PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) baru-baru ini memberikan penjelasan terkait fenomena tingginya tingkat kredit yang belum dicairkan atau yang sering disebut sebagai undisbursed loan. Menurut informasi yang disampaikan, meskipun terdapat banyak kredit yang belum disalurkan, Maybank Indonesia tetap menunjukkan stabilitas dalam hal penyaluran kredit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menekankan bahwa perilaku nasabah saat ini cenderung berhati-hati dalam menggunakan fasilitas kredit yang tersedia. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya kesadaran nasabah untuk menggunakan kredit sesuai dengan kebutuhan mereka yang sebenarnya.
Dalam pernyataannya, Steffano menyampaikan bagaimana nasabah lebih selektif dan memilih untuk tidak langsung menggunakan seluruh fasilitas kredit yang telah disediakan. Hal ini menggambarkan adanya perubahan dalam pola perilaku nasabah yang lebih bertanggung jawab dalam perencanaan keuangan mereka.
“Tentu saja, kami melihat bahwa banyak nasabah yang lebih berhati-hati dan menggunakan fasilitas kredit berdasarkan kebutuhan mereka yang sesungguhnya,” ujar Steffano saat ditemui di Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan menilai kebijakan prudent nasabah dapat membantu menciptakan ekosistem keuangan yang lebih sehat.
Dalam laporan keuangannya, Steffano menyatakan tingkat disbursed loan Maybank berada pada level yang cukup stabil, dengan utilisasi penyaluran kredit mencapai 50% hingga 60%. Di tengah situasi yang tidak menentu, keberlangsungan kredit tetap menjadi prioritas bagi bank dan nasabah.
Lebih lanjut, total kredit dan pembiayaan syariah yang disalurkan oleh Maybank pada November 2025 mencatatkan angka Rp 107,83 triliun. Meskipun demikian, angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu, yang berada di angka Rp 111,70 triliun. Penurunan ini dapat mencerminkan prudensial yang diterapkan oleh banyak nasabah di masa kini.
Steffano juga memberi pandangan tentang prospek pertumbuhan kredit Maybank untuk tahun ini yang ditargetkan berada di kisaran 9% hingga 10%. Target ini diharapkan dapat tercapai meskipun dalam suasana ekonomi yang penuh tantangan.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, melaporkan bahwa total undisbursed loan di seluruh perbankan Indonesia mencapai Rp 2.509,4 triliun pada November 2025. Angka tersebut setara dengan sekitar 23,18% dari total plafon kredit yang tersedia, yang menunjukkan adanya potensi penyaluran yang belum terealisasi.
Perry menambahkan, meskipun terdapat potensi yang besar, pertumbuhan kredit secara keseluruhan hanya mencapai 7,74% secara tahunan. Hal ini meskipun lebih baik dari bulan Oktober yang hanya mencatatkan 7,36% year on year (yoy). Namun, angka tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan oleh BI.
Analisis Terhadap Perilaku Penggunaan Kredit di Kalangan Nasabah
Dari informasi yang diperoleh, terlihat jelas bahwa nasabah sekarang lebih berhati-hati dalam menggunakan kredit. Penggunaan kredit yang lebih bijak ini berpotensi untuk menciptakan stabilitas keuangan bagi masing-masing individu dan juga bank.
Sikap hati-hati ini bukan tanpa alasan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik, nasabah cenderung memilih untuk menggunakan uang mereka dengan lebih cermat. Hal ini juga berdampak pada bagaimana bank memposisikan diri mereka dalam memberikan fasilitas kredit.
Nampaknya, edukasi finansial memegang peranan penting dalam perubahan perilaku ini. Semakin banyak nasabah yang menyadari pentingnya merencanakan keuangan secara matang dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan besar seperti mengambil kredit.
Bank juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan kepada nasabah dalam memahami produk-produk keuangan yang mereka tawarkan. Dengan cara ini, diharapkan nasabah dapat mengambil keputusan yang lebih baik terkait penggunaan kredit.
Prospek Pertumbuhan Kredit di Masa Depan
Tidak bisa dipungkiri, prospek pertumbuhan kredit menjadi perhatian utama semua pelaku industri perbankan. Pertumbuhan yang sehat diperlukan tidak hanya untuk keberlanjutan bisnis bank, tapi juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Maybank, dengan target pertumbuhan kredit antara 9% hingga 10%, menunjukkan optimisme yang realistis. Namun, pencapaian ini memerlukan strategi dan pendekatan yang tepat untuk menarik minat nasabah dalam menggunakan fasilitas kredit yang ada.
Pentingnya membangun hubungan yang baik antara bank dan nasabah juga tak boleh diabaikan. Kepercayaan nasabah terhadap bank sangat berpengaruh pada keputusan mereka untuk menggunakan layanan yang ditawarkan.
Di sisi lain, bank pun harus mampu memberikan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah dan mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar. Hal ini sangat penting untuk menjaga relevansi bank di tengah persaingan yang semakin ketat.
Tantangan yang Dihadapi oleh Bank dan Nasabah
Di tengah upaya untuk mencapai pertumbuhan, baik bank maupun nasabah tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah fluktuasi ekonomi yang dapat memengaruhi tingkat kepercayaan dan keputusan investasi.
Bank harus siap menghadapi situasi yang tidak terduga, seperti krisis ekonomi atau perubahan kebijakan dari pemerintah. Fleksibilitas dalam beradaptasi menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang dalam kondisi semacam ini.
Sementara itu, nasabah juga harus berpikir kritis dalam melangkah, terutama saat akan mengambil keputusan untuk menggunakan fasilitas kredit. Kesadaran terhadap kondisi finansial pribadi menjadi sangat penting.
Akhirnya, kolaborasi antara bank dan nasabah perlu terus dipupuk untuk menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan demi masa depan yang lebih baik.
