Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan pada penutupan perdagangan hari ini. Penurunan ini mencapai 2%, menandakan adanya tekanan yang cukup kuat di pasar saham Indonesia.
Indeks ditutup turun 168,62 poin, mencapai level 7.935,26. Dalam perdagangan hari ini, 673 saham mengalami penurunan, sementara hanya 118 saham yang mencatatkan kenaikan dan 167 saham lainnya tetap tidak bergerak.
Selama proses perdagangan berlangsung, IHSG mengalami tekanan di sepanjang hari. Meskipun demikian, pada akhir sesi, indeks berhasil mengurangi tingkat penurunannya setelah sesi pertama yang ditutup dengan penurunan 2,83%.
Nilai transaksi yang terjadi hari ini mencapai Rp 19,2 triliun. Sebanyak 32,74 miliar saham diperdagangkan dalam 2,2 juta kali transaksi, membuat kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 14.341 triliun.
Aktivitas perdagangan hari ini terlihat kurang dinamis. Investor tampak menerapkan strategi wait and see di tengah volatilitas pasar yang belum stabil.
Sebagai pembanding, rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan pertama Januari mencapai Rp 31,46 triliun. Pergerakan ini meningkat menjadi Rp 32,68 triliun di pekan kedua dan mencapai puncaknya pada pekan ketiga, yaitu Rp 33,85 triliun.
Pada periode 26-30 Januari 2026, nilai transaksi mengalami puncak yang cukup signifikan. Namun, puncak ini dicapai terutama karena adanya aksi jual oleh investor seiring dengan sentimen dari pengumuman evaluasi dari instansi internasional.
Penyebab Tekanan di IHSG Hari Ini Mungkin Beragam
Emiten-emiten blue chip menjadi faktor kunci yang membebani indeks hari ini. Salah satu yang terpengaruh adalah Bank Central Asia (BBCA) yang mengalami penurunan 1,6%, berkontribusi negatif terhadap indeks.
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Astra International (ASII) juga mencatatkan penurunan yang signifikan, memberikan bobot tambahan pada penurunan IHSG secara keseluruhan.
Sementara itu, meskipun IHSG mengalami tekanan, data menunjukkan bahwa aliran dana asing justru mencatatkan angka positif. Aliran masuk dari investor asing mencapai Rp 3,5 triliun.
Net foreign buy tercatat sebesar Rp 440,7 miliar, menunjukkan adanya minat dari investor asing untuk melakukan pembelian meskipun ada tekanan di pasar. Hal ini dapat mengindikasikan rasa percaya yang tetap ada di kalangan investor asing.
Saham Bank Mandiri (BMRI) menjadi salah satu yang menarik perhatian dengan net buy asing terbesar, mencapai Rp 274,2 miliar, meskipun mengalami koreksi di sesi pertama.
Sentimen Pasar Dipengaruhi Oleh Banyak Faktor
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan sentimen negatif di IHSG hari ini. Salah satunya adalah pengumuman dari Moody’s Investors Service yang mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level Baa2, tetapi dengan Outlook yang diubah menjadi negatif.
Pernyataan ini mendapatkan reaksi dari pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan bahwa penyesuaian outlook tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi dari pemerintah serta lembaga pengelola investasi baru.
Para investor menyikapi pernyataan tersebut dengan hati-hati, melihat bahwa perubahan ini dapat berpengaruh jangka panjang terhadap daya tarik investasi di Indonesia.
Menteri Koordinator menambahkan bahwa saat ini APBN sedang difokuskan pada program-program unggulan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Beberapa program tersebut mencakup layanan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.
Dari sudut pandang pemerintah, keberadaan Badan Pengelola Investasi (BPI) diharapkan bisa membawa reformasi yang lebih jauh terhadap badan usaha milik negara dan memperbaiki kinerja investasi.
Reaksi Lembaga Pemeringkat dan Langkah Ke Depan yang Perlu Diambil
Pemerintah menganggap penting untuk melakukan komunikasi yang baik dengan lembaga pemeringkat internasional demi menghindari penurunan peringkat lebih lanjut. Menurut mereka, penjelasan yang lebih transparan akan membantu dalam menjelaskan situasi saat ini.
Kondisi ini memerlukan upaya yang lebih keras dari semua pihak untuk menjaga kepercayaan pasar. Apalagi, reformasi struktural diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan global di masa depan.
CEO Badan Pengelola Investasi juga memberikan pandangannya terkait sentimen yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Ia merujuk pada evaluasi berkelanjutan atas kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah.
Parameter yang lebih baik dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang negara ini. Dengan demikian, langkah-langkah strategi dan kebijakan yang tepat menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi ekonomi global.
Pemahaman yang lebih baik dari lembaga-lembaga terkait akan membantu dalam mengatasi tantangan dan memanfaatkan setiap peluang yang muncul di pasar ke depan.