Jakarta saat ini menjadi sorotan untuk perkembangan terbaru dalam industri perbankan, terutama terkait dengan langkah-langkah strategis yang diambil oleh berbagai bank. Salah satu yang mencuri perhatian adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk., yang baru saja mengumumkan pengalihan kembali saham dari hasil pembelian kembali atau buyback yang dilakukan pada akhir tahun 2025.
Bank swasta besar ini melaporkan bahwa saham yang diperoleh dari buyback akan digunakan dalam program renumerasi berbasis saham yang ditujukan kepada manajemen, terutama kepada mereka yang termasuk dalam kategori Material Risk Taker (MRT). Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat kepemilikan stakeholder di tingkat manajemen.
Menurut Direktur Sumber Daya Manusia CIMB Niaga, Joni Raini, pihaknya telah melaksanakan buyback sebanyak 168.000 unit saham, yang mencakup 83,17% dari total saham yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Proses ini berlangsung dari tanggal 3 April 2024 dan hanya dilakukan sekali pada 5 April 2025, mencerminkan efisiensi dalam pelaksanaan kebijakan korporasi.
Rincian Proses Buyback dan Biaya Yang Dikeluarkan
Harga rata-rata yang digunakan untuk buyback adalah Rp2.120 per unit saham, dengan total pengeluaran mencapai Rp357,24 juta. Biaya yang tersisa dari proses buyback ini adalah sebesar Rp142,75 juta, menunjukkan adanya perencanaan yang matang dalam pengelolaan dana perusahaan.
Pada tanggal 8 April 2025, CIMB Niaga telah mengalihkan 56.000 unit saham dengan harga Rp1.600 per unit untuk program MRT. Langkah ini juga mencerminkan komitmen bank dalam memberikan insentif kepada manajer yang memegang tanggung jawab penting dalam perusahaan.
Selanjutnya, pada tanggal 29 Desember 2025, pengalihan sejumlah 4.000 unit saham dilakukan dengan harga Rp1.735 per unit. Saat ini, terdapat 108.000 unit saham yang masih perlu dialihkan, menunjukkan adanya peluang bagi pemangku kepentingan untuk mendapatkan manfaat dari program ini.
Perubahan Kepemilikan Saham di Kalangan Direksi
Kemudian, ada beberapa laporan dari para anggota direksi CIMB Niaga mengenai perubahan jumlah kepemilikan saham mereka akibat implementasi program MRT. Presiden Direktur Lani Darmawan mendapatkan 190.600 saham BNGA, yang menunjukkan kepercayaan diri dan komitmennya terhadap masa depan bank ini.
Direktur Rusly Johannes menerima 79.100 saham, sementara Direktur Henky Sulistyo mendapatkan 60.600 saham. Selain itu, Direktur John Simon dan Direktur Fransisca Oei Lan Siem masing-masing mendapatkan 96.000 dan 66.700 saham.
Semua transaksi ini terjadi pada tanggal 2 Januari 2026, dan pertukaran saham ini merupakan indikasi dari sinergi yang baik dalam kepemimpinan manajerial di CIMB Niaga. Dengan penambahan saham ini, jumlah kepemilikan direksi semakin mencerminkan komitmen jangka panjang mereka terhadap pertumbuhan bank.
Pentingnya Program Renumerasi Berbasis Saham
Program renumerasi berbasis saham dirancang bukan hanya untuk menarik talenta terbaik, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa memiliki di kalangan manajemen. Dengan memberikan saham, manajemen langsung terinspirasi untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham.
Langkah ini sejalan dengan tren di industri keuangan global, di mana terdapat dorongan untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas. Ini dapat memberikan dampak positif pada kinerja perusahaan secara keseluruhan, serta memperkuat kepercayaan investor.
Dengan adanya program ini, diharapkan CIMB Niaga dapat terus berinovasi dan bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Dengan manajemen yang terlibat secara aktif dalam kepemilikan saham, virtual to real impact bagi perusahaan dapat lebih terjamin.
