Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan, mengoreksi 61,06 poin atau turun 0,71% menjadi 8.584,78. Dalam sesi hari itu, tercatat 275 saham berhasil naik, sementara 373 saham mengalami penurunan, dan 157 saham lainnya tidak bergerak alias stagnan.
Nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp 24,59 triliun, dengan melibatkan sekitar 41,69 miliar saham dalam total 2,76 juta kali transaksi. Sektor-sektor yang mendominasi penurunan harga saham termasuk energi dan properti, menunjukkan adanya tekanan di pasaran.
Walaupun sebagian besar sektor mengalami pelemahan, sektor teknologi dan industri berhasil menunjukkan sedikit penguatan. Namun, emiten dengan kapitalisasi pasar besar tetap menjadi faktor utama yang menggerakkan IHSG ke arah negatif.
Analisis Pergerakan Saham dan Faktor Penyebabnya
Emiten-emiten dengan kapitalisasi raksasa, seperti Dian Swatatika Sentosa, memberikan kontribusi besar terhadap pelemahan IHSG. Saham yang berasal dari sektor pertambangan batu bara ini mengalami koreksi signifikan, menambah beban pada indeks utama.
Selain itu, saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,83%, berkontribusi pada pelemahan sebanyak 14,19 poin indeks. Saham-saham lain yang memperberat performa IHSG termasuk BRPT, AMMN, dan BUMI, yang menunjukkan bahwa situasi pasar masih dipenuhi dengan ketidakpastian.
Hari itu, pelaku pasar mulai mengarahkan fokus mereka pada data ekonomi global. Informasi terbaru tentang ekonomi AS dan China menjadi perhatian utama, terutama mengenai suku bunga dan jumlah uang yang beredar.
Kongres Pers dan Implikasi Kesepakatan Perdagangan
Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti konferensi pers yang membahas kesepakatan perdagangan antara AS dan Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bersama Duta Besar RI untuk AS, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menyampaikan harapan bahwa berita yang dibagikan dapat meringankan kekhawatiran seputar kesepakatan dagang.
Konferensi pers ini diadakan pada pukul 08.30 WIB dan menjadi titik penting untuk menjawab isu mengenai potensi penghentian kesepakatan yang awalnya ditandatangani pada Juli 2025. Kenyataan bahwa kesepakatan ini dapat berdampak terhadap tarif ekspor Indonesia ke AS membuat perhatian dari investor semakin meningkat.
Dampak dari kesepakatan perdagangan ini mencakup berbagai spektre mulai dari ekspor, penciptaan lapangan kerja, hingga pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Dengan situasi yang menggantung, hasil dari konferensi pers ini sangat dinanti oleh pelaku pasar.
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi AS dan Dampaknya di Pasar Global
Sorotan lain datang dari rilis final Pertumbuhan Ekonomi (GDP) AS untuk kuartal III-2025, yang diperkirakan akan menunjukkan perlambatan. Proyeksi pasar mencatat bahwa ekonomi AS kemungkinan tumbuh melambat ke level 3,2%, dari estimasi sebelumnya yang mencapai 3,8%.
Walaupun perlambatan ekonomi biasanya dipandang negatif, angka 3,2% kali ini justru menjadi sinyal positif bagi pasar yang percaya bahwa perlambatan ini bisa diimbangi dengan inflasi terukur. Kabar baik ini menunjukkan bahwa skenario Soft Landing masih memungkinkan untuk mencapai pertumbuhan yang stabil.
Dalam konteks ini, perlambatan yang terukur disertai inflasi yang terkendali di level 2,7% menunjukkan bahwa ekonomi masih berada dalam jalur yang baik. Kebijakan moneter yang dilaksanakan The Federal Reserve untuk memangkas suku bunga menjadi lebih agresif seiring dengan situasi ini.
Pergerakan Pasar Saham Asia-Pasifik dan Ekspektasi ke Depan
Pasar saham di Asia-Pasifik juga menunjukkan penguatan pada perdagangan hari itu. Perdagangan saham yang terkait dengan teknologi, khususnya yang berekspos terhadap kecerdasan buatan, memicu optimisme dan efek positif di Wall Street.
Indeks S&P/ASX 200 di Australia pun mencatatkan kenaikan sebesar 0,46%, menandakan tren positif selama empat hari berturut-turut. Indeks Nikkei 225 di Jepang juga menguat, naik 0,18%, sementara indeks Topix menunjukkan kenaikan lebih besar sebesar 0,37%.
Indeks Kospi di Korea Selatan dan Kosdaq juga mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 0,32% dan 0,21%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng di Hong Kong berada pada level lebih tinggi dari penutupan terakhir, mengindikasikan sentimen yang optimis di wilayah tersebut.
Di Asia Tenggara, perhatian kini beralih pada data inflasi di Singapura. Para ekonom memprediksi inflasi bulan November akan mencapai level tertinggi di 2025, yang dapat memberikan dampak signifikan bagi kebijakan ekonomi di kawasan.
Dengan dinamika yang terjadi, pelaku pasar harus tetap waspada. Momen ini adalah kesempatan bagi investor untuk mengevaluasi potensi risiko dan keuntungan yang mungkin muncul dari kebijakan dan ekonomi global yang terus berubah.
