slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong slot mahjong QQCUAN agencuan slot88 agencuan https://bola169new.com/ phishing phishing
qqcuan AGENCUAN https://ademsari.co.id/ https://bitcoinnews.co.id/ https://dermaluz.co.id/ https://jiexpo.co.id/ https://donghan.co.id/ https://icconsultant.co.id/ https://metroindo.co.id/ https://bentogroup.co.id/ https://gatranews.co.id/ https://kacapatri.co.id/ https://gemilangsukses.co.id/ https://siomom.id/ https://situskita.id/ https://masyumi.id/ https://dapurdia.id/ https://baginasipagi.id/ https://bacaajadulu.id/ https://sukagaming.id/ https://sobatsandi.id/ https://ragaminspirasi.id/ https://salamdokter.id/
https://berita-sumatra.id/ https://seongiclik.id/ https://mangu.id/ https://daily-news.id/

IHSG Sesi 1 Menguat 0,13 Persen ke Level 8.947

IHSG Sesi 1 Menguat 0,13 Persen ke Level 8.947

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren positif di awal pekan ini. Pada hari Senin, IHSG tercatat naik sebesar 0,13% atau setara dengan 11,21 poin, mencapai posisi 8.947,96, memperlihatkan dinamika yang kuat di pasar saham Indonesia.

Dalam perdagangan tersebut, terlibat 359 saham yang menguat, sedangkan 311 saham mengalami penurunan, dan 141 saham lainnya tetap tak bergerak. Transaksi yang terjadi hingga saat ini mencapai nilai sebesar Rp 18,72 triliun, dengan total 33,85 miliar saham diperjualbelikan melalui sekitar 2,62 juta kali transaksi.

Pasar juga menyaksikan kapitalisasi pasar yang naik menjadi Rp 16.290 triliun atau hampir menyentuh angka US$ 1 triliun. Saham yang menjadi incaran di kalangan investor antara lain Bumi Resources, Antam, dan Pakuwon Jati, dengan total transaksi mendekati Rp 3 triliun.

Sentimen Pasar di Tengah Libur yang Singkat

Pasar keuangan Indonesia hanya akan beroperasi selama empat hari pada pekan ini. Hal ini disebabkan adanya libur Isra Mi’raj pada hari Jumat yang membuat aktivitas perdagangan berhenti sejenak.

Dengan periode perdagangan yang relatif pendek, investor diminta untuk mengamati sejumlah sentimen pasar yang mungkin berpengaruh. Fokus utama saat ini adalah data inflasi dari Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Pelaku pasar juga menantikan perkembangan harga sejumlah komoditas yang sedang mengalami kenaikan. Pasar tampaknya disiapkan untuk merespons berita inflasi dengan perkiraan yang menunjukkan bahwa inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di akhir tahun 2025.

Situasi Inflasi dan Komoditas Global yang Tak Menentu

Perlu dicatat bahwa angka inflasi tersebut bukanlah rilis resmi dari Consumer Price Index (CPI) untuk bulan Desember. Melainkan, ini adalah estimasi yang diambil dari data terakhir yang tersedia, mengingat keterlambatan penyampaian data oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Dari sisi regional, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada ketidakpastian yang meningkat di tengah kondisi geopolitik global. Rilis inflasi dari China tentunya menjadi salah satu faktor yang menggerakkan sentimen pasar.

China mencatat inflasi sebesar 0,8% secara tahunan, yang merupakan angka tertinggi dalam kurun hampir tiga tahun, meskipun masih ada tekanan deflasi yang belum sepenuhnya teratasi. Di sisi lain, pasar berharap surplus neraca perdagangan China akan meningkat lebih banyak untuk periode bulan Desember 2025 dibandingkan bulan sebelumnya.

Indikator Ekonomi Domestik yang Menarik untuk Dipantau

Khusus untuk pasar domestik, ada sejumlah data ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah pasar pada pekan depan. Salah satunya adalah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang meluas dan laporan penjualan ritel yang dijadwalkan akan dirilis.

Bank Indonesia melaporkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) pada bulan Oktober tercatat di angka 219,7. Ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,3% secara tahunan dibandingkan dengan bulan September yang hanya tumbuh 3,7%, mencatatkan hasil terbaik sejak Juli 2025.

Pertumbuhan ini terutama dipicu oleh kategori penjualan makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 6,4%, serta barang budaya dan rekreasi yang mencatat pertumbuhan 6,7%. Kedua kategori itu menjadi pendorong utama dalam penguatan penjualan ritel.

Meski begitu, terdapat penurunan pada beberapa kategori seperti bahan bakar yang menyusut 1,0% dan penjualan aksesori otomotif yang sedikit melambat menjadi 12,0%. Hal ini menunjukkan adanya tantangan dalam sektor tertentu yang perlu dicermati lebih lanjut.

Oleh karena itu, bagi pelaku pasar, sangat penting untuk terus memonitor berbagai aspek tersebut. Data-data yang akan datang diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasar dan ekonomi keseluruhan.