Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 1,01% atau 86,53 poin, mencapai level 8.624,44 pada perdagangan intraday hari ini. Kenaikan ini ditopang oleh performa positif dari sejumlah saham, menandakan optimisme di kalangan investor saat memasuki akhir tahun.
Dalam transaksi yang berlangsung, tercatat bahwa sebanyak 480 saham mengalami kenaikan, sementara 234 saham mengalami penurunan dan 244 lainnya tidak menunjukkan pergerakan signifikan. Nilai transaksi yang terjadi pun menyentuh angka Rp 15,78 triliun, melibatkan 27,42 miliar saham dengan total 2,02 juta kali transaksi, mencerminkan aktivitas pasar yang cukup dinamis.
Beberapa emiten besar seperti Salim, Bakrie, dan Prajogo Pangestu menjadi penggerak utama yang menunjukkan kinerja baik dalam bursa. Emiten Amman Mineral menyumbang 12,85 poin untuk indeks, diikuti oleh Barito Pacific yang menyumbang 8,43 poin, dan Bumi Resources Minerals dengan kontribusi 8 poin dalam kondisi pasar yang bullish.
Pergerakan Modal Asing Jelang Penutupan Tahun 2025
Jelang akhir tahun, aliran modal asing menunjukkan tren positif dengan net buy sebesar Rp 1,7 triliun pada sesi pertama perdagangan. Hal ini memberikan dorongan tambahan bagi IHSG, mengindikasikan kepercayaan investor asing terhadap potensi pasar Indonesia di tahun mendatang.
Sementara itu, emiten-emiten yang bergerak signifikan dapat menahan penurunan di sejumlah saham blue chip seperti DCI Indonesia dan Dian Swastatika Sentosa. Kinerja positif dari emiten lokal memberikan harapan bahwa pasar akan tetap stabil meski tantangan global kian kompleks.
Pada pekan terakhir perdagangan ini, pelaku pasar dihadapkan oleh rilis beberapa data ekonomi yang dipandang penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Data tersebut berpotensi menghasilkan volatilitas yang baru, mengingat investor akan cermat dalam mencerna informasi yang akan mempengaruhi kebijakan moneter ke depan.
Data Ekonomi Penting yang Diperhatikan Investor
Dari sisi domestik, perhatian utama investor terfokus pada rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk bulan Desember dan data Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur. Rilis-rilis ini diyakini akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ekonomi domestik dan potensi pertumbuhannya.
Sementara itu, di tingkat global, pasar juga akan mencermati kebijakan moneter dari negara besar seperti Jepang, China, dan Amerika Serikat. Rilis data inflasi di AS dan hasil risalah dari pertemuan FOMC The Fed menjadi sorotan, serta dampaknya terhadap aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor juga akan mengawasi sinyal dari Bank of Japan dan perkembangan sektor manufaktur di China yang semakin menambah ketidakpastian. Sentimen risiko global diperkirakan akan berfluktuasi, mempengaruhi pergerakan dolar AS dan berbagai instrumen investasi lainnya.
Volatilitas Pasar di Akhir Tahun 2025
Meski hanya tersisa tiga hari perdagangan di pekan ini akibat libur tahun baru, kemungkinan volatilitas tetap tinggi sangat memungkinkan. Pasar akan terus berusaha mencerna berbagai informasi penting yang dirilis menjelang tutup tahun, dan hal ini dapat memicu pergerakan harga yang tidak terduga.
Sebelum masuk ke tahun baru, pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan mempersiapkan strategi yang cermat untuk menghadapi potensi perubahan arah ekonomi dan kebijakan moneter. Pendekatan yang hati-hati dipandang diperlukan untuk merespons dinamika yang terjadi di pasar global.
Dengan suasana perdagangan yang penuh ketidakpastian, setiap langkah yang diambil di pasar saham harus didasarkan pada analisis yang matang. Ini adalah saat yang tepat bagi investor untuk mengevaluasi portofolio mereka dan mencari peluang yang dapat memaksimalkan potensi keuntungan di tahun yang baru.
