Pada akhir Desember 2025, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan tekanan global yang terus menguat, terutama yang berhubungan dengan kebijakan moneter Amerika Serikat yang berimbas pada ekonomi lokal.
Dalam sejarah, saat nilai tukar rupiah mengalami penurunan drastis, kita sering kali menyaksikan dampak yang lebih luas dari sekedar angka. Krisis moneter 1998 menjadi salah satu contoh jelas bagaimana faktor-faktor eksternal dapat mempengaruhi geopolitik dan stabilitas negara.
Saat itu, sorotan tajam fell pada lonjakan nilai dolar yang berkontribusi pada runtuhnya pemerintah Presiden Soeharto. Meskipun ada pergantian kepemimpinan kepada Presiden B.J. Habibie, banyak yang skeptis terhadap kemampuannya untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
Siklus Krisis dan Pemulihan Nilai Tukar Rupiah
Meskipun pada awalnya banyak orang meragukan kemampuan Habibie, ia mampu menunjukkan bahwa pemulihan nilai tukar rupiah bukanlah sebuah ilusi. Dalam waktu yang relatif singkat, ia berhasil mendorong kebangkitan ekonomi dengan serangkaian kebijakan penting.
Kebijakan yang dia terapkan tidak hanya berfokus pada stabilitas mata uang, tetapi juga menyentuh sektor perbankan dan perekonomian yang lebih luas. Hal ini memberikan gambaran bahwa dalam menghadapi krisis, solusi yang komprehensif sangat diperlukan.
Salah satu langkah awal yang diambil adalah melakukan restrukturisasi sektor perbankan. Ini menjadi salah satu pilar penting untuk memperkuat keyakinan masyarakat terhadap keamanan finansial di tengah ketidakpastian.
Restrukturisasi Sektor Perbankan sebagai Langkah Awal
Dengan krisis yang mengguncang banyak bank, Habibie mengambil tindakan tegas untuk mengatasi masalah ini. Penutupan dan penggabungan bank-bank bermasalah menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan sistem perbankan nasional.
Salah satu contohnya adalah penggabungan empat bank milik negara menjadi Bank Mandiri, sebuah langkah yang tidak hanya memudahkan pengelolaan tetapi juga meningkatkan efisiensi. Langkah ini juga diharapkan dapat membantu mencegah krisis serupa di masa depan.
Selain itu, Habibie juga memisahkan Bank Indonesia dari pemerintahan. Kebijakan ini ditujukan agar bank sentral bisa menjalankan fungsi utamanya secara independen, sehingga kebijakan moneter menjadi lebih kredibel di mata pasar.
Kebijakan Moneter Ketat untuk Pulihkan Kepercayaan Pasar
Setelah perbankan mengalami perombakan, langkah kedua yang diambil adalah penerapan kebijakan moneter ketat. Penggunaan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan suku bunga tinggi ditujukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dan mendorong masyarakat untuk kembali menanamkan dananya.
Kebijakan ini terbukti efektif, di mana suku bunga yang awalnya melonjak tinggi perlahan menurun. Sebagai hasilnya, kepercayaan publik perlahan pulih, dan dampaknya dapat dilihat dari stabilitas nilai tukar rupiah yang mulai terjaga.
Melalui kombinasi tersebut, Habibie berhasil meneguhkan pondasi pemulihan ekonomi Indonesia di tengah badai krisis yang melanda. Pada akhirnya, langkah-langkah ini mendemonstrasikan pentingnya kebijakan moneter yang responsif dan adaptif dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
Mengendalikan Harga Bahan Pokok sebagai Strategi Tambahan
Di samping langkah-langkah dalam perbankan dan moneter, pengendalian harga kebutuhan pokok juga menjadi perhatian Habibie. Dalam situasi krisis, stabilitas harga pangan dan energi sangatlah krusial untuk menjaga daya beli masyarakat.
Pemerintah berupaya mempertahankan harga-harga strategis seperti listrik dan bahan bakar agar tidak melambung tinggi, mencegah penurunan daya beli yang lebih dalam. Kebijakan ini mendorong kepercayaan masyarakat sehingga mereka merasa lebih aman dalam bertransaksi.
Walau ada kontroversi, termasuk anjuran puasa dari Habibie untuk menghemat, hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan yang diterapkan membuahkan hasil. Keberhasilan tersebut adalah gambaran nyata bahwa kebijakan yang berani dan taktis dapat menghasilkan pemulihan yang signifikan.
