slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Kredit Tumbuh 7,74% hingga November 2025, OJK Yakin 2026 Positif

Kredit Tumbuh 7,74% hingga November 2025, OJK Yakin 2026 Positif

Kinerja sektor perbankan di Indonesia menunjukkan stabilitas yang mengesankan, meskipun kondisi ekonomi global dipenuhi ketidakpastian. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan bahwa kinerja intermediasi perbankan nasional akan terus berlanjut secara solid hingga tahun mendatang, didukung oleh pertumbuhan kredit yang berkelanjutan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan pentingnya permintaan pembiayaan dari sektor usaha. Selain itu, dinamika perekonomian nasional dan kondisi global akan sangat mempengaruhi realisasi proyeksi ini di lapangan.

Dian mencatat bahwa faktor eksternal meskipun menjadi perhatian, aspek penopang domestik tetap akan menjadi kunci. Dengan kondisi ini, OJK optimis bahwa pertumbuhan ekonomi dan intermediasi perbankan akan terjaga di tahun-tahun mendatang.

Proyeksi Kinerja Perbankan Nasional Hingga 2026

Hingga akhir November 2025, pertumbuhan kredit dalam sektor perbankan menunjukkan tanda-tanda melambat dibandingkan dengan kuartal pertama tahun yang sama. Meski demikian, OJK mencatat intermediasi perbankan yang stabil, dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai.

Dian melaporkan bahwa pada bulan November 2025, total kredit mencapai sekitar Rp8.314 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 7,74%. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 7,46%, menunjukkan adanya akselerasi meskipun pertumbuhannya tidak secepat yang diharapkan.

Proyeksi pertumbuhan kredit diperkirakan tetap berada di atas batas bawah target yang telah ditetapkan oleh regulator. OJK meyakini bahwa faktor-faktor domestik akan membantu dalam menjaga momentum ini menjelang akhir tahun.

Perkembangan Jenis Kredit dan Sektor Usaha

Dari segi jenis kredit yang ditawarkan oleh perbankan, kredit investasi mengalami pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 17,98% secara tahunan pada bulan November. Ini menggambarkan adanya ekspansi di dunia usaha meskipun sektor lainnya mengalami tantangan.

Kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,76% dan kredit modal kerja juga meningkat 2,04% dibandingkan tahun lalu. Meskipun terdapat pertumbuhan di sektor-sektor tersebut, segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi banyak tantangan.

OJK mengakui bahwa UMKM mengalami kontraksi akibat penyesuaian aktivitas usaha yang berlangsung lambat dan ketidakpastian dalam daya serap pembiayaan. Ini menjadi indikasi bahwa masih diperlukan langkah-langkah inovatif untuk memulihkan segmen ini.

Dinamisasi Pendanaan dan Suku Bunga Perbankan

Sementara itu, pendanaan perbankan di Indonesia melalui dana pihak ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan yang cukup stabil hingga mencapai 12,03% pada bulan November. Ini adalah peningkatan dari angka bulan sebelumnya yang tercatat 11,48% dan menunjang likuiditas perbankan yang sehat.

Kondisi likuiditas yang longgar ini juga tercermin dari penurunan suku bunga perbankan. Suku bunga kredit turun menjadi 8,96%, sementara suku bunga DPK berada di level 2,77%, dengan penurunan terbesar terlihat pada suku bunga deposito.

Kebijakan ini diharapkan dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi, tetapi OJK tetap mendorong perbankan untuk menjaga kesehatan likuiditas dan rentabilitas di tengah tantangan yang ada.

Kualitas Aset dan Ketahanan Perbankan Nasional

Dari sisi kualitas aset, OJK mencatat adanya perbaikan berkelanjutan. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross mengalami penurunan menjadi 2,21%, sementara NPL net membaik menjadi 0,86%, mencerminkan kondisi kesehatan sektor perbankan yang lebih baik.

Indikator risiko kredit lainnya, yakni Loan at Risk (LAR), juga menunjukkan perbaikan dengan angka 9,22%. Hal ini menjadi sinyal positif bagi para pemangku kepentingan di industri perbankan.

Kapitalisasi perbankan yang kuat juga menjadi salah satu pilar ketahanan sektor ini. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat di level 26,05%, meskipun sedikit mengalami penurunan dari 26,38%, namun tetap merupakan bantalan yang solid dalam menghadapi risiko yang mungkin terjadi di masa mendatang.