slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

99 dari 100 Proyek yang Dibiayai Diduga Tidak Nyata

Jakarta saat ini dihadapkan pada isu serius terkait penanganan perkara dugaan pembiayaan proyek properti fiktif yang melibatkan perusahaan fintech. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah meningkatkan status kasus ini ke tahap penyidikan, yang melibatkan ribuan lender yang berpartisipasi dalam investasi yang ternyata tidak ada. Kegagalan penarikan dana yang dialami oleh para lender menjadi titik awal dari penyelidikan yang mendalam ini.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, menginformasikan bahwa pihaknya telah menerima sejumlah laporan dari para korban. Lanjutan dari penyelidikan ini menunjukkan bahwa lebih dari 1.500 lender yang terlibat telah kehilangan dana mereka yang dikumpulkan melalui platform DSI.

Kronologi masalah ini bermula dari sejumlah aduan yang disampaikan oleh lender pada bulan Juni 2025. Dalam sistem yang diklaim sebagai skema bagi hasil, para lender seharusnya menerima porsi sebesar 23%, namun kenyataannya, banyak dana yang diinvestasikan tidak digunakan untuk proyek yang dijanjikan.

Dugaan Praktik Curang dalam Pembiayaan Properti Fiktif

Pihak penyidik mengungkapkan adanya dugaan bahwa dana dari lender digunakan untuk proyek-proyek yang tidak pernah ada. Penggunaan identitas borrower fiktif dan proyek yang diklaim pun tidak memiliki keabsahan, membuat keadaan semakin mencurigakan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai integritas dan transparansi dalam sistem investasi ini.

Brigjen Ade menjelaskan bahwa mayoritas dari 100 proyek yang diklaim oleh DSI adalah fiktif. Dengan angka yang menunjukkan 99 proyek dari total tersebut adalah tidak nyata, ini membuktikan adanya manipulasi data dan penyimpangan dalam praktik bisnis yang dijalankan DSI.

DSI sendiri mulai beroperasi pada tahun 2018 dan baru mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2021. Meskipun tim pendiri DSI mungkin memiliki niat untuk beroperasi dengan prinsip syariah, temuan ini menunjukkan sebaliknya. Banyak pihak yang kini mempertanyakan kredibilitas dari institusi tersebut dalam pengelolaan dana besar yang dipercayakan oleh masyarakat.

Pengumpulan Bukti dan Penelusuran Aset oleh Bareskrim

Dalam proses penyidikan lebih lanjut, Bareskrim menerima laporan analisis keuangan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Laporan ini memberikan wawasan lebih mendalam mengenai aliran dana yang mencurigakan dan dugaan adanya upaya pengaburan aset oleh para pelaku. Ini menjadi alat vital dalam pengungkapan jaringan penipuan yang lebih luas.

Penyidik menemukan bahwa dana lender yang seharusnya disimpan di rekening escrow dialihkan ke perusahaan afiliasi DSI. Dari sinilah muncul dugaan adanya kolusi antara DSI dan perusahaan-perusahaan lain yang terlibat, mendorong penyidik untuk melacak lebih dalam. Penemuan ini menjadi indikasi awal bagi adanya tindakan hukum yang lebih tegas.

Alasan yang membuat kondisi ini semakin rumit adalah adanya penggunaan identitas borrower yang tidak menyadari bahwa nama mereka digunakan untuk membiayai proyek-proyek fiktif. Hal ini menambah dimensi baru dalam penyelidikan, di mana ada potensi untuk menuntut lebih dari satu pihak atas keterlibatan mereka dalam penipuan ini.

Regulasi dan Pelanggaran oleh DSI

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Bareskrim mencatat bahwa DSI diduga melanggar ketentuan dalam Peraturan OJK Nomor 40 Tahun 2024. Pelanggaran ini mencakup melakukan kegiatan di luar ruang lingkup layanan pendanaan yang sah, yang jelas-jelas melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh lembaga pengawas keuangan.

Langkah-langkah hukum pun kini semakin dekat, dengan Bareskrim berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin bukti untuk menjerat para pelaku di balik praktik curang ini. Keberanian pihak berwenang untuk mengejar kasus ini patut diapresiasi, sebab tidak jarang kasus serupa berakhir tanpa penegakan hukum yang berarti.

Seluruh pertimbangan untuk menuntut pelaku harus didasari oleh bukti yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Proses hukum yang transparan akan menciptakan kepercayaan kembali dari masyarakat terhadap lembaga keuangan dan fintech, yang kini mungkin menjadi ujung tombak dalam sistem perekonomian Indonesia.

Harta Tiga Pejabat Pajak Diduga Terima Suap

Jakarta baru-baru ini menjadi pusat perhatian akibat pengumuman penetapan lima orang sebagai tersangka dalam kasus suap yang melibatkan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Jakarta Utara. Ketiga pejabat di KPP tersebut, termasuk kepala kantor, diduga menerima suap untuk merugikan negara demi keuntungan pribadi dan korporasi.

Aksi penegakan hukum ini menunjukkan bahwa masalah korupsi di Indonesia masih menjadi persoalan yang serius. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkomitmen menangani kasus ini dengan tegas, mendorong para pemangku kepentingan untuk berperan aktif dalam memberantas praktik kotor yang melanggengkan ketidakadilan.

Kepala KPP Madya Jakarta Utara, Dwi Budi Iswahyu, beserta dua anggota timnya menghadapi konsekuensi serius setelah ditemukan bukti kuat keterlibatan mereka dalam pengaturan pajak yang merugikan negara. Dengan dimulainya penyelidikan ini, ada harapan akan terciptanya keadilan yang lebih baik bagi masyarakat.

Pengumuman Penetapan Tersangka dan Prosedur Hukum yang Dijalani

Pihak KPK mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian pemeriksaan dan pengumpulan bukti yang menunjukkan bahwa beberapa pejabat KPP terlibat dalam skandal suap tersebut. Proses hukum akan dijalani dengan ketat untuk memastikan transparansi dan keadilan.

Dalam tindak lanjutnya, Rosmauli, Direktur Penyuluhan dan Hubungan Masyarakat, menyatakan bahwa mereka akan mencabut izin praktik konsultan pajak yang terlibat. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan konsistensi KPK dalam menerapkan kode etik profesi di lingkungan perpajakan.

Meskipun para pejabat tersebut sebelumnya dipercaya menjalankan tugasnya, fakta bahwa mereka terlibat dalam praktik suap menunjukkan bahwa pengawasan internal harus ditingkatkan untuk mencegah hal serupa di masa depan. Penegakan hukum yang tegas diharapkan bisa memberikan efek jera bagi pelanggar lainnya.

Dampak Kasus Korupsi terhadap Kepercayaan Publik

Kasus ini memberikan tamparan keras bagi citra lembaga pemerintahan, khususnya dalam hal transparansi dan akuntabilitas. Masyarakat mulai meragukan integritas petugas pajak dan institusi yang seharusnya melindungi kepentingan negara.

Dalam konteks ini, langkah KPK yang cepat dan tegas tentu sangat diapresiasi. Masyarakat mengharapkan bahwa pihak berwenang mampu memberantas praktik korupsi yang kian merajalela di berbagai sektor, terutama dalam pengelolaan pajak.

Kepercayaan publik terhadap pemerintah sangat penting agar masyarakat merasa aman dan nyaman dalam menjalankan aktivitas mereka. Begitu banyak sektor yang bergantung pada keuangan negara, sehingga kasus ini menjadi perhatian serius seluruh lapisan masyarakat.

Profil Kekayaan Tersangka dan Analisis Sumber Pendapatan Mereka

Menurut laporan e-LHKPN, Dwi Budi Iswahyu memiliki total kekayaan mencapai Rp4,87 miliar yang terdiri dari beberapa aset seperti tanah dan bangunan. Dengan jumlah yang cukup signifikan ini membuat publik mempertanyakan dari mana asal dana tersebut.

Pada laporan Agus Syaifudin, total harta kekayaannya tercatat sebesar Rp3,23 miliar. Hal ini menjadikan masyarakat bertanya-tanya mengenai praktek pembuatan laporan harta kekayaan yang jujur dan transparan di kalangan pejabat negara.

Begitu juga dengan Askob Bahtiar, yang tertera memiliki kekayaan senilai Rp2,65 miliar. Keberadaan kekayaan yang tinggi diimbangi dengan kasus dugaan suap ini menunjukkan adanya hubungan yang tidak sehat antara kekuasaan dan korupsi.

Pentingnya Reformasi dalam Sistem Perpajakan di Indonesia

Perkembangan kasus ini menegaskan kembali perlunya reformasi dalam sistem perpajakan di Indonesia. Mahalnya pajak yang dikenakan pada perusahaan dan individu sering kali membuat praktik suap menjadi pilihan bagi beberapa pihak untuk menghindari kewajiban perpajakan yang seharusnya dibayar.

Pembenahan dalam sistem perpajakan yang lebih adil dan transparan sangat dibutuhkan guna mengurangi ancaman pemerasan di sektor ini. Pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk memperbaiki citra lembaga perpajakan dan menjaga integritas pegawainya.

Dengan adanya reformasi, diharapkan kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi. Kesadaran masyarakat untuk melaporkan setiap tindakan curang juga menjadi faktor penting dalam memberantas korupsi.

Duit Nasabah Diduga Hilang Rp600 Juta, Bos OJK Beri Penjelasan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini mengungkapkan tentang kasus dugaan kehilangan dana yang melibatkan pengguna toko kripto, Indodax, dengan jumlah yang mencapai Rp600 juta. Kasus ini saat ini sedang dalam penelusuran, dan OJK mengindikasikan bahwa mereka belum bisa memberikan kesimpulan definitif, mengingat adanya perbedaan informasi dari pihak-pihak yang terlibat.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan pemanggilan kepada manajemen Indodax untuk memperoleh klarifikasi. Penelusuran ini diharapkan dapat membawa kejelasan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh para nasabah.

Dari hasil investigasi awal, OJK mendapati bahwa manajemen Indodax bersikap kooperatif dalam menyelesaikan masalah ini. Mereka juga meminta para nasabah yang merasa dirugikan untuk memberikan bukti-bukti pendukung guna memperjelas kronologi dari kejadian yang telah terjadi.

Langkah-Langkah Yang Diambil OJK dalam Penanganan Kasus Ini

OJK telah mengambil inisiatif untuk menginvestigasi lebih dalam mengenai dugaan kehilangan dana oleh pengguna Indodax. Pemanggilan terhadap berbagai pihak memang menjadi langkah awal yang penting untuk memperjelas situasi yang ada. Hasil dari investigasi ini akan dibagikan kepada publik apabila sudah ada kejelasan.

Tindakan OJK ini bertujuan untuk melindungi hak-hak nasabah dan memastikan bahwa tidak ada kepentingan yang dirugikan dalam proses transaksi. Dengan mencari keterangan dari manajemen Indodax dan nasabah, diharapkan penanganan masalah ini dapat berjalan secara transparan.

Di sisi lain, CEO Indodax, William Sutanto, mengeluarkan pernyataan resmi menyangkut dugaan kehilangan dana. Ia mengakui adanya kekhawatiran di kalangan publik terkait informasi yang beredar dan menegaskan komitmen perusahaan untuk menangani setiap laporan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Indikasi Akses Ilegal yang Menyaratkan Tindakan Keamanan

Berdasarkan penelusuran, Indodax menemukan bukti adanya akses ilegal terhadap akun-akun pengguna. Hal ini tidak disebabkan oleh kerusakan sistem di pihak Indodax, melainkan kemungkinan besar merupakan hasil dari serangan eksternal, seperti phishing, malware, atau metode social engineering yang menargetkan akun dan perangkat pribadi pengguna.

William juga mengonfirmasi bahwa keamanan akun nasabah terus menjadi prioritas utama bagi Indodax. Mereka sudah memulai investigasi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dan menilai dampak yang ditimbulkan dari kejadian ini.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Indodax akan menghubungi para nasabah yang terdampak satu per satu, berupaya mengeksplorasi detail kasus mereka lebih dalam. Langkah ini menunjukkan komitmen Indodax untuk memberikan solusi bagi setiap nasabah yang mengalami masalah.

Pentingnya Edukasi Keamanan bagi Pengguna Kripto

Indodax tidak hanya fokus pada menyelesaikan masalah yang ada, tetapi juga bertekad untuk mengedukasi penggunanya tentang pentingnya keamanan. Salah satu langkah praktis yang direkomendasikan adalah mengaktifkan Two-Factor Authentication (2FA) untuk melindungi akun dari akses yang tidak sah.

Selain itu, Indodax juga mendorong penggunanya untuk tidak membagikan data sensitif dan menggunakan kata sandi yang kuat serta unik. Waspada terhadap tautan mencurigakan juga menjadi hal yang ditekankan untuk menghindari potensi ancaman keamanan.

Bersama dengan langkah-langkah teknis, edukasi kepada pengguna tentang cara menjaga perangkat agar terbebas dari malware juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan keamanan akun. Indodax berkomitmen untuk terus melatih dan memberikan informasi kepada penggunanya mengenai langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Dengan penekanan pada keamanan dan transparansi, Indodax berusaha untuk memulihkan kepercayaan nasabah dan terus berkomitmen dalam menjaga kenyamanan serta kenyataan dalam bertransaksi. Perusahaan ini tidak akan berhenti melakukan perbaikan dan penanganan yang menyeluruh mengenai setiap laporan yang masuk.

Ke depannya, Indodax berharap untuk memperkuat sistem keamanan mereka serta melakukan evaluasi atas setiap kebijakan yang ada. Melalui tindak lanjut yang teliti dan sistematis, mereka ingin memastikan bahwa setiap nasabah merasa aman dan nyaman saat menggunakan layanan yang mereka tawarkan.

Melihat kasus ini, penting bagi seluruh pengguna untuk terus memantau keamanan akun mereka dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Dengan demikian, risiko kehilangan dana akibat akses ilegal dapat diminimalkan, menciptakan lingkungan yang lebih aman dalam dunia kripto.

Dana BPR dan Jamkrida Hilang, Direktur Utama Broker Asuransi Diduga Menilep Rp6,9 M

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengungkap kasus penggelapan yang cukup besar dalam industri perasuransian di Indonesia. Dalam kasus ini, modus yang digunakan melibatkan pimpinan dari perusahaan pialang asuransi yang diduga melakukan penggelapan premi asuransi hingga mencapai total Rp6,9 miliar.

Penggelapan yang terjadi selama periode 2018 hingga 2022 ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena melibatkan jumlah yang sangat signifikan. Premi yang digelapkan tersebut terdiri dari Rp3,04 miliar milik Perumda BPR Bank Kota Bogor dan Rp3,92 miliar milik PT Jamkrida Sulawesi Selatan.

OJK dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa tindakan ilegal ini melibatkan WN selaku Direktur Utama dan EHC selaku Direktur dari perusahaan pialang terkait. Kasus ini menjadi sorotan publik, mengingat dampaknya yang luas terhadap kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi.

Dalam penanganan kasus ini, OJK telah melaksanakan beberapa tahapan penting, mulai dari pengawasan hingga penyelidikan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memastikan bahwa pelanggaran hukum ini tidak dibiarkan begitu saja dan pelaku akan mendapatkan sanksi yang sesuai.

Regulasi yang mengatur penggelapan premi ini sangat jelas, dan tindakan tersebut diancam pidana berdasarkan Undang-Undang tentang Perasuransian. Hal ini mencerminkan komitmen OJK dalam menjaga integritas pasar keuangan serta melindungi pemegang polis yang menjadi korban.

Proses Penegakan Hukum dalam Kasus Penggelapan Premi

Setelah melalui proses penyelidikan, OJK telah melimpahkan berkas perkara kepada Jaksa Penuntut Umum. Penyidik menyatakan bahwa berkas perkara tersebut telah lengkap dan siap untuk diproses lebih lanjut di pengadilan.

Pihak OJK menjelaskan bahwa penegakan hukum dalam industri jasa keuangan tidak hanya sekadar tindakan reaktif. Melainkan, diperlukan koordinasi yang erat dengan aparat penegak hukum lainnya agar setiap langkah yang diambil dapat maksimal.

Dalam pelimpahan perkara ini, tersangka dan barang bukti diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Tindakan ini menandakan bahwa OJK berusaha untuk memastikan setiap proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.

OJK tidak hanya menargetkan kasus ini, tetapi mereka berkomitmen untuk melakukan penegakan hukum terus-menerus. Hal ini bertujuan untuk memberikan efek jera kepada pelaku lain yang berpotensi melakukan tindakan serupa.

Pun, pemangku kepentingan lainnya di industri diharapkan untuk lebih meningkatkan sistem pengawasan internal agar kejadian serupa tidak terulang. Kesadaran akan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi harus ditanamkan di seluruh level organisasi.

Dampak Sosial dan Ekonomi dari Penggelapan Premi

Kasus penggelapan ini tentunya tidak hanya berdampak pada pemegang polis yang kehilangan dana mereka. Dampak sosial dari hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi juga menjadi perhatian penting.

Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan, mereka menjadi enggan untuk berinvestasi dalam produk asuransi yang seharusnya memberikan perlindungan. Hal ini menciptakan efek domino yang dapat mengganggu stabilitas sektor keuangan.

Ekonomi yang berkelanjutan membutuhkan partisipasi aktif dari semua sektor, termasuk perasuransian. Oleh karena itu, penegakan hukum yang tegas sangat penting untuk memastikan masyarakat merasa dilindungi, bukan dirugikan.

Pelaku usaha juga perlu berpikir jangka panjang tentang dampak dari tindakan ilegal mereka. Selain sanksi hukum, mereka juga berisiko kehilangan reputasi yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.

Kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi industri asuransi di Indonesia. Dengan adanya penegakan hukum yang kuat, diharapkan industri ini dapat tumbuh dan berkembang dalam koridor yang lebih sehat dan transparan.

Strategi OJK dalam Mencegah Tindak Pidana di Sektor Keuangan

OJK sedang merumuskan berbagai strategi untuk menangkal tindak pidana di sektor jasa keuangan. Salah satu fokus utama adalah meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan asuransi dan pialang yang beroperasi di Indonesia.

Sistem pelaporan yang transparan dan mudah diakses diharapkan dapat membantu menemukan dan mencegah potensi penggelapan di awal. Dengan langkah proaktif seperti ini, pelaku yang memiliki niat buruk akan berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan ilegal.

Selain itu, OJK juga menggandeng berbagai pihak terkait dalam mengembangkan kesadaran terhadap pentingnya kepatuhan terhadap hukum. Edukasi kepada masyarakat mengenai produk keuangan yang tepat menjadi prioritas dalam misi besar mereka.

Pemangkasan regulasi yang rumit sering menjadi penyebab kesalahan dalam penanganan isu-isu keuangan. Oleh karena itu, OJK berusaha untuk menciptakan regulasi yang jelas dan mudah dipahami oleh semua pihak.

Dengan kerangka hukum yang baik dan penegakan hukum yang tegas, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor keuangan dapat kembali pulih dan berkembang ke arah yang lebih positif.

Siswa SMP Grobogan Meninggal Diduga Karena Perundungan, KPAI: Sekolah Belum Aman

Perundungan adalah masalah serius yang telah mengganggu banyak kalangan, terutama di lingkungan sekolah. Dalam beberapa kasus, dampak dari tindakan ini dapat berakhir tragis, seperti yang terjadi baru-baru ini di sebuah sekolah menengah.

Dalam sebuah insiden yang merenggut nyawa, seorang siswa mengalami perundungan yang sangat menyedihkan. Keluarga korban merasa terabaikan dan mendesak pihak berwenang untuk bertindak tegas terhadap pelaku dan sistem yang ada.

Situasi ini semakin memprihatinkan karena menunjukkan betapa perlunya perhatian lebih dari pihak sekolah dalam menangani permasalahan perundungan. Oleh karena itu, penting untuk memahami lebih dalam mengenai fenomena ini dan cara-cara untuk mencegahnya.

Pentingnya Kesadaran Akan Perundungan di Sekolah

Perundungan sering kali dianggap sepele, tetapi dampaknya sangat dalam. Korban yang mengalami perundungan dapat mengalami masalah mental dan emosional yang berkepanjangan.

Di banyak sekolah, terjadi kesalahpahaman mengenai apa yang dimaksud dengan perundungan. Banyak guru dan orang tua yang menganggap bahwa perundungan hanya berupa penganiayaan fisik, padahal perundungan verbal sama berbahayanya.

Kesadaran ini harus ditumbuhkan tidak hanya di kalangan siswa, tetapi juga di kalangan pendidik. Sekolah perlu memiliki program tentang pencegahan perundungan yang efektif dan inklusif.

Peran Sekolah Dalam Menanggulangi Masalah Perundungan

Sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman. Tindakan tegas terhadap pelaku perundungan adalah langkah awal yang penting.

Guru dan staf sekolah harus dilatih untuk mengenali tanda-tanda perundungan dan tahu bagaimana menanggapi situasi tersebut. Selain itu, sekolah juga perlu melibatkan orang tua untuk memastikan dukungan yang dibutuhkan korban.

Sistem pengawasan yang ketat dan komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua dapat mencegah terjadinya perundungan. Dengan pendekatan yang komprehensif, masalah ini dapat dikurangi secara signifikan.

Dampak Jangka Panjang Perundungan Pada Korban

Dampak perundungan tidak hanya terasa sesaat; bisa bertahan seumur hidup. Korban perundungan sering mengalami depresi dan kecemasan yang berkepanjangan bahkan setelah mereka tidak lagi berada di lingkungan perundungan tersebut.

Pendidikan dan aspek sosial mereka sering kali terganggu, menghambat perkembangan mereka di masa depan. Ini menunjukkan betapa pentingnya tindakan preventif dan dukungan bagi korban.

Selain itu, pelaku perundungan juga tidak luput dari dampak negatif. Tanpa intervensi yang tepat, mereka berisiko melanjutkan siklus kekerasan ke orang lain, yang mana ini adalah masalah sosial yang lebih luas.