Jakarta menjadi sorotan terkait tantangan dan risiko instabilitas ekonomi yang dapat muncul pada tahun 2026. Dalam sebuah analisis mendalam, peneliti senior dari Departemen Ekonomi menyampaikan bahwa terdapat empat faktor utama yang dapat mengganggu kestabilan ekonomi di dalam negeri. Pertama, ada tekanan dari kondisi global yang berimbas langsung pada perekonomian domestik.
Pergeseran kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih menjadi salah satu tantangan berarti. Kedua, problem fiskal dan moneter yang telah ada di Indonesia menyebabkan ruang gerak ekonomi menjadi terbatas dan sulit untuk berkembang. Hal ini perlu dicermati dengan seksama.
“Tantangan ketiga adalah peningkatan angka pengangguran yang kian menjadi perhatian. Mengingat ada banyak pekerja terdidik yang tidak mendapatkan pekerjaan, ancaman ini dapat berakibat fatal jika tidak ditangani,” kata peneliti tersebut saat sesi pembahasan di acara terkait.
Secara lebih rinci, dia menekankan bahwa penting untuk memahami permasalahan harga energi dan pangan yang berhubungan erat dengan inflasi di tahun yang akan datang. Jika tidak ditangani dengan baik, fenomena ini bisa menimbulkan kerusuhan social.
Tantangan Ekonomi Global yang Menghantui Indonesia
Dari sisi eksternal, peneliti mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi global pada tahun 2026 masih akan mengalami perlambatan. Negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan, yang bisa membuat Indonesia tertekan.
“Misalnya, China menghadapi masalah deflasi. Meskipun angka resminya menunjukkan pertumbuhan 5%, banyak yang meragukan kebenaran angka ini dan memperkirakan pertumbuhan sebenarnya hanya sekitar 2%,” jelasnya.
Selain itu, Amerika juga menghadapi tantangan besar, terutama terkait utang publik dan defisit anggaran. Ini menambah tekanan inflasi di negara tersebut, yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian global dan turut menggerus potensi pertumbuhan Indonesia.
Ketegangan geopolitik juga menjadi katalisator negatif bagi perekonomian dunia. Konflik antara negara-negara besar dapat dengan cepat merembet ke sektor ekonomi lainnya, memicu instabilitas dan volatilitas di pasar finansial.
Imbas Keterbatasan Fiskal terhadap Ekonomi Domestik
Masalah kedua yang perlu dicermati adalah kekuatan fiskal Indonesia yang kian menurun seiring dengan meningkatnya beban utang. Peneliti mengingatkan bahwa target defisit yang mendekati 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bisa menjadi pemicu permasalahan fiskal yang lebih mendalam pada 2026.
Pemerintah diharapkan bisa menjaga pengelolaan utang dengan bijak, apalagi dengan prediksi adanya pembayaran utang jatuh tempo yang signifikan di tahun tersebut. Hal ini dapat menjadi beban berat bagi anggaran negara.
“Berdasarkan data, utang yang harus dibayarkan pada tahun 2026 mencapai Rp 800 triliun. Ini tentu saja akan menjadi tantangan berat bagi anggaran negara,” terangnya.
Dengan situasi semacam ini, pemerintah perlu segera menyiapkan strategi pengelolaan utang yang berkelanjutan untuk menghindari krisis fiskal di masa depan. Peningkatan angka utang ini berpotensi memperburuk kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Meningkatnya Pengangguran dan Permasalahan Sosial
Permasalahan ketiga yang muncul adalah tingkat pengangguran yang semakin meningkat, terutama di kalangan pekerja muda. Meskipun ada penurunan rasio pengangguran secara umum, kondisi di sektor informal kian memprihatinkan.
Berdasarkan data dari instansi terkait, pada tahun 2025 diperkirakan sekitar 80 ribu orang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan dapat berpotensi mengganggu stabilitas sosial.
“Jika kita tidak segera menangani masalah pengangguran yang meningkat ini, bisa saja muncul ketidakpuasan di masyarakat, yang akan berujung pada kerusuhan sosial,” ungkap peneliti tersebut.
Kondisi ini semakin memperumit situasi, terutama dengan adanya generasi muda yang terdidik namun tidak mendapatkan peluang kerja yang memadai. Semua ini mengharuskan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk lebih proaktif dalam menciptakan lapangan kerja.
Risiko Ketahanan Pangan dan Energi di Tahun 2026
Risiko terakhir yang tak kalah penting adalah ketahanan pangan dan energi yang dapat memengaruhi inflasi di dalam negeri. Kenaikan harga bahan makanan menjelang bulan-bulan tertentu, seperti Ramadan, dapat memberi tekanan lebih lanjut pada perekonomian domestik.
“Meskipun Headline Inflation saat ini terlihat terkendali, barang-barang komoditas seperti makanan justru mengalami lonjakan harga yang meresahkan,” jelas peneliti. Hal ini perlu diwaspadai untuk mencegah dampak yang lebih luas pada masyarakat.
Selain itu, isu ketahanan energi juga penting; meski proyeksi pertumbuhan global melambat, ketegangan di sumber-sumber energi seperti Timur Tengah masih dapat memicu kenaikan harga energi.
Oleh karena itu, tantangan yang ada harus dihadapi dengan strategi yang konkret dan terencana untuk menjaga stabilitas harga pangan dan energi dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi.
