ini sejalan dengan perbaikan kondisi perekonomian serta membaiknya sentimen global, yang memberikan optimisme di kalangan investor.

Mahendra mengungkapkan bahwa IHS ditutup naik sebesar 7,27% dibandingkan kuartal sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan pergerakan transaksi yang meningkat, termasuk dari investor asing yang kembali berpartisipasi aktif di pasar modal Indonesia.

Selain itu, data menunjukkan bahwa penghimpunan dana dari pasar modal sepanjang 2025 mencapai angka yang signifikan. Total penawaran umum tercatat meningkat mencapai Rp 274,28 triliun dari tahun sebelumnya, memberikan gambaran optimis tentang minat investor di dalam negeri.

Tantangan dan Peluang di Sektor Jasa Keuangan

Walaupun kinerja positif ini mencerminkan kondisi yang stabil, tetap ada tantangan yang harus dihadapi. Sektor perbankan dan jasa keuangan harus tetap memperhatikan aspek pengelolaan risiko, terutama terkait potensi perubahan kondisi ekonomi yang cepat.

Perbankan juga perlu frutiskan inovasi digital yang berkembang pesat. Dengan kemajuan teknologi, layanan keuangan kini dapat diakses lebih mudah, sehingga bank dituntut untuk menghadirkan produk yang lebih relevan dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.

Penting untuk menciptakan strategi yang berkelanjutan dalam menghadapi perubahan ini. Sektor jasa keuangan harus siap beradaptasi dengan berbagai perubahan, baik dalam regulasi maupun preferensi pasar, agar bisa terus tumbuh dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Kemampuan bank dalam menyajikan layanan berkualitas dan inovatif akan menjadi kunci. Ini termasuk pengembangan produk yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti kredit mikro dan layanan perbankan digital, yang semakin diminati oleh generasi muda.

Strategi Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan di Sektor Jasa Keuangan

Salah satu kunci kesuksesan dalam sektor jasa keuangan adalah penguatan manajemen risiko. Bank harus dapat melakukan analisis yang mendalam terhadap risiko kredit dan pasar, untuk memastikan bahwa mereka dapat bertahan dalam ketidakpastian ekonomi.

Penerapan teknologi juga menjadi fokus utama dalam meningkatkan efisiensi operasional. Dengan memanfaatkan digitalisasi, bank dapat memangkas biaya dan mempercepat waktu pelayanan, yang pada akhirnya meningkatkan kepuasan nasabah.

Dalam konteks ini, kolaborasi antara regulator dan pelaku industri sangat penting. Melalui dialog yang konstruktif, dapat dibentuk kebijakan yang mendukung inovasi sekaligus menjaga stabilitas sektor keuangan.

Strategi-strategi ini akan menjadi bagian dari agenda pembangunan sektor keuangan yang lebih luas. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Uang Beredar M2 Capai Rp10.133 T di Akhir Desember 2025 menurut BI

Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan pertumbuhan likuiditas perekonomian yang menunjukkan angka positif pada akhir tahun 2025. Hal ini menjadi sorotan penting mengingat meningkatnya M2, yakni uang beredar dalam arti luas, yang mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa pada Desember 2025, M2 mengalami pertumbuhan sebesar 9,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini melampaui pertumbuhan bulan November 2025 yang hanya 8,3%, sehingga total uang beredar mencapai Rp10.133,1 triliun.

Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut adalah peningkatan uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 14,0% secara tahunan. Di samping itu, uang kuasi juga menunjukkan pertumbuhan yang positif, yaitu sebesar 5,5% pada periode yang sama.

Dalam analisisnya, Denny menekankan bahwa perkembangan M2 dipengaruhi oleh beberapa aspek penting, termasuk tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan kinerja penyaluran kredit. Keduanya menjadi elemen kunci dalam mendorong pertumbuhan likuiditas ekonomi.

Dia melanjutkan bahwa tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat mengalami kenaikan yang signifikan, yakni 13,6% dibandingkan tahun lalu. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebelumnya yang hanya mencapai 8,7%.

Peran Penyaluran Kredit dalam Perekonomian

Penyaluran kredit juga berkontribusi besar dalam meningkatkan angka M2. Pada Desember 2025, kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 9,3% dibandingkan dengan tahun lalu, yang menunjukkan tanda-tanda positif bagi sektor perbankan.

Angka ini lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada bulan November yang hanya 7,9%, memberi harapan akan stabilitas ekonomi ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan akan kredit semakin meningkat yang bisa merangsang pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Tidak hanya dari sisi kredit, Bank Indonesia juga mencatat pertumbuhan aktiva luar negeri bersih sebesar 8,9% pada bulan yang sama. Pertumbuhan ini sedikit menurun dibandingkan November yang mencapai 9,7%, namun tetap dalam posisi yang memadai untuk mendukung likuiditas.

Ini menjadi indikasi bahwa meskipun ada penurunan kecil, aktiva luar negeri tetap berfungsi sebagai buffer penting bagi sistem keuangan. Dengan kondisi ini, diharapkan ekonomi domestik akan tetap tangguh dalam menghadapi tantangan global.

Analisis Sektor Ekonomi dan Respons Kebijakan

Sektor ekonomi dalam negeri menunjukkan respons yang baik terhadap kebijakan yang diambil oleh BI. Pertumbuhan yang signifikan dalam likuiditas menandakan adanya kepercayaan dari masyarakat terhadap sistem perbankan dan ekonomi secara keseluruhan.

BI memandang krusialnya peran kebijakan moneter dalam menjaga kestabilan sehingga pertumbuhan ini dapat berlanjut. Mereka terus memantau perkembangan global dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian domestik untuk dapat mengambil langkah yang tepat.

Langkah-langkah proaktif dalam menyesuaikan kebijakan moneternya akan menjadi strategi penting. Dalam menghadapi potensi inflasi yang mungkin muncul seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, BI berupaya tetap menjaga kestabilan harga.

Partisipasi aktif dari sektor swasta dalam menggunakan fasilitas kredit juga menjadi harapan. Hal ini dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan berkontribusi terhadap laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Prospek Ekonomi dan Tantangan Ke Depan

Dengan meningkatnya uang beredar dan pertumbuhan kredit, prospek ekonomi Indonesia terlihat lebih cerah. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menghadapi inflasi dan risiko global yang dapat memengaruhi perekonomian.

BI terus berupaya untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan. Edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan kredit yang bijak menjadi salah satu upaya untuk mendukung kestabilan perekonomian.

Selain itu, integrasi teknologi dalam sistem keuangan juga menjadi fokus. Inovasi dalam layanan keuangan diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap kredit dan mempercepat pemulihan ekonomi.

Dengan langkah-langkah strategis yang diambil, diharapkan pertumbuhan ekonomi dapat berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat. Masa depan perekonomian Indonesia tergantung pada respons dan adaptasi terhadap dinamika global dan domestik.

Independensi DPR dalam Pemilihan Deputi Gubernur BI 100% Aman Menurut Misbakhun

Jakarta, dalam dunia perbankan, peran Bank Indonesia sebagai otoritas moneter sangatlah krusial. Proses pemilihan pejabat, seperti Deputi Gubernur, menjadi sorotan penting di mata publik, terutama saat ada indikasi hubungan politik dengan calon yang diusulkan.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa independensi DPR RI dalam menilai siapa pun calon pejabat Bank Indonesia akan senantiasa dijaga. Pernyataan ini diperlukan untuk menghindari berbagai spekulasi yang dapat muncul, terutama ketika kandidat yang diusung memiliki hubungan dengan tokoh penting di negeri ini.

Dalam hal ini, salah satu calon Deputi Gubernur, Thomas Djiwandono, menjadi perhatian karena dia adalah keponakan dari sosok politik prominent, Prabowo Subianto. Misbakhun menegaskan bahwa penilaian terhadap Thomas harus berfokus pada kapabilitasnya dan rekam jejak, bukan pada hubungan darahnya dengan tokoh politik.

Menjaga Integritas dan Independensi Bank Indonesia dalam Proses Seleksi

Proses seleksi calon Deputi Gubernur Bank Indonesia diharapkan dilakukan dengan penuh integritas. Penilaian objektif terhadap setiap calon menjadi sangat penting agar hasil keputusan mencerminkan profesionalisme dan kualitas yang dibutuhkan untuk mengelola kebijakan moneter nasional.

Independensi Bank Indonesia tidak hanya penting bagi stabilitas ekonomi, tetapi juga bagi kepercayaan masyarakat terhadap sistem moneter. Misbakhun menyatakan bahwa seorang individu tidak boleh dipandang sebagai faktor utama yang dapat mengganggu independensi lembaga.

Keputusan dalam pengelolaan kebijakan di Bank Indonesia bersifat kolektif, artinya seluruh Dewan Gubernur berkontribusi dalam proses ini. Setiap suara dan pendapat akan saling melengkapi, sehingga diharapkan mendapatkan kebijakan yang sinergis dan efektif untuk masyarakat.

Pentingnya Objektivitas dalam Penilaian Calon Pejabat Publik

Misbakhun mengimbau agar masyarakat memberikan penilaian yang adil dan objektif terhadap calon-calon yang diajukan. Hal ini akan membantu memastikan bahwa pemilihan dilakukan berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas yang berat di Bank Indonesia.

Pengetahuan umum, kebijakan moneter, dan isu politik menjadi beberapa aspek yang patut dipertimbangkan dalam penilaian calon. Masyarakat dihimbau untuk melihat lebih dalam mengenai kemampuan serta pengalaman calon daripada hanya mempertimbangkan faktor-faktor yang bersifat pribadi.

Dengan memberikan penilaian yang objektif, masyarakat dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pejabat publik. Ini juga bisa memperkuat sistem demokrasi serta akuntabilitas dalam pemerintahan.

Relevansi Calon Deputi Gubernur dalam Mempertahankan Kebijakan Ekonomi

Pemilihan Deputi Gubernur memiliki dampak langsung pada kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Bank Indonesia. Sebagai lembaga yang mengatur moneter, kinerja para pejabat yang terpilih sangat menentukan stabilitas ekonomi negara.

Thomas Djiwandono, seperti yang diungkapkan oleh Misbakhun, memiliki latar belakang yang mumpuni dalam konteks ini. Namun, penting untuk menyampaikan bahwa keahliannya harus dievaluasi secara menyeluruh tanpa terpengaruh oleh hubungannya yang bersifat pribadi dengan tokoh politik.

Pengambilan keputusan di Bank Indonesia berlandaskan pada regulasi dan sistem yang terstruktur. Karenanya, calon yang diusulkan harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja yang kompleks ini dan memberikan kontribusi positif di dalamnya.

Kebijakan Rupiah OJK Dianggap Tepat Jalan Menurut Bos OJK

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, memberikan penjelasan terkait langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Rapat tersebut dilaksanakan di kantor Kementerian Keuangan pada hari Jumat, menyentuh isu penting yang memengaruhi kondisi ekonomi nasional.

Mahendra menekankan bahwa tugas utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter. Diskusi ini menunjukkan upaya kolaborasi antar lembaga dalam menciptakan kebijakan yang efektif demi mempertahankan nilai tukar rupiah.

“Ya dibahas dan langkah-langkah sinergis yang perlu dilakukan dan terutama di depan tentunya adalah Bank Indonesia sendiri,” jelasnya, menunjukkan komitmen bersama dalam memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pentingnya Diskusi Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Diskusi mengenai stabilitas nilai tukar rupiah dalam KSSK menjadi sangat penting, terutama di tengah volatilitas pasar global. Mahendra menyatakan bahwa peran BI adalah krusial dalam mengimplementasikan kebijakan yang mendukung hal ini.

Dalam pertemuan tersebut, tidak ada kebijakan baru yang diusulkan, tetapi penekanan pada pengoptimalan langkah-langkah yang sudah ada perlu diperhatikan. Hal ini menunjukkan bahwa pihak KSSK percaya pada kebijakan yang telah diterapkan BI.

Sementara itu, Bank Indonesia memang optimis bahwa nilai tukar rupiah akan tetap stabil dan bahkan ada potensi penguatan di kemudian hari. Ini menjadi sinyal positif bagi para investor dan pelaku pasar.

Proyeksi Ekonomi dan Inflasi Menjadi Penunjang

Proyeksi ekonomi Indonesia ke depan menjadi fokus utama dalam pembahasan stabilitas nilai tukar. BI yakin bahwa perbaikan dalam perekonomian akan mendukung stabilitas rupiah, berkat yield yang menarik dan inflasi yang terjaga.

Perry, Gubernur BI, menyampaikan bahwa inflasi akan tetap berada di kisaran 2,5% plus minus 1% di tahun 2025. Kestabilan ini sangat dibutuhkan agar masyarakat bisa tetap percaya pada nilai mata uang domestik.

Dalam konteks ini, pertumbuhan ekonomi yang diramalkan masih di bawah kapasitasnya, dan suku bunga yang proaktif mampu menjangkar ekspektasi inflasi. Maka dari itu, stabilitas nilai tukar rupiah adalah kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Intervensi Bank Indonesia dalam Mengelola Volatilitas

Bank Indonesia mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Di antaranya adalah melakukan intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) dan pasar spot, yang sangat berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

Perry menekankan bahwa intensifikasi intervensi melalui pasar offshore dan onshore adalah langkah yang proaktif dalam mengelola volatilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi fluktuasi yang tidak perlu dan menjamin kestabilan di pasar keuangan.

Nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 menampilkan posisi Rp 16.945 per dolar AS, sebuah penurunan yang signifikan dari bulan sebelumnya. Ini menjadi catatan penting yang menunjukkan betapa kompetitifnya pasar finansial nasional.p>

Respon Terhadap Ketidakpastian Global dan Dampaknya

Pelemahan rupiah yang terjadi baru-baru ini sebagian besar disebabkan oleh outflow yang terjadi akibat ketidakpastian dalam konteks ekonomi global. Ini menjadi tantangan besar bagi kebijakan moneter yang ada, sehingga respons yang cepat dan tepat menjadi sangat diperlukan.

Beruntungnya, di akhir pekan, rupiah menunjukkan penguatan kembali, ditutup dengan nilai Rp 16.810 per dolar AS. Ini adalah kabar baik, menunjukkan bahwa meskipun ada fluktuasi, kondisi pasar masih dapat diperbaiki dengan segera.

Pergerakan dollar dinilai cukup fluktuatif, tetapi melihat penutupan yang lebih stabil ini memberikan sinyal positif bagi investor. Kestabilan ini diharapkan mampu menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi ke depan.

Juda Agung Gantikan Thomas Sebagai Wamenkeu Menurut Purbaya

Pemerintah Indonesia tengah menjalani dinamika yang menarik dalam pengelolaan sumber daya finansial. Dalam hal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengumumkan adanya pergeseran penting dalam struktur kepemimpinan di Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang dapat berdampak pada kebijakan ekonomi nasional.

Dengan pengusulan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, terdapat harapan besar untuk memperkuat sinergi antara dua lembaga vital ini. Pengangkatan ini menunjukkan bahwa pemerintah berupaya untuk memaksimalkan potensi kedua institusi demi kebaikan perekonomian.

Di sisi lain, Juda Agung akan mengambil alih posisi Wakil Menteri Keuangan yang ditinggalkan Thomas. Juda sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dan pengalamannya di bidang keuangan diharapkan dapat membawa perspektif baru.

Transformasi Kepemimpinan dalam Ekonomi Indonesia yang Berkelanjutan

Perubahan struktur kepemimpinan ini tidak hanya sekadar rotasi jabatan, tetapi juga mencerminkan upaya untuk menjaga stabilitas ekonomi. Menurut Purbaya, pergeseran ini adalah langkah strategis yang seimbang dari kedua lembaga.

Purbaya menegaskan bahwa pertukaran tersebut bisa menjadi titik balik untuk memperkuat hubungan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Baik Purbaya maupun Juda memiliki rekam jejak yang baik dalam bidang kebijakan ekonomi, sehingga diharapkan bisa meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan menyatakan bahwa langkah ini akan meningkatkan kolaborasi antarlembaga demi mencapai tujuan bersama. Kerjasama yang solid antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia diyakini dapat menciptakan inovasi dalam kebijakan ekonomi.

Independensi Bank Indonesia di Tengah Pergeseran Jabatan

Saat ditanya tentang independensi Bank Indonesia setelah adanya perubahan ini, Purbaya memberikan klarifikasi penting. Ia menyatakan bahwa independensi BI bukanlah sesuatu yang akan terganggu hanya karena adanya rotasi pejabat.

Purbaya menggarisbawahi bahwa selama intervensi pemerintah tidak terjadi, BI akan tetap menjalankan fungsinya secara profesional. Dalam pandangannya, pemilihan figur yang tepat lebih berperan dalam menjaga stabilitas lembaga ini.

Ke depannya, Purbaya berharap agar BI terus berdiri teguh dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan perekonomian nasional. Independensi lembaga ini merupakan pilar penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem keuangan negara.

Menyongsong Era Baru Kebijakan Ekonomi

Keputusan untuk mengganti pejabat ini mencerminkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi masa depan. Purbaya berharap perubahan ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kolaborasi dan inovasi di bidang kebijakan.

Dari informasi yang diperoleh, pemerintahan berkomitmen untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada dengan cara yang proaktif. Hal ini termasuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pembuatan kebijakan.

Melalui perkembangan ini, diharapkan masyarakat akan merasakan dampak positif dari kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan juga menjadi hal yang penting untuk mendukung program-program yang telah direncanakan.

Tabungan Ideal pada Usia 50 Tahun Menurut Pakar Keuangan

Pakar keuangan menekankan pentingnya persiapan keuangan yang matang ketika seseorang memasuki usia 50 tahun. Pada fase ini, pengelolaan tabungan dan aset menjadi faktor kunci yang menentukan kualitas hidup di masa pensiun, yang sering kali menjadi perhatian utama bagi banyak individu.

Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mempersiapkan masa depan finansial mereka dengan baik. Dalam banyak kasus, ada yang harus bekerja lebih keras untuk memastikan bahwa kebutuhan di masa tua dapat terpenuhi dengan baik dan aman.

Sebagian besar ahli merekomendasikan target tabungan yang realistis seiring dengan bertambahnya usia. Misalnya, jika seseorang berencana untuk pensiun di usia 67 tahun, sangat disarankan untuk memiliki tabungan yang setara dengan enam kali lipat pendapatan tahunan saat berusia 50 tahun.

Pentingnya Menentukan Jumlah Tabungan untuk Pensiun

Menurut penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga keuangan, jumlah tabungan yang ideal dapat bervariasi tergantung pada pendapatan masing-masing individu. Misalnya, jika seseorang memperoleh total pendapatan tahunan sebesar Rp100 juta, maka target tabungan yang optimal adalah sekitar Rp600 juta, yang merupakan hasil kali dari pendapatan tersebut.

Namun, jumlah tersebut tidak bisa dianggap sebagai patokan mutlak. Nathan Sebesta, seorang perencana keuangan bersertifikat, menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti kapan seseorang ingin pensiun, pengeluaran di masa pensiun, dan lokasi tempat tinggal sangat mempengaruhi jumlah tabungan yang dibutuhkan.

Hal ini mendorong individu untuk melakukan analisis finansial yang mendalam agar bisa menentukan angka tabungan yang realistis bagi kebutuhan mereka di masa pensiun. Menghitung secara cermat dapat membantu dalam menentukan langkah-langkah keuangan yang benar dan strategis.

Langkah-Langkah Strategis untuk Mempersiapkan Pensiun

Apabila tabungan pensiun Anda masih jauh dari target yang diharapkan, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menyiasatinya. Pertama, disarankan untuk menurunkan ekspektasi pendapatan saat memasuki masa pensiun. Ini bisa membantu mengurangi tekanan finansial di masa mendatang.

Kedua, perhatikan sisa waktu yang ada sebelum pensiun, biasanya sekitar 10-15 tahun. Manfaatkan waktu ini untuk melunasi utang secepat mungkin dan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Dengan begini, Anda dapat meningkatkan saldo tabungan secara signifikan.

Selain itu, penting untuk mempertimbangkan kemungkinan untuk berpindah ke lokasi dengan biaya hidup yang lebih rendah. Pilihan ini bisa membantu mengurangi beban pengeluaran harian dan memaksimalkan tabungan Anda di masa depan.

Tantangan yang Dihadapi Saat Memasuki Masa Pensiun

Beberapa orang mungkin merasa terpaksa untuk terus bekerja meskipun sudah memasuki usia pensiun. Hal ini sering kali disebabkan oleh kekhawatiran akan kurangnya dana pensiun yang mencukupi. Dalam beberapa kasus, ini adalah satu-satunya pilihan realistis bagi mereka yang tidak dapat mengejar ketertinggalan dalam persiapan finansial.

Ucapan Nathan Sebesta menggarisbawahi realitas pahit ini; “Tidak ada yang bermimpi harus tetap bekerja saat pensiun,” katanya. Namun, bagi mereka yang menyadari bahwa tabungan tidak mencukupi, tetap bekerja bisa menjadi solusi yang masuk akal.

Tantangan keuangan yang dihadapi individu saat memasuki masa pensiun dapat menjadi faktor penghambat untuk menikmati sisa hidup dengan tenang dan nyaman. Ini menjadi alasan penting untuk memulai persiapan lebih awal agar masa pensiun tidak menjadi beban finansial.

Kesimpulan: Pentingnya Persiapan Finansial yang Matang

Secara keseluruhan, pentingnya kesiapan finansial bagi tiap individu yang memasuki usia 50 tahun tidak bisa diremehkan. Dengan perencanaan yang baik dan pemahaman mendalam mengenai kebutuhan di masa depan, seseorang bisa menghindari masalah finansial yang mungkin muncul di masa pensiun.

Menentukan target tabungan yang realistis dan melakukan langkah-langkah strategis adalah kunci untuk mencapai kehidupan pensiun yang nyaman. Juga, kesadaran akan tantangan yang mungkin dihadapi dapat membantu individu untuk mengantisipasi dan merencanakan langkah-langkah yang diperlukan.

Akhirnya, semua ini menekankan pentingnya perhatian terhadap perencanaan keuangan sejak dini. Dengan cara ini, setiap orang memiliki peluang lebih baik untuk menikmati masa pensiun yang layak dan menyenangkan.

Jurus Investasi Menurut Nabi Muhammad SAW dan Pentingnya Bersedekah

Investasi sering kali dianggap sebagai aktivitas yang hanya berfokus pada pencarian keuntungan finansial. Namun, jika kita mengkaji lebih dalam, investasi sejati memiliki nilai lebih, yaitu berkah dan manfaat bagi umat. Hal ini dapat dilihat dari teladan Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan bagaimana investasi bisa memberikan dampak positif dalam kehidupan masyarakat.

Di era modern ini, prinsip-prinsip yang diterapkan oleh Nabi Muhammad dalam berinvestasi tetap relevan. Salah satu aspek kunci dari investasinya adalah modal utama berupa kepercayaan yang dibangun melalui kejujuran dan amanah. Hal ini membuat banyak orang percaya untuk berinvestasi dalam usaha yang dikelolanya.

Dengan menjalin kemitraan yang baik, Nabi Muhammad melakukan pembagian hasil dari keuntungan usaha yang dikembangkan. Di sini, tujuan investasi tidak hanya untuk menghasilkan keuntungan, tetapi juga untuk memberikan kontribusi positif dan menciptakan lapangan kerja.

Salah satu bentuk investasi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah beternak. Sejak kecil, beliau sudah memiliki pengalaman dalam bidang peternakan, dan saat dewasa, memiliki sejumlah besar hewan ternak seperti unta dan domba. Hal ini tidak hanya memberikan sumber penghasilan tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Selain berinvestasi dalam beternak, Nabi Muhammad juga menunjukkan kepeduliannya terhadap properti dan tanah. Dengan menyewa tanah kepada orang-orang yang membutuhkan, beliau menerapkan konsep bagi hasil. Tindakan ini menunjukkan nilai kolaborasi dalam berbisnis dan membantu mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Penting untuk dicatat bahwa dalam setiap usaha yang dilakukan, Nabi Muhammad selalu menekankan prinsip bersedekah. Setiap harta yang dimiliki harus digunakan untuk kebaikan dan membantu orang lain. Pendekatan ini bukan hanya membawa keberkahan, tetapi juga membangun solidaritas sosial yang kuat.

Investasi Berbasis Prinsip yang Diterapkan oleh Nabi Muhammad

Pandangan Nabi Muhammad tentang investasi sangat mengedepankan kemaslahatan umat dan keberkahan. Salah satu cara berinvestasi yang beliau lakukan adalah dengan membagikan hasil dari usaha kepada para investor dan mitranya. Dengan cara ini, semua pihak merasa diuntungkan.

Keterlibatan Nabi Muhammad dalam dunia perdagangan memberi pelajaran berharga tentang etika dalam berbisnis. Di samping menghasilkan keuntungan, setiap aktivitas bisnis harus mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan. Hal ini menunjukkan bahwa investasi tidak hanya tentang laba, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial.

Konsep mudharabah yang diterapkan oleh Nabi Muhammad juga menunjukkan bagaimana peran modal dalam menciptakan lapangan kerja. Dengan adanya pembagian hasil, banyak orang mendapat kesempatan untuk mengelola sumber daya dan berkontribusi bagi masyarakat. Hal ini menjadikan investasi sebagai alat pemberdayaan ekonomi.

Hasil dari investasi yang dilakukan Nabi Muhammad tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kepentingan umat. Setiap keuntungan yang diperoleh kemudian disalurkan untuk membantu sesiapa saja yang tersentuh dampak dari usaha yang dikelola. Ini menciptakan siklus kebaikan yang tak terlupakan.

Praktik Investasi yang Menciptakan Kesejahteraan

Salah satu praktik investasi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah sewa tanah yang dilakukan dengan cara bagi hasil. Konsep ini memungkinkan orang lain untuk memanfaatkan sumber daya yang ada tanpa harus menciptakan ketidakadilan. Semua pihak diuntungkan, mulai dari pemilik tanah hingga petani yang mengelolanya.

Dengan berbagi keuntungan, Nabi Muhammad mengajarkan pentingnya kolaborasi dalam berbisnis. Dalam kondisi yang baik, semua pihak dapat menikmati hasil yang lebih besar. Ini memperkuat komunitas dan memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi lokal.

Keberanian Nabi Muhammad dalam berinvestasi pada sektor pertanian dan peternakan juga menjadi sorotan. Dengan cara ini, beliau tidak hanya menawarkan peluang bagi dirinya, tetapi juga bagi masyarakat untuk memiliki sumber penghidupan yang layak. Usaha tersebut berkontribusi bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan umum.

Lebih dari sekadar bisnis, Nabi Muhammad menunjukkan bahwa investasi haruslah punya tujuan yang lebih tinggi, yakni maslahat bagi umat. Dengan mengedepankan prinsip keadilan dan saling menguntungkan, beliau berhasil membangun fondasi yang kuat dalam dunia bisnis yang berorientasi sosial.

Nilai-nilai Kemanusiaan dalam Berinvestasi

Salah satu hal yang perlu diingat dari investasi Nabi Muhammad adalah pentingnya bersedekah. Dengan berbagi sebagian dari harta yang dimiliki, beliau menunjukkan bahwa kekayaan tidak seharusnya menjadi tujuan utama. Sebaliknya, investasi yang baik justru akan meningkatkan rasa solidaritas dan kepedulian sosial.

Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam konteks bisnis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika harta digunakan untuk kebaikan, tidak hanya meningkatkan kekayaan, tetapi juga membawa berkah dan kebahagiaan. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad adalah contoh terdepan bagi kita semua.

Kepemimpinan Nabi Muhammad dalam membangun ekonomi masyarakat tidak hanya mengutamakan keuntungan pribadi. Namun, beliau melihat investasi sebagai jalan menuju kesejahteraan bersama. Hal ini menjadi ciri khas yang seharusnya diadopsi oleh setiap pengusaha masa kini.

Nabi Muhammad SAW bukan sekadar seorang pedagang, tetapi juga seorang pemimpin yang peduli akan nasib umat. Melalui langkah-langkah yang tertanam dalam prinsip investasi, beliau mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah milik pribadi, melainkan amanah yang harus dikelola dengan baik.

Dari teladan Nabi Muhammad tersebut, kita diingatkan untuk berinvestasi bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Berbagi hasil, menolong sesama, dan berkontribusi untuk masyarakat adalah inti dari investasi yang sejati.

29 Asuransi Belum Penuhi Ketentuan Modal Minimum Menurut OJK

Di tengah dinamika industri asuransi di Indonesia, peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi sangat penting dalam memastikan bahwa perusahaan-perusahaan asuransi memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas dan kredibilitas pasar asuransi, serta melindungi kepentingan masyarakat dan konsumen.

Terkini, OJK mencatat adanya 29 perusahaan asuransi yang masih belum memenuhi syarat ekuitas minimum sesuai peraturan yang berlaku. Situasi ini dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pemangku kepentingan mengenai kesehatan finansial dan kemampuan perusahaan-perusahaan tersebut dalam memenuhi kewajiban kepada nasabah.

Pentingnya Memenuhi Ketentuan Modal Minimum bagi Perusahaan Asuransi

Modal minimum merupakan syarat mendasar bagi keberlangsungan operasional perusahaan asuransi. Syarat ini bertujuan untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki cadangan dana yang cukup untuk menutup klaim yang mungkin timbul di masa depan.

Ketiadaan modal yang memadai dapat menyebabkan perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban klaim kepada nasabah. Ketidakmampuan ini dapat merusak reputasi perusahaan dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi secara keseluruhan.

OJK berperan aktif dalam mendorong perusahaan asuransi untuk memperbaiki kondisi modal mereka. Dalam rangka mencapai hal ini, OJK memberikan berbagai dukungan dan saran kepada perusahaan yang berisiko rendah untuk membantu mereka memenuhi persyaratan yang ada.

Target OJK dalam Meningkatkan Kualitas Perusahaan Asuransi

OJK menargetkan bahwa semua perusahaan asuransi akan memenuhi ketentuan ekuitas minimum pada akhir tahun 2026. Target ini diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam sektor asuransi, serta meningkatkan perlindungan bagi nasabah.

Proses perbaikan modal perusahaan asuransi bukanlah hal yang mudah dan memerlukan upaya kolaboratif. Perusahaan perlu menyusun strategi yang matang dan melibatkan semua pihak, termasuk pemegang saham dan manajemen, untuk mencapai target yang ditetapkan.

Sementara itu, OJK juga terus melakukan pengawasan dan monitoring untuk memastikan bahwa perusahaan yang masih kekurangan modal dapat memenuhi ketentuan tersebut dalam waktu yang telah ditentukan. Hal ini akan berkontribusi pada penciptaan ekosistem industri yang sehat dan berkelanjutan.

Dampak Positif bagi Nasabah dan Ekonomi Nasional

Pemenuhan ketentuan ekuitas minimum akan membawa dampak positif bagi nasabah. Dengan modal yang cukup, perusahaan asuransi akan lebih mampu memenuhi klaim yang diajukan, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi.

Di sisi lain, stabilitas perusahaan asuransi juga berkontribusi pada perekonomian nasional. Perusahaan yang sehat secara finansial memiliki kapasitas untuk berinvestasi dan memberikan kontribusi yang lebih baik terhadap pembangunan ekonomi.

Para pemangku kepentingan di industri asuransi diharapkan dapat bekerja sama secara sinergis untuk mencapai target ini. Dengan demikian, sektor asuransi bisa tumbuh kian pesat dan berfungsi maksimal dalam mendukung perekonomian secara keseluruhan.

29 Asuransi Belum Penuhi Ketentuan Modal Minimum Menurut OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini melakukan peninjauan terhadap perusahaan-perusahaan asuransi yang beroperasi di Indonesia. Mereka menemukan bahwa sejumlah perusahaan belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum yang ditetapkan, menandakan perlunya perhatian lebih di sektor ini.

Dalam penilaian terbaru, tercatat 29 perusahaan asuransi yang masih gagal memenuhi standar permodalan yang diharapkan. Situasi ini menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi stabilitas industri keuangan di masa depan.

Evaluasi OJK Terhadap Perusahaan Asuransi yang Tidak Memenuhi Ketentuan

OJK terus berupaya memastikan bahwa semua perusahaan asuransi mengikuti regulasi yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk melindungi nasabah dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi.

Perusahaan yang tidak memenuhi kriteria ekuitas minimum sering kali menghadapi kesulitan dalam operasionalnya. Oleh karena itu, OJK menetapkan batas waktu agar semua perusahaan dapat memenuhi ketentuan yang telah ditargetkan pada akhir tahun 2026.

Kepatuhan terhadap regulasi adalah kunci dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi sektor keuangan. Tanpa kepatuhan ini, perusahaan asuransi dapat menghadapi risiko yang lebih besar, yang berdampak pada konsumen dan pasar secara keseluruhan.

Implikasi Bagi Nasabah dan Stabilitas Pasar Keuangan

Nasabah yang memiliki polis asuransi dari perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan berisiko tinggi. Jika suatu perusahaan mengalami kesulitan finansial, nasabah mungkin tidak akan mendapatkan klaim mereka saat dibutuhkan.

Stabilitas pasar keuangan sangat bergantung pada kesehatan finansial perusahaan asuransi. Jika banyak perusahaan tidak memenuhi syarat, ini dapat menimbulkan krisis kepercayaan di kalangan investor dan nasabah.

OJK menyadari bahwa tantangan ini memerlukan tindakan yang cepat dan efisien. Mereka berkomitmen untuk melakukan pemantauan secara terus menerus dan memberikan bimbingan kepada perusahaan asuransi.

Langkah-Langkah yang Diambil OJK untuk Mengatasi Masalah ini

Untuk memastikan perusahaan asuransi dapat memenuhi ketentuan modal, OJK mengambil beberapa langkah proaktif. Salah satunya adalah memberikan bimbingan dan bantuan dalam perencanaan keuangan kepada perusahaan yang membutuhkan waktu lebih untuk memenuhi ketentuan yang ada.

Selain itu, OJK juga melakukan sosialisasi mengenai pentingnya pemenuhan ekuitas minimum. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pengurus perusahaan tentang tanggung jawab mereka.

Dengan memberikan dukungan yang tepat, OJK berharap semua perusahaan asuransi akan mampu memperbaiki kondisi finansial mereka. Tujuannya adalah untuk menciptakan industri asuransi yang lebih aman dan berkelanjutan ke depannya.

Tantangan yang Dihadapi oleh Perusahaan Asuransi di Indonesia

Salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan asuransi adalah pengelolaan risiko. Dalam beberapa kasus, perusahaan tidak memiliki strategi manajemen risiko yang efektif, yang dapat mengakibatkan kerugian finansial.

Selain itu, persaingan yang ketat di industri asuransi semakin mempersulit perusahaan untuk mempertahankan profitabilitas. Beberapa perusahaan mungkin mencoba untuk menekan biaya, yang dapat mengorbankan kualitas layanan yang mereka berikan.

Inovasi dalam produk asuransi juga menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan perusahaan. Mereka yang lambat beradaptasi dengan kebutuhan pasar bisa saja tertinggal dari pesaing yang lebih progresif.

Proyeksi Pertumbuhan Kredit Indonesia Tahun 2026 Menurut Bank Global

PT Bank HSBC Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit pada tahun 2026 akan mengalami peningkatan antara 1% hingga 1,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Proyeksi ini muncul seiring dengan perbaikan beberapa faktor yang mendorong permintaan pembiayaan dalam berbagai sektor ekonomi.

Menurut Pranjul Bhandari, Managing Director dan Chief India Economist, permintaan kredit secara keseluruhan masih belum sekuat periode sebelum pandemi. Namun, ada tanda-tanda perbaikan yang muncul sepanjang tahun 2025 setelah mengalami penurunan di awal tahun.

Permintaan kredit menunjukkan peningkatan, terutama dari perusahaan kecil yang terus berinvestasi dalam berbagai proyek. Meski kondisi ini belum sepenuhnya kembali ke level optimal, pertumbuhan investasi di segmen tersebut memberikan harapan bagi sektor perbankan.

Di sisi lain, permintaan kredit dari rumah tangga masih dianggap lemah. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan upah yang lambat serta ketidakpastian dalam permintaan barang konsumsi tahan lama.

Pranjul juga mencatat bahwa penjualan mobil yang menurun berkontribusi terhadap kinerja kredit konsumsi yang tidak optimal. Di tengah tantangan ini, kredit korporasi dari sektor perusahaan kecil menunjukkan kekuatan yang stabil, memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan kredit secara keseluruhan.

Proyeksi Pertumbuhan Kredit dan Ekonomi 2026

Pranjul menggarisbawahi pentingnya hubungan antara pertumbuhan kredit dan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal. Kinerja PDB nominal merupakan hasil kombinasi antara pertumbuhan ekonomi riil dan tingkat inflasi yang terjadi di masyarakat.

Pada tahun 2025, inflasi tercatat sangat rendah akibat turunnya harga komoditas, yang memungkinkan daya beli masyarakat untuk sedikit meningkat. Namun, proyeksi untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa inflasi kemungkinan akan kembali normal.

Dengan inflasi yang diharapkan kembali naik, pertumbuhan PDB nominal pada tahun 2026 diperkirakan akan lebih tinggi antara 1% hingga 1,5%. Hal ini dinilai sebagai potensi tambahan untuk mendorong permintaan kredit di pasar.

Strategi perbankan akan sangat bergantung pada kondisi makroekonomi ini, yang mencakup langkah-langkah untuk mendorong pertumbuhan kredit sambil mempertahankan kestabilan keuangan. Dengan proyeksi ini, diharapkan lembaga-lembaga keuangan dapat merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sekaligus, perubahan kebijakan moneter dan fiskal juga akan memengaruhi bagaimana sektor perbankan merespons kebutuhan pembiayaan di masyarakat. Ini menciptakan atmosfer yang dinamis bagi bank untuk melakukan penyesuaian strategi layanannya.

Tren Kredit dan Sektor yang Mendominasi

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pada November 2025, kredit tumbuh sebesar 7,74% secara tahunan, mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 7,46%. Total kredit yang ditawarkan oleh perbankan mencapai sekitar Rp8.314 triliun.

Jenis kredit yang paling berkembang adalah kredit investasi, yang mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 17,98% secara tahunan. Ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan tengah melakukan ekspansi dan berinvestasi dalam proyek baru untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,76% tahun ke tahun, dan kredit modal kerja meningkat sebesar 2,04%. Data ini mencerminkan adanya perluasan dalam kegiatan bisnis yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di berbagai sektor.

Berdasarkan kategori debitur, pertumbuhan kredit korporasi terbilang solid dengan angka mencapai 12% secara tahunan. Namun, segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan tersendiri, dengan kondisi pembiayaan yang belum sepenuhnya kembali normal.

Dengan penyesuaian aktivitas usaha yang berjalan lambat, UMKM terus berjuang untuk mendapatkan akses terhadap pembiayaan yang memadai. OJK mengakui bahwa tantangan ini memerlukan perhatian khusus dari sektor perbankan untuk mendukung keberlangsungan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi.

Strategi Perbankan dalam Menghadapi Tantangan

Dari sini, jelas bahwa sektor perbankan perlu mengembangkan strategi yang lebih inklusif untuk menjangkau segmen-segmen yang belum terlayani dengan baik, khususnya UMKM. Kebijakan dan inovasi produk perlu dirancang dengan memperhatikan kebutuhan riil para pelaku usaha kecil.

Inisiatif untuk memberikan kemudahan akses pembiayaan kepada UMKM dapat menjadi langkah penting bagi perbankan dalam meningkatkan kontribusi mereka terhadap perekonomian. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan etika yang diemban oleh lembaga keuangan.

Bank-bank juga perlu memanfaatkan teknologi finansial untuk mempercepat dan mempermudah proses pengajuan kredit bagi calon debitur. Dengan digitalisasi, diharapkan prosesnya menjadi lebih transparan dan efisien, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.

Selain itu, kolaborasi antara bank dan pelaku bisnis juga menjadi kunci penting. Melalui kerja sama yang saling menguntungkan, bank dapat mengedukasi UMKM tentang pentingnya manajemen keuangan, sementara pelaku usaha dapat lebih memahami produk perbankan yang tersedia untuk mereka.

Dengan langkah-langkah inovatif ini, diharapkan dapat tercipta iklim yang kondusif bagi pertumbuhan kredit di tahun-tahun mendatang, yang akan berimbas positif pada perekonomian nasional secara keseluruhan.