slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Pria Ini Ternyata Mata-Mata Israel Sebelum Menjadi Wakil Menteri

Peran intelijen menjadi salah satu elemen kunci dalam menjaga stabilitas keamanan dan kepentingan Israel di kawasan Timur Tengah. Beberapa operasi yang dilakukan oleh agen-agen intelijen Israel memiliki dampak yang luas dan terkadang berbuah dramatis, salah satunya adalah kisah Eli Cohen yang menyusup ke Suriah sebagai agen rahasia.

Sosok Eli Cohen, yang menggunakan nama samaran Kamel Amin Thaabet, lahir di Mesir dan kemudian pindah ke Israel pada tahun 1954 setelah direkrut oleh Mossad. Dengan tujuan mengumpulkan informasi serta membangun jaringan di kalangan elite Suriah, Eli menjalani misi berisiko tinggi yang menciptakan ketegangan diplomatik.

Identitas Cohen sebagai Kamel dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan kepercayaan di kalangan masyarakat Suriah. Dia mengaku sebagai pengusaha tekstil yang kembali ke Suriah setelah beberapa tahun tinggal di Argentina untuk memperkuat posisinya dalam lingkungan sosial elite.

Sandra Wilson mengungkapkan bahwa dalam skenario yang dibuat oleh Mossad, Kamel ditampilkan sebagai sosok yang memiliki niat baik untuk membantu negara asalnya. Dengan membangun citra positif, dia dapat memasuki jaringan kekuasaan Suriah dan mengumpulkan informasi bernilai.

Bagaimana Eli Cohen Memasuki Suriah dengan Identitas Palsu

Langkah pertama Eli Cohen untuk menyusup ke Suriah dimulai dari pertemuannya dengan Jenderal Amin al-Hafez, atase militer Suriah di Argentina. Dalam pertemuan itu, Kamel mengutarakan niatnya untuk kembali ke tanah kelahiran dan berkontribusi dalam pembangunan. Dengan situasi politik yang tegang dan korupsi yang merajalela, niat Kamel mendapatkan perhatian dari al-Hafez.

Berkat hubungan baik ini, Kamel diperkenankan untuk masuk ke Suriah dan memperkenalkan dirinya kepada masyarakat sebagai pengusaha yang dermawan. Proses ini memastikan dia diterima dan diakui oleh anggota elit Suriah, memperlancar aksesnya ke informasi sensitif.

Pertemanan Kamel berkembang pesat, termasuk hubungan dengan tokoh-tokoh penting di militer dan pemerintah. Melalui jaringan ini, dia tidak hanya menjalankan bisnis tetapi juga mulai mendapatkan informasi berharga tentang rencana militer Suriah yang dapat membahayakan Israel.

Elite Suriah dikenal sebagai sosok yang hobi berpesta, dan Kamel memanfaatkan momen tersebut untuk memperluas relasinya. Dengan menyelenggarakan berbagai pesta, dia berhasil menyelami kehidupan sosial para pemimpin dan petinggi militer Suriah tanpa terdeteksi sebagai agen rahasia.

Proses Mengumpulkan Informasi Sensitif Secara Rahasia

Seiring berjalannya waktu, hubungan Kamel dengan presiden Suriah, Amin al-Hafez, semakin kuat. Kuan kepercayaannya membawanya sering berkunjung ke lokasi-lokasi strategis dan militer, memberikan akses yang lebih luas untuk mengumpulkan informasi. Kamel mencatat berbagai rincian penting tentang kekuatan militer dan strategi yang dijalankan oleh negara tersebut.

Selama lebih dari tiga tahun, informasi yang berhasil dikumpulkan disampaikan secara diam-diam ke Mossad dengan menggunakan kode morse. Kegiatan ini berlangsung secara teratur, dan Kamel berhasil menjalin kepercayaan yang semakin dalam dengan al-Hafez.

Kepercayaan itu puncaknya saat Kamel ditawari posisi Wakil Menteri Pertahanan Suriah. Tawaran ini sangat menggugah, namun juga menimbulkan keraguan dalam diri Kamel, yang disampaikan kepada Mossad sebelum membuat keputusan.

Dengan dukungan dan semangat dari Mossad, Kamel akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Namun, keberuntungannya segera sirna ketika dia secara tidak sengaja tertangkap saat mengirimkan informasi ke Israel.

Pasukan militer Suriah, yang telah curiga akan adanya pengkhianatan, melakukan penyelidikan dan menemukan bukti yang mencolok. Dalam momen yang tidak diinginkan ini, identitas asli Kamel sebagai spy Israel terungkap, membuat situasi semakin tegang.

Nasib Tragis Eli Cohen dan Akibat dari Operasi Spionasenya

Setelah tertangkap, Eli Cohen segera diadili dan mengaku sebagai mata-mata yang bekerja untuk Israel. Presiden Suriah, al-Hafez, merasa dikhianati dan marah oleh akibat pengkhianatan Kamel. Akibat dari tindakannya, Suriah mengalami kekalahan dalam beberapa konflik dengan Israel.

Hukuman yang diterima Eli Cohen adalah hukuman mati, dan dia dijatuhi gantung pada tanggal 18 Mei 1965. Jenazahnya dibuang, dan selama bertahun-tahun, keluarganya tidak mengetahui nasibnya. Berita mengenai kematiannya menimbulkan reaksi yang beragam di kalangan masyarakat.

Meskipun Eli Cohen telah tiada, banyak informasi penting yang berhasil diungkap sebelum penangkapannya. Informasi tersebut digunakan oleh Israel untuk mempersiapkan diri dalam konflik-konflik mendatang, termasuk Perang Enam Hari yang terjadi pada tahun 1967.

Kesuksesan Israel dalam perang ini, meski dikelilingi oleh negara-negara Arab, tidak lepas dari informasi yang dibocorkan oleh Eli Cohen. Kariernya sebagai seorang spionager mungkin telah berakhir secara tragis, tetapi pengaruhnya tetap terasa dalam sejarah hubungan Israel dan Suriah.

Legasi Eli Cohen sebagai agen intelijen menjadi bagian penting dari sejarah intelijen, yang menunjukkan bagaimana satu tindakan spionase bisa mengguncang keseimbangan kuasa di kawasan yang penuh ketegangan ini. Setiap langkah yang diambilnya telah menciptakan jejak yang kompleks dalam permainan geopolitik di Timur Tengah.