slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

DPR RI Gelar Uji Kelayakan Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia

Komisi XI DPR RI baru saja memulai proses fit and proper test untuk calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, yang berlangsung pada tanggal 23 Januari. Uji kelayakan ini merupakan langkah penting dalam menilai kemampuan dan integritas calon yang diajukan untuk posisi strategis dalam lembaga keuangan negara.

Solikin M. Juhro, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, menjadi calon pertama yang menjalani uji kelayakan ini. Penilaian tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa individu yang dipilih memiliki kompetensi dan pengalaman yang memadai dalam mengelola kebijakan moneter.

Pentingnya proses ini tidak dapat diabaikan, karena peran Deputi Gubernur sangat krusial bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Selain itu, proses ini juga mencerminkan komitmen DPR RI dalam pengawasan dan akuntabilitas lembaga-lembaga negara.

Pentingnya Uji Kelayakan bagi Calon Pejabat Publik

Uji kelayakan dan kepatutan merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa pejabat yang diangkat memenuhi kriteria yang diharapkan. Dalam konteks Deputi Gubernur Bank Indonesia, ini meliputi keahlian dalam ekonomi dan pengalaman dalam kebijakan keuangan.

Proses uji kelayakan ini diharapkan dapat mengidentifikasi calon yang bukan hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas yang tinggi. Dengan demikian, masyarakat bisa merasa lebih percaya terhadap lembaga keuangan dan pemimpin yang bertugas di dalamnya.

Selama proses fit and proper test, berbagai pertanyaan yang mendalam akan diajukan kepada para calon. Ini bertujuan untuk menguji pengetahuan mereka tentang kondisi ekonomi serta kebijakan yang relevan dalam konteks global dan nasional.

Prosedur Pelaksanaan Fit and Proper Test

Fit and proper test dilaksanakan oleh anggota Komisi XI yang memiliki tanggung jawab untuk mengevaluasi calon secara menyeluruh. Mereka akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja calon.

Prosedur ini biasanya melibatkan sesi tanya jawab dan presentasi dari calon. Selain itu, evaluasi juga dapat meliputi penilaian tentang pandangan calon terhadap isu-isu terkini dalam ekonomi.

Ini adalah bagian dari mekanisme check and balance yang ada di DPR RI. Proses ini tidak hanya mempertimbangkan kandidat terbaik, tetapi juga menciptakan transparansi dalam setiap keputusan yang diambil.

Harapan Masyarakat Terhadap Calon Deputi Gubernur

Masyarakat mengharapkan bahwa calon Deputi Gubernur yang terpilih nantinya mampu menjalankan peran secara efektif dan responsif. Mereka perlu memiliki visi yang jelas untuk kebijakan moneter dan daya saing ekonomi nasional.

Keterbukaan dan komunikasi yang baik antara Bank Indonesia dan masyarakat juga menjadi harapan penting. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan.

Sikap proaktif dalam menghadapi tantangan ekonomi global juga diharapkan dapat menjadi fokus utama. Deputi Gubernur yang baru diharapkan mampu memberikan jawaban dan solusi atas berbagai masalah yang mungkin dihadapi dalam kebijakan ekonomi nasional.

Perkuat Finansial Atlet, Kemenpora Gelar Literasi Keuangan bersama BRI

Pencapaian luar biasa kontingen Indonesia di SEA Games 2025 Thailand menjadi momen yang patut dirayakan dan diingat oleh seluruh masyarakat. Selain menambah daftar prestasi olahraga, keberhasilan ini juga menjadi peluang bagi atlet untuk meningkatkan kesiapan finansial mereka.

Dengan semangat mendukung para atlet, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI menginisiasi program edukasi pengelolaan keuangan. Program ini dirancang khusus untuk membekali para atlet agar mampu mengelola penghasilan yang mereka terima setelah mendapatkan penghargaan.

Indonesia berhasil meraih capaian signifikan dengan mengumpulkan 91 medali emas, 111 perak, dan 131 perunggu. Hal ini merupakan tonggak sejarah baru, di mana Indonesia berhasil finis sebagai runner-up di SEA Games meskipun tidak menjadi tuan rumah.

Di tengah momen bersejarah ini, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan penghargaan kepada atlet yang mencetak prestasi di SEA Games. Penyaluran bonus dan penghargaan dilakukan untuk memotivasi para atlet dan pelatih yang telah berjuang keras di kompetisi internasional tersebut.

Pada tanggal 7 Januari 2026, BRI dan Kemenpora melaksanakan kegiatan edukasi bertajuk “Champions Beyond the Arena: Smart Finance for Champion Athletes.” Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir dan Direktur Utama BRI Hery Gunardi, yang menekankan pentingnya literasi keuangan bagi atlet.

Dalam acara tersebut, para atlet diberikan panduan mengenai tantangan yang akan dihadapi dalam pengelolaan keuangan setelah menerima bonus. Sesi tersebut menghadirkan praktisi literasi finansial yang berpengalaman, membantu atlet mengembangkan pemahaman yang kuat tentang pengelolaan keuangan yang bijaksana.

Pentingnya edukasi literasi keuangan bagi atlet menjadi sorotan utama yang disampaikan oleh Hery Gunardi. Ia menekankan bahwa kesuksesan di arena olahraga tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik, maka atlet berisiko menghadapi tantangan finansial di masa depan.

Selain itu, Erick Thohir menyoroti kolaborasi antara Kemenpora, BRI, dan pemangku kepentingan lainnya sebagai langkah strategis untuk mendorong atlet tidak hanya menjadi juara di kompetisi, tetapi juga dalam pengambilan keputusan finansial yang bijaksana. Ini adalah inisiatif yang diharapkan dapat membawa dampak jangka panjang bagi para atlet.

Program literasi yang diusung oleh BRI dapat membantu membangun kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan dengan baik. Atlet akan diberikan pembekalan yang berfokus pada pengelolaan pendapatan dan perencanaan masa depan yang sehat.

Prita Ghozie, seorang perencana keuangan independen, membagikan wawasan berharga kepada para peserta tentang bagaimana mengelola penghasilan mereka. Dengan berbagi pengalaman dan tips praktis, ia berharap para atlet dapat membangun ketahanan finansial sesuai dengan prestasi mereka di bidang olahraga.

Pentingnya Penghargaan dan Bonus bagi Atlet Berprestasi

Penyampaian penghargaan dan bonus kepada atlet merupakan salah satu langkah yang mendapat perhatian dari pemerintah. Berdasarkan Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, setiap atlet berhak menerima penghargaan yang bervariasi sesuai dengan jenis medali yang diperoleh.

Atlet perorangan mendapatkan bonus maksimal hingga Rp1 miliar untuk medali emas, sedangkan peraih perak dan perunggu menerima Rp315 juta dan Rp157,5 juta. Untuk kategori ganda, bonus yang diterima juga cukup menggiurkan, mencapai Rp800 juta untuk medali emas.

Selanjutnya, bonus juga diperuntukkan bagi pelatih, di mana angka yang diterima mengikuti hasil pencapaian atlet. Pelatih untuk atlet perorangan atau ganda akan mendapatkan antara Rp300 juta hingga Rp400 juta tergantung jenis medali.

Dengan adanya mekanisme penghargaan ini, diharapkan atlet dan pelatih dapat lebih termotivasi untuk terus meningkatkan prestasi. Kebijakan ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan olahraga di Indonesia.

Kesejahteraan atlet tidak hanya diperoleh dari penghasilan saat berkompetisi, tetapi juga bagaimana mereka mengelola keuangan pasca mendapatkan bonus. Ini menjadi fokus utama dari program literasi keuangan yang digagas.

Peran Pendidikan Keuangan dalam Memperkuat Kemandirian Atlet

Edukasi mengenai pengelolaan keuangan membantu atlet dalam merencanakan masa depan mereka secara mandiri. Pendidikan ini tidak hanya sekadar memberikan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir yang positif terhadap keuangan pribadi.

Melalui belajar dari para ahli, atlet dapat memahami berbagai instrumen investasi yang ada. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pendapatan yang mereka terima dapat berkembang dan memberikan hasil yang lebih baik di masa mendatang.

Pendidikan terkait keuangan juga memberikan wawasan bagi atlet mengenai pentingnya menabung dan berinvestasi. Dengan memiliki panduan yang baik, mereka akan mampu menjaga stabilitas finansial serta merencanakan hal-hal penting seperti membeli rumah atau memulai usaha.

Dengan demikian, pendidikan keuangan yang diterima diharapkan mampu membantu atlet menjadi pribadi yang tidak hanya sukses di arena olahraga, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kemandirian finansial akan menjadi satu nilai tambah yang berharga.

Oleh karena itu, program literasi keuangan yang diusung oleh BRI dan Kemenpora diharapkan dapat menjadi pilot project lainnya di masa mendatang. Ini adalah langkah positif untuk menciptakan atlet yang lebih cerdas dan berdaya saing di era yang semakin kompetitif.

Kesimpulan: Menatap Masa Depan Atlet dengan Keyakinan

Kejayaan kontingen Indonesia di SEA Games 2025 menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk mendukung atlet dalam berbagai aspek, termasuk pengelolaan keuangan. Dengan dukungan yang tepat, para atlet tidak hanya meraih medali tetapi juga kesejahteraan yang berkelanjutan.

Melalui program literasi keuangan, atlet didorong untuk membangun kesadaran akan pengelolaan pendapatan dan perencanaan masa depan yang bijaksana. Ini adalah langkah strategis yang memungkinkan mereka untuk terus berprestasi di luar arena.

Dengan dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait, masa depan atlet Indonesia diharapkan dapat lebih cerah. Pengelolaan keuangan yang baik akan menjadi penentu kesuksesan kaidah dasar mereka sebagai atlet dan individu.

Rombak Pengurus Gelar RUPSLB Akhir Oktober oleh Timah

PT Timah (Persero) Tbk. (TINS) menyiapkan langkah baru dengan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Agenda utama rapat ini adalah meminta persetujuan dari para pemegang saham terkait perubahan pengurus perseroan yang akan membawa perubahan signifikan dalam jajaran direksi dan komisaris.

RUPSLB ini direncanakan berlangsung pada tanggal 29 Oktober 2025, di Flores Ballroom, Hotel Borobudur Jakarta. Dari informasi yang diperoleh, acara ini akan dimulai pada pukul 15.00 WIB, dan diharapkan bisa melibatkan semua pemangku kepentingan di dalamnya.

Momen penting ini merupakan tindak lanjut dari Surat PIt Menteri Badan Usaha Milik Negara yang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kinerja perusahaan. TINS sebelumnya juga telah melakukan RUPSLB untuk merombak jajaran komisaris pada bulan Mei 2025 yang menunjukkan adanya dinamika di dalam kepemimpinan perusahaan.

Perubahan Pengurus Di PT Timah: Apa Saja yang Baru?

Dalam RUPSLB yang sebelumnya, PT Timah menunjuk Letjen TNI (Purn.) Agus Rohman sebagai komisaris utama dan juga komisaris independen. Kisah kepemimpinannya tercatat dalam berbagai posisi strategis, termasuk sebagai ajudan Presiden, mencerminkan rekam jejak yang kaya di bidang militer dan pemerintahan.

Agus Rohman, lulusan Akademi Militer 1988, dikenal memiliki dedikasi yang tinggi terhadap bangsa. Pengalamannya yang luas memberi harapan baru bagi perusahaan untuk terus berkembang dan berkontribusi lebih dalam pembangunan nasional.

Selain Agus Rohman, Yuslih Ihza Mahendra juga diangkat sebagai komisaris independen. Prestasi Yuslih dalam dunia politik, termasuk menjabat sebagai Bupati Belitung Timur, menunjukkan bahwa perusahaan memilih orang-orang berpengalaman untuk memimpin.

Dengan berbekal pengalaman politik dan manajerial yang solid, Yuslih diharapkan mampu memberikan perspektif baru dalam pengambilan keputusan di TINS. Keputusan pengangkatan tersebut memperlihatkan komitmen perusahaan untuk melibatkan profesional yang paham akan tantangan kebijakan publik.

Pentingnya Pengembangan Struktur Manajemen Perusahaan

PT Timah juga melakukan perubahan dalam struktur direksinya dengan mengangkat Restu Widiyantoro sebagai direktur utama. Restu menggantikan Ahmad Dani Virsal, dan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi serta kinerja operasional perusahaan.

Direksi baru juga mendapatkan tugas untuk meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan, di mana Restu berkomitmen untuk meneruskan visi TINS sebagai agen pembangunan nasional. Langkah ini menjadi salah satu upaya perusahaan untuk terus beradaptasi dengan dinamika pasar.

Selain itu, Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara diangkat sebagai direktur pengembangan usaha. Posisi ini sangat strategis dalam merumuskan dan mengimplementasikan strategi yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan di tengah arus global yang semakin kompetitif.

Pergeseran ini mencerminkan semangat untuk mendorong inovasi dan efisiensi dalam operasional, di mana para pengurus baru diharapkan dapat membawa perspektif segar. Dengan manajemen yang baru, PT Timah berambisi untuk memperkuat posisinya di dalam industri yang semakin menantang.

Komitmen PT Timah untuk Pembangunan Berkelanjutan

Corporate Secretary PT Timah, Rendi Kurniawan, menegaskan bahwa semua pihak di perusahaan berkomitmen untuk melanjutkan peran penting dalam pembangunan. Dalam sambutannya, dia menegaskan bahwa penggantian pengurus adalah bagian dari proses yang wajar untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan perusahaan.

Pihak perusahaan juga mengapresiasi kontribusi pengurus yang terdahulu, menunjukkan rasa hormat kepada setiap individu yang telah berkontribusi dalam mencapai visi perusahaan. Adanya rotasi manajerial diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan adaptabilitas, seiring dengan perubahan lingkungan bisnis.

Melalui peremajaan ini, PT Timah berusaha untuk tidak hanya memfokuskan diri pada profitabilitas, tetapi juga mempertimbangkan tanggung jawab sosial dan keberlanjutan. Hal ini sejalan dengan tren global yang semakin mengedepankan isu lingkungan dan sosial dalam operasi bisnis.

Kedisiplinan dalam menerapkan tata kelola yang baik dan transparansi diharapkan dapat memfasilitasi TINS dalam memenuhi harapan semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan lingkungan. Ini bukan sekadar perubahan struktural, tetapi juga sebuah komitmen untuk menjadi lebih baik ke depannya.

Rangkaian perubahan yang terjadi di PT Timah ini jelas menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berupaya untuk memperbaiki kinerja di masa sekarang, tetapi juga menyiapkan pondasi yang kuat untuk pertumbuhan di masa depan. Dengan kepemimpinan yang baru, harapan untuk kemajuan yang berkelanjutan pun semakin terbuka lebar.

Pada akhiran, kami berharap bahwa perubahan ini dapat membawa TINS ke arah yang lebih positif dan memuaskan bagi pemegang saham serta masyarakat. Keberhasilan perusahaan tak lepas dari dukungan dan partisipasi semua pihak, dan ke depan, kami percaya PT Timah akan semakin bersinar dalam industri pertambangan nasional.

OJK Gelar Konferensi Pers Investree di Bandara, Adrian Gunadi Kembali ke Indonesia?

Jakarta baru-baru ini menjadi sorotan akibat kasus gagal bayar yang melibatkan lembaga fintech yang dikenal sebagai Investree. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah serius dengan melakukan pencabutan izin usaha terhadap perusahaan ini, menegaskan betapa pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam industri keuangan.

Kasus ini tidak hanya memengaruhi para pemangku kepentingan di Investree, tetapi juga mencuatkan kekhawatiran di kalangan investor dan nasabah. Syok yang dirasakan oleh para lender semakin meningkat seiring dengan perkembangan situasi ini, menuntut perhatian lebih dari pihak berwenang dan regulator keuangan di Tanah Air.

Kronologi Kasus Investree yang Menghebohkan

Permasalahan yang menimpa Investree mulai menjadi pembicaraan publik sejak dua tahun lalu ketika mereka mengalami lonjakan jumlah kredit macet. Dengan rasio wanprestasi yang melebihi batas toleransi yang ditetapkan OJK, perusahaan ini semakin tertekan.

Saat angka kredit macet mencapai 12,58% pada Januari 2024, OJK tidak tinggal diam. Mereka memberikan sanksi administratif dan meminta agar pemegang saham untuk melakukan langkah perbaikan. Namun, kondisi ini justru memicu pengunduran diri direktur utama, Adrian Gunadi, setelah adanya resolusi dari pemegang saham mayoritas.

Kepala Departemen OJK saat itu menyatakan bahwa status Adrian sedang dalam penyidikan. Situasi ini berkembang menjadi kasus lebih besar, di mana Adrian dinyatakan sebagai buron oleh Interpol akibat dugaan pengelolaan dana yang tidak sesuai ketentuan.

Pernyataan Adrian Gunadi di Publik

Setelah penyidikan formal dimulai, Adrian Gunadi berusaha menjelaskan posisinya kepada publik. Dalam sebuah pesan yang dirilis pada akhir Oktober 2024, ia mengklaim tengah menunggu komitmen suntikan modal dari investor di Qatar.

Kendati menghadapi permasalahan hukum yang serius, Adrian tetap optimis dan berjanji untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ia menyebutkan bahwa pihaknya sedang dalam tahap persetujuan dengan Kementerian terkait untuk pencairan investasi tersebut.

Pernyataan ini tentu saja menimbulkan skeptisisme di kalangan publik, terutama mengingat kompleksitas isu yang dihadapi oleh Investree. Ketidakjelasan dalam situasi ini menambah beban bagi para pemangku kepentingan yang sudah terlanjur mengalami kerugian.

Kehidupan Baru di Qatar dan Status Buron

Setelah melarikan diri ke Qatar, Adrian Gunadi diketahui telah mengisi posisi baru sebagai CEO di sebuah perusahaan asing. Meski demikian, ia masih berada dalam status red notice internasional oleh Interpol.

Perusahaan yang dipimpinnya, JTA Holding Qatar, diketahui fokus pada teknologi keuangan di berbagai pasar. Ironisnya, meski masih dianggap sebagai tersangka oleh OJK dan para penegak hukum, Adrian terlihat melanjutkan kariernya tanpa merasa tertekan.

Dalam komunikasi di media, Adrian tampil percaya diri mengklaim bahwa kehadirannya di perusahaan baru tersebut menunjukkan bahwa ia masih memiliki peranan dalam industri fintech. Tindakan ini membuat publik semakin mempertanyakan prinsip tanggung jawab di sektor keuangan.

Imbas bagi Lender dan Proses Likuidasi

Ribuan lender kini bersuara setelah Investree mengumumkan proses likuidasi. Berdasarkan data terbaru, terdapat 1.697 lender yang mengajukan klaim terhadap perusahaan ini, mencakup individu maupun badan usaha.

Dari total tersebut, beberapa lender juga berasal dari lembaga perbankan terkemuka di Indonesia, menunjukkan betapa dalamnya dampak yang ditimbulkan oleh kasus ini. Mereka menuntut kejelasan mengenai tagihan yang harus dibayarkan dan proses verifikasi dari tim likuidasi.

Kendala dalam proses likuidasi disampaikan oleh pihak Investree, yang mengonfirmasi bahwa mereka memerlukan waktu tambahan untuk memverifikasi klaim-klaim tersebut. Kondisi ini menambah ketidakpastian di kalangan lender yang sudah merasa dirugikan.

Upaya untuk memastikan akurasi dan validasi data klaim ini menjadi prioritas bagi tim likuidasi. Pengumuman berkala terkait perkembangan akan disampaikan agar lender tetap mendapat informasi terbaru mengenai proses yang sedang berlangsung.