Pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai penilaian free float saham-saham Indonesia telah memberikan banyak perhatian dan kekhawatiran di kalangan investor. Meskipun terdapat beberapa perbaikan, masalah utama tetap berfokus pada transparansi kepemilikan saham di Indonesia.
Kekhawatiran ini muncul di tengah upaya yang dilakukan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan data free float. Transisi ini dapat memengaruhi pandangan investor global, yang semakin menempatkan Indonesia dalam sorotan pasar global.
Pihak MSCI menekankan bahwa mereka menemukan dukungan terhadap penggunaan laporan Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai informasi tambahan. Namun, terdapat keraguan yang terus muncul mengenai keandalan data tersebut dalam mendukung penilaian free float yang diperlukan untuk investasi.
Analisis MSCI Terhadap Struktur Kepemilikan Saham di Indonesia
MSCI mengindikasikan bahwa isu utama yang dihadapi adalah ketidaktransparanan dalam struktur kepemilikan saham. Keberadaan kemungkinan perilaku perdagangan yang terkoordinasi juga dapat mengganggu proses penetapan harga yang wajar.
Meskipun terdapat beberapa upaya perbaikan, MSCI meminta adanya informasi yang lebih lengkap dan dapat diandalkan mengenai pemegang saham. Ini termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang diharapkan dapat mendukung penilaian free float yang lebih baik.
Dengan kondisi ini, MSCI telah menerapkan kebijakan sementara yang bertujuan mengatasi risiko terkait perputaran indeks. Kebijakan tersebut mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor dan tidak menambahkan saham Indonesia ke dalam indeks Investable Market Indexes.
Implikasi Kebijakan MSCI Terhadap Pasar Saham Indonesia
Saat kebijakan ini diumumkan, respons pasar terlihat jelas dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami penurunan signifikan. Dalam waktu singkat, IHSG anjlok hampir 4% pada perdagangan hari itu.
Kebijakan ini dianggap berpotensi merugikan saham-saham konglomerat yang selama ini menjadi penopang IHSG. Hal ini menandakan ketergantungan pasar terhadap issu-issu yang dikeluarkan oleh MSCI.
Sebagai langkah tindak lanjut, MSCI mengajak pelaku pasar untuk memberikan masukan terkait penggunaan laporan kepemilikan yang diterbitkan oleh KSEI. Ini merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa data yang digunakan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai free float di Indonesia.
Rencana MSCI untuk Menangani Free Float Saham di Indonesia
Dalam rangka menjawab tantangan ini, MSCI mengusulkan beberapa pendekatan untuk menghitung free float. Pendekatan ini melibatkan penggabungan data kepemilikan dari perusahaan dengan laporan yang disampaikan oleh KSEI.
MSCI mempertimbangkan untuk menggunakan angka free float terendah antara data dari KSEI dan laporan emiten. Ini bertujuan untuk menciptakan kebijakan yang lebih konservatif dan dapat diandalkan.
Pendekatan pertama adalah dengan meneliti data kepemilikan yang diungkapkan oleh emiten, serta data dari KSEI. Dalam hal ini, saham-saham yang tidak memiliki kepemilikan yang jelas akan dianggap sebagai non-free float.
Perubahan Dalam Pembulatan Angka Free Float yang Baru
MSCI juga merencanakan perubahan dalam cara pembulatan angka free float. Kebijakan pembulatan ini akan berdampak signifikan bagi banyak perusahaan di Indonesia, terutama yang memiliki kepemilikan yang besar oleh kelompok tertentu.
Dalam kebijakan baru ini, pembulatan akan dilakukan berdasarkan kategori free float yang berbeda. Misalnya, untuk high float (>25%) akan dibulatkan ke kelipatan 2,5%, sedangkan low float (5-25%) dibulatkan ke kelipatan 0,5%.
Dampak dari perubahan ini bisa signifikan bagi pasar Indonesia, sebab banyak perusahaan yang akan mengalami penurunan nilai free float. Hal ini bisa menyebabkan porsi saham Indonesia dalam indeks MSCI berkurang dan berpotensi menimbulkan arus keluar modal asing.
Berdasarkan kondisi tersebut, investor harus lebih waspada terhadap saham yang dapat terpengaruh langsung oleh kebijakan MSCI ini. Beberapa saham, seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, mungkin menghadapi risiko terbesar untuk dikeluarkan dari indeks.
Kebijakan MSCI yang baru ini tidak hanya akan memengaruhi perusahaan-perusahaan besar tetapi juga dapat memberikan dampak jangka panjang bagi seluruh ekosistem investasi di Indonesia. Oleh karena itu, perhatian terhadap transparansi dan keandalan data kepemilikan saham sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pasar saham di Indonesia.

