slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

Investor Selamat Weekend IHSG Naik 0,59 Persen ke 8.118,30

Investor Selamat Weekend IHSG Naik 0,59 Persen ke 8.118,30

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan dengan kenaikan 0,59% pada perdagangan terbaru, mencapai 8.118,30. Dengan total 259 saham mengalami kenaikan, 403 turun, dan 136 tidak bergerak, dinamika pasar terlihat sangat menarik pada hari ini.

Nilai transaksi yang tercatat cukup tinggi dengan total mencapai Rp 22,98 triliun, melibatkan lebih dari 45,5 miliar saham dalam 2,56 juta kali transaksi. Sebagian besar sektor perdagangan berada di zona hijau, dengan utilitas dan industri menjadi sektor yang paling menguat.

Saham-saham yang berafiliasi dengan konglomerat juga mencatatkan performa yang baik, dengan beberapa nama saham seperti BUVA dan CBRE mencapai batas auto rejection atas. Sementara itu, emiten energi baru terbarukan milik seorang pengusaha terkemuka juga berkontribusi signifikan terhadap kenaikan IHSG.

Prospek Pasar Saham di Tengah Ketidakpastian Global

Panjang lebar, pasar keuangan Indonesia menunjukkan kinerja yang positif meski minim sentimen positif dari data ekonomi. Agaknya, fenomena yang dikenal sebagai “Bear Killer” di bulan Oktober kali ini mendorong optimisme para investor.

Secara tradisional, bulan Oktober dikenal sebagai periode di mana pasar saham mulai menunjukkan kekuatannya setelah periode September yang biasanya mengalami penurunan. Namun, kondisi yang dihadapi saat ini menunjukkan bahwa teori ini sedang diuji di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup bulan September dengan menguat 2,94%, kini pasar kembali menghadapi tantangan dari potensi dampak dari government shutdown di AS. Meskipun September kali ini mencatatkan kinerja yang baik, ancaman dari luar masih menyelimuti pasar domestik.

Cuplikan Kinerja IHSG Sepanjang September 2025

Pada akhir September 2025, IHSG mencapai angka 8.061,06, terlepas dari kecenderungan penurunan yang biasanya terjadi di bulan tersebut. Penguatan ini diakibatkan oleh beberapa faktor penting, termasuk pemangkasan suku bunga Bank Indonesia dan sejumlah kebijakan baru dari Kementerian Keuangan.

Reputasi bulan September saat ini menjadi bait yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana hanya dua dari sembilan tahun terakhir IHSG berakhir di zona hijau. Tahun ini, berbagai faktor turut andil dalam menciptakan anomali tersebut.

Selama bulan tersebut, langkah-langkah strategis termasuk penyediaan likuiditas oleh pemerintah dan insentif fiskal menjadi pendorong utama. Semua ini menunjukkan adanya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter yang berupaya menggairahkan kembali perekonomian.

Indikasi Positif dari Pasar Asia dan Dampaknya terhadap IHSG

Di sisi lain, pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan tren penguatan, mengikuti pergerakan positif dari bursa di Wall Street. Investor menunjukkan optimisme meskipun ada risiko terkait kebijakan pemerintahan AS yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi global.

Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 0,42% pada awal perdagangan, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong diperkirakan melemah, tetapi masih berada pada level yang relatif stabil. Dampak dari libur di pasar China dan Korea Selatan juga menjadi faktor yang mengurangi volatilitas di kawasan tersebut.

Meski sebagian besar pasar saham Asia mencatatkan penguatan, pengaruh dari pemerintah Amerika Serikat tetap menjadi perhatian. Penutupan pemerintahan tidak secara langsung memengaruhi pasar keuangan global, namun ketidakpastian berkepanjangan dapat memicu perubahan tren yang tidak diinginkan.