Bank Indonesia baru-baru ini mengumumkan bahwa pertumbuhan kredit bank sepanjang tahun 2025 mengalami peningkatan yang signifikan, mencapai angka 9,69% secara tahunan (yoy). Hal ini menunjukkan stabilitas dan optimisme dalam sektor keuangan, meskipun ada tantangan yang perlu diperhatikan. Pertumbuhan tersebut sebagian besar didorong oleh peningkatan dalam segmen kredit investasi, yang mencatatkan kenaikan hingga 21,06% yoy.
Di sisi lain, sektor kredit modal kerja hanya mengalami pertumbuhan sebesar 4,52% yoy, sedangkan kredit konsumsi menunjukkan angka 6,58% yoy. Meskipun pertumbuhan secara keseluruhan terlihat positif, perbedaan angka pertumbuhan antar sektor ini menandakan adanya dinamika yang perlu dieksplorasi lebih dalam.
Minat perbankan dalam penyaluran dana tetap solid, dengan syarat kredit yang menjadi lebih longgar untuk umumnya, meskipun ada kecenderungan untuk tetap ketat pada segmen UMKM dan konsumsi yang saat ini dikhawatirkan memiliki risiko lebih tinggi. Ini mencerminkan pendekatan hati-hati yang diambil oleh lembaga keuangan dalam memitigasi risiko.
Pertumbuhan Kredit dan Dampaknya Terhadap Ekonomi
Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit yang positif ini berkontribusi terhadap penguatan ekonomi makro. Pendanaan yang berasal dari kredit tersebut diharapkan tidak hanya mendukung sektor perusahaan, tetapi juga merangsang sektor-sektor lain dalam perekonomian.
Selain itu, dia menekankan pentingnya pengelolaan yang efektif dari undisbursed loan yang mencapai Rp 2.439,2 triliun pada Desember 2025. Angka ini mencerminkan potensi besar sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mendapatkan pembiayaan lebih lanjut.
Dari perspektif konsumen, peningkatan kredit investasi dapat mendorong pertumbuhan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini diproyeksikan mampu meningkatkan kepercayaan diri pelaku usaha untuk berinvestasi lebih banyak.
Peran Bank dalam Meningkatkan Penyaluran Kredit
Bank diharapkan dapat berperan aktif dalam memperluas penyaluran kredit, terutama kepada sektor yang membutuhkan dukungan tambahan. Jenis sektor yang memerlukan dana lebih untuk ekspansi, seperti UMKM, memerlukan perhatian serius dari lembaga keuangan.
Selain itu, penting juga untuk memiliki program pendidikan finansial yang dapat membekali pelaku usaha dengan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan dan cara menggunakan kredit dengan bijaksana. Ini akan membantu memastikan bahwa pinjaman yang diberikan tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek, tetapi juga untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Koordinasi antara Bank Indonesia dan lembaga pemerintah lainnya menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan kredit yang berkelanjutan. Hal ini meliputi regulasi yang mendukung serta program-program stimulus yang dapat memberikan manfaat bagi seluruh sektor ekonomi.
Proyeksi Pertumbuhan Kredit di Masa Depan
Melihat ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit akan tetap berada pada kisaran 8%-12% yoy pada tahun 2026. Dengan pendekatan yang hati-hati, lembaga ini akan terus memantau dinamika pasar serta berkoordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Para pelaku industri diharapkan dapat lebih agresif dalam melakukan ekspansi usaha, dengan memanfaatkan skema pembiayaan yang tepat. Dengan adanya potensi yang masih tersedia, sektor perbankan diharapkan dapat menciptakan lebih banyak kemungkinan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Peningkatan kredit juga harus dibarengi dengan upaya penguatan fundamental ekonomi. Kesadaran akan pentingnya pengelolaan risiko dan mitigasi yang sangat baik menjadi aspek krusial dalam menjaga stabilitas finansial dan mencegah risiko sistemik yang mungkin muncul di masa depan.
