Dalam dunia pasar modal, pergerakan harga saham dapat menarik perhatian banyak pihak, terutama saat terjadi lonjakan yang signifikan. Salah satu contoh terbaru adalah saham Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) yang baru-baru ini mengalami lonjakan harga. Pada 7 Januari 2026, saham DADA meroket ke level Rp 67 setelah sempat terjun bebas di angka gocap.
Di tengah situasi ini, tindakan pencabutan kepemilikan oleh pemegang saham pengendali menjadi sorotan utama. Karya Permata Inovasi Indonesia selaku pemegang saham utama memutuskan untuk menjual 600 juta saham DADA, mengurangi kepemilikannya dari 2,2 miliar saham menjadi 1,6 miliar saham.
Keputusan ini mengejutkan banyak investor, terutama setelah pergerakan harga yang cukup dramatis. Saham DADA sebelumnya nyaris tidak beranjak dari harga gocap sejak 22 Oktober 2025, namun tiba-tiba melesat tinggi pada awal Januari 2026.
Pergerakan Harga Saham DADA dan Tindakan Pemegang Saham
Harga saham DADA telah menjadi perbincangan hangat di kalangan para investor. Terlebih lagi, pada 10 Oktober 2025, saham ini mencetak rekor dengan menyentuh harga Rp 240. Hal ini menunjukkan betapa dinamisnya pergerakan harga dalam waktu singkat.
Setelah mencapai level tertinggi tersebut, DADA kemudian mengalami penurunan tajam yang mengakibatkan auto reject bawah (ARB). Penurunan ini menyebabkan sahamnya kembali terjebak di level gocap, menarik minat untuk menganalisis lebih jauh faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Banyak yang berpendapat bahwa aksi jual oleh pemegang saham pengendali bisa jadi adalah upaya untuk meraih keuntungan. Dengan menjual di puncak harga, Karya Permata Inovasi Indonesia mengizinkan diri mereka untuk mengambil keuntungan maksimal sebelum harga kembali jatuh.
Impak Dari Keputusan Penjualan Saham DADA
Keputusan untuk menjual saham saat harganya meroket tentunya memberikan dampak signifikan bagi pasar. Ketika pemegang saham pengendali mengambil keputusan besar, dampaknya sering kali merambat kepada investor lainnya. Baik kepercayaan maupun minat investasi bisa mengalami perubahan drastis.
Dalam kasus DADA, penjualan saham ini memaksa investor lain untuk berpikir ulang mengenai situasi yang terjadi. Dianalisis dari perspektif jangka panjang, aksi jual ini dapat mempengaruhi citra perusahaan dan pandangan investor di masa mendatang.
Investor yang berinvestasi pada DADA mungkin merasa khawatir akan stabilitas harga saham ke depannya setelah adanya penjualan besar-besaran. Ketidakpastian ini menjadi tantangan bagi manajemen DADA dalam menjaga kepercayaan investor.
Strategi Investor Dalam Menghadapi Fluktuasi Harga Saham
Fluktuasi harga saham seperti yang terjadi pada DADA adalah hal yang biasa dalam dunia investasi. Namun, penting bagi investor untuk memiliki strategi jangka panjang yang baik. Mereka harus siap menghadapi segala perubahan dan ambil keputusan berdasarkan data yang tersaji.
Salah satu pendekatan yang bisa diambil adalah dengan melakukan analisis fundamental perusahaan. Memahami kondisi keuangan dan prospek bisnis DADA akan memberikan gambaran yang lebih jelas untuk mengambil keputusan. Ini sangat penting saat menghadapi situasi dimana harga bergerak ekstrem.
Selain itu, diversifikasi portofolio juga menjadi strategi penting. Dengan tidak menempatkan semua investasi pada satu jenis saham, investor dapat meminimalisir kerugian. Pembagian investasi ke berbagai sektor dan instrumen keuangan dapat memberikan stabilitas di tengah ketidakpastian harga saham tertentu.
