Nauru, sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik yang dikenal dengan keindahannya, pernah merasakan masa kejayaan yang luar biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, negara ini menjadi simbol dari kehancuran akibat kesalahan pengelolaan sumber daya alam dan keserakahan pemerintah.
Ukuran Nauru yang hanya 21 kilometer persegi tak menghalangi negara ini untuk menjadi salah satu yang terkaya di dunia pada awal abad ke-20. Ketertarikan dunia terhadap cadangan fosfat berkualitas tinggi yang melimpah membuat Nauru didatangi oleh banyak negara yang ingin mengekploitasi sumber daya tersebut.
Setelah mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1968, Nauru mengambil alih pengelolaan fosfat sendiri dan menikmati lonjakan ekonomi. Pada tahun 1982, dilaporkan oleh media internasional bahwa pendapatan per kapita Nauru melebihi negara-negara kaya minyak di kawasan Timur Tengah, menjadikan Nauru pusat perhatian dunia.
Kemakmuran tersebut membawa berbagai manfaat bagi penduduknya. Pemerintah Nauru saat itu memberikan layanan pendidikan dan kesehatan secara gratis kepada warga, serta mendanai perjalanan medis bagi mereka yang memerlukan perawatan di luar negeri, terutama Australia.
Kekayaan dan Keserakahan: Awal Kemunduran Nauru
Kekayaan yang melimpah ternyata menimbulkan keserakahan di kalangan para pejabat. Banyak dari mereka yang menggunakan dana negara untuk membeli mobil mewah, seperti Lamborghini dan Ferrari, padahal infrastruktur jalan di Nauru sangat terbatas.
Keserakahan ini mengarah pada gaya hidup tidak terkelola, yang digambarkan pula oleh YouTuber Ruhi Çenet dalam sebuah video dengan menyebut periode itu sebagai “kegilaan konsumsi”. Di lokasi yang ditunjukkan, terlihat mobil-mobil mahal berkarat di pinggir jalan sebagai simbol dari kehampaan ekonomi yang sebelumnya disimbolkan dengan kemewahan.
Memasuki tahun 1990-an, cadangan fosfat yang menipis menandakan berakhirnya masa kejayaan Nauru. Ekonomi yang sebelumnya sangat bergantung pada komoditas ini mengalami krisis besar saat sumber daya utama mereka habis. Pemerintah yang sudah terbiasa dalam kemewahan mendapati diri mereka tak siap menghadapi kenyataan pahit ini.
Strategi Bertahan Nauru di Tengah Krisis Ekonomi
Dalam upaya memulihkan kondisi finansial yang semakin memburuk, Nauru melirik strategi jangka pendek yang kontroversial. Menjadi surga pajak dan menawarkan izin perbankan serta paspor asing merupakan langkah yang diambil untuk menarik sumber pendapatan baru.
Sayangnya, langkah tersebut juga mengundang masalah baru. Nauru menjadi tempat pencucian uang, salah satunya untuk sekitar £ 55 miliar uang milik mafia Rusia. Hal ini memicu perhatian Amerika Serikat, yang pada akhirnya memasukkan Nauru ke dalam daftar hitam negara-negara pencuci uang pada tahun 2002.
Akhirnya, krisis ini membuat Australia turun tangan, menawarkan bantuan finansial untuk memperbaiki situasi ekonomi di Nauru. Sebagai imbalannya, Nauru harus menampung pusat detensi pencari suaka yang berupaya menuju Australia, menciptakan hubungan tidak menyenangkan antara kedua negara.
Keprihatinan Sosial dan Kesehatan di Nauru
Kondisi sosial di Nauru saat ini sangatlah memprihatinkan. Berdasarkan data dari Federasi Obesitas Dunia, Nauru memiliki tingkat obesitas tertinggi di dunia, di mana sekitar 70% penduduknya mengalami kelebihan berat badan. Hal ini menjadi masalah serius seiring dengan meningkatnya angka penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup.
Selain itu, MacroTrends juga melaporkan bahwa hampir setengah dari populasi Nauru adalah perokok aktif. Kombinasi antara gaya hidup tidak sehat dan tekanan sosial turut menambah kompleksitas masalah kesehatan di negara ini.
Dengan sekitar 12.000 penduduk yang berasal dari 12 suku utama, kisah Nauru adalah pengingat bahwa kekayaan alam yang dikelola tanpa bijaksana bisa mengarah pada kehancuran. Pelajaran yang dapat diambil adalah pentingnya pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.
