Sepanjang tahun lalu, nilai tukar rupiah mengalami penurunan yang cukup signifikan, mencatatkan performa terendah di kawasan ASEAN. Penurunan ini tentunya menjadi perhatian, di mana rupiah tertekan oleh sejumlah mata uang negara tetangga, mencerminkan sikap investor yang lebih memilih untuk berinvestasi di tempat lain.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang ASEAN kurang menguntungkan. Hal ini bisa dilihat dari perbandingan dengan ringgit Malaysia, baht Thailand, hingga dolar Singapura, yang menunjukkan tendensi menurun yang cukup tajam bagi mata uang Indonesia ini.
Sejumlah faktor mempengaruhi kinerja buruk ini, salah satunya adalah ketidakmampuan Indonesia untuk menarik investasi asing yang memadai. Hal ini kontras dengan negara-negara tetangga yang berhasil memaksimalkan potensi pasar mereka untuk menarik aliran modal asing yang lebih besar.
Risiko Investasi dan Penanaman Modal Asing di Indonesia
Rendahnya investasi asing di Indonesia menjadi salah satu isu penting yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah. Data menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam penanaman modal asing, terutama dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia yang justru mengalami peningkatan yang signifikan.
Riset menunjukkan bahwa investasi asing di Indonesia hingga kuartal ketiga 2025 menurun drastis. Realisasi penanaman modal asing dalam sembilan bulan tersebut hanya mencapai Rp 644,6 triliun, yang mencerminkan penurunan 1,49% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Malaysia justru menikmati lonjakan investasi asing dengan kenaikan sebesar 41,33% dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik untuk berinvestasi di Indonesia masih jauh di belakang negara lain di kawasan ASEAN.
Perbandingan Kinerja Mata Uang di ASEAN
Secara kumulatif, nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia menunjukkan rendahnya daya saing mata uang ini. Sejak awal tahun 2025, kurs rupiah terhadap ringgit masih berada di level yang mengkhawatirkan, apalagi perlahan-lahan terus mengalami depresiasi.
Data terakhir menunjukkan bahwa kurs rupiah berada di Rp 4.138 per MYR, yang berarti ada penurunan yang cukup signifikan sekitar 15,21% secara year-to-date. Hal ini menjadikan rupiah sebagai mata uang yang mengalami penurunan terburuk di antara seluruh mata uang ASEAN lainnya.
Penurunan ini memberi gambaran yang jelas akan perlunya peningkatan daya saing dan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia agar bisa memperbaiki kondisi ini. Tanpa langkah-langkah yang tepat, tantangan yang ada akan terus membayangi potensi perkembangan ekonomi Indonesia.
Penyebab Utama Melemahnya Daya Tarik Investor
Rendahnya daya tarik investasi di Indonesia berakar dari berbagai faktor risiko tinggi yang dianggap oleh investor. Salah satu masalah utama adalah defisit anggaran yang melebar, yang menciptakan ketidakpastian mengenai stabilitas fiskal negara.
Investor cenderung mencari tempat yang lebih stabil untuk menempatkan modal mereka. Ketidakpastian yang ada di Indonesia, seperti kondisi fiskal yang tidak menguntungkan, menjadi salah satu alasan mengapa mereka lebih memilih untuk berinvestasi di negara lain.
Masalah ini semakin diperparah dengan tingginya suku bunga surat utang negara yang tidak menguntungkan bagi para investor. Banyak di antara mereka yang merasa tertekan dengan kondisi ini, membuat mereka enggan untuk berinvestasi lebih lanjut di pasar Indonesia.
