Jakarta, harga emas pada akhir Januari 2026 menunjukkan volatilitas yang sangat ekstrem. Setelah beberapa bulan mengalami lonjakan harga yang signifikan, emas akhirnya mengalami penurunan sebesar 9,8% ke level US$4.864,35 per troy ounce, dan sempat mengambil posisi lebih rendah hingga 9,5% di level US$4.883,62 pada Jumat, 30 Januari.
Saat melirik harga lokal, di butik emas LM Graha Dipta Pulo Gadung Jakarta, harga emas satuan 1 gram tercatat Rp2.860.000 per batang, turun Rp260.000 dari hari sebelumnya. Penurunan harga emas ini merupakan kelanjutan dari tren bearish yang dialami oleh logam mulia dalam dua hari sebelumnya.
Meskipun mengalami penurunan harga, emas tetap dianggap sebagai salah satu instrumen investasi yang berpotensi menjanjikan di masa depan. Ini dikarenakan sifatnya yang cenderung stabil, meskipun dalam pergerakan harga jangka pendek bisa sangat bergolak.
Pentingnya Sejarah Emas di Cikotok dan Dampaknya bagi Indonesia
Sejarah mencatat bahwa penemuan emas besar-besaran pernah terjadi di dekat Jakarta, tepatnya di Cikotok, Banten. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sumber emas dengan total sekitar 30 ribu ton yang pernah ditemukan, menandai sebuah tonggak baru bagi industri pertambangan emas di Indonesia.
Sejak dahulu, pemerintah kolonial sudah mendengar kabar mengenai keberadaan sumber emas di Cikotok yang berjarak sekitar 200 Km dari Batavia (sekarang Jakarta). Kabar ini tentu saja menggugah minat banyak pihak untuk mengeksplorasi potensi yang ada di daerah tersebut.
Untuk memastikan kebenaran informasi, pemerintah melakukan penelitian geologi yang dipimpin oleh peneliti Belanda, W.F.F Oppenoorth. Proses tersebut dimulai pada tahun 1919, saat tim penelitian berangkat dari Sukabumi dan menelusuri hutan Jawa ke daerah yang dianggap memiliki potensi emas.
Selama penelitian berlangsung, tim tidak hanya mencari keberadaan emas tetapi juga membuka akses jalan dan terowongan sebagai persiapan jika ditemukan lokasi penambangan. Setelah sekian lama melakukan eksplorasi, hasil penelitian mengonfirmasi keberadaan sumber emas yang melimpah di Cikotok.
Namun, pegalaman penambangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan upaya lebih dalam membangun infrastruktur agar penambangan dapat berlangsung optimal. Pada tahun 1928, 25 terowongan telah berhasil dibangun, memungkinkan akses ke sumber emas di daerah tersebut.
Kejayaan Penambangan Emas Cikotok dan Pengaruhnya
Pada tahun-tahun berikutnya, penambangan emas di Cikotok berkembang pesat. Sejak pemerintah kolonial memberikan hak operasional kepada NV Mijnbouw Maatchappij Zuid Bantam, aktivitas penambangan dilakukan secara masif. Akses jalan pengangkutan juga diperluas, memungkinkan hasil tambang diangkut dengan lebih cepat.
Pabrik pengolahan emas dengan kapasitas 20 ton per hari juga dibangun di lokasi tersebut. Meskipun demikian, pabrik tersebut seringkali tidak dapat menampung semua hasil tambang yang dihasilkan, mengingat banyaknya emas yang berhasil ditemukan selama proses penambangan.
Menurut catatan, selama periode penambangan, sering kali penambang menemukan emas dengan berat bervariasi, bahkan mencapai 126 gram. Dalam satu dekade, wilayah penambangan di Cikotok membentang hingga 400 Km2 dan dapat menghasilkan emas cukup signifikan dari kedalaman hanya 50 meter.
Pada tahun 1933, eksplorasi menunjukkan total lebih dari 61.000 ton emas dengan nilai mencengangkan. Meskipun banyaknya hasil tambang, sayangnya, keuntungan tersebut malah dinikmati oleh pihak pemerintah kolonial, sementara penduduk lokal justru tidak merasakan manfaat dari kekayaan yang terkandung di tanah mereka.
Penutupan dan Warisan Penambangan Emas Cikotok
Dengan bertambahnya eksploitasi, sumber emas di Cikotok menjadi salah satu penambangan terbesar yang ada pada masa itu. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan tambang kembali berpindah ke tangan negara dan diteruskan oleh NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan, hingga akhirnya dikelola oleh PT Aneka Tambang pada 1974.
Sayangnya, sejarah kejayaan tambang emas Cikotok harus berakhir pada tahun 2005 karena sumber daya emas yang semakin menipis. Namun, warisan yang ditinggalkan tetap menjadi bagian penting dari sejarah pertambangan di Indonesia, dan menjadi pelajaran berharga untuk pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik di masa depan.
Dengan berakhirnya penambangan di Cikotok, perhatian kini tertuju pada proyek-proyek penambangan yang lebih besar, seperti tambang Freeport di Papua, yang menjadi simbol baru dari kekayaan alam Indonesia. Sejarah Cikotok menunjukkan bahwa di balik setiap kekayaan, ada kisah perjuangan dan dampak yang perlu diperhatikan.


