Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang direncanakan oleh Citigroup menandai langkah besar dalam strategi perombakan bisnis mereka. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan hasil yang lebih baik dalam konteks persaingan yang semakin ketat di industri perbankan global.
Sebelumnya, perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini mempekerjakan sekitar 227.000 orang di seluruh dunia. Namun, tekanan yang meningkat terhadap kinerja perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Jane Fraser memicu keputusan drastis untuk merampingkan jumlah karyawan.
Pemangkasan ini adalah bagian dari rencana yang lebih luas yang dikenal dengan nama Project Bora Bora, yang mengarah pada pengurangan total 20.000 tenaga kerja hingga akhir tahun ini. Rencana ini tidak hanya mencakup PHK, tetapi juga restrukturisasi menyeluruh untuk meningkatkan efektivitas organisasi.
Penyederhanaan Struktur Organisasi Citigroup untuk Meningkatkan Efisiensi
Di bawah kepemimpinan Jane Fraser, Citigroup berupaya untuk menyederhanakan struktur bisnis mereka dengan membagi operasional menjadi empat unit utama. Langkah ini diambil untuk menghilangkan lapisan manajemen yang tidak perlu, sehingga mempercepat proses pengambilan keputusan.
Fraser mengambil alih jabatan CEO pada tahun 2021 dan sejak itu, ia telah menerapkan banyak perubahan signifikan. Tujuannya adalah untuk menciptakan organisasi yang lebih gesit dan responsif terhadap perubahan pasar.
Namun, di tengah upaya untuk merampingkan, Citigroup juga melanjutkan strategi ekspansi di sektor investment banking. Perusahaan ini aktif merekrut talenta senior dari bank-bank besar lainnya untuk memperkuat posisi kompetitif mereka.
Rekrutmen Talenta Senior untuk Memperkuat Posisi di Investment Banking
Strategi ekspansi Citigroup di sector investment banking dipimpin oleh Vis Raghavan, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala investment banking di JPMorgan. Raghavan bergabung dengan Citigroup pada tahun 2024 dengan tujuan untuk memperkuat posisi di bidang dealmaking.
Langkah agresif ini bertujuan untuk mengejar ketertinggalan dari kompetitor sekaligus memperbesar pangsa pasar. Dalam industri yang sangat kompetitif seperti ini, merekrut individu dengan pengalaman dan jaringan yang kuat menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan.
Citigroup berharap dapat memanfaatkan keahlian Raghavan untuk menarik lebih banyak klien dan meningkatkan volume transaksi. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan keuntungan jangka panjang dan memperkuat reputasi perusahaan di pasar global.
Perubahan Manajemen dan Tantangan di Citigroup
Di samping pemutusan hubungan kerja dan strategi ekspansi, Citigroup juga menghadapi perubahan di jajaran manajemen puncak. Mark Mason, Chief Financial Officer yang telah menjabat lama, dijadwalkan untuk mengundurkan diri pada akhir tahun ini.
Perubahan manajemen ini menambah dinamika di dalam organisasi yang tengah bertransisi. Mason sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan memperkirakan pengurangan jumlah karyawan yang signifikan, menjadi sekitar 180.000 orang pada akhir 2026.
Kontraksi ini mencakup rencana untuk mendaftarkan bisnis perbankan ritelnya di Meksiko dalam penawaran umum perdana, yang dapat memicu lebih banyak perubahan struktural di dalam perusahaan. Upaya untuk merampingkan dan menyusun kembali bisa memberikan dampak besar pada strategi mereka di masa mendatang.
Dengan demikian, Citigroup tengah berada pada titik penting dalam perjalanannya. Kombinasi dari pengurangan tenaga kerja, penyederhanaan struktur, dan strategi untuk merekrut talenta senior menunjukkan upaya perusahaan untuk beradaptasi dalam lingkungan bisnis yang terus berubah. Langkah-langkah ini, meskipun cukup berisiko, bisa menghasilkan imbal balik yang menarik jika dijalankan dengan benar.
Perusahaan harus tetap waspada terhadap tantangan yang ada, termasuk reaksi dari karyawan yang terkena dampak PHK dan dampak jangka panjang terhadap moral staf yang tersisa. Namun, dengan pendekatan yang tepat, Citigroup mungkin dapat menemukan jalur menuju pemulihan dan pertumbuhan di masa depan.
