Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan pada pekan lalu, meninggalkan level psikologis yang penting yaitu 9.000. Penutupan pada hari Jumat (23/1/2026) menunjukkan penurunan sebesar 0,46% ke angka 8.951,01, sebuah fenomena yang mendapat perhatian luas dari para investor dan pelaku pasar.
Sepanjang pekan lalu, IHSG tercatat melemah hingga 1,37%, dengan tiga hari berturut-turut ditutup di zona merah. Hal ini mencerminkan tingkat ketidakpastian yang tinggi di pasar dan reaksi negatif para investor terhadap berbagai faktor ekonomi dan berita makroekonomi saat ini.
Rata-rata nilai transaksi harian mengalami peningkatan sebesar 3,59%, menjadi Rp 33,85 triliun. Meski demikian, frekuensi transaksi harian menunjukkan penurunan sekitar 2,66% dibandingkan pekan sebelumnya, menciptakan gambaran pasar yang cukup beragam dalam aktivitasnya.
Dampak Penjualan Bersih oleh Investor Asing
Pelemahan IHSG tidak lepas dari aksi jual besar-besaran yang dilakukan oleh investor asing, yang mencatatkan penjualan bersih mencapai Rp 3,05 triliun di seluruh pasar. Rinciannya menunjukkan bahwa mayoritas penjualan terjadi di pasar reguler, sebesar Rp 2,91 triliun, dan sisanya di pasar negosiasi serta tunai.
Saat kondisi pasar bergejolak, investor asing menambah ketidakpastian dengan langkah-langkah strategis yang mereka ambil. Penjualan bersih yang signifikan ini menunjukkan keengganan investor untuk mengambil posisi pada saat IHSG menunjukkan tanda-tanda melemah.
Satu catatan menarik adalah FAP Agri yang berhasil mencatatkan net foreign buy terbesar, mencapai Rp 1,08 triliun. Transaksi ini menyoroti potensi di balik beberapa emiten yang masih diminati oleh pemodal asing meski IHSG mengalami tekanan secara keseluruhan.
Pemilihan Saham yang Diminati oleh Investor Asing
Dalam situasi yang sulit seperti ini, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi salah satu emiten yang paling menarik perhatian investor asing, dengan net buy mencapai Rp 440,9 miliar. Hal ini menunjukkan kepercayaan yang masih ada terhadap fundamental emiten besar di Indonesia.
Sementara itu, Alamtri Resources (ADRO) juga menarik minat yang cukup besar, dengan net buy sekitar Rp 414,9 miliar. Saham-saham lain seperti Astra International dan Vale Indonesia juga menunjukkan daftar inflow yang baik, membuktikan bahwa beberapa sektor masih dilihat menjanjikan oleh pelaku pasar.
Berdasarkan laporan dari analis pasar, berikut adalah sepuluh saham yang mengalami net foreign buy terbesar selama pekan lalu. Ini mencerminkan preferensi sektor tertentu yang mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi investor jangka panjang.
Daftar Saham Favorit Investor Asing di Pasar
Daftar sepuluh saham dengan net foreign buy terbesar memberikan gambaran akan dinamika pasar yang sedang berlangsung. Di bagian teratas, PT FAP Agri Tbk. menjadi yang paling mencolok dengan total pembelian bersih mencapai Rp 1,08 triliun.
Bank Rakyat Indonesia menempati posisi kedua, dengan jumlah net buy Rp 440,9 miliar, sedangkan Alamtri Resources menyusul di posisi ketiga. Saham-saham yang memiliki potensi pertumbuhan yang baik dalam jangka panjang cenderung menjadi pilihan utama bagi investor.
Adapun daftar lengkapnya yaitu PT Astra International, PT Vale Indonesia, dan beberapa emiten lainnya yang menunjukkan daya tarik masing-masing sektor yang berbeda. Keberagaman ini membuat pasar saham Indonesia tetap dinamis dan menarik perhatian para investor.
