Harga minyak dunia menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2025. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global, sementara permintaan masih menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lemah.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh situasi geopolitik di Amerika Latin, terutama dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Hal ini pun menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan pencabutan sanksi dan embargo minyak AS terhadap negara tersebut.
Sejak akhir Desember, arah pasar minyak tampak rapuh. Harga Brent, yang sempat mencapai US$62,38 per barel pada 23 Desember, kini telah jatuh hampir 1,5%, mencerminkan kerentanan pasar dalam menghadapi masalah struktural yang mendasar.
Geopolitik dan Dampaknya Terhadap Pasar Minyak Global
Penangkapan Maduro mengarah pada diskusi intensif mengenai potensi kembalinya minyak Venezuela ke pasar global. Jika hal ini terwujud, Venezuela, yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bisa menambah jumlah pasokan yang sudah melimpah.
Tentu saja, situasi ini akan menambah kompleksitas bagi OPEC+ dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Dengan produksi minyak yang masih tertekan akibat sanksi, Venezuela berpotensi mengalami peningkatan output yang signifikan jika stabilitas politik terjaga.
Dalam beberapa tahun terakhir, Venezuela telah merasakan penurunan produksi tajam, bahkan mencapai angka sekitar 1,1 juta barel per hari. Namun, analis percaya bahwa dengan investasi asing dan pemulihan stabilitas politik, produksi bisa melonjak kembali.
Pembagian Cadangan dan Pengendalian Pasokan
Venezuela adalah anggota pendiri OPEC dengan cadangan sekitar 303 miliar barel. Hal ini menjadikan negara tersebut sebagai pemain penting dalam pasar minyak global, meskipun saat ini mengalami banyak tantangan. Penambahannya ke pasar akan menjadi beban bagi produsen lainnya.
Dengan kelebihan pasokan yang ada, OPEC+ harus memikirkan langkah strategis agar harga minyak tetap stabil. Tanpa langkah proaktif, Brent bisa mengalami penurunan yang lebih drastis, berpotensi jatuh di bawah kisaran US$55-60 per barel.
Pasar saat ini merespons dengan hati-hati. Turunnya harga Brent dan WTI mencerminkan kepercayaan investor yang lebih mengutamakan skenario pasokan berlebih daripada pemulihan permintaan yang kuat.
Proyeksi Harga Minyak di Tahun 2026 dan Kedaruratan OPEC+
Berdasarkan survei yang dilakukan pada bulan Desember lalu, banyak pelaku pasar meyakini bahwa harga minyak akan terus mengalami tekanan sepanjang tahun 2026. Proyeksi ini didukung oleh fakta bahwa pertumbuhan produksi global kemungkinan besar lebih cepat daripada pertumbuhan permintaan.
OPEC+ sedang dalam posisi sulit, di mana mereka harus menjaga keseimbangan untuk mencegah jatuhnya harga lebih dalam. Tindakan seperti pemangkasan produksi menjadi salah satu opsi yang mungkin harus dipertimbangkan jika pasokan Venezuela semakin berlimpah.
Oleh karena itu, situasi ini membuat OPEC+ harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Setiap keputusan yang diambil akan amat berpengaruh terhadap future market dan stabilitas harga minyak.
Di pasar yang sudah oversupply, setiap kenaikan harga disertai dengan kecenderungan penjualan cepat oleh para pelaku pasar. Setiap berita terkait potensi penambahan pasokan dari Venezuela menjadi pemicu utama yang menghambat harga untuk berhasil bertahan lebih lama.
Pada gilirannya, investor kini lebih memilih untuk mengambil sikap defensif terhadap pasar minyak. Penurunan harga Brent dan WTI yang terbaru memperlihatkan betapa besarnya pengaruh faktor-faktor eksternal dalam pergerakan harga minyak secara global.
Sementara pasar minyak terus berfluktuasi, perhatian masih tertuju pada bagaimana OPEC+ akan menangani masalah yang ada, terutama faktor eksternal yang dapat merugikan kestabilan harga minyak. Ke depan, langkah-langkah strategis akan sangat diperlukan agar kondisi pasar tidak semakin memburuk.
