Federal Reserve baru-baru ini merilis risalah pertemuan yang sangat dinanti-nantikan, di mana pada akhir rapat tersebut diambil keputusan untuk menurunkan suku bunga. Keputusan tersebut menimbulkan perdebatan dan analisis yang mendalam mengenai dampaknya terhadap perekonomian dan pasar keuangan di masa mendatang.
Pada pertemuan yang berlangsung pada 9-10 Desember, anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) membahas berbagai pandangan sebelum akhirnya menyetujui pemotongan suku bunga sebesar seperempat poin persentase. Hasil pemungutan suara menunjukkan angka 9-3, yang merupakan perpecahan pendapat terbesar yang pernah terjadi sejak tahun 2019.
Pemotongan suku bunga ini bertujuan untuk mendukung pasar tenaga kerja yang sedang tertekan. Meski demikian, keputusan ini juga menimbulkan keraguan mengenai langkah-langkah FOMC di masa depan dan bagaimana mereka akan merespons dinamika inflasi yang masih menyelimuti perekonomian.
Berbagai Pendapat di Dalam FOMC Selama Pertemuan Terakhir
Dokumen risalah menunjukkan bahwa banyak peserta FOMC berpendapat bahwa penyesuaian suku bunga lebih rendah mungkin perlu dilakukan jika inflasi menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun, situasi ini menciptakan ketidakpastian di antara para pembuat kebijakan mengenai frekuensi dan besaran penyesuaian suku bunga yang akan datang.
Beberapa pejabat menyatakan bahwa keputusan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah mungkin juga tepat, tergantung pada proyeksi ekonomi mereka. Mereka berargumentasi bahwa meskipun ada dukungan untuk pemotongan suku bunga, kekhawatiran tentang inflasi tetap menjadi perhatian utama.
Risalah tersebut juga mencakup pandangan tentang risiko penurunan lapangan kerja yang mungkin meningkat, meski saat ini pertumbuhan pekerjaan masih terlihat positif. Diskusi tentang keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi sangat mencolok dalam rapat tersebut.
Dampak Keputusan Penurunan Suku Bunga Terhadap Pasar dan Ekonomi
Setelah rilis risalah, pasar saham tampak sedikit melemah. Para trader mulai meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan akan kembali melakukan pemotongan suku bunga pada bulan April mendatang. Respons pasar ini menunjukkan betapa besar perhatian yang diberikan terhadap keputusan moneter seperti ini.
Adapun hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa dari 19 pejabat yang hadir, 12 di antaranya mengindikasikan bahwa suku bunga dapat diturunkan lagi pada tahun 2026. Jika ini terjadi, suku bunga dana diproyeksikan mendekati 3%, yang dianggap sebagai titik netral.
Dengan ketidakpastian inflasi yang masih menjadi perhatian, faksi dalam FOMC yang mendukung perlunya mempertahankan suku bunga unjuk suara mereka. Mereka menekankan pentingnya mengamankan kemajuan menuju target inflasi 2%, yang belum sepenuhnya tercapai.
Analisis Ekonomi dan Pasar Tenaga Kerja Pasca-Rapat FOMC
Data ekonomi menunjukkan bahwa meskipun pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda perekrutan yang lambat, angka PHK tetap berada pada level yang dapat diterima. Inflasi juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan, tetapi belum mencapai target yang diinginkan oleh Fed.
Sementara itu, perekonomian secara keseluruhan menunjukkan performa yang cukup baik dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang melonjak. Kuartal ketiga menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 4,3%, mencerminkan optimisme di kalangan pelaku industri.
Namun, banyak data yang diperoleh selama periode tersebut masih dipengaruhi oleh keterbatasan dalam pengumpulan informasi akibat penutupan pemerintahan. Hal ini membuat para ekonom dan analis sangat berhati-hati dalam menilai keadaan ekonomi saat ini.
Penghujung tahun adalah waktu yang lambat untuk pengumuman resmi dari Fed, yang membuat pasar menunggu dengan penuh perhatian tentang pernyataan-pernyataan baru menjelang tahun baru. Para pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan dengan seksama data yang ada sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Perubahan Struktur dalam Komite Pasar Terbuka Federal
Ke depan, susunan FOMC akan mengalami perubahan, terutama dengan hadirnya empat presiden regional baru dalam peran pemungutan suara. Mereka diharapkan membawa perspektif baru dalam diskusi mengenai kebijakan moneter.
Presiden Cleveland, Beth Hammack, mengekspresikan penolakannya terhadap pemotongan suku bunga tambahan. Sementara itu, Presiden Philadelphia, Anna Paulson, melanjutkan pendekatan pro-penghematan dalam menghadapi kekhawatiran inflasi yang semakin meningkat.
Presiden Dallas, Lorie Logan, juga mengemukakan pandangan skeptisnya terhadap pemotongan suku bunga, menunjukkan bagaimana variasi pendapat dapat memengaruhi keputusan ke depan. Terakhir, Presiden Minneapolis, Neel Kashkari, menegaskan bahwa ia tidak setuju dengan pemotongan suku bunga di bulan Oktober.
Dalam pertemuan baru-baru ini, FOMC juga sepakat untuk melanjutkan program pembelian obligasi. Dengan cara ini, mereka berusaha mengatasi tekanan yang ada di pasar pendanaan jangka pendek.
Program ini dimulai dengan membeli surat utang senilai US$40 miliar per bulan, tetap berlanjut sebelum dilakukan penyesuaian. Pengurangan neraca Fed sebelumnya juga merangsang diskusi lebih lanjut tentang langkah-langkah yang akan diambil di kemudian hari.








