slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Likuiditas Makin Longgar Sementara Pertumbuhan Kredit Terhambat

Likuiditas Makin Longgar Sementara Pertumbuhan Kredit Terhambat

Dalam perkembangan terbaru, sektor perbankan di Indonesia menghadapi tantangan dalam pertumbuhan kredit. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit perbankan mengalami pelambatan yang signifikan pada Oktober 2025, mencatat angka 7,36% secara tahunan dengan total mencapai Rp 8.220 triliun.

Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 7,7% yoy, dan juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan pertumbuhan 10,92% yoy. Hal ini mengisyaratkan perlunya analisis lebih dalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika ini.

Pertumbuhan kredit investasi menjadi satu-satunya indikator yang menunjukkan peningkatan dengan angka 15,72% yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan Oktober tahun lalu. Namun, di sisi lain, kredit modal kerja dan konsumsi menunjukkan kelesuan yang jauh lebih mendalam, menjadikannya pertanyaan penting bagi pengamat ekonomi sektor ini.

Perbedaan Pertumbuhan Antara Jenis Kredit yang Berbeda

Kredit investasi menjadi pendorong utama di tengah pelambatan ini, menandakan bahwa banyak perusahaan berinvestasi untuk memperluas kapasitas produksi mereka. Sebaliknya, kredit modal kerja mengalami penurunan yang signifikan, turun 686 basis poin secara tahunan.

Demikian pula, kredit konsumsi juga melambat dengan penurunan 398 basis poin. Situasi ini mencerminkan pengurangan daya beli konsumen yang mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk inflasi yang masih dipertahankan, yang mempengaruhi keputusan pembelian masyarakat.

Perlu dicatat bahwa pertumbuhan yang berbeda ini berdampak pada stabilitas keseluruhan sektor perbankan. Keberlanjutan kredit investasi sangat penting untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi, sementara penurunan dalam kredit lainnya menunjukkan perlunya perhatian khusus dari para pemangku kepentingan.

Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Likuiditas Perbankan

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mengalami peningkatan yang cukup solid, naik 11,48% yoy. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan DPK pada tahun lalu yang hanya mencapai 6,74% yoy, menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan.

Kondisi ini mengarah pada penurunan loan to deposit ratio (LDR) dari 87,5% menjadi 84,26%, menunjukkan bahwa likuiditas perbankan masih dalam kondisi baik. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan bahwa likuiditas industri perbankan sangat memadai untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Beliau juga menekankan bahwa rasio Al/NCD dan Al/DPK masing-masing mencapai 130,97% dan 29,43%, yang merupakan indikator penting dari kesehatan finansial bank. Kondisi seperti ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas sistemik di dalam sektor perbankan nasional.

Risiko dan Tantangan yang Dihadapi Sektor Perbankan

Tentunya di balik pertumbuhan positif DPK, muncul tantangan dalam bentuk rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL). Pada periode ini, NPL gross naik 5 basis poin menjadi 2,25%, sementara NPL net mengalami peningkatan 13 basis poin menjadi 0,9%.

Meskipun demikian, ada penurunan pada loan at risk (LAR) dari 9,94% menjadi 9,91%, yang menunjukkan upaya yang sedang dilakukan dalam mengelola risiko kredit. Hal ini menjadi penting untuk memastikan bahwa bank tetap beroperasi dengan aman di tengah ketidakpastian di pasar.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mencatat bahwa dalam konteks ini, penting untuk memperkuat permintaan domestik. Dengan inflasi yang moderat, dukungan kebijakan sangat diperlukan agar momentum pemulihan ekonomi tetap terjaga.

Penguatan permintaan domestik diharapkan dapat memacu pertumbuhan yang lebih baik di sektor perbankan. Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan risiko harus menjadi perhatian utama bagi semua pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, situasi saat ini menuntut perhatian dan tindakan cepat dari semua pihak untuk memastikan pertumbuhan perbankan yang sehat, tanpa mengesampingkan tanggung jawab dalam mengelola risiko yang ada. Analisis yang lebih dalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kredit perlu juga dilakukan untuk merumuskan strategi yang tepat ke depannya.