Jakarta mengawali tahun 2026 dengan perhatian terhadap kondisi ekonomi global yang menunjukkan tanda-tanda stabilitas, meskipun ada banyak ketidakpastian yang mengintai. Standard Chartered Indonesia baru-baru ini mengadakan Global Research Briefing (GRB) H1 2026 untuk memaparkan proyeksi perekonomian yang lebih luas, baik di tingkat global, kawasan, dan domestik.
Di dalam briefing tersebut, mereka membahas laporan yang berjudul “An Uneasy Calm”, merangkum tantangan dan peluang yang ada. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mencapai 5,2% pada tahun 2026, meningkat dari tahun sebelumnya, didorong oleh konsumsi domestik yang stabil dan kebijakan pemerintah yang responsif.
Peningkatan ini diharapkan terjadi berkat konsumsi rumah tangga yang juga mengalami pertumbuhan, didukung oleh inflasi yang terjaga dan pengeluaran sosial dari pemerintah. Semua faktor ini berkolaborasi untuk menciptakan pemandangan ekonomi yang optimis meskipun berada di bawah ancaman risiko geopolitik yang meningkat.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Kebijakan Moneter
Menurut Aldian Taloputra, Senior Economist di Standard Chartered Indonesia, proyeksi pertumbuhan ekonomi mengindikasikan momentum yang positif. Pemerintah diharapkan tetap fokus pada pengembangan infrastruktur dan sektor-sektor prioritas yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan sikap berhati-hati dalam kebijakan moneternya sepanjang tahun ini. Meskipun ada batasan dalam penurunan suku bunga, kebijakan likuiditas diharapkan dapat tetap mendorong pertumbuhan kredit di sektor-sektor penting.
Di sisi lain, investasi dalam kapasitas industri dan infrastruktur tetap menjadi fokus utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, dengan adanya keterbatasan fiskal, sektor swasta dan arus investasi asing akan memainkan peran yang semakin penting.
Analisis Dari Perspektif Ekonomi Global
Edward Lee, Chief Economist untuk ASEAN dan Asia Selatan, menambahkan bahwa perekonomian global diprediksi akan tetap stabil di angka 3,4% pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh kebijakan moneter yang akomodatif serta sikap fiskal yang positif yang diambil oleh berbagai negara.
Dalam konteks kawasan ASEAN, ada indikasi bahwa pertumbuhan akan sedikit melambat. Negara-negara yang lebih bergantung pada ekspor seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand mungkin merasakan dampak yang lebih berat karena normalisasi permintaan dari Amerika Serikat.
Sementara itu, negara-negara dengan permintaan domestik yang kuat seperti Indonesia dan India diperkirakan akan terus tumbuh. Ini menandakan bahwa ketahanan ekonomi nasional akan menjadi kunci di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Peluang Investasi dan Peran Sektor Swasta
Dengan dijelaskan lebih lanjut oleh Donny Donosepoetro, CEO Standard Chartered Indonesia, kondisi domestik Indonesia menunjukkan adanya potensi yang signifikan. Permintaan yang kuat dan kerangka kebijakan yang mendukung menjadi modal yang baik memasuki tahun 2026, meskipun tantangan global masih menghantui.
Dalam kondisi permodalan yang selektif, sektor bisnis membutuhkan kejelasan dan konektivitas lintas pasar untuk dapat bersaing. Donny menekankan bahwa kehadiran Standard Chartered yang global dapat membantu korporasi lokal dalam mengakses berbagai sumber pembiayaan yang dibutuhkan.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan-perusahaan Indonesia dalam rantai nilai global. Dengan kemampuan untuk mengelola risiko secara lebih baik, bisnis dapat beradaptasi dan terus berkembang meskipun dalam situasi yang tidak menentu.
Secara keseluruhan, hasil dari Global Research Briefing ini memberikan pandangan yang optimis namun realistis tentang perekonomian Indonesia. Meskipun ada banyak ketidakpastian yang harus dihadapi, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan diharapkan dapat menciptakan fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan yang berkelanjutan di masa mendatang.
Melalui integrasi lebih lanjut dalam jaringan global dan fokus pada inovasi, Indonesia dapat berusaha meraih potensi penuhnya. Ini merupakan periode yang penuh harapan di tengah tantangan yang kompleks yang harus dihadapi oleh banyak negara di dunia saat ini.
