Transformasi digital yang diadopsi oleh Bank Perekonomian Rakyat (BPR) telah menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian lokal. Di tengah kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan dana serta kestabilan lembaga keuangan, kinerja positif beberapa BPR semakin memantapkan keyakinan publik akan manfaat digitalisasi dalam sektor perbankan.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak BPR yang mengalami pertumbuhan aset serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mengesankan. Peningkatan ini didorong oleh penerapan layanan digital serta kolaborasi dengan mitra teknologi, yang memberi kontribusi positif tidak hanya kepada kinerja perbankan tetapi juga kepada aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan operasional BPR tersebut.
Contoh nyata ketahanan lembaga BPR terlihat pada BPR Muhadi yang beroperasi di Brebes, Jawa Tengah. Meskipun tergolong baru dan menghadapi tantangan pandemi COVID-19 di fase awal, BPR ini berhasil mencatatkan kinerja yang positif dan terus berkembang sampai saat ini.
BPR Muhadi, yang mulai beroperasi pada Juli 2018, awalnya mengalami kerugian. Namun, kondisi ini segera pulih pada tahun 2019 dan terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif hingga mencapai total aset lebih dari Rp100 miliar dan laba lebih dari Rp38 miliar pada akhir 2025.
Hal ini berdampak pada peningkatan penyaluran kredit, dengan fokus utama pada pembiayaan konsumtif. Tenaga pendidik, baik guru negeri maupun swasta di Brebes, menjadi salah satu segmen yang paling diuntungkan dari kebijakan ini.
Pentingnya Digitalisasi untuk Meningkatkan Akses Keuangan
Meningkatnya likuiditas dan layanan yang terdigitalisasi adalah faktor kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat. Dengan adopsi teknologi digital yang baik, BPR mampu mempercepat proses layanan dan meningkatkan efisiensi operasional. Hal ini dapat mengurangi risiko kesalahan dan mempercepat proses transaksi yang sebelumnya mungkin memakan waktu lebih lama.
Dari perspektif masyarakat, layanan digital juga mempermudah pemantauan transaksi dan memberi lebih banyak kepastian. Sementara itu, bagi BPR, sistem digital membantu meningkatkan transparansi dan tata kelola. Direktur Utama BPR Tritunggal, Yenni Tresnawati, mencatat bahwa digitalisasi merupakan faktor krusial untuk menjaga relevansi dalam industri perbankan yang semakin maju.
Dengan pengalaman operasional selama lebih dari satu dekade, BPR Tritunggal mengalami pertumbuhan aset sekitar 25% per tahun dalam lima tahun terakhir. Dana Pihak Ketiga juga menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, dengan rasio kredit bermasalah tetap di bawah 5%, yang mengindikasikan manajemen risiko yang baik.
Dampak Positif BPR terhadap UMKM di Wilayah Operasional
Pertumbuhan BPR tidak dapat dipisahkan dari kontribusinya terhadap UMKM, yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Dengan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelaku usaha, BPR mampu memberikan solusi pembiayaan yang tepat sasaran. Misalnya, BPR Tritunggal menyalurkan kredit di sektor-sektor yang sesuai dengan karakteristik ekonomi lokal.
Melalui pendekatan berbasis ekosistem, BPR berperan dalam menghubungkan pelaku bisnis dari hulu hingga hilir. Pendekatan ini memperkuat jaringan ekonomi lokal, dengan membuat perputaran dana menjadi lebih efektif. Sehingga, dampak positif ini dapat dirasakan oleh masyarakat luas tanpa terkecuali.
BPR Nusumma di Jawa Timur juga mencatatkan kinerja yang mengesankan dengan peningkatan total aset dan DPK yang sangat signifikan. Dengan pertumbuhan substansial ini, mereka dapat meningkatkan penyaluran kredit kepada pelaku usaha, yang langsung berkontribusi pada aktivitas ekonomi di masyarakat.
Keamanan Dana sebagai Prioritas Utama dalam Layanan BPR
Aspek keamanan dana merupakan perhatian utama yang perlu dijaga oleh BPR. Simpanan nasabah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp2 miliar per individu per bank. Hal ini memberikan jaminan bagi masyarakat yang menempatkan dananya dan meningkatkan rasa aman dalam bertransaksi dengan BPR.
Struktur BPR yang lebih sederhana dibandingkan bank umum juga mempermudah dalam hal pengawasan dan penanganan risiko. Kepercayaan nasabah terhadap BPR dapat terjaga dengan baik berkat rekam jejak yang panjang dan manajemen yang transparan.
Dalam menghadapi tantangan ekonomi, produk simpanan seperti deposito BPR menjadi pilihan menarik bagi masyarakat. Dengan menawarkan imbal hasil yang bersaing serta perlindungan dari LPS, produk ini berfungsi sebagai instrumen simpanan defensif yang efektif.
Transformasi Digital sebagai Kunci Pertumbuhan untuk Masa Depan
Meskipun memiliki potensi besar dalam mendukung ekonomi daerah, peran BPR masih kurang dikenal luas. Keterbatasan dalam wilayah operasional dan tingkat digitalisasi yang rendah di masa lalu menjadi tantangan bagi BPR. Namun, kemajuan teknologi menawarkan jalan keluar dengan mempercepat transformasi digital yang ada.
Salah satu contoh kolaborasi dalam transformasi digital adalah platform DepositoBPR by Komunal, yang memungkinkan BPR untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas. Masyarakat kini dapat menempatkan dana mereka dengan lebih mudah dan aman, serta menikmati transparansi yang diperlukan dalam setiap transaksi.
Ke depan, digitalisasi akan berperan sebagai pengungkit utama untuk pertumbuhan BPR yang lebih inklusif. Dengan meningkatkan layanan yang lebih transparan dan efisien, BPR diharapkan dapat memperkuat penyaluran pembiayaan ke UMKM, berkontribusi lebih signifikan dalam perekonomian lokal, dan mencapai keberlanjutan dalam operasional mereka.
