Reformasi di Bursa Efek Indonesia tetap menjadi topik hangat yang perlu diperhatikan oleh banyak pihak. Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menekankan pentingnya melanjutkan reformasi ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan indeks MSCI, tetapi juga untuk mendorong transparansi dan likuiditas yang lebih baik di pasar modal Indonesia.
Pandu menegaskan bahwa batasan free float tidak seharusnya hanya berada pada angka 15%. Dalam pandangannya, fokus utama seharusnya adalah pada peningkatan likuiditas dan transparansi yang akan membawa manfaat jangka panjang bagi investor.
Pandangan ini datang seiring dengan tantangan likuiditas yang semakin besar dalam pasar modal, yang dirasakan oleh para investor institusi. Dengan kondisi pasar yang berfluktuasi, pergerakan modal dalam jumlah besar menjadi sulit, sehingga mencari solusi atas tantangan ini sangatlah penting.
Pentingnya Likuiditas dalam Pasar Modal Indonesia
Pandangan tentang likuiditas sangat penting dalam konteks investasi. Banyak investor institusional mengalami hambatan saat ingin beroperasi di pasar yang mungkin kurang likuid. Hal ini membuat pergerakan modal menjadi lebih sulit dan berisiko pada saat yang sama.
Panduan dari Danantara menjadi acuan bagi banyak pelaku pasar. Menurutnya, risiko pasar yang dihadapi adalah hal yang wajar, tetapi menjadi lebih rumit jika investasi dilakukan dalam skala besar. Perlu adanya strategi yang tepat untuk mengatasi masalah ini.
Memperpanjang waktu investasi tanpa mengetahui kapan waktu yang tepat untuk keluar dapat berakibat pada kerugian. Oleh karena itu, likuiditas harus dipandang sebagai salah satu faktor kunci dalam operasi investasi.
Strategi Investasi di Pasar Publik dan Privat
Saat ditanya mengenai strategi investasi, Pandu menjelaskan bahwa Danantara mengadopsi pendekatan yang variatif. Dalam hal ini, mereka berinvestasi di pasar publik dan juga pasar privat, dengan tujuan yang berbeda untuk masing-masing pasar.
Pasar publik menjadi pilihan utama untuk mempertahankan likuiditas. Di sisi lain, pasar privat juga menjadi bagian penting dalam penciptaan bisnis dan kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan bagi para investor.
Keputusan ini menunjukkan komitmen Danantara untuk berkontribusi pada perekonomian Indonesia. Dengan berinvestasi pada proyek-proyek yang memiliki nilai tambah, mereka tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memberikan manfaat sosial yang lebih luas.
Regulasi OJK dan Free Float
Dalam konteks regulasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana untuk meningkatkan batas free float menjadi 15%. Langkah ini diambil seiring dengan upaya untuk memperbaiki transparansi dan mendalami pasar lebih dalam.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menjelaskan bahwa kebijakan ini akan diimplementasikan segera. Bagi perusahaan publik yang kesulitan memenuhi syarat, OJK siap menerapkan kebijakan exit dengan cara yang terukur.
Dalam hal ini, pemegang saham seringkali perlu memahami lebih jauh mengenai saham free float, yang terdiri dari saham yang dimiliki oleh publik tanpa terikat oleh regulasi tertentu. Ini menjadi langkah penting untuk menarik lebih banyak investor hadir di bursa efeks.
Meningkatkan Kesadaran pada Saham Free Float di Pasar Modal
Pentingnya saham free float tidak bisa dikesampingkan dalam konteks bursa efek. Menurut regulasi, saham yang termasuk dalam kategori free float harus mengacu pada kriteria tertentu agar memenuhi syarat.
Dalam hal ini, bursa meminta agar perusahaan tercatat memiliki minimal 50 juta saham free float dan melibatkan setidaknya 300 pemegang saham. Kriteria ini penting untuk memastikan bahwa pasar dapat beroperasi dengan sehat dan efektif.
Lebih jauh lagi, OJK memiliki wewenang untuk melakukan suspensi efek terhadap perusahaan yang tidak memenuhi syarat, yang berpotensi mengakibatkan delisting jika tidak ada perbaikan. Ini menunjukkan betapa seriusnya regulasi dalam memastikan integritas pasar modal.
