slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Laba Rp 56,3 T di 2025, Bocoran Dividen Bank di 2025

Jakarta, Bank Mandiri baru-baru ini mengungkapkan rencana terkait dividen dan revisi Rencana Bisnis Bank untuk tahun 2025. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, pihaknya mempertimbangkan rasio pembagian dividen (dividend payout ratio) di kisaran 79%. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk memberikan imbal hasil yang lebih baik bagi pemegang saham dibanding tahun lalu.

Riduan menyatakan bahwa keputusan akhir mengenai DPR akan diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dia juga menekankan pentingnya transparansi dalam proses ini, agar investor mendapat informasi yang akurat mengenai perkembangan yang ada.

Tahun lalu, pemegang saham Bank Mandiri menyepakati untuk membagikan 78% dari laba yang diperoleh, yang setara Rp 43,5 triliun. Dengan demikian, setiap pemegang saham mendapatkan dividen sebesar Rp 466,18 per saham, yang menjadi perhatian para investor.

Perkembangan Rencana Bisnis Bank Mandiri untuk Tahun 2025

Dari sisi Rencana Bisnis Bank (RBB), Riduan mengonfirmasi bahwa tidak ada revisi yang dilakukan sejak dokumen tersebut disampaikan ke regulator. Bank Mandiri masih melanjutkan rencana bisnis yang telah diusulkan pada bulan Desember sebelumnya.

“Kami tetap komitmen untuk menjalankan RBB yang telah disetujui, dan kemungkinan revisi akan dilakukan setelah evaluasi pada bulan Juni,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa Bank Mandiri selalu berusaha untuk melampaui target dan rencana yang sudah ada.

Pada tahun berjalan, Bank Mandiri berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 56,3 triliun. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, laba ini mengalami peningkatan sebesar 0,93% secara tahunan, menandakan stabilitas keuangan perusahaan yang tetap terjaga.

Kenaikan Aset Bank Mandiri di Tahun 2025

Selama periode yang sama, aset Bank Mandiri juga mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu sebesar 18,7% secara tahunan. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berhasil dalam hal laba, tetapi juga dalam pengelolaan aset yang lebih baik.

Peningkatan aset ini terlihat jauh di atas rata-rata industri perbankan nasional. Riduan mengungkapkan bahwa kinerja ini merupakan hasil dari strategi bisnis yang baik dan pemanfaatan sumber daya yang efisien.

Di tengah tantangan ekonomi yang ada, Bank Mandiri tetap optimis dengan prospek kedepan. Peningkatan aset ini menjadi indikator positif bahwa bank ini mampu beradaptasi dalam lingkungan yang kompetitif.

Komitmen Bank Mandiri dalam Meningkatkan Layanan untuk Nasabah

Selain fokus pada angka-angka keuangan, Bank Mandiri juga berkomitmen untuk meningkatkan layanan bagi nasabah. Hal ini terlihat dari inovasi yang dilakukan dalam produk dan layanan keuangan yang ditawarkan kepada pelanggan.

Perusahaan berupaya untuk menghadirkan lebih banyak pilihan yang mudah diakses dan memenuhi kebutuhan nasabah. Inovasi dalam layanan digital menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan pengalaman nasabah.

Bank Mandiri percaya bahwa memuaskan nasabah akan berdampak positif pada kinerja keuangan jangka panjang. Oleh karena itu, mereka terus berinvestasi dalam teknologi yang dapat mendukung tujuan tersebut.

Maraknya Jual Beli Rekening Bank, Bos OJK Berikan Penjelasan

Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini memberikan peringatan kepada masyarakat mengenai risiko dari praktik jual beli rekening bank yang semakin marak, terutama di platform media sosial. Tindakan tersebut bukanlah pelanggaran ringan, melainkan perilaku ilegal yang dapat membawa konsekuensi hukum serius, termasuk hukuman penjara.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa pemilik rekening memiliki tanggung jawab penuh atas semua transaksi yang dilakukan melalui rekening yang terdaftar atas nama mereka. Ini mencakup situasi di mana rekening tersebut disalahgunakan, seperti dalam kasus penipuan atau pencucian uang.

Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya praktik jual beli rekening yang sering kali dianggap sepele oleh masyarakat. OJK menegaskan bahwa dalam pandangan hukum, tanggung jawab terhadap rekening tidak bisa lepas meskipun pemiliknya mengklaim tidak mengetahui penggunaan rekening tersebut setelah diperjualbelikan.

Pentingnya Kesadaran Hukum dalam Penggunaan Rekening Bank

Kesadaran akan tanggung jawab hukum terkait rekening bank harus ditingkatkan di kalangan masyarakat. Seiring dengan kemajuan teknologi dan penggunaan media sosial, semakin banyak individu yang terjebak dalam praktik jual beli rekening tanpa memahami risiko yang terlibat. OJK berupaya mengedukasi masyarakat tentang hal ini agar mereka tidak terjebak dalam penipuan yang dapat merugikan.

Setiap transaksi yang dilakukan melalui rekening bank mencerminkan identitas pemiliknya. Oleh karena itu, OJK mengingatkan bahwa argumen ketidaktahuan tidak bisa dijadikan alasan dalam menghadapi konsekuensi hukum. Reputasi dan integritas seseorang bisa terancam jika rekeningnya digunakan untuk aktivitas ilegal.

OJK juga menyebutkan bahwa praktik jual beli rekening bank bisa memiliki dampak luas terhadap sistem keuangan di Indonesia. Hal ini berpotensi menciptakan celah bagi kejahatan terorganisir dan aktivitas ilegal lainnya, sehingga perlu perhatian lebih dari seluruh pihak terkait, mulai dari perbankan hingga masyarakat setempat.

Risiko Tinggi dalam Transaksi Jual Beli Rekening

Dalam analisis OJK, praktik ini tergolong berisiko tinggi dan dapat disalahgunakan untuk kegiatan kejahatan seperti pencucian uang dan pendanaan terorisme. Dengan meningkatnya jumlah laporan aktivitas mencurigakan, OJK berupaya memperketat regulasi di sektor jasa keuangan. Praktik ilegal ini jelas bertentangan dengan prinsip Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT).

OJK pun mengacu pada Peraturan OJK Nomor 8 Tahun 2023 yang mengatur penerapan program APU dan PPT. Melalui aturan ini, bank diwajibkan untuk melakukan pemantauan yang ketat terhadap transaksi yang mencurigakan dan menerapkan prinsip ‘Know Your Customer’ (KYC) dengan ketat. Ini termasuk pengumpulan informasi pelanggan dan verifikasi identitas.

Pemantauan transaksi secara berkala dan pembaruan data nasabah juga menjadi bagian dari upaya untuk mencegah penyalahgunaan rekening. Upaya yang dilakukan oleh OJK ini bertujuan untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih transparan dan aman.

Langkah-langkah untuk Mengatasi Masalah Jual Beli Rekening

OJK juga mendorong bank untuk lebih proaktif dalam mendeteksi rekening yang berpotensi dijualbelikan. Melalui pendekatan berbasis penilaian risiko, bank diharapkan dapat mengidentifikasi dan membatasi akses terhadap rekening yang terindikasi terlibat dalam praktik ilegal ini. Apabila terdapat kejanggalan, bank akan mengambil tindakan tegas demi melindungi nasabah dan integritas sistem keuangan.

Lebih jauh, OJK tidak bekerja sendiri dalam mengatasi masalah ini. Mereka berkolaborasi dengan berbagai lembaga, termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan aparat penegak hukum. Pembentukan jaringan informasi antar lembaga ini bertujuan untuk menindak tegas setiap penyalahgunaan yang dilakukan.

OJK juga menyediakan saluran bagi masyarakat untuk melaporkan aktivitas mencurigakan. Dengan adanya kerjasama antara bank, regulator, dan masyarakat, diharapkan kesadaran akan tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan sistem keuangan dapat meningkat.

Pasutri Mewah di Jakarta Ternyata Hasil Rampokan Bank Rp 219 M

Kisah kehidupan sepasang suami-istri di Batavia selaras dengan glamor dan kesenangan yang memesona. Pada awal abad ke-20, mereka menjadi simbol keberhasilan dan gaya hidup elite di kalangan masyarakat, tetapi di balik semua itu terdapat rahasia kelam yang akan mengubah nasib mereka.

Seiring dengan popularitas dan kekayaan yang mereka nikmati, kebenaran yang menyakitkan berhasil terungkap. A.M. Sonneveld, sang suami, bukan sekadar pegawai biasa, melainkan seorang yang memegang posisi strategis di sebuah bank besar pada masa penjajahan Belanda.

Posisinya memberinya akses tanpa batas terhadap dana nasabah, yang sayangnya ia salahgunakan. Dengan memanfaatkan jabatannya, Sonneveld terlibat dalam penggelapan uang bank hingga jumlahnya bisa menyentuh nilai puluhan miliaran rupiah saat ini.

Sonneveld sebelumnya merupakan perwira di KNIL, Tentara Hindia Belanda, dan setelah pensiun, ia berkarier di Nederlandsch Indie Escompto Maatschappi. Di bank tersebut, ia bertugas sebagai kepala bagian yang mengurusi uang dan arus kas nasabah.

Meski gaji yang ia terima terbilang besar, tindakan nekatnya untuk mencuri uang nasabah adalah langkah yang sangat mengejutkan banyak orang. Pada September 1913, berita mengenai pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pegawai bank di Batavia mencuri perhatian publik.

Salah satu laporan berita dari Deli Courant pada 5 September 1913 mengungkap aksi pencurian yang dilakukan Sonneveld, dengan nilai mencapai 122 ribu gulden. Angka tersebut, jika dihitung dengan harga emas saat ini, setara dengan Rp 219 miliar, mengingat harga emas mencapai 3 juta per gram.

Kejahatan dan Investigasi yang Menghebohkan Publik

Setelah terungkapnya penggelapan tersebut, pihak bank segera melakukan investigasi menyeluruh. Hasilnya menunjukkan bahwa Sonneveld terlibat dalam permainan kotor yang memicu skandal besar di kalangan masyarakat Batavia.

Mengetahui bahwa kejahatannya tercium, Sonneveld dan istrinya melarikan diri jauh sebelum polisi mengeluarkan surat penangkapan. Keputusan mereka untuk kabur menjadi langkah desperado yang justru menambah ketegangan dalam kasus ini.

Kedua buronan ini diliput secara luas di media, membuat deskripsi fisik mereka menjadi informasi penting di kalangan masyarakat. Berita ini membantu pihak kepolisian dalam melacak jejak mereka dan akhirnya mengarah pada penangkapan di Bandung.

Melalui perjalanan kereta api dari Meester Cornelis, Sonneveld dan istrinya berusaha menjauh dari kejaran hukum. Mereka melanjutkan perjalanan ke Surabaya, di mana Sonneveld sempat berjumpa dengan seorang teman yang tidak curiga.

Anehnya, ketika ditanya tentang tujuannya, Sonneveld mencetuskan kebohongan tentang pergi ke Hong Kong untuk belajar lebih jauh mengenai cabang bank di sana. Temannya yang mengetahui kebenaran segera melaporkan hal tersebut ke polisi.

Penangkapan dan Proses Hukum yang Mengikutinya

Informasi yang diberikan teman Sonneveld ditindaklanjuti oleh kepolisian Hindia Belanda, yang kemudian menghubungi pihak kepolisian di Hong Kong. Akhirnya, keduanya berhasil ditangkap ketika mendarat di kota tersebut.

Penangkapan mereka menandai awal dari proses hukum yang panjang. Saat diekstradisi kembali ke Hindia Belanda, tas yang dibawa Sonneveld terungkap menyimpan sisa uang hasil pencurian.

Mereka kemudian dibawa ke pengadilan, di mana Sonneveld mengakui kejahatan yang dilakukannya. Ia menjelaskan bahwa semua tindakan itu dilakukan untuk memenuhi gaya hidup mewah yang diinginkannya, dan istrinya pun terlibat dalam usaha menutup-nutupi skandal tersebut.

Hakim menjatuhkan vonis hukuman 5 tahun penjara untuk Sonneveld, sementara sang istri menerima hukuman selama tiga tahun. Keputusan tersebut menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat yang mengikuti kasus ini sejak awal.

Proses hukum ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya integritas dalam suatu jabatan. Kasus Sonneveld menjadi contoh nyata bagaimana ambisi dapat menghancurkan kehidupan seseorang dan keluarganya.

Dampak Sosial dan Pelajaran yang Dapat Dihikmati

Bagi masyarakat Batavia, skandal ini menjadi salah satu sorotan utama di era tersebut. Kejadian ini bukan hanya mengejutkan, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang mendalam pada citra lembaga keuangan di Hindia Belanda.

Reaksi publik terhadap kasus ini menghadirkan refleksi tentang norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat mulai semakin sadar akan pentingnya pengawasan pada pejabat publik, terutama di sektor keuangan.

Dengan adanya kepercayaan yang rusak terhadap lembaga keuangan, banyak orang menjadi lebih berhati-hati tentang di mana mereka menyimpan uang. Kejadian semacam ini akhirnya mendorong reformasi yang lebih baik dalam sistem perbankan pada masa itu.

Skandal ini membuka mata banyak pihak akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. Penting bagi setiap individu, terutama yang memegang posisi strategis, untuk tetap menjaga etika dan moral dalam menjalankan tugasnya.

Kisah Sonneveld menjadi pengingat seberapa rapuhnya kehidupan yang dibangun di atas ketidakjujuran. Masyarakat pun belajar bahwa glamour dan kesuksesan yang terlihat kadang kali menyimpan cerita berbeda yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Likuiditas Terjaga, Kinerja Bank Berpotensi Melesat di 2026

Pertumbuhan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) di tahun 2026 terlihat sangat menjanjikan. Dengan modal yang kuat dan likuiditas yang memadai, BNI siap untuk memperluas kinerja kreditnya pada tahun mendatang.

Pengelolaan neraca BNI dalam satu tahun terakhir telah menunjukkan perhatian besar terhadap keseimbangan antara efisiensi biaya dana dan permodalan yang solid. Fokus utama mereka adalah memperkuat pendanaan berbasis Current Account Saving Account (CASA).

Peran CASA dalam bank sangat penting karena dana murah dari giro dan tabungan dapat menekan biaya dana. Hal ini tentunya berdampak positif bagi margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) bank.

Tinggi Pertumbuhan CASA Menjadi Kunci Utama

Dalam satu tahun terakhir, BNI mencatat pertumbuhan CASA mencapai angka 28,9%, dengan kontribusi signifikan dari pertumbuhan giro sebesar 43,8%. Ini adalah pencapaian penting yang menunjukkan kekuatan struktur pendanaan BNI.

Di sisi lain, pertumbuhan tabungan yang mencapai 11,2% juga berkontribusi terhadap pengelolaan likuiditas perusahaan. Struktur keuangan yang sehat sangat penting untuk mendorong pengembangan kredit di tahun 2026.

“Diversifikasi strategi pertumbuhan kredit adalah kunci untuk menjaga kualitas portofolio di tengah tantangan ekonomi global,” terang Direktur Finance and Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena.

Strategi Transformasi Digital BNI yang Mendorong Pertumbuhan

BNI juga aktif dalam kerangka strategi transformasi digital, dengan mengembangkan platform wondr by BNI. Hingga akhir 2025, mereka mengharapkan jumlah pengguna platform ini melampaui 12 juta dengan tingkat keaktifan transaksi yang meningkat signifikan.

Peningkatan engagement nasabah ini memberikan kontribusi yang penting bagi pertumbuhan tabungan ritel dan penguatan CASA. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi digital menjadi salah satu pilar utama dalam strategi BNI.

Selain platform tersebut, BNI juga memperbarui platform BNIdirect untuk segmen korporasi dan bisnis. Layanan ini mencakup Cash Management, Trade Finance, Bank Guarantee, dan Supply Chain Financing, yang semuanya mendukung pertumbuhan bisnis dalam segmen tersebut.

Pertumbuhan Kredit yang Memuaskan di Tahun 2025

Sejauh ini, pertumbuhan kredit BNI mencapai angka 15,9% pada akhir tahun 2025. Angka ini menunjukkan bahwa BNI dapat mempertahankan momentum pertumbuhan meski ada tantangan di pasar yang lebih luas.

Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BNI juga berada di level yang sangat baik, yakni 20,7%. Ini jauh di atas ketentuan regulator, memberikan ruang yang cukup luas bagi BNI untuk mengembangkan bisnisnya dan mengantisipasi berbagai risiko.

Dengan berbagai langkah strategis dan komitmen untuk meningkatkan kinerja kredit, BNI memiliki fondasi yang kuat untuk menembus tantangan di masa mendatang. Keberhasilan ini tentunya menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Nama 28 Bank Perekonomian Rakyat di Indonesia yang Tutup dan Bangkrut Terbaru

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kini tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah dari Perusahaan Umum Daerah Bank Perekonomian Rakyat Bank Cirebon. Langkah ini diambil setelah Otoritas Jasa Keuangan mencabut izin operasional bank tersebut pada 9 Februari 2026, sehingga nasabah harus memahami proses yang akan berlangsung.

Dalam rangka melaksanakan pembayaran klaim, LPS berupaya memastikan bahwa simpanan nasabah bisa dibayarkan sesuai dengan aturan yang berlaku. Proses ini juga akan melibatkan rekonsiliasi dan verifikasi data simpanan untuk memastikan berapa banyak yang akan dibayarkan kepada masing-masing nasabah.

Rekonsiliasi dan verifikasi ini dijadwalkan akan selesai dalam waktu 90 hari kerja. Dana yang akan digunakan untuk pembayaran klaim penjaminan berasal dari anggaran LPS, yang bertujuan untuk menjaga kepentingan nasabah.

Proses dan Mekanisme Pembayaran untuk Nasabah

Nasabah dapat mengecek status simpanan mereka di kantor Perumda BPR Bank Cirebon atau melalui informasi yang diunggah di website resmi LPS. Setiap pengumuman terkait klaim dan pembayaran akan diinformasikan kepada nasabah agar mereka tetap ter-update mengenai proses ini.

Bagi mereka yang memiliki pinjaman di bank, tetap diizinkan untuk melakukan cicilan atau pelunasan di kantor Perumda BPR Bank Cirebon. Nasabah wajib menghubungi Tim Likuidasi LPS untuk informasi lebih lanjut tentang pembayaran hutang yang dimiliki.

Sekretaris LPS, Jimmy Ardianto, mengingatkan kepada nasabah agar tetap tenang selama proses ini berlangsung. Penting bagi mereka untuk tidak terpengaruh oleh pihak-pihak yang mungkin menawarkan bantuan untuk proses klaim dengan imbalan tertentu.

Pentingnya Memahami Prosedur Penjaminan dan Likuidasi

Nasabah perlu menyadari adanya banyak BPR/BPRS atau bank umum lain yang masih beroperasi dengan baik. Ini menjadi penting untuk mendorong nasabah agar tidak merasa ragu dalam menyimpan uang di institusi perbankan.

Setiap simpanan di bank yang terdaftar di Indonesia dijamin oleh LPS hingga maksimum Rp 2 miliar untuk setiap nasabah per bank. Hal ini adalah langkah untuk meningkatkan kepercayaan nasabah kepada sistem perbankan di Indonesia.

Nasabah dianjurkan untuk memastikan bahwa simpanannya memenuhi kriteria yang dikenal dengan istilah 3T LPS. Aturan ini termasuk mencakup pembukuan yang jelas, tingkat bunga simpanan yang sesuai, dan tidak terindikasi terlibat dalam tindak pidana.

Informasi Tambahan bagi Nasabah yang Terdampak

Bagi nasabah yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penjaminan simpanan dan proses likuidasi BPR Bank Cirebon, LPS menyediakan layanan informasi melalui Pusat Layanan Informasi di nomor 021-154. Hal ini bertujuan agar nasabah dapat memperoleh kejelasan mengenai hak mereka.

Perkembangan situasi ini akan terus diawasi oleh pihak berwenang untuk memastikan bahwa semua tindakan diambil dengan tepat waktu dan sesuai prosedur. Nasabah diharapkan tetap terinformasi melalui update yang disampaikan oleh LPS.

Dalam situasi di mana bank-bank lain masih aktif beroperasi, nasabah disarankan untuk tidak hanya bergantung kepada satu lembaga keuangan. Diversifikasi dalam menyimpan uang di berbagai bank dapat menjadi strategi yang baik untuk menghindari risiko yang lebih luas.

Dengan adanya langkah-langkah perencanaan yang jelas, diharapkan nasabah dapat merasa lebih aman dan terinformasi dalam menavigasi situasi ini. LPS berkomitmen untuk melakukan yang terbaik demi perlindungan simpanan nasabah. Ini merupakan bentuk kepedulian dalam menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia.

Melalui upaya rekonsiliasi dan verifikasi yang ketat, pihak LPS bertujuan agar setiap klaim penjaminan dapat diproses dengan efisien. Sambil menunggu proses tersebut, nasabah diharapkan untuk bertindak dengan bijak dan tidak panik, serta selalu berkonsultasi dengan pihak berwenang.

Bagaimanapun juga, perlindungan terhadap simpanan nasabah menjadi prioritas utama dalam setiap langkah yang akan diambil. Komunikasi yang baik antara LPS dan nasabah akan bersifat krusial dalam memastikan kelancaran semua proses yang sedang berjalan. Melalui cara ini, harapan untuk mendapatkan penyelesaian yang adil dapat terwujud seiring waktu.

Bank Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Bank Mandiri menunjukkan komitmennya yang kuat untuk menjadi mitra strategis pemerintah lewat upaya penguatan struktur keuangan yang solid. Hal ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan agenda pembangunan nasional di Indonesia.

Sepanjang tahun 2025, upaya ini terbukti berhasil dengan peningkatan yang signifikan dalam kinerja neraca. Total aset bank ini tumbuh sebesar 16,6% secara tahunan, mencapai Rp2.829,9 triliun, sementara penyaluran kredit juga mengalami peningkatan yang baik mencapai 13,4% menjadi Rp1.895,0 triliun.

Melalui strategi ekspansi yang terencana, Bank Mandiri berfokus pada pembiayaan sektor-sektor produktif, yang diharapkan dapat memperkuat perekonomian kerakyatan. Kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tumbuh sebesar 4,88% YoY, mencerminkan niat baik bank dalam membantu masyarakat.

Penguatan Kinerja Neraca dan Strategi Pembiayaan yang Taktis

Kinerja keuangan yang solid mencerminkan kerja keras Bank Mandiri dalam memperkuat ekosistem pembiayaan. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, pertumbuhan kredit yang konsisten menunjukkan efektivitas strategi tersebut.

“Kami berkomitmen untuk mendorong pembiayaan yang selektif, dengan fokus pada sektor-sektor produktif,” jelas Riduan. Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset yang dikelola.

Selain pertumbuhan aset dan kredit, struktur likuiditas Bank Mandiri juga menunjukkan kekuatan yang baik. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 23,9%, dengan dana murah mengalami peningkatan sebesar 12,6%, yang memberikan ruang lebih untuk ekspansi bisnis yang berkelanjutan.

Dukungan Terhadap Program Prioritas Nasional dan Pembangunan Sosial

Dalam mendukung berbagai program pemerintah, Bank Mandiri mengarahkan upayanya untuk mengoptimalkan struktur keuangan. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp41 triliun kepada sekitar 360 ribu pelaku UMKM mencerminkan responsivitas bank terhadap kebutuhan masyarakat.

Aplikasi program sosial juga menjadi fokus penting. Bank Mandiri mendukung Program Makan Bergizi Gratis dengan melibatkan 147 mitra pelaksana, dan memperkuat tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel.

Pengembangan ekonomi desa juga menjadi salah satu prioritas. Bank Mandiri mengelola lebih dari 4.700 rekening Koperasi Desa dan sekitar 3.700 rekening BUMDes, mendukung pengembangan desa dan program-program nasional yang lebih besar.

Kontribusi Berkelanjutan kepada Negara dan Masyarakat

Komitmen Bank Mandiri tidak hanya tercermin dalam kinerja keuangan, tetapi juga dalam kontribusinya kepada negara. Dalam dua puluh lima tahun terakhir, bank ini telah menyalurkan total dividen sebesar Rp225 triliun kepada masyarakat.

Pada tahun 2025, dividen Bank Mandiri mengalami pertumbuhan signifikan, mencapai Rp52,5 triliun. Angka ini berasal dari porsi laba yang telah dibayarkan, menunjukkan empat kuartal yang positif dalam kinerja keuangan.

Setoran pajak juga menciptakan dampak positif bagi pemerintah. Selama periode 2000 hingga 2025, Bank Mandiri membayarkan pajak akumulatif sebesar Rp277 triliun, dengan lonjakan setoran pajak sekitar Rp27 triliun tahun lalu.

“Bagi kami, mendukung program pemerintah lebih dari sekadar tujuan bisnis, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial,” ungkap Riduan. Pendekatan ini menegaskan komitmen Bank Mandiri untuk memastikan manfaat pembangunan merata di masyarakat.

Kata Bos Bank Soal Rencana Merger AM BUMN

Dalam perkembangan terbaru di dunia perbankan, salah satu isu yang mengemuka adalah rencana penggabungan usaha manajer investasi milik bank-bank BUMN. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyatakan bahwa pihaknya akan mengikuti keputusan yang diambil oleh pemegang saham terkait penggabungan ini.

Riduan menjelaskan, rencana bisnis akan sepenuhnya diputuskan oleh Danantara sebagai pemegang saham utama. Ini menandakan bahwa langkah tersebut sejalan dengan kebijakan strategis yang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja sektor keuangan di Indonesia.

Seiring dengan isu merger ini, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau Danantara, telah menawarkan perspektif terkait rencana tersebut. Mereka menegaskan bahwa penggabungan ini bertujuan untuk memperkuat posisi aset dan memaksimalkan sumber daya yang ada.

Rencana Merger: Apa yang Perlu Diketahui?

Merger manajer investasi BUMN menjadi perhatian karena melibatkan beberapa entitas besar, seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia. Rencana ini berpotensi mereformasi lanskap industri manajemen investasi di Indonesia.

Kabarnya, penggabungan ini akan membuat pengelolaan aset yang kompetitif sehingga dapat lebih efektif dalam menjawab tantangan di pasar keuangan global. Dengan total aset yang dikelola mencapai tak kurang dari USD 8 miliar, potensi dampaknya sangat signifikan.

Meski demikian, penjelasan rinci dari pihak Danantara tentang langkah konkret yang akan diambil masih minim. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan ketidakpastian yang masih ada tetapi memberikan sinyal bahwa langkah resmi akan diumumkan jika rencana sudah final.

Tujuan dan Manfaat dari Merger Ini

Salah satu tujuan utama dari penggabungan entitas bisnis ini adalah untuk menciptakan efisiensi biaya dan meningkatkan kinerja. Dalam konteks industri keuangan, efisiensi sangat penting mengingat persaingan yang semakin ketat.

Pandu menegaskan bahwa penggabungan ini dilaksanakan untuk memperkuat kinerja dan menciptakan perusahaan yang lebih solid. Dengan langkah ini, potensi untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar kepada para pemegang saham akan meningkat.

Konsolidasi juga berpotensi memberikan keuntungan bagi para nasabah dan investor. Dengan basis aset yang lebih besar, manajer investasi dapat menawarkan produk yang lebih kompetitif dan menarik.

Struktur dan Fleksibilitas Entitas Baru

Saat ini, BRI, Mandiri, dan BNI memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang manajemen investasi. Dengan adanya merger, organisasi baru yang terbentuk diharapkan bisa lebih fleksibel dalam beradaptasi terhadap perubahan pasar.

Dengan struktur yang lebih ramping, perusahaan pengelolaan aset tersebut dapat lebih cepat dalam mengambil keputusan dan respon terhadap dinamika pasar. Ini adalah poin yang vital untuk memastikan daya saing tetap tinggi.

Selain itu, adanya struktur baru berpotensi mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia yang ada, sehingga talenta terbaik dapat berkolaborasi lebih efektif. Hal ini akan berkontribusi pada inovasi yang lebih besar dalam produk dan layanan keuangan.

Resistensi dan Tantangan yang Muncul

Meski ada banyak potensi keuntungan dari rencana merger ini, tantangan pasti akan muncul. Salah satunya adalah resistensi dari stakeholder yang mungkin merasa khawatir akan efeknya terhadap pekerjaan dan struktur organisasi yang ada.

Penting bagi pimpinan untuk melakukan komunikasi yang terbuka dengan semua pihak terkait untuk mengurangi ketidakpastian yang mungkin muncul. Transparansi akan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan di antara semua stakeholder yang terlibat.

Selain itu, regulasi dari pemerintah dan lembaga pengawas juga harus diperhitungkan. Rencana merger ini harus memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan untuk memastikan kesuksesan dalam jangka panjang.

Respons Pimpinan Bank BUMN Terkait Target RoA 7 Persen dari Prabowo

Dalam perkembangan terbaru, sejumlah pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberikan tanggapan terkait target pengembalian aset atau return on assets (RoA) yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Target RoA sebesar 7% ini disampaikan kepada Danantara, yang bertugas mengelola perusahaan-perusahaan BUMN.

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), Anggoro Eko Cahyo, menyarankan agar pertanyaan mengenai target RoA tersebut lebih tepat ditujukan kepada Danantara. Dia mengindikasikan bahwa langkah-langkah spesifik untuk mencapai target ini masih perlu dibahas lebih lanjut.

Setelah menyampaikan pandangannya dalam acara Economic Outlook 2026, Anggoro tidak memberikan komentar lebih lanjut. Sebaliknya, Direktur Utama Bank Mandiri (BMRI), Riduan, menegaskan bahwa Danantara adalah pihak yang paling sesuai untuk menjelaskan rencana bisnis demi mencapai target RoA tersebut.

Riduan menambahkan bahwa untuk bank, pendekatan yang lebih tepat adalah return on equity (RoE) karena dalam aset yang dimiliki, terdapat dana pihak ketiga. Saat ini, RoA mentok di level 3% sedangkan RoE berada di angka 20%, menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, bank tetap berusaha untuk meningkatkan RoA.

Di sisi lain, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Hery Gunardi, mengungkapkan tekad BRI untuk berusaha maksimal dalam meningkatkan RoA perusahaan. Beliau menegaskan bahwa saat ini RoA BRI berada di sedikit lebih dari 3% dan berkomitmen untuk mencari strategi yang tepat demi pencapaian target yang ditetapkan pemerintah.

Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BBTN) juga menambahkan bahwa BTN akan bekerja keras mengejar target RoA ini, menunjukkan bahwa semua pihak di BUMN menyadari pentingnya pencapaian tersebut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi negara.

Strategi Peningkatan RoA di Lingkungan BUMN

Pencapaian target RoA sebesar 7% bukanlah hal mudah, dan setiap bank memiliki tantangan dan strategi sendiri dalam menghadapi hal ini. Penyisipan dana pihak ketiga dalam aset menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan oleh bank-bank BUMN.

Beberapa direktur menekankan pentingnya kolaborasi antara Danantara dan masing-masing bank untuk merumuskan strategi yang efektif. Pengintegrasian rencana bisnis yang jelas dan terukur diyakini menjadi langkah awal yang vital dalam mencapai target yang telah ditetapkan.

Selain itu, pengelolaan risiko dan efisiensi operasional juga merupakan kunci untuk meningkatkan RoA. Dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko, bank dapat lebih fokus dalam meningkatkan performa keuangannya.

Bank-bank BUMN juga berusaha mengembangkan produk dan layanan yang lebih beragam untuk memperluas basis nasabahnya. Inovasi dalam produk keuangan diharapkan bisa menarik lebih banyak nasabah dan pada akhirnya meningkatkan RoA yang diinginkan.

Selain itu, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian integral dalam upaya peningkatan performa. Dengan tenaga kerja yang lebih kompeten, bank akan lebih siap menghadapi tantangan dan meraih peluang yang ada.

Analisis Tren dan Perkembangan Ekonomi Nasional

Di tengah situasi ekonomi nasional yang terus berkembang, bank-bank BUMN perlu menganalisis tren yang ada agar dapat menyesuaikan diri. Pengaruh suku bunga, inflasi, dan kebijakan moneter akan sangat memengaruhi kinerja keuangan mereka.

Dalam analisis terbarunya, bank-bank harus memperhatikan bagaimana kebijakan pemerintah dalam mendukung sektor-sektor tertentu akan berimplikasi terhadap kestabilan keuangan. Kerjasama dengan pemerintah dalam memfasilitasi pertumbuhan sektor usaha menjadi faktor penting.

Terkait dengan tren digitalisasi, bank-bank juga mulai beradaptasi dengan teknologi yang semakin maju, memanfaatkan fintech untuk meningkatkan efisiensi dan menyasar segmen pasar yang lebih luas. Transformasi digital diyakini akan membantu bank dalam mempercepat pencapaian target-target keuangan.

Dengan berfokus pada keberlanjutan dan penerapan praktik bisnis yang bertanggung jawab, bank-bank BUMN berharap dapat meningkatkan kepercayaan publik dan pelanggan. Hal ini penting untuk memperkuat posisi bank di pasar yang kompetitif.

Dalam konteks global, pengaruh ekonomi internasional juga patut diperhatikan. Perubahan dalam ekonomi global dapat berdampak langsung pada aliran modal dan investasi di dalam negeri. Oleh karena itu, analisis situasi global harus selalu diperbarui untuk strategi yang lebih tepat sasaran.

Komitmen bersama untuk Mencapai Target

Seluruh pimpinan BUMN yang terlibat menunjukkan komitmen untuk berkolaborasi dalam mencapai target RoA 7%. Hal ini mencerminkan sinergi yang diperlukan antara perusahaan-perusahaan di lingkungan BUMN untuk memajukan perekonomian negara.

Sikap proaktif dalam merencanakan strategi dan melakukan evaluasi periodik terhadap pencapaian target merupakan langkah penting. Dengan kerjasama yang baik, tantangan dalam peningkatan RoA dapat diatasi secara lebih efektif.

Inisiatif untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik di antara perbankan BUMN juga dapat mempercepat pencapaian target. Platform diskusi dan seminar diharapkan dapat menjadi ajang untuk berbagi inovasi serta solusi yang tengah dijalankan.

Dengan adanya dukungan yang kuat dari pemerintah dan kolaborasi antar BUMN, pencapaian tujuan jangka panjang dalam memajukan sektor perbankan dan perekonomian Indonesia diharapkan dapat terwujud. Komitmen bersama merupakan kunci untuk menjadikan target 7% sebuah realita.

Secara keseluruhan, perjalanan menuju pencapaian RoA 7% memerlukan dedikasi, inovasi, dan sinergi yang kuat di antara semua pihak yang terkait. Dengan langkah yang tepat, visi tersebut memiliki peluang besar untuk terwujud di masa yang akan datang.

Keluarga Tolaram Pemegang Manfaat Akhir Amar Bank Terungkap

PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) tengah menarik perhatian publik terkait pengungkapan pemilik manfaat akhir atau yang dikenal dengan istilah beneficial owners. Menanggapi permintaan penjelasan yang dikirim oleh Bursa pada tanggal 4 Februari 2026, bank digital ini menunjukkan komitmennya terhadap transparansi dalam pelaporan informasi penting kepada publik.

Sekretaris Perusahaan AMAR, Elsa Enda Dwita Purba, menjelaskan bahwa pengungkapan mengenai Ultimate Beneficial Owners (UBO) Perseroan telah dilakukan secara mendetail sejak pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) dan tetap tidak ada perubahan hingga kini. Hal ini menunjukkan dedikasi AMAR untuk mematuhi regulasi yang berlaku dalam menjalankan usaha.

Pengungkapan yang mencakup informasi terkait pemilik manfaat bertujuan untuk menjaga kepercayaan investor serta mematuhi ketentuan yang ditetapkan oleh otoritas pasar modal. Dalam hal ini, informasi yang diperlukan telah tersedia dalam Prospektus yang dikeluarkan pada saat proses IPO dan dapat diakses publik.

Pengungkapan Pemilik Manfaat dalam Laporan Formulir E009

Dalam Prospektus yang telah disetujui, AMAR mengungkapkan bahwa UBO mereka adalah Tolaram Family Trust, yang merupakan lembaga trust yang dibentuk sesuai dengan hukum Jersey. Lembaga ini mengontrol 100% kepemilikan saham pada Tolaram, sehingga menunjukkan hubungan yang erat antara AMAR dan Tolaram Group.

Selain itu, pemilik manfaat lebih dari 5% dari Tolaram Family Trust terdiri dari beberapa individu penting, antara lain Mohan K Vaswani, Vishamkar Tikamdas Adnani, dan beberapa anggota keluarga lainnya. Informasi ini penting untuk menunjukkan siapa saja yang berperan dalam keputusan strategis di dalam bank.

Informasi ini telah disampaikan secara sistematis dalam dokumen resmi dan dapat ditemukan dalam bagian XVII mengenai Pendapat dari segi Hukum di Prospektus. Ilustrasi struktur kepemilikan saham juga disajikan secara jelas untuk memudahkan pemahaman publik terkait dengan kepemilikan yang ada.

Komitmen Terhadap Kepatuhan Hukum dan Transparansi

Elsa menegaskan bahwa struktur kepemilikan manfaat ini didukung dengan berbagai dokumen resmi yang disampaikan kepada otoritas terkait. Di antara dokumen tersebut terdapat Trustee Declaration dan Surat Pernyataan Perseroan, masing-masing yang mengidentifikasi para pemilik manfaat dengan jelas.

Perseroan juga menyatakan komitmennya untuk mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. AMAR berencana untuk selalu siap menjalankan penyesuaian yang diperlukan atas penyampaian Formulir E009 sesuai arahan dari Bursa yang berlaku.

Pembaruan informasi dan kelengkapan dokumen tersebut diharapkan dapat lebih meningkatkan transparansi dalam operasional bank. Hal ini tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan hukum, tetapi juga demi membangun kepercayaan di kalangan pemangku kepentingan.

Sejarah dan Perkembangan Tolaram Group

Tolaram Group, sebagai entitas yang berperan penting dalam kepemilikan AMAR, memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Didirikan oleh Khanchand Vaswani, Tolaram Group berawal dari bisnis ritel di Malang, Indonesia, setelah keluarga Vaswani meninggalkan Pakistan pada tahun 1948.

Setelah beberapa tahun berjuang, bisnis tersebut berhasil berkembang dan pada tahun 1975, kantor pusat dipindahkan ke Singapura. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam ekspansi usaha Tolaram-Go, yang kini telah menjangkau 18 negara di seluruh dunia.

Melalui perjalanan yang panjang, Tolaram Group juga melakukan diversifikasi bisnis ke sejumlah sektor strategis, termasuk barang konsumer, layanan teknologi finansial, serta infrastruktur. Fokus utama pada pasar Afrika menunjukkan komitmen Tolaram untuk mengejar peluang di negara-negara berkembang.

Setiap unit usaha yang ada dibangun dengan pemahaman mendalam mengenai kebutuhan pasar lokal. Inisiatif ini memungkinkan Tolaram untuk tetap kompetitif dan relevan di pasar yang terus berkembang.

Dengan aset yang terus berkembang dan komitmen pada inovasi, Tolaram Group siap untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dan membangun pertumbuhan yang berkelanjutan di berbagai sektor bisnis.

Pembiayaan Haji Khusus Melesat 180 Persen di Bank Mega Syariah

Bank Mega Syariah (BMS) telah mencatat pertumbuhan yang mengesankan dalam produk pembiayaan haji khusus, yang dikenal sebagai Flexi Mitra Mabrur. Dengan peningkatan yang mencapai lebih dari 180% pada akhir tahun 2025, perkembangan ini mencerminkan kepercayaan yang semakin tinggi dari masyarakat terhadap solusi pembiayaan haji yang ditawarkan.

Pencapaian ini juga terlihat dari lonjakan jumlah nasabah yang bergabung, dengan pertumbuhan sebanyak 168% secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang mencari cara untuk mempersiapkan ibadah haji mereka dengan lebih terencana dan efisien.

Benadicto Alvonzo Ferary, kepala Divisi Bisnis Digital & Manajemen Produk, mengungkapkan bahwa perkembangan Flexi Mitra Mabrur mencerminkan kebutuhan masyarakat akan solusi pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah dan tanpa agunan. Keberadaan produk ini membantu orang-orang untuk mengatur aliran kas mereka dengan lebih baik saat mempersiapkan ibadah haji khusus.

“Angka pertumbuhan yang mencapai 180% ini menunjukkan bahwa masyarakat kini melihat Flexi Mitra Mabrur sebagai alternatif cerdas untuk memenuhi kebutuhan ibadah haji mereka. Proses yang lebih sederhana dan skema yang sesuai dengan syariah menjadi daya tarik utama bagi nasabah,” kata Benadicto dalam keterangan persnya.

Satu hal yang menarik adalah kualitas dari pembiayaan Flexi Mitra Mabrur yang tetap terjaga dengan baik. Dilaporkan bahwa 100% dari total pembiayaan tersebut berada dalam kategori Kolektibilitas 1, yang berarti para nasabah menunjukkan disiplin tinggi dalam memenuhi kewajiban mereka.

Ketahanan dan Keamanan dalam Pembiayaan Haji Khusus

Kemudahan akses menjadi salah satu keunggulan utama dari produk Flexi Mitra Mabrur. Nasabah tidak hanya mendapatkan pembiayaan tapi juga jasa pengurusan pendaftaran porsi Haji Khusus melalui penyelenggara yang terpercaya. Ini memastikan bahwa proses pendaftaran berjalan dengan lancar dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Produk ini menawarkan limit pembiayaan yang cukup kompetitif, yaitu hingga Rp65 juta per porsi, dengan jangka waktu pelunasan yang fleksibel hingga 36 bulan. Hal ini memberikan kemudahan lebih bagi nasabah dalam mengatur keuangan mereka saat mempersiapkan perjalanan haji.

Keamanan nasabah juga menjadi perhatian utama. BMS telah menyediakan perlindungan asuransi jiwa 100% bagi nasabah yang menggunakan pembiayaan ini, sehingga mereka dapat merasa tenang dan pasti saat menjalani ibadah haji. Kerjasama dengan penyelenggara ibadah padat memperkuat jaminan bahwa semua proses dapat dilakukan dengan aman.

Benadicto menyatakan, “Kami berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi nasabah. Dengan berbagai kemudahan dan jaminan yang kami tawarkan, kami yakin nasabah akan merasa lebih nyaman dalam mempersiapkan haji mereka.”

Di masa depan, BMS optimis bahwa segmen pembiayaan khusus ini akan terus berkembang positif. Dengan pendekatan berbasis akad Ijarah Multijasa, lembaga keuangan ini ingin memfasilitasi lebih banyak masyarakat untuk mencapai impian beribadah di Tanah Suci.

Menjawab Kebutuhan Masyarakat dalam Beribadah

Kebutuhan akan pelayanan haji khusus sudah menjadi bagian penting bagi banyak orang. BMS memahami hal ini dan terus berusaha untuk menghadirkan solusi yang relevan dan mendukung masyarakat dalam menjalankan rukun Islam dengan baik. Sinergi antar lembaga menjadi fokus utama untuk meningkatkan pelayanan di sektor ini.

Melalui komunikasi yang transparan dan pengelolaan yang baik, diharapkan masyarakat dapat merasakan manfaat dari layanan ini dengan optimal. BMS tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai mitra dalam perjalanan ibadah nasabah.

Dengan pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam industri keuangan syariah, BMS terus berinvestasi dalam inovasi dan pengembangan produk. Hal ini bertujuan untuk menciptakan solusi yang tidak hanya efisien tetapi juga sesuai dengan harapan nasabah.

Pengembangannya mencakup aspek-aspek yang tidak hanya terbatas pada pembiayaan, tetapi juga bagaimana menjalin relasi yang baik dengan nasabah. Melalui pendekatan ini, BMS berharap dapat membantu masyarakat lebih mudah dalam mengakses layanan pembiayaan haji.

Dengan adanya produk Flexi Mitra Mabrur, BMS ingin menunjukkan bahwa mereka siap menjadi salah satu pilihan utama bagi calon jamaah haji yang ingin memastikan keberangkatan mereka berjalan lancar dan aman.

Kesimpulan Mengenai Perkembangan Pembiayaan Haji di Indonesia

Pertumbuhan yang signifikan dalam produk pembiayaan haji ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat akan layanan ini adalah nyata dan penting. Dengan dukungan yang kuat dari lembaga keuangan syariah seperti BMS, diharapkan lebih banyak orang dapat melaksanakan ibadah haji sesuai dengan ajaran agama mereka.

Kesadaran tentang pentingnya perencanaan keuangan dalam beribadah haji semakin meningkat. Masyarakat kini lebih cerdas dalam memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan prinsip syariah mereka. Flexi Mitra Mabrur merupakan salah satu solusi jawab yang tepat dalam pengelolaan finansial untuk ibadah haji.

Ke depan, BMS berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan produk yang ditawarkan kepada nasabah. Dengan layanan yang solid dan transparan, diharapkan lebih banyak orang dapat melaksanakan ibadah haji tanpa adanya hambatan. Ini adalah langkah penting untuk meningkatkan spiritualitas masyarakat Indonesia.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap nasabah merasa bahwa kebutuhan mereka akan pemenuhan haji bisa terwujud dengan baik. Melalui produk dan layanan ini, kami berdoa agar dapat memberdayakan lebih banyak orang untuk mencapai tujuan suci mereka,” tutup Benadicto.