Jadwal uji kelayakan dan kepatutan untuk calon dewan gubernur Bank Indonesia telah ditetapkan oleh Komisi XI DPR RI. Hal ini menandakan langkah penting dalam proses peralihan kepemimpinan, terutama setelah pengunduran diri Juda Agung pada 13 Januari 2026.
Dalam rapat yang diadakan pada 20 Januari 2026, para anggota komisi meratifikasi bahwa sesi fit and proper test akan dilaksanakan pada Jumat dan Senin di minggu mendatang. Rencana ini dianggap krusial untuk memastikan kelayakan para calon yang diusulkan untuk mengisi posisi penting di Bank Indonesia.
Menurut pernyataan Misbakhun, anggota Komisi XI, semua persiapan untuk uji kelayakan ini telah dilakukan. Ia menekankan bahwa setiap calon harus memenuhi standar yang ditentukan agar dapat membawa kemajuan bagi lembaga keuangan negara.
Persiapan dan Nomor Urut Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia
Pada 23 Januari 2026, Solikin M. Juhro menjadi calon pertama yang akan menjalani sesi tersebut. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial di Bank Indonesia.
Solikin diharapkan dapat menunjukkan kemampuannya dan memberikan argumen yang meyakinkan dalam sesi ini. Keberhasilannya dalam uji kelayakan ini akan menjadi penentu bagi langkah karirnya selanjutnya di lembaga keuangan ini.
Selanjutnya, pada 26 Januari 2026, dua calon lainnya, Dicky Kartikoyono dan Thomas Djiwandono, akan mengikuti sesi yang sama. Dicky menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, menunjukkan kompetensi yang kuat di bidangnya.
Thomas, seorang pemimpin yang berpengaruh, saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Dia juga memiliki koneksi signifikan dalam dunia politik yang kemungkinan dapat menambah dimensi baru bagi kepemimpinan Bank Indonesia.
Kedua calon tersebut diharapkan dapat memperlihatkan visi dan kompetensi yang jelas terkait peran yang akan mereka emban. Ini sangat penting untuk mendapatkan kepercayaan anggota Komisi XI dan publik.
Proses dan Harapan dari Fit and Proper Test
Setelah rangkaian fit and proper test dilaksanakan, keputusan akhir mengenai pemilihan deputi gubernur baru akan dilakukan oleh anggota Komisi XI. Musyawarah untuk mufakat akan menjadi cara utama dalam pengambilan keputusan tersebut.
Proses pemilihan ini diharapkan berjalan dengan transparan dan adil, demi kepentingan kalahiran Bank Indonesia. Pemilihan langsung ini menjadi sorotan, mengingat peran penting yang dimiliki lembaga tersebut dalam mengontrol kebijakan moneter nasional.
Hal ini tentunya sangat mempengaruhi kestabilan ekonomi dan keuangan negara. Dengan pemimpin yang tepat, Bank Indonesia dapat menjalankan tugasnya dalam menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar.
Keberhasilan calon-calon ini tidak hanya bergantung pada kompetensi, tetapi juga pada kemampuan mereka untuk berkolaborasi dengan anggota dewan lainnya. Dalam masa sulit ini, sinergi yang kuat akan menjadi kunci pencapaian kebijakan yang efektif.
Pembentukan tim yang solid di dalam lembaga sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan yang ada. Oleh karena itu, ekspektasi terhadap calon-calon ini cukup tinggi di kalangan pemangku kepentingan.
Profil Singkat Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia
Solikin M. Juhro menunjukkan kemampuan luar biasa dalam bidang makroprudensial yang diharapkan dapat berkontribusi bagi stabilitas ekonomi. Pengalamannya di departemen ini membekalinya dengan wawasan yang mendalam.
Dicky Kartikoyono, yang sudah pernah mengikuti uji kelayakan sebelumnya, memiliki pengalaman yang matang di departemen pembayaran. Pengalamannya itu memberikan nilai tambah yang signifikan untuk posisinya saat ini.
Sementara itu, Thomas Djiwandono tidak hanya memiliki keahlian dalam kebijakan keuangan, tapi juga hubungan yang kuat dalam dunia politik. Ketersambungannya dengan berbagai pihak dapat menjadi aset strategis bagi Bank Indonesia.
Dengan latar belakang yang berbeda, para calon ini memiliki potensi untuk membawa berbagai perspektif yang bermanfaat. Perbedaan ini bisa menjadi inspirasi untuk inovasi di Bank Indonesia ke depan.
Keberadaan mereka di posisi penting ini akan menentukan arah dan kebijakan lembaga ke depan. Semua mata kini tertuju pada hasil fit and proper test berikutnya, yang diharapkan dapat melahirkan pemimpin berkompeten untuk lembaga ini.
