Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menyampaikan pandangannya terkait pergerakan mata uang rupiah yang dianggapnya tidak mencerminkan fundamental yang seharusnya. Menurutnya, saat ini rupiah tergolong undervalued, dan ia optimis bahwa mata uang Garuda tersebut masih memiliki potensi untuk menguat dalam waktu dekat.
Purbaya menegaskan bahwa rupiah akan dapat menembus level Rp 15.000 per dolar AS. Keyakinannya ini didasari oleh analisis dan berbagai indikator yang menunjang pergerakan positif mata uang Indonesia.
Ia menyatakan, “Saya sudah bilang Rp 16.500, tapi sepertinya Anda belum puas. Saya rasa sekarang, nilai tukar bisa mendekati Rp 15.000 terhadap dolar, tidak akan terlalu sulit.” Ini menunjukkan optimismenya tentang pemulihan nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.
Rupiah Menguat pada Perdagangan Terakhir dan Potensi Kedepan
Saat perdagangan pada Selasa, 3 Februari 2026, rupiah menunjukkan pergerakan positif dengan ditutup menguat terhadap dolar AS. Dalam informasi yang dihimpun, rupiah mengalami apresiasi 0,18% menjadi Rp 16.755 per dolar AS.
Data ini menunjukkan tren penguatan rupiah yang telah berlangsung selama enam hari berturut-turut sejak 21 Januari 2026. Ini adalah indikator yang menggembirakan bagi para pelaku pasar dan investor.
Penguatan rupiah di pasar valuta asing menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia, terutama menjelang periode-periode penting ekonomi. Purbaya menilai bahwa ini adalah sinyal baik bagi investor lokal dan internasional.
Faktor Penyebab Penguatan Rupiah yang Perlu Diperhatikan
Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah adalah stabilitas ekonomi domestik yang makin kuat. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis dalam memperbaiki fundamental ekonomi.
Sebagai tambahan, biaya impor yang lebih rendah dan optimisme pasar terhadap kebijakan pemerintah juga turut berkontribusi terhadap penguatan nilai tukar rupiah. Ini merupakan respons positif terhadap berbagai kebijakan yang telah dicanangkan.
Selain itu, kenaikan harga komoditas juga membantu mendongkrak pendapatan negara dan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Kondisi ini diyakini akan terus berlanjut dan mendukung penguatan rupiah ke depannya.
Peran Pemerintah dalam Stabilitas Nilai Tukar dan Perekonomian
Pemerintah dan Bank Sentral memiliki peran yang krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Berbagai kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan bertujuan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Kebijakan pembiayaan yang tepat juga diharapkan dapat mendorong pembelian dalam negeri dan meminimalisir ketergantungan pada produk asing. Hal ini diharapkan dapat mencegah tekanan terhadap nilai tukar di pasar valuta asing.
Purbaya mengungkapkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan bank sentral sangat penting untuk memastikan kepercayaan investor tetap terjaga. Ini memungkinkan perekonomian Indonesia terus berkembang ke arah yang lebih baik.
Implikasi Kebijakan Perekonomian Terhadap Nilai Tukar Rupiah
Kebijakan perekonomian yang diambil oleh pemerintah, seperti stimulus fiskal, dapat memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan nilai tukar. Keputusan untuk mengeluarkan paket stimulus sering kali dilihat sebagai sinyal positif untuk pasar.
Pentingnya menjaga keseimbangan antara pengeluaran pemerintah dan pendapatan sangat krusial agar tidak menyebabkan defisit yang dapat merugikan stabilitas mata uang. Sudut pandang ini harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan ekonomi ke depannya.
Selanjutnya, transparansi dalam pembuatan kebijakan perekonomian juga memiliki peranan penting. Investor lebih cenderung berinvestasi di negara yang menunjukkan kepastian dan konsistensi dalam kebijakan ekonominya.
