Investasi saham telah ada sejak berabad-abad lalu dan melibatkan beragam lapisan masyarakat di waktu itu. Pada tahun 1602, Kongsi Hindia Belanda atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mulai secara aktif menawarkan saham kepada masyarakat, menandai awal mula skema investasi yang kita kenal saat ini sebagai penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Setelah diumumkannya IPO, banyak orang berbondong-bondong mengunjungi Bursa Efek Amsterdam untuk berinvestasi. Sebuah laporan yang ditulis oleh Lodewijk Petram dalam buku “The World’s First Stock Exchange” mencatat bahwa ada 1.143 investor yang mendanai modal awal VOC.
Keunikan dari investasi ini adalah fleksibilitas yang diberikan kepada setiap investor mengenai jumlah dana yang bisa diinvestasikan. Tanpa batasan tertentu, siapa pun dari berbagai latar belakang dapat berpartisipasi, termasuk Neeltgen Cornelis, seorang asisten rumah tangga yang terinspirasi oleh majikannya yang merupakan seorang Direktur VOC.
Sejarah Awal Investasi Saham dan VOC
Langkah VOC dalam menjual saham kepada masyarakat luas menjadi salah satu tonggak sejarah investasi modern. Dengan melakukan IPO, VOC tidak hanya memperoleh modal yang dibutuhkan, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi masa itu.
Proses investasi pada zaman itu sangat berbeda dibandingkan dengan sekarang. Saham tidak dibeli secara digital; sebaliknya, transaksi dilakukan secara manual dengan pencatatan di atas kertas, yang mengharuskan para investor berdatangan ke rumah Dirck van OS untuk berinvestasi.
Di tengah kesibukan tersebut, Neeltgen Cornelis merasa bingung. Ia berjuang mencari dana untuk berinvestasi, sebab gaji yang diterimanya sebagai pembantu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perjuangan Neeltgen Cornelis dalam Berinvestasi
Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Neeltgen kemudian memutuskan untuk berinvestasi ketika penawaran saham VOC hampir berakhir. Tekadnya muncul dari rasa khawatir akan menyesal jika tidak mengambil keputusan saat itu.
Neeltgen akhirnya menyisihkan 100 gulden dari tabungannya, sebuah langkah yang sangat berani mengingat situasi keuangannya yang terbatas. Meskipun investasi tersebut kecil jika dibandingkan dengan para investor lainnya yang menyetorkan hingga 85 ribu gulden, tetapi keputusan itu tetap berharga bagi Neeltgen.
Menariknya, keputusan berani Neeltgen tidak sia-sia. Ia bisa mendapatkan keuntungan dari kepemilikan sahamnya dan akhirnya menjualnya pada bulan Oktober 1603, satu tahun setelah investasi pertamanya.
Dampak dan Pelajaran dari Investasi Awal di VOC
Seandainya Neeltgen memilih untuk terus memegang sahamnya, nilai investasinya dapat meningkat menjadi ribuan gulden. Hal ini menunjukkan potensi luar biasa dari investasi saham, yang sering kali dapat memberikan imbal hasil lebih besar dibandingkan bentuk investasi lainnya.
Selain itu, para pemegang saham juga mendapatkan dividen dari VOC berupa rempah-rempah. Ini memperlihatkan betapa bermanfaatnya investasi tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga dari barang yang bisa diperoleh.
Pengalaman Neeltgen Cornelis menunjukkan bahwa investasi bukan hanya milik kalangan elit. Dengan tekad dan keberanian, siapapun dapat berpartisipasi dan meraih manfaat dari dunia investasi, menjadikannya pelajaran berharga bagi generasi-generasi berikutnya.


