Pasar saham Indonesia mengalami fluktuasi yang menarik perhatian para investor. Meskipun terdapat tekanan dari aksi jual investor asing, beberapa saham tetap menunjukkan kekuatan dan berhasil mendukung pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Di tengah situasi yang tidak menentu ini, sentimen global juga turut mempengaruhi arah pasar. Investor harus cermat dalam mengambil keputusan agar dapat meraih keuntungan di tengah ketidakpastian.
Kondisi tersebut terlihat jelas ketika IHSG ditutup pada level 8.265,35, mengalami penurunan 0,31%. Meskipun pasar secara keseluruhan melemah, ada beberapa saham yang menjadi penopang utama dan menarik perhatian pihak investor.
Tekanan Investor Asing Menghantui Pasar Saham
Aksi jual yang dilakukan oleh investor asing mencatatkan nilai net sell sebesar Rp2,03 triliun di pasar reguler dan Rp1,49 triliun di seluruh pasar. Hal ini menciptakan sentimen negatif di kalangan investor lokal yang khawatir akan dampak lebih lanjut dari arus keluar modal tersebut.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, penting bagi investor untuk mempertimbangkan sektor mana yang menunjukkan ketahanan. Meskipun banyak saham tertekan, beberapa seperti ENRG, BMRI, dan TLKM berhasil menopang IHSG dengan performa yang relatif stabil.
Sementara itu, sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling terdampak dengan penurunan yang cukup signifikan. Banyak analis pasar yang menyarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio guna mengurangi risiko yang dihadapi di tengah penurunan ini.
Pelemahan Bursa Amerika Serikat Berdampak pada Pasar Domestik
Sentimen global yang negatif juga berkontribusi terhadap pelemahan IHSG. Bursa saham di Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang terlihat dari penurunan indeks seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq.
Dampak dari volatilitas ini mulai terasa di pasar domestik, di mana arus keluar dana asing semakin deras dan mempengaruhi kinerja berbagai instrumen investasi. Pelaku pasar penting untuk tetap waspada terhadap perkembangan ini dan mengadaptasi strategi investasi mereka.
Pergerakan ETF EIDO dan MSCI Indonesia juga menunjukkan dampak dari tekanan tersebut, yang memperlihatkan adanya penurunan nilai yang cukup tajam. Ini menandakan bahwa investor harus lebih selektif dalam memilih saham dan siap untuk beradaptasi dengan kondisi yang berubah-ubah.
Kinerja Emiten yang Berhasil Tampil Cemerlang di Tengah Tekanan
Meskipun situasi pasar tidak stabil, ada beberapa emiten yang berhasil mencatatkan kinerja positif. Contohnya, Unilever Indonesia mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan, mencapai 126,83% secara tahunan pada tahun 2025.
Peningkatan laba bersih ini didorong oleh pertumbuhan penjualan yang tercatat baik, mencapai Rp31,94 triliun. Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menunjukkan pertumbuhan yang stabil, membuktikan bahwa permintaan tetap ada di tengah ketidakpastian pasar.
Selain itu, efisiensi dalam pengendalian biaya juga berkontribusi terhadap pertumbuhan laba usaha emiten. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan dapat beradaptasi dengan baik meskipun menghadapi tantangan dari faktor eksternal.
Rencana Ekspansi Samudera Indonesia untuk Masa Depan
Di sisi lain, Samudera Indonesia juga menunjukkan komitmennya untuk terus berkembang dengan merencanakan belanja modal sekitar US$200 juta atau setara Rp3,36 triliun pada tahun 2026. Investasi ini akan dialokasikan untuk peningkatan kapasitas armada dan infrastruktur logistik.
Pembelian armada kapal serta pengembangan fasilitas kepelabuhanan menjadi prioritas utama dalam rencana ekspansi ini. Rencana tersebut berpotensi mendapatkan dukungan dari kebijakan insentif yang sedang dirumuskan oleh pemerintah untuk mengurangi biaya produksi.
Jika kebijakan tersebut terealisasi, biaya proyek yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat ditekan, sehingga lebih menguntungkan bagi pertumbuhan jangka panjang. Ini menjadi sinyal positif bagi para investor yang mempertimbangkan untuk berinvestasi di sektor ini.
