PT Bank Mega Tbk. berhasil mencatatkan laba setelah pajak yang mengesankan pada tahun 2025. Dengan total laba mencapai Rp3,36 triliun, Bank Mega mencatatkan pertumbuhan sebesar 28% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp2,63 triliun.
Sementara itu, laba sebelum pajak mencapai Rp4,16 triliun, naik dari Rp3,26 triliun tahun lalu. Pertumbuhan ini mencerminkan langkah strategi yang diambil oleh manajemen dalam meningkatkan kinerja bank secara keseluruhan.
Bank Mega mencatatkan peningkatan signifikan dalam pendapatan berbasis fee, yaitu sebesar 54%, yang berkontribusi Rp2,79 triliun dibandingkan Rp1,82 triliun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan terus mengoptimalkan layanan dan produk yang ditawarkan kepada nasabah.
Analisis Pertumbuhan Aset dan Kredit Bank Mega
Total aset Bank Mega juga mengalami peningkatan yang stabil, mencapai Rp140,83 triliun, atau tumbuh sebesar 4% dari Rp134,92 triliun di tahun sebelumnya. Ini menunjukkan soliditas bank dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Dari sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan mencapai Rp67,23 triliun, tumbuh 4% dari Rp64,65 triliun. Dengan demikian, komposisi kredit korporasi menjadi dominan, mencapai Rp46,30 triliun, atau sekitar 69% dari total kredit.
Kualitas kredit juga menjadi perhatian utama, di mana non-performing loan (NPL) gross tercatat di angka 1,65%. Ini menunjukkan bahwa bank masih mampu menjaga kualitas pinjaman meski terjadi pertumbuhan dalam penyaluran kredit.
Peningkatan Dana Pihak Ketiga dan Efisiensi Biaya
Dana pihak ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan yang signifikan, mencapai Rp104,13 triliun, atau tumbuh 14% dibandingkan tahun lalu. Angka ini meningkat dari Rp91,67 triliun, menunjukkan kepercayaan nasabah yang tinggi terhadap Bank Mega.
Komposisi DPK masih didominasi oleh deposito, tetapi saldo dana murah dalam bentuk current account saving account (CASA) juga meningkat, mencapai Rp28,14 triliun dari Rp27,57 triliun. Ini mencerminkan strategi bank dalam menarik simpanan yang lebih likuid.
Rasio loan to deposito (LDR) saat ini berada di angka 64,48%, yang menunjukkan bahwa kondisi perbankan masih cukup longgar. Ini memberi ruang bagi bank untuk terus menyalurkan kredit di masa yang akan datang.
Strategi Masa Depan dan Retensi Biaya
Manajemen Bank Mega berkomitmen untuk terus menurunkan cost of fund, yang tetap berada pada level yang kompetitif hingga akhir 2025. Kebijakan ini diambil meskipun suku bunga industri perbankan masih terbilang tinggi.
Kinerja yang terus membaik juga menunjukkan bahwa Bank Mega sedang melangkah ke arah pertumbuhan yang lebih baik. Mereka memiliki strategi bisnis yang jelas untuk menjamin profitabilitas berkelanjutan dan memberikan nilai tambah.
Dengan adanya perbaikan dalam fundamental bisnis, Bank Mega akan terus menyesuaikan diri dengan dinamika pasar. Pengelolaan yang bijak diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor dan nasabah di masa depan.









