Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan akan menghadapi sejumlah tantangan dalam waktu dekat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan estimasi yang menunjukkan nilai tukar ini akan berfluktuasi di rentang Rp 16.678 hingga Rp 17.098, menggambarkan kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi global.
Proyeksi ini mengalami peningkatan dibandingkan ramalan sebelumnya untuk tahun 2025 yang memperkirakan nilai tukar bergerak sekitar Rp 16.150 hingga Rp 16.683 per dolar. Hal ini menunjukkan bahwa volatilitas pasar keuangan menjadi faktor utama yang mempengaruhi kurs rupiah saat ini.
Pihri Buhaerah, peneliti dari Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, mengungkapkan bahwa pergerakan kurs hingga tahun 2026 dipengaruhi oleh situasi geopolitik global yang kian memburuk. Kenaikan ekspektasi terhadap nilai tukar menunjukkan adanya dampak negatif dari kebijakan dan ketegangan internasional yang berlangsung lama.
Melihat potensi dampak dari konflik tersebut, banyak analis memperingatkan akan terjadinya ketidakstabilan dalam pasar keuangan. Ekonomi domestik juga berisiko tertekan oleh rasio utang pemerintah yang terus meningkat menuju level 40% dari Produk Domestik Bruto (PDB), memicu kekhawatiran investor akan modal asing yang keluar dari pasar.
Proyeksi BRIN tentang Nilai Tukar Rupiah dan Faktor Penyebabnya
BRIN mengemukakan bahwa konflik geopolitik yang terus berkepanjangan dapat memicu aliran modal keluar dari Indonesia. Rasio utang yang semakin mendekati ambang batas 40% dari PDB menyiratkan tekanan tambahan bagi nilai tukar rupiah di mata investor.
Dalam situasi geopolitik yang tak menentu, kalkulasi risiko dan underwriting di pasar keuangan cenderung lebih ketat. Ini bisa mendorong aliran investasi asing menjauh dari pasar, terutama saat ketidakpastian semakin tinggi.
Dengan fluktuasi nilai tukar yang diharapkan, potensi depresiasi rupiah dalam jangka pendek dapat menjadi lebih jelas. Yakin bahwa kondisi ini dapat memburuk, Pihri menyatakan pentingnya kebijakan mitigasi yang terencana untuk menahan dampak yang lebih mendalam.
Prediksi Bank Indonesia tentang Kurs Rupiah di Tahun 2026
Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, memberikan estimasi bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 akan berada di kisaran Rp 16.430. Perkiraan ini merupakan bagian dari rencana anggaran tahunan yang dirumuskan oleh lembaga tersebut.
Perhitungan dari Bank Indonesia sedikit lebih optimistik dibandingkan dengan ramalan BRIN namun tetap menunjukkan pelemahan nilai tukar. Diharapkan, rata-rata nilai tukar kurs yang lebih rendah ini dapat membantu menciptakan stabilitas dalam perekonomian nasional.
Prioritas Bank Indonesia adalah menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar sambil juga memperhatikan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, pengelolaan nilai tukar menjadi sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Asumsi Makro dalam Rencana Anggaran dan Proyeksi Kurs
Pemerintah telah menetapkan asumsi makro untuk nilai tukar rupiah dalam UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di level Rp 16.500 per dolar. Angka ini lebih tinggi dari asumsi tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa pemerintah memahami tantangan yang ada dan mencoba merumuskan kebijakan yang lebih adaptif.
Berdasarkan analisis yang ada, rata-rata kurs yang lebih tinggi mungkin mencerminkan realitas pasar yang lebih keras. Kebijakan fiskal dan moneter yang lebih proaktif dapat diperlukan untuk memberikan jaminan pada investor dan masyarakat.
Adapun target kurs dari Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) untuk tahun 2025 berada di angka Rp 15.285. Ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah berusaha merumuskan kebijakan yang proaktif, tantangan inflasi dan volatilitas pasar tetap menjadi perhatian utama.
